
Dianggap bodoh sudah biasa,
namanya juga jatuh cinta.
"Bang," Ucap Kevano mengetuk pintu kamar Ruben.
Berulang kali sejak Kevano mengetuk pintu, tak ada sahutan apapun dari dalam. Padahal ia mendengar suara musik dari salah satu tap begitu nyaring.
"Woy bang, lu budek ya!" Sambung Kevano sambil berteriak.
Lalu tak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka. Ruben nampak pada mata Kevano. Kevano tersenyum memamerkan giginya.
"Apaan sih lu, Sya. Berisik banget. Lagian ngapain lu kesini?"
"Gue masuk dulu, nanti gue cerita." Kevano berusaha menerobos tubuh Ruben yang berada diambang pintu, tapi tangan Ruben mencegah nya. "Dih, gue mau masuk kali bang."
"Gue lagi gak mood ngobrol, lu balik gih. Lagian gue sibuk sama kerjaan."
"Nah ini nih. Mama nyuruh gue buat nanyain kenapa lu kayak gak mood gitu. Cerita with you little brother."
Ruben terdiam, lalu membuka tangannya sebagai tanda untuk memperbolekan Kevano masuk kedalam kamarnya.
Tanpa disuruh, Kevano sudah masuk begitu saja dengan santainya dan duduk diujung tempat tidur Ruben.
"Lu kenapa sih bang, kata Mama akhir-akhir ini sikap lu aneh katanya." Sambung Kevano. Yang ditanyain hanya diam saja, malah sibuk dengan laptop dan filenya yang berserakan diatas meja. "Woy bang!"
Mendengar teriakan itu, Ruben merespon dan membalik menghadap ke arah Kevano.
"Gue lagi jatuh cinta." ucap Ruben kemudian.
Kevano terkejut dan seakan tak percaya dengan ucapan Ruben.
"Hah, apa? Lu jatuh cinta?" Tanya Kevano memastikan dan berjalan menuju Ruben.
Ruben mengangguk biasa.
"Alhamdulillah, akhirnya abang gue jatuh cinta juga, gue kira lu bukan manusia. Sama cewek, kan?" Sambung Kevano.
"Anj** lu kira gue h**o."
"Habis lu kayak doyan gitu sama cewek. Siapa-siapa?"
"Kepo ah lu, Sya."
Mendengar perkataan Ruben, tiba-tiba raut wajah Kevano berubah, niatnya membantu malah dia sendiri yang dibuat bad mood dengan ucapan sang abang.
Kevano mulai berpikir, pantas saja tidak ada perempuan yang dengan lelaki ini, selain pendiam ia juga cuek dan omongannya pedas, kaku dan selalu bersifat perfeksionis. Semua yang ia inginkan harus ada.
Meskipun begitu sebenarnya Ruben itu tipikal orang baik, suka membantu dan jika sudah akrab akan menjadi sesuatu yang utama baginya. Tapi, menjadi akrab bagi Ruben adalah sesuatu hal yang sangat mustahil baginya.
"Serius gue bang. Siapa cewek yang udah buat lu jatuh cinta sampai menggalau kayak gini?"
"Namanya Shiha, cewek cantik asisten arsitek disalah satu perusahaan yang didekat La cafe."
"Terus?" Desak Kevano pada Ruben untuk melanjutkan ceritanya.
"Kami baru kenalan dua minggu, dia tipe cewek asyik dan ramah, kami sering kencan entah itu ngopi, makan ataupun nonton. Semuanya baik-baik aja, terus dua hari ini dia gak ada kabar. Aku ajak ketemuan katanya iya terus, tapi gak pernah datang." Papar Ruben mulai terbuka. "Kemarin malam gue datang kerumahnya, eh gue diusir sama mamanya."
"Loh kenapa sampai bisa lu diusir?"
"Kata Mamanya, Shiha sudah dijodohin sama anak pemilik perusahaan Properti. Kayaknya Yogas Properti, soalnya perusahaan itu tengah menanjak akhir-akhir ini."
"Bentar-bentar," potong Kevano, lalu ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan mengetikkan kata kunci Yogas Properti dibagian search engine. "Perusahaan kecil gini kok. Emang lu gak bilang kalau lu pemilik cabang perusahaan Putra Group."
Ruben menggeleng perlahan.
"Emang mereka gak sadar sama mobil mahal lu?" Sambung Kevano.
"Gue setiap ketemu dan pas kerumahnya pakai mobil dinas kantor." jawab Kevano.
