My Berondong Husband

My Berondong Husband
#25 Demi Sebuah Cinta



"Hari ini cukup sampai disini, jangan lupa tugas kalian dikumpul hari terakhir sebelum saya selesai mengajar." Ucap Kesya.


Setelah mengucapkan hal itu Kesya bergegas merapikan buku dan tasnya, lalu berniat berjalan keluar kelas. saat sampai diluar Kevano sudah dengan tenangnya berjalan disisinya.


"Makan, yuk?" Akak Kevano dengan ramah sambil terus berjalan mengikuti Kesya.


"Enggak." jawab datar Kesya.


"Kenapa?" Tanya Kevano dengan nada tak percaya, biasanya Kesya tak pernah menolak jika berkaitan soal makanan.


"Aku sudah kenyang."


Kenyang. Tumben sekali Kesya mengatakan hal itu, padahal biasanya tak pernah. Apa Kesya ada masalah, atau ada yang mengganggu moodnya. Tak seperti biasanya.


Kesya dan Kevano terus saja berjalan saat sampai diluar parkir kampus, Kevano ingin mengantar Kesya pulang tapi Kesya menolak dan mengatakan bahwa ia ingin sendiri pulang menggunakan bus.


Niat Kevano berantakan lebih dulu, dia duduk diatas motornya sambil memikirkan sifat Kesya, tak berapa lama datang Renata dengan sifat anehnya.


"No, pulang yuk." kata Renata mencolek pundak Kevano.


"Lu pulang sendiri ya, gue ada urusan." jawab Kevano datang.


"Tapi, No." Belum sempat melanjutkan perkataannya Kevano sudah melajukan motornya keluar area kampus.


Dalam perjalanan ia masih memikirkan sifat Kesya, memang biasanya Kesya juga cuek, tapi hari ini ada yang berbeda. Bahkan tadi malam Kesya masih baik dengan mau membantunya belajar matematika. Tapi, kenapa hari ini berbeda.


Apa ini ada hubunganya dengan Bian?


Entah pikiran tentang Bian begitu saja terlintas dalam otak. Seperti ada yang mengganggu soal Bian. Apa Bian yang mempengaruhi Kesya untuk mendekatinya? Atau Bian sudah tahu kalau rencana antara, ia dan Om Gio didengar orang lain?


Tidak mungkin. Saat itu posisi pintu tertutup dan tidak ada siapapun disana, seandainya adapun pasti ia ketahuan.


Ia hanya berpikir jika ada yang tidak beres.


Saat memikirkan hal itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Kevano meminggirkan motornya dan berhenti dibawah pohon.


Dilihatnya ponselnya, panggilan dari Adrian.


"Hallo, apa Yan?" Ucap Kevano pada Adrian.


"Lu dimana?"


"Gue dijalan, kenapa?"


"Kebengel langganan gue gih, ada yang mau gue bilang."


"Oke, gas."


Karena bengkel langganan Adrian berlawanan arah dengan rumahnya, Kevano memutar kembali untuk pergi kebeghkel yang dimaksud Adrian.


Kevano membuang sejenak pikiran soal Kesya, ia akan lebih fokus pada motornya. Karena Adrian pasti akan membicarakan itu, turnamen tak lama lagi akan dilaksankan tinggal menunggu hari. Tak mungkin ia menggunakan motor Ruben, karena motor itu tak kuat jika harus dibuat ngebut.


%%%


Sekitar sepuluh menit Kevano sampai dibengkel, disana terlihat Adrian yang sibuk dengan motornya. Bahkan sampai tak tahu jika Kevano datang.


"Yan, gimana?" Seru Kevano sambil menepuk pundak Adrian.


Melihat kedatangan Kevano, Adrian mengajaknya duduk disebuah bangku yang sengaja disediakan untuk pelanggan bengkel itu.


"Lu pakai motor itu, ya," Ucap Adrian saat mereka telah duduk. "Menurut gue motor itu cocok buat lu, kalau lu pakai selalu beruntung."


Adrian mengangguk.


Kevano mengingat sejenak saat motornya harus masuk bengkel dan ia ada perlombaan balap dengan ketua sosis, satu-satunya pilihan ia harus menggunakan motor mahal keluaran tahun 2016 itu.


Awalnya ia ragu, karena ia tak biasa menggunakan motor orang lain. Baginya si blue, begitu panggilan kesayangannya dengan motor miliknya sudah terikat benang cinta.


Tapi, dari keraguan itulah malah membuat Kevano suka, karena motor Adrian jauh melampaui motor murah miliknya.


"Kalau gue ngerusak gimana?"


"Tenang aja gak bakalan rusak, udah gue perkuat mesinya, oli sudah gue ganti, semua gue benerin. Kecuali lu nabrak tembok baja." Ucap Adrian meyakinkan sepupunya. "Kalau lu menang turnamen nanti gue traktir deh."


"Oke, deal." Kata Kevano sumringah.


Setelah itu ia mengambil motor yang berada dibengkel tadi dan mencoba keliling sebentar didekat sana.


Tarikan gasnya benar-benar lembut, suara dan tekananya sangat baik. Ia mulai optimis untuk memenangkan turnamen nanti, setelah menang ia akan melupakan barang-barang yang disita papa nya termasuk si blue.


"Gimana?" Tanya Adrian saat Kevano memasang standar di depan bengkel.


"Makin keren aja motor lu."


"Jelas dong. Motor mahal kayak punya gue, beda kasta sama motor murah punya lu."


"Sialan." Kevano melempar kunci motor pada Bian, lalu kembali duduk. "Gue lagi kepikiran sesuatu nih."


"Soal turnamen, pasti lu menang deh."


Kevano menggeleng.


"Terus?" Sambung Adrian sambil bertanya.


"Tentang tante gue." Ucap Kevano dengan wajah yang sedihnya meskipun tetap terlihat konyol.


"Tante siapa? Kenapa? Sakit? Tante lu kan tante gue juga." Cerca Adrian dengan banyak pertanyaan.


"Tante Kesya."


Mendengar nama Kesya, Adrian ber-O ria." Kenapa sama dia?"


"Sikap dia hari ini berubah sama gue."


"Berubah gimana?"


"Dia cuek dan judes gitu, seakan gue harus menjauhi dia."


"Mungkin dia maunya begitu kali, No. Lagian lu ngapain sih ngejar tante-tante kayak dia. Kayak gak ada cewek lain aja."


"Kesya itu berbeda dari cewek lain. Dia itu.."


"Sudah gak usah diteruskan." Ucap Adrian menyela perkataan Kevano sebelum sepupunya mulai mendramatisir. "Eh bentar katanya dia udah ada calon suami, kan?"


Kevano mengangguk.


"Mungkin alasan dia menjauh adalah mau fokus sama calon suaminya dan pernikahan dia. Karena lu itu cuma pengganggu."


Kevano memikirkan perkataan Adrian, apa benar selama ini ia pengganggu bagi Kesya.