My Berondong Husband

My Berondong Husband
#64 Masa Lalu Bian Tentang Gadis Di Perusahaan Laki-laki itu (2)



“Bian ada orang yang mau ketemu kamu.” Ucap salah satu penjaga tahanan.


Bian mengindahkan lalu berdiri dari duduknya.


“Siapa, Pak?” tanya Bian.


“Gak usah banyak tanya nanti kamu juga tau sendiri.”


Setelah perkataan dari perjaga tahanan itu Bian tak merespon ia hanya bisa terdiam sambi berjalan keluar dari sel, dan mengikuti kemauan sang penjaga.


Bian berjalan menuju ruang besuk, ia sedikit bingung siapa yang akan menjenguknya hari itu, karena sang mama tak mungkin, sebab beberapa hari lalu mamanya mengatakan bahwa ada kesibukan diluar kota, yang berarti tak akan datang.


Dan saat sang mama tak ada, ia harus makan makanan penjara yang rasanya tetap sama, tak begitu enak.


Sesampainya diruang besuk, nampak matanya seorang perempuan yang duduk membelakanginya, Bian menghampirinya lalu menepuk pelan pundah perempuan itu.


Perempuan itu menoleh kemudian tersenyum pada Bian. Bian yang awalnay berharap bahwa perempuan itu adalah Kesya nyatanya bukan. Dia adalah Laras.


“Ras, tumben kamu kesini,” sapa Bian sedikit canggung. Meskipun dalam canggungnya itu ada rasa terkejut yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Beberapa bulan sejak ia dipenjara Laras jarang menjenguk, padahal saat pertama kali masuk penjara Laras yang menemuinya.


“Gimana kabar kamu? Lama aku gak kesini.” Jawab Laras sambil berusaha bersikap ramah dan baik pda mantan kekasihnya.


“Baik, tapi aku pindah sel. Kamu sendiri?”


“Aku selalu baik. O iya, ini aku ada bawa makanan. Enggak banyak sih, tapi lumayan enak daripada makanan dipenjara ini.” Lara menyodorkan sekotak tupperware pada Bian yang berisi banyak makanan serta yang lainnya.


“Nanti kamu titip sama penjaga aja. Soalnya makannya dikasih pas jatah makan siang.”


Laras terdiam. Begitupun Bian.


Ada pikiran berkecamuk bagi Bian, hati kecilnya selalu malu jika bertemu dengan Laras. Teringat apa yang pernah ia lakukan dulu pada perempuan itu.


Hampir empat tahun lalu saat pertama kali ia mengenal Laras. Perempuan yang selalu bisa membuatnya tertawa dan bahagia, punya segudang cara agar dirinya tak merasa sedih.


Laras menghiburnya saat rindu sang Papa, menemaninya pergi jika ia sedang bad mood. Bersama Laras bagai sebuah bunga opium yang menjadi candu. Laras adalah dunianya saat itu.


Bian memutuskan untuk mengutarakan perasaanya, meskipun berulang kali Laras menolak, Bian tetap mengatakan rasa cintanya.


Pernyataan yang kesekian kali, akhirnya Laras memutuskan untuk menerima hal itu.


Mereka menjalin hubungan seperti biasa, layaknya sepasang kekasih. Mama dan adiknya pun merestui hubungan mereka.


Tapi, bodohnya ia. Saat Laras sudah jatuh cinta dan mulai menerima semua sikap egoisnya, ia malah dirasuki rasa bosan yang menggema Di dinding hatinya.


Setahun hubungan mereka. Saat itu ia membantu salah satu karyawan Putra Group keluar dari masalah, seorang perempuan ideal yang sedikit cuek yang akhirnya ia tahu bernama Kesya.


Awalnya biasa ia melihat Kesya, tapi setelah tahu latar belakang perkerjaan dan keluarganya, ia mulai menepis perasaan pada Laras.


Ia mendekati Kesya dengan berbagai cara, mengatakan bahwa ia sendiri dan sedang menunggu yang pasti.


Tiga tahun lalu, Bian dan Kesya memutuskan untuk berpacaran. Laras tahu dan sempat melihat kemesraan mereka, tapi Laras tak pernah marah atau berusaha mengatakan bahwa Bian miliknya.


Laras hanya diam sambil mengulas senyum, saat itu ia lebih memilih Kesya dari pada Laras. Hubungannya dengan Laras akhirnya putus.


Laras pergi dari hidupnya selama beberapa tahun, hilang entah kemana. Meskipun ia tahu dimana tempat kerja Laras.


"Gimana kerjaanmu?" Tanya Bian mencairkan suasana yang sempat beku.


"Lancar."


"Masih, kamu tau sendiri kan aku betah disana. Dan keahlianku dalam bidang perusahaan itu." Laras mengulas senyum.


Begitupun Bian yang berusaha tersenyum. Manis. "Iya, aku ingat saat memaksamu pindah kerja, eh belum sebulan sudah keluar dan balik ke pekerjaan yang lama."


"Lagian kamu maksa sih."


"Hidup kan kadang berwarna, kita butuh sesuatu yang berbeda, Ras."


"Maksudmu seperti kamu yang masuk penjara," celetuk Laras.


Bian terdiam sambil menggaruk belakang kepalanya, sedikit salah tingkah dengan ucapan Laras.


"Kalau ini warna gelap, gak baik ditiru." ucap Bian.


"Siapa juga yang mau niru, makanan disini gak enak, kan?"Tanya Laras sedikit berbisik, agar penjaga tahanan tak mendengar obrolan mereka.


"Betul, makanannya aneh. Enggak enak." Ucap Bian ikut berbisik pelan.


"Makanya jangan masuk penjara."


"Sudah terlanjur, Ras."


"Yaudah nikmati saja, masih tiga tahun ini kan,"


Bian mengangguk sambil tersenyum simpul. Benar apa yang ada dalam pikirannya selama ini, perempuan itu selalu bisa membuat sebuah warna gelap berubah menjadi deretan pelangi yang terang dan begitu cerah.


"Aku pamit dulu, Ian. Sudah waktunya aku pulang ke rumah." Sambung Laras sambil membenarkan tasnya.


"Iya, makasih untuk makanannya. Hati-hati pulangnya."


Laras mengangguk, kemudian berdiri lalu berjalan menjauh meninggalkan Bian yang masih Di tempat yang sama.


Laras keluar dari kantor polisi dengan seulas seyum yang entah tercipta karena apa. Sesampainya dijalan, ia melambai pada sebuah taksi.


Lalu masuk kedalam taksi dan mengatakan tujuannya. Taksi itu melaju perlahan.


Didalam taksi itu pikirannya masih terus berkecamuk tentang Bian, meskipun Lia mengatakan untuk mengakhiri semua itu, tapi hatinya berontak tak tenang.


Ia tak bisa melupakan Bian semudah itu, meskipun banyak hal yang terjadi antara ia dan Bian.


Bian sudah membuat sakit hati yang terus membekas dalam pikirannya, bukan ia tak jera tapi ia selalu berpikir bahwa Bian bisa berubah suatu saat nanti yang entah itu kapan.


Awalnya ia pikir Bian beda dari lelaki pada umumnya, karena selalu punya cara untuk bersikap romantis dan membuatnya serasa ratu terbaik yang pernah ada.


Berulang kali Bian menyatakan cinta padanya, tapi ia tolak. Bian tak pernah mundur sedikitpun, hingga rasa kasihan itu membuatnya menerima Bian.


Ia jalanin hubungan bersama Bian, hampir satu tahun. Sikap Bian tak berubah, tapi entah kenapa tiba-tiba semuanya hancur begitu saja.


Laras yang sudah mulai jatuh cinta, malah dijatuhkan dari nirwana. Seandainya ia bisa marah, mungkin sudah ia lakukan sejak lama. Marah karena sikap Bian yang seakan tak menganggapnya kekasih, dan marah karena Kesya sudah mengambil Bian dari pelukannya.


Tapi, tidak. Ia malah senang akhirnya tahu sifat asli Bian yang gampang berubah dengan mudahnya.


Bian tak sebaik apa yang ada dalam pikirannya, semua yang dilakukan Bian seakan mencerminkan sikap egois dan gila harta.


Bian hanya ingin memilki apa yang dimiliki Kesya dan keluarganya, sementara ia tak memiliki apapun.


Tapi, lagi lagi ia dibutakan oleh sesuatu elemen yang bernama Cinta. Ia tak bisa menampiknya bahwa ia masih cinta dan terus cinta pada si Bo**h Bian.