"Pantesan dah, makanya pakai mobil lu yang keren, jas sama keluarin tuh aset lu. Kayaknya Mamanya cuma tergiur sama duitnya anak Yogas."
"Kayaknya gitu. Terus gimana? Gue cinta sama Shiha, gue udah nyaman sama dia."
"Lamar," kata Kevano kemudian. Kini Ruben yang kaget.
Dalam pembicaraan keduanya, tiba-tiba pintu diketuk, muncullah Kesya.
"Bang, Sya. Mama nyuruh manggil, makan malam katanya." Ucap Kesya kemudian.
"Oke sayang, nanti aku sama bang Ruben nyusul ke meja makan." Jawab Kevano, kemudian Kesya mengangguk dan berlalu pergi. "Gih kita makan dulu, nanti cerita lagi."
Ruben dan Kevano berjalan keluar kamar lalu menuju ruang makan, tak bersama lama mereka sampai. Ada Mama, Papa dan Kesya yang sudah menunggu.
"Akhirnya makan juga," ujar tuan Putra saat melihat Ruben duduk di kursi makan. "Dari kemarin disuruh makan bilangnya udah kenyang, nanti kalau kamu kurus gimana. Kan bisa banyak yang suka."
"Malah bagus kan, Pa. Biar bang Arkano gak jomblo lagi." Jawab Kevano.
"Eh bener juga sih." Ucap Tuan Putra lagi.
Kelimanya lalu menikmati makanan itu. Tumben sekali meja makan itu lengkap dengan keluarga mereka, biasanya disana hanya ada Tuan dan nyonya Putra, karena Kevano dan Kesya tak serumah, sementara Ruben terlalu sibuk dengan dunianya.
Pun, tuan Putra sibuk dengan bisnisnya diluar kota, jadi biasanya tak ada yang menikmati makanan disana.
"Pa, Arkano mau nikah." Ucap Ruben tiba-tiba.
Mendengar omongan Ruben itu, tuan Putra terbatuk dan tersendat makannya. sementara Kesya dan Nyonya Putra ikut terkejut dan tak percaya bahwa ucapan itu bisa keluar dari mulut Ruben.
"Apa?" Tanya tuan Putra memastikan bahwa yang didengarnya tidak salah.
"Kano mau nikah, Papa lamarin buat Kano."
"Siapa yang mau kamu lamar, emang udah ada calonnya?" Tanya nyonya Putra.
"Namanya Shiha, dia kerja jadi asisten arsitek." Ujar Kevano.
"Cantik, Pa, Ma. Baik lagi. Kata bang Arkano."
"Serius kamu, No?" Tuan Putra terus memastikan bahwa Ruben benar benar ingin menikah.
Ruben mengangguk mantap tanda serius.
"Yaudah dimana rumahnya? kapan kamu siapnya biar kita langsung lamaran." sambung tuan Putra.
"Rumahnya di perumahan Palem Indah, Blok D."
"Sebentar, Palem Indah blok D? Yang depan rumahnya ada pohon mangganya bukan? Pager putih semata?"
"Kok Papa tahu?" Kini Ruben yang bertanya bingung.
"Tau lah, orang itu anak Pak Lutfi, GM di kantor cabang Papa."
"Tapi, Pa. Katanya Shiha udah dijodohkan sama anak pemilik Yogas Properti."
"Dijodohkan belum tentu mau, besok kita kesana. Pasti kamu diterima. Istrinya Pak Lutfi memang gila duit. Kelihatan wataknya."
"Makasih, Pa."
"Sudah, ayo makan habiskan makanannya. Besok Mama yang urus buat lamaran"
Mereka mengangguk dan menikmati kembali makanan yang ada disana.
%%%
"Bang Kano mau nikah beneran, Sya?" begitu tanya Kesya saat ia dan Kevano berada didalam mobil untuk pulang ke apartemen.
"Seperti yang kamu dengar yang." Jawab Kevano sekenanya.
"Akhirnya abang kamu gak jomblo lagi. Aku kira awalnya abang kamu gak suka sama cewek."
"Hus, aku juga mikir gitu awalnya. Tapi, nyatanya enggak."
Keduanya tertawa mengingat hal itu.
Bagi Kevano, sifat Ruben yang mencintai seorang wanita seperti sesuatu yang langka, karna selama ini Ruben seperti tak berniat untuk membuka hati pada perempuan mana pun.
Dilihat dari sifat nya, perempuan mana yang mau mendekatinya. Meskipun ia memiliki banyak uang dan kaya raya. Perempuan pun akan berpikir berulang kali untuk mendekatinya.