
“Sya!” terika Kesya pada Kevano.
Kevano yang mendengarkan terikan Kesya itu, lansgung bergegas menuju kamar. Yang awalnya ia berada didapur.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Kevano melihat Kesya yang terus mengaduh sambil memegangi perutnya.
“Aku mau melahirkan kayaknya.” Ucap Kesya sambil menahan sakit perutnya.
“Hah, apa melahirkan, eh gimana.” Ujar Kevano panik, ia bingung sendiri. Mengar bahwa Kesya ingin melahirkan. “Kamu bisa berdiri kan sayang, ayo kita kerumah sakit.”
Kevano berusaha membantu Kesya berdiri, dan berniat membawa kerumah sakit. Dengan perlahan Kesya bangun dari tidurnya, lalu berjalan perlahan tertatih sambil terus mengaduh karena sakit yang mendera didalam perutnya.
Kevano membuka pinter apartemen, saat itulah tetangga sebelah melihat keadaan itu, kemudian berjalan \mendekati kedunuya dan berusaha membantu, sampai Kesya masuk kedalam lift.
Dengan dipapah kedua orang itu, Kesya tak berhenti berteriak supaya cepat dibawa kerumah sakit, air ketubannya suddah mulai pecah.
Sesampainya dimobil, Kesya berada di belakang bersama ibu tetangganya itu.
“Sya, ayo cepetan! Ini udah mau keluar!” begitu teriak Kesya terus. Tak tahan dengan sesuatu yang mendesk dari perutnya yang ingin cepat cepat keluar.
“Sabar sayang, ini aku juga berusaha cepat kok.” Kata Kevano mulai ikut panik lagi.
Sialnya tiba-tiba saja jalanan macet, kendaraan itu memenuhi jalan raya. Kesya yang berteriak, Kevano yang kebingungan.
“Mutar aja lewat jalan pintu, diputaran depan. Ada rumah sakit disitu.” Ucap ibu si tetangga itu.
Kevano mengangguk mengindahkan ucapan tenggannya.
Mobil kevano berjalan perlahan, saat sampai diputaran, Kevano keluar dri jalan raya dan masuk ke jalan yang ibu tadi bilang. Jalannya memang tak macet, tapi banyak bebabuan dan koral yang berserakan.
Kevano tak bisa membawa mobilnya mengebut, ia harus berjalan perlahan jika ia nekat mengebut itu bisa berdampak buruk pada kehamilan Kesya.
Tapi tak berapa lama kemudian mereka sampai dirumah sakit itu, yang bahkan tetap keluar dari jalan itu.
Sesampainya disana, Kevano langsung membawa Kesya keluar masih dibantu oleh ibu itu.
“Suster, istri saya mau melahirkan!” ucap Kevano memanggil para suster.
Dua suster dan perawat membawa sebuah ranjang dorong, kemudian merebahkan tubuh Kesya diatas sana, dan membawanya keruangan bersalin untuk segera ditangani.
“Bapak tunggu saja diluar ya, sekaligus mengurus administrasinya.” Ucap salah satu dari suster itu sambil beursaha menutup pintu ruangan itu.
“Ta..tapi saya mau lihat istri saya, sus.” Kata Kevano gugup, ia ngin bersama dengan Kesya.
“Nanti saja Pak, kalau dibutuhkan bapak akan kami panggil.”
Kevano hanya bisa mengangguk-angguk setuju dengan kata suster itu, kemudian pintu ruangan bersalin benar-benar ditutup danKevano hanya bisa meunggu diluar.
Ia panik, bingung dan sekaligus sedikit deg-degan akan apa yang terjadi selanjutnya dengan Kesya dan anaknya.
Kemudian Kevano berjalan menuju suster yang berada didepan untuk membayar biaya persalinan istrinya, untung saja dompet selalu menempel dikantung belakang celananya.
Seetelah selsai membayar itu, Kevano masih panik, ia pun berinisiatif menghubungi sang Mama.
“Hallo, Ma.” Ujar Kevano begitu panggilannya sudah dijawab oleh sang mama.
“Kenapa, Sya. Mama mau temenin Papamu keluar kota.” Jawab sang Mama.
“Batalin dulu Ma, Kesya lahiran, sekarang masih dirumah sakit.”
“Hah, rumah sakit mana?”
“Rumah sakit Karya Utama, simpang jalan pinus.”
“Mama segera kesana sama Papamu.”
Setalah itu Kevano mematikan sambungan dengan sang mama dan menghubungi Mama dari Kesya. Tuan dan Nyonya Susanto pun sedang dalam perjalan kerumah skait.
Kevano menunggu dengan gugup di luar pintu rumah sakit, ia mengetuk-ngetuk dinding, dan terus berusaha menghilangkan rasa bingungnya.
%%%
Kevano merespon dan melihat sang papa yang bersama mamanya.
“Masih didalam, belum keluar dari tadi. Enggak tau udah bukaan keberapa. Kevano gak boleh masuk.” Ucap Kevano.
Tak berapa lama mama Kesya pun datang dengan ikut wajah yang panik, anak perempuan nya sekarang sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati.
“Nur gimana, Sya?” tanya nyonya Susan.
“Masih didalam ma, kita tunggu saja.”
Kelima orang itu menunggu dengan tenang, meskipun raut itu tak nampak diwajah Kevano yang masih seperti beberapa menit lalu.
Kevano menggigiti kukunya sambil sesekali mengigit bibir bawahnya.
Tak berapa lama terdengar teriakan keras dari dalam, suara itu melengking kecil dengan tangisan. Bukannya ikut sedih kelima orang itu malah heboh dengan sendirinya. Kevano mulai tesenyum haru.
Ia melihat orang tuanya dan mertuanya ikut bahagia.
“Pa, Ma. Anakku udah lahir.” Ucap Kevano dengan begitu semangatnya.
Setelah mengucapkan hal itu, seorang suster kelur untuk memberitahukan bahwa Kesay sduah melahirkan dengan selamat dan bayi nya laki-laki.
Raut bahagia itu semakin jelas ketaran pada anggota keluarnya.
“Saya boleh masuk sus?” tanya Kevano dengan tak sabarnya ingin melihat betapa tampannya anak kecilnya.
“Boleh tapi sebentar ya, anaknya lagi di cek dan dibersihkan sama dokter.” Ucap Suster itu lagi, kemduian ia masuk kedalam.
Kevano hanya bisa mengangguk angguk mendengar ucapan itu.
Beberapa menit kemudian suster kembali memanggil Kevano dan anggota keluar untuk melihat bagaimana keadaan Kesya dan anak mereka.
Setelah sampai didalam, kebahagian dan keharuan itu terus menyatu dan terlihat dari keduanya.
Kesya sudah terlihat menyungging senyum, dan sang anak disamping Kesya nampak begitu tampan. Matanya indah, hidungnya mancung dan kata dokter tubuhnya begitu normal dan ideal.
“Ayo adzani.” Perintah Tuan Susanto. “Suara pertama yang harus didengarnya gemaan Ilahi.”
Kevano mengangguk, lalu mengumandangkan adzan didalah satu telinga anak lelakinya. Air mata Kevano menetes perlahan, ia tak pernha seharu ini saat merasakan kebahagian, bahkan saat dulu menikah dengan Kesya pun ia tak menangis.
Tapi hari ini berbeda, kebahagian itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Semuanya mengalir bersama air mata kegembiraan, bukan malah sedih.
Liam menit kemudian Kevano selesai mengumandnagkan adzan, lalu mencium kening Kesya dan anak lelakinya, sebagai tanda yang sulit ia katakan.
Nyonya Putra dan Nyonya Susan bergantian menggendong cucunya, sementara tuan Putra dan tuan Susanto saling berebut untuk mengatakan bahwa cucu mereka mirip salah satu dari mereka.
%%%
Sekitar dua hari kemudian setelah Kesya berada dirumah sakit, Ruben dan sang istri (Shiha) menjenguk nya.
“Yang pengen punya anak juga.” Ujar Ruben pada Shiha.
“Sabar dong, baru juga sebulan kita nikah.” Kata Shiha, sambil menggendong anak Kesya dan Kevano.
“Gas, Bang cepetan lu punya anak. Biar si Hero punya teman berantem.” Timpal Kevano, mendengar ucapan itu Kesya melempar Kevano dengan bantal yang dibuatnya bersandar. “Aduh, kenapa sih Yang.”
“Kamu itu aneh, masa anaknya mau diadu.” Rungut Kesya.
“Enggak di adu, biar seru aja gitu kan anak kita jadi punya teman bermain.”
Perkataan Kevano itu mendapat gelakan tawa dari Kesya, Ruben dan juga Shiha.
Bahkan beberapa hari setelahnya banyak yang menjenguk dan ingin melihat anak Kevano dan Kesya, termasuk Renata, Angga, Adrian, Mili dan juga Nyonya Mira.
Untuk Para Readers tersayang yang tanya kapan Kesya Melahirkan, sekarang sudah melahirkan ya...
Anaknya ganteng banget kayak Author, serius deh. Tapi bukan anak Author itu.