My Berondong Husband

My Berondong Husband
#74 Lamaran Ruben



Ruben membenarkan dasinya didepan cermin, tumben sekali. Tuan putra yang menyuruhnya agar Ruben memiliki sedikit wibawa.


"Ayo, No. Ini cuma prosesi lamaran bukan Ijab kabul gak usah terlalu rapi." Ucap Nyonya Putra terus memaksa Ruben untuk berhenti dari dandannya.


"Papa yang nyuruh, Ma. Biar Kano kelihatan ganteng. Masa bos berantakan gitu." Timpal Tuan Putra mendekati kedua.


Ruben keluar dari kamar dengan setelan jas dan celana biru, dasi hitam dan dalaman kemeja putih.


"Kano sudah siap, ayo berangkat." Kata Ruben sambil mendorong perlahan kedua orangtuanya untuk cepat-cepat berangkat kerumah Shiha.


Pagi ini sebelum ia berniat melamar, Ruben mengatakan pada Shiha bahwa ia hendak datang ke rumahnya untuk melamar.


Awalnya Shiha tak mengijinkan, karena Shiha takut jika orang tuanya akan marah dan tak setuju. Tapi, Ruben tetap ngotot ingin pergi. Bahkan ia sampai mengabari lewat sambungan telephone.


Meraka bertiga lalu masuk kedalam mobil, Tuan Putra yang mengambil kemuji, ia tak mengijinkan Ruben membawa mobil takut nanti pakaian yang dikenakannya rusak dan berantakan.


"Kenapa nggak dari dulu kamu berniat untuk menikah, No? Umurmu sudah tiga puluh tahun, seharusnya Papa sama Mama sudah mengandung cucu." Ucap Tuan Putra saat mobil itu telah melaju secepat mungkin.


"Ruben baru pengen nikah, dan juga baru dapat calonnya. Lagian sebentar lagi kan Arsya punya anak." jawab enteng Ruben sambil memainkan ponselnya.


"Emang kamu gak malu adikmu duluan yang punya anak?" timpal Nyonya Putra.


"Kenapa harus malu Mama nya Arkanto yang cantik, kan jodoh ada ditangan Tuhan."


"Bantah aja kerjaannya. Heran kamu, ya." Kata Tuan Putra.


"Udah deh, Pa. Gak usah marah-marah mulu. Pas Arsya dulu nikah, Papa awalnya juga melarang kan."


"Tapi, dia masih kecil, No."


"Terus gimana sih, nikah muda salah, nikah tua salah."


"Kalian ini malah berantem, gak baik lho." Kata nyonya Putra berusaha melerai kedua lelakinya yang selalu beradu mulut, meskipun tidak begitu serius hanya sebagai bahan bercanda yang kadang tak sempat mereka lakukan.


%%%


Tak terasa perjalanan menuju rumah keluarga Lutfi yang memakan waktu sekitar tiga puluh menit akhirnya meraka sampai.


Ruben lebih dulu keluar untuk memastikan bahwa pemilik rumah ada. Nyonya dn tuan Putra membawa beberapa seserahan untuk lamaran itu.


"Gimana, No?" Tanya tuan Putra.


"Kata satpamnya ada, kita disuruh masuk."


Kemudian ketiganya berjalan beriringan masuk kedalam rumah itu, bagi keluarga Putra rumah itu tak begitu besar. Tapi, mungkin cukup untuk keluarga Lutfi yang hanya seorang manager kantor yang di Putra Group.


Laki laki yang tak lain tuan Lutfi itu membuka pintu.


"Sia... pa." Kata Lutfi sedikit terpotong saat melihat Tuan Putra berada didepan pintu rumahnya. Ia kaget bukan main karena atasannya ada disini. "Pak Putra, ada apa bapak kesini? Ayo masuk."


Tuan Lutfi masih gugup dan sedikit bingung dengan kedatangan bos nya.


Semangat itu Tuan dan nyonya Putra serta Ruben masuk kedalam rumah setelah diijinkan.


"Duduk, Pak, Bu." Sambung tuan Lutfi sambil menyuruh ketiga nya duduk.


ketiga nya mengindahkan ucapan Tuan Lutfi, lalu duduk disana.


"Siapa, Pa?" Tanya Nyonya Lutfi turun dari lantai atas. Menuju ruang tamu.


"Ini Ma, ada Pak Putra sama Istri nya, pemilik Putra Group." jawab Tuan Lutfi.


Nyonya Lutfi merespon dan melihat keduanya, lalu tersenyum ramah dan menjulurkan tangannya.


Tapi, saat sampai dibagian Ruben, Nyonya Lutfi terdiam sesaat lalu tak jadi menjabat tangan Ruben.


"Maaf, Pak saya tidak tahu kalau bapak sama Ibu akan datang kerumah kami." Ucap Nyonya Lutfi berusaha ramah.


"Iya tidak apa apa, memang mendadak. Saya juga tidak memberitahu Pak Lutfi terlebih dahulu." Jawab Tuan Putra pada ucapan nyonya lutfi itu. "Jadi kedatangan kami kesini, mau melamar Shiha kalau boleh."


"Melamar Shiha? Untuk bapak?" Tanya tuan Lutfi bingung.


Tuan Putra tersenyum menahan tawanya.


"Ada-ada sana pak Lutfi ini, saya kan sudah menikah. Saya mau melamar buat anak saya Ruben." Kata Tuan Putra sambil memegang lengan Ruben.


Tuan dan nyonya lutfi kaget mendengar ucapan itu, terlihat raut terkejut paling nampak pada nyonya Lutfi. Ia bingung harus berkata apa pada pemimpin suaminya, karena pernah mengusir Ruben dari rumahnya.


Nyonya Lutfi hanya terdiam tak berani menjawab lagi, karena ia masih merasa malu.


"Bagaimana?" Sambung tuan Putra.


"Tapi, Shiha masih di kan..." perkataan Tuan Lutfi berhenti saat Nyonya Lutfi mencubit pelan tangan kanannya.


"Shiha pasti mau, Pak. Apalagi meraka kan sudah kenal cukup akrab." Ucap Nyonya Lutfi lagi.


Kemudian meraka membahas soal pernikahan yang akan dilangsungkan tak berapa lagi meskipun tanpa kehadiran Shiha.


Raut wajah bahagia nampak diwajah Ruben, saat terpikir bahwa uang berkuasa. Apalagi ia juga sudah menghubungi Shiha bahwa lamarannya diterima, Shiha pun setuju.