My Berondong Husband

My Berondong Husband
#22 Dosen Baru Membuat Kevano Terkejut!



Tak.


Tak.


Suara pantofel itu terus bergerak, berjalan menyusuri lantai lorong kampus. Cara berjalannya pelan tapi dengan hentakan. sesaat kemudian kaki itu berhenti disebuah ruangan IA yang khusus untuk anak-anak jurusan Desain dan Manajement.


Pemilik sepatu itu menarik pintu kaca yang tertutup, saat ia sampai disebuah meja dosen, mahasiswa yang tadinya ribut perlahan diam dan menghadap kearah pemilik sepatu itu.


"Selamat Sore semuanya!" ucapnya nyaring, sedikit berteriak karena suaranya sang kecil.


"Sore!" jawab mahasiswa seperempak.


Beberapa mahasiswi saling bertanya dan bingung, sementara para mahasiswa memandang dengan penuh kekaguman. Dosen itu perempuan.


"Mungkin kalian bingung dan bertanya siapa saya, kan?" Ia mulai menaruh tasnya diatas meja sambil membenarkan pakaiannya.


"Perkenalkan nama saya Kesya Nurinda, saya dosen pengganti Pak Arman sementara untuk mengajar Pengantar Managemen."


Kesya tersenyum getir, bibirnya bergetar tanda ia sedikit gugup. Ini pertama kalinya ia mengajar, bahkan menginjakkan kaki di kampus sudah sangat lama baginya. Sekarang ia disini, bertemu dengan mahasiswa yang pasti lebih pintar darinya untuk seminggu kedepan.


"Berapa lama ngajarnya, Bu?" Tanya seorang mahasiwa sambil bertanya yang duduk dipojok sebelah kanan, sepertinya anak nakal.


"Kemungkinan hanya seminggu."


"Yah, lamain dong, Bu. Kita bosan diajar Pak Arman. Orangnya gak asyik." Ucap mahasiswa lainya yang duduk dibarisan depan.


Ucapan mahasiswa itu mendapat tanggapan meriah dari beberapa mahasiswa lainya, diantaranya banyak para lelaki.


"Ibu disuruh hanya sebentar." kata Kesya tersenyum serumah mungkin. Ia sudah mengenal watak para mahasiswa jika melihat dosen yang sedikit tampan ataupun cantik, pasti mereka tertarik. "Oke, karena ini hari pertama ibu mengajar, sepertinya kita akan membuat kesepakatan dan perkenalan."


"Status ibu apa?!" Belum juga mulai seorang mahasiswa yang juga dibarisan depan berteriak.


"Di KTP belum menikah." Jawab Kesya singkat. "Oke, kita buat kesepakatan. Bagi siapa pun yang telat masuk setelah lima menit saya masuk. Maka saya tak ijinkan mengikuti perkuliahan saya."


Mendengar ucapan itu para mahasiswa terlihat bingung dan terkejut, bahkan pak Arman saja tidak pernah seperti itu. Kesepatakan yang terjadi setelah lima belas menit dosen masuk.


"Bagaimana?" Sambung Kesya sambil bertanya.


Tidak ada jawaban, hanya anggukan kepala tanda pasrah.


Belum sempat Kesya melanjutkan perkataannya, dua orang mahasiwa menarik pintu dengan cepat dan masuk terburu-buru.


"Ma..maaf kami telat." Ucap salah satunya yang tak lain adalah Kevano.


"Kalian telat." kata Kesya tak peduli bahwa itu Kevano.


Kevano menajamkan telinganya, sepertinya suara itu tak asing ditelinganya. Ia lalu mengangkat wajahnya keatas dan mendapati Kesya yang menatap wajahnya.


"Tante." Ucap Kevano sambil menunjuk Kesya.


Buk!


Setelah mendengar kata yang keluar dari mulut Kevano, Kesya tak segan memukul Kevano dengan buku mata kuliah kekepalanya.


"Kamu gak sopan, ya. Saya ini dosen pengganti Pak Arman."


Kevano seakan tak percaya dengan raut begonya.


"Karena kalian telat, kalian sekarang keluar dan tak boleh mengikuti mata kuliah saya." Ucap Kesya, Kevano nampak biasa, sementara Adrian tidak terima.


"Loh-loh Bu, gak bisa gitu dong. Kami cuma telat sepuluh menit." Kata Adrian tak menerima perkataan Kesya.


"Nah itu, kesepakatan saya ganti. Sekarang tidak boleh telat lima menit. Kalian dengar, kan? Sekarang silahkan keluar!"


"Gak mau." Adrian tetap memaksakan diri, dan berusaha ingin duduk dikursinya.


Tapi, belum sempat Adrian duduk, Kevano dengan entengnya menarik tangannya berjalan keluar pintu ruangan.


Kevano tak peduli dengan hukuman Kesya, asal bisa bertemu Kesya saja cukup baginya.


"Eh lu ngapain sih, No." Ucap Adrian melepaskan tangan Kevano yang memegang tangannya.


"Kita ngalah aja sama dia."


"Emang itu ibu-ibu siapa sih?"


"Itu tante yang gue ceritain sama lu."


"Pantesan lu diam aja pas disuruh keluar."


Mendengar ucapan kesan Adrian, Kevano hanya nyengir. Ia tak tahu sebenarnya apa yang terjadi sampai Kesya bisa mengajar di kampusnya, mungkin ada sesuatu. Tapi, yang ia pikirkan bagaimana dengan pekerjaanya, inikan belum waktunya pulang? Dan tak mungkin Ruben abangnya mengijinkanya keluar saat kerja.


%%%


Satu jam setengah mata kuliah dengan tiga SKS selesai. Kesya kini merebahkan pantatnya diatas kursi empuk milik Fakultas Seni. Mengajar sebentar saja sudah membuatnya lapar.


Sebelum duduk ia sudah memesan es teh dan rawon daging sapi, siapa tahu daging bisa menghilangkan pusing dikepalanya karena mengajar mahasiswa yang nakalnya bukan main, mirip anak sekolah.


Setelah pesanannya sampai, ia menyuapkan sambil sesekali mengecek ponselnya. Tidak ada panggilan yang penting, chat yang berguna selain Grup Chat dari Trio Kalong.


Ditinggal Kesya, kehidupan hambar milik Ganda dan Yunda semakin tak berasa. Grup Chat itu penuh emotikon sedih yang malah membuat Kesya tertawa.


Ditengah ia tertawa, sebuah gebrakan dimejanya membuatnya kaget dan tersedak.


"Ya Allah." Katanya terkejut sambil melap bibirnya.


"Hai, tante." Ucap Kevano.


Kesya seperti tak kaget jika Berondong Itu datang, karena pasti ia akan menganggunya jika ia tahu sekampus.


"Apa?" Tanya ketus Kesya.


"Dih ngambek. Lama gak ketemu Vano, apa gak kangen?"


"Empat hari gak ketemu kamu aku bersyukur banget sama Tuhan, sampai sujud syukur. Kukira selamanya gak akan ketemu lagi."


"Sampai segitunya." Raut Kevano berubah, bibirnya manyun dimajukan kedepan.


Kesya meneruskan makan tanda tak peduli.


Meskipun Kesya tak peduli, Kevano terus berbicara tak jelas. Sesekali Kesya mendehem dan mengangguk.