My Berondong Husband

My Berondong Husband
#116 Tragedi Makan Malam



“Geser,” ucap Kevano pada Keylan agar menggeser duduknya, saat itu Keylan tengah bermain sendiri game di PSnya sendirian.


“Apaan sih, Pa. Keylan pengen main solo,” ujar Keylan tanpa sedikitpun mengalihkan matanya dari layar.


“Papa juga pengen main, ganti game,” Kevano berusaha mengganti gamenya, Keylan mencegah tangan Kevano.


“Enggak, Pa. Keylan pengen main So.lo,” kembali ucap Keylan dengan penekatan pada akhir kata.


“Tumben banget kamu pengen main sendiri?” kini Kevano bertanya karena tumben sekali Keylan tak mengajaknya untuk bermain, biasanya Keylan memaksa Kevano meskipun tahu ia sedang bekerja.


“Hari ini Keylan lagi patah hati, jadi pengen pemain sendiri,” rungut Keylan.


“Patah hari karena apa?”


“Pasti gara-gara cewek dong, Pa. Gak mungkin kan karena ditinggal Raka berangkat sekolah,”


“Eh siapa tau, ‘kan. Yaudah cerita, Papa maksa nih.”


Keylan menghembuskan napasnya perlahan, mengambil stik PS nya lalu mengganti game, dan memberikan stik itu pada sang papa.


“Nih, kita ngobrol antar lelaki sambil main game, karena sambil ngopi udah gak jaman,” kata Keylan, Kevano tersenyum mendengar ucapannya, Kevano lalu mengikuti permainan.


Mereka mulai bermain, seperti biasanya, berisik. Kadang Kesya bisa melempar mereka dengan galon air, untungnya air baru saja diisi, jadi tak ada alasan untuk melemper mereka. Suara Keylan dan Kevano langsung memenuhi seisi ruangan.


Kesya yang tengah berada di dapur, hanya bisa menggeleng melihat permain anak dan ayah itu. Memang setelah Keylan masuk ruamh sakit, ini baru pertama kalinya mereka nampak bermain bersama.


Dulu sebelum ada Keylan. Biasanya Kevano bermain dengan Adrian, tapi Adrian mulai tumbuh lebih dewasa dari Kevano dengan masalah barunya, membuatnya pergi dengan membawa cerita tersendiri.


“Gimana? Katanya mau cerita,” tegur Kevano saat mereka mulia lupa karena asyik bermain game.


“Oiya, lupa, Pa,” jawab Keylan matanya fokus pada layar. “Papa tau kan pas aku kecelakaan itu karena apa?”


“Karena cewek yang kamu taksir di sekolah, ‘kan. Iya Papa ingat, terus?” kata Kevano mengikuti curhatakan Keylan.


“Iya cewek itu namanya Aresti. Ceweknya cantik sih, manis, tapi sayangnya...” ucapan Keylan terpotong.


“Sayangnya kamu sayang sama dia?”


“Bukan. Sayangnya dia gak sayang sama Keylan, karena ternyata dia cuma bohongi Keylan soal lomba motor itu.”


“Kenapa bisa begitu?” tanya Kevano lagi, ia mulai menikmati pembicaraanya dengan Keylan.


“Pas kemarin Keylan masuk sekolah, ternyata dia udah jadian sama cowok lain, kan ogeb, Pa.”


Kevano melepaskan satu tangannya dari stik PS, lalu menutupi mulutnya dengan tangan itu, karena ia berusaha menahan tawanya