My Berondong Husband

My Berondong Husband
#73 Tujuh Bulan Kehamilan Kesya



Sebagai seorang perempuan yang lahir dari keluarga Jawa, Kesya melakukan tradisi tujuh bulanan yang dilakukan dirumah keluarga Susanto.


Semua kegiatan dilakukan dengan penuh hikmat, disaksikan beberapa teman dan keluarganya.


Sambil mengelus perutnya, ia tak menyangka sudah sampai pada tahap ini. Perutnya semakin besar dan mungkin tidak lama lagi akan muncul jagoan baru yang selalu Kevano sebut sebagai Hero.


Raut wajah Kevano pun nampak senang melihat kegiatan itu berjalan dengan lancar, karena ia bisa melihat bagaimana para keluarganya bersuka cita menunggu calon anaknya lahir.


Disamping itu meski ia tak begitu percaya dengan hal hal sepeti itu, Kesya tetap mengikuti semuanya demi terselenggaranya adat yang baik.


Siangnya...


Setelah acara berakhir, Kevano dan Kesya kembali ke apartemen mereka. Mereka juga tak melewatkan acara pesta setelah tujuh bulanan itu.


Beberapa keluarga melarang mereka kembali ke apartemen dengan cepat, tapi mereka berdalih bahwa ada keperluan mendadak. Padahal meraka hanya ingin bersantai dirumah, karena kegiatan itu membuat meraka capek dan lelah.


"Capek banget." Ucap Kevano sambil merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur disampingnya ada Kesya.


"Harusnya aku yang capek, dari awal acara sampai selesai aku terus yang gerak." celetuk Kesya. Sesekali ia merenggangkan kaki dan tangannya yang terasa begitu ngilu.


"Aku juga capek lho, yang. Biarpun ikut sebentar." kemudian Kevano duduk dan mulai ngelus perlahan perut Kesya. "Heronya Papa cepat keluarnya ya, Papa udah gak sabar pengen ngajak main bola."


"Geli, Sya." Ucap Kesya sambil menahan rasa geli akibat elusan tangan Kevano.


"Tapi aku suka." Lalu Kevano menundukkan tubuh dan kepalanya, ditaruhnya telinga Kevano diatas perut Kesya. "Dia ngajak ngomong sayang. Katanya Papanya ganteng. Terus mama gak boleh makan sembarangan."


"Masa sih dia ngomong gitu?" Tanya Kesya.


"Coba aja kamu dengerin sendiri."


"Enggak bisa lah, No. Gimana aku nunduknya." Kata Kesya sambil cemberut.


"Iya aku lupa, maafkan suamimu yang tampan ini."


"Dih tampan. Ketampanan mu tertutupi oleh Bang Arkano."


"Hah, Apa bang Arkano lebih ganteng? Ya Allah." Ucap Kevano tak percaya sambil mendramatisir keadaan.


"Sya, aku pengen makan bubur deh." Kata Kesya kemudian sambil ikut duduk dari tidurnya.


"Bubur? Bubur apa? Bukannya tadi udah banyak makan?"


"Bubur ayam, Sya. Aku laper lagi, anakmu yang minta." Manja Kesya sambil menggerakkan lengan baju Kevano.


"Kayaknya masa kamu nyidam udah lewat deh, Yang. Macem-macem aja mintanya."


"Ayolah, lagi pengen nih."


Kevano mengangguk tanpa bilang apapun. Kemudian ia berdiri diikuti Kesya. Padahal baru saja ia ingin istirahat tapi permintaan istrinya tak bisa ia tolak sedikit pun. Jika ditolak Kesya bisa saja marah dan ngambek sepertinya biasanya.


Mereka pun pergi menggunakan mobil, berkeliling mencari dimana keberadaan penjual bubur ayam itu. Apalagi sudah sesiang ini, pasti sangat sulit.


Kemudian...


Kevano memesankan bubur itu. Tak berapa lama bubur datang. Tapi, saat bubur sampai Kesya hanya sedikit menyuap kan kedalam mulutnya.


"Loh kenapa? Katanya pengen." Tanya Kevano melihat Kesya yang seperti tak berniat dengan makannya.


"Enggak begitu pengen lagi, rasanya udah hilang rasa pengenku." Ucap Kesya.


Kevano mendengus, mengendur kan bibirnya.


"Terus yang makan siapa?" Tanya Kevano lagi.


"Kamu aja, sayang kan kalau dibuang."


"Iya sih sayang, kalau gitu kan tadi dibungkus aja dari pada gak dimakan."


"Udah gak usah bawel makan aja, makanannya.


Tanpa berucap lagi. Kevano menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya sedikit demi sedikit. Meskipun ia merasa kenyang dan rasanya di perutnya sudah penuh dan ingin muntah.


Sesekali ia mengatur napas, agar makanan itu bisa masuk kedalam perutnya. Dan beberapa sendok kemudian makanan itu habis ludes.


Kevano serasa mual tapi ia tahan dengan meminum air putih. Kesya yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum dan seperti tak peduli dengan yang terjadi pada Kevano. Kejam.


"Kenapa senyum-senyum?" cemberut Kevano.


"Enggak apa apa, cuma pengen aja. Lucu kamu ya, katanya kenyang tapi habis."


Kevano mengelus dadanya, rasanya pengen sekali memeluk erat Kesya sampai minta ampun, karena hari ini ia begitu menyebalkan.


TAPI IA TETAP SAYANG PADA KESYA.


%%%


Sore harinya mereka juga belum berniat ingin pulang. Kesya mengajak Kevano berputar mengelilingi kota sambil menikmati udara sore yang begitu tenang.


Hamparan gedung gedung kota yang tinggi menjulang, keramaian kota yang penuh dengan kendaraan berhamburan dijalanan. Dan membentuk semua ekosistem tersendiri yang mereka sebut dengan macet.


Kevano terus melajukan mobilnya, sampai ke ujung kota. Melewati beberapa hutang dan sampai pada padang rumput yang luas. Sawah milik orang.


Kemudian Kevano menghentikan mobilnya.


"Kok berhenti disini, Sya?" Tanya Kesya begitu Kevano keluar dari mobil.


"Mau buang kamu disini." canda Kevano. Lalu ia duduk disebuah bendungan air kecil yang mengaliri air persawahan, sepertinya bendungan itu tak berfungsi karena tak ada air. Musim kering.


"Serem banget sih, aku pulang nih." Ucap Kesya.


"Emang bisa bawa mobil?" ejek Kevano pada Kesya.


"Enggak bisa sih." Kata Kesya sambil ikut duduk disamping Kevano.


Udara sore mengantam wajah mereka, sejuk bercampur dengan taburan bungan ilalang yang seperti salju berwarna putih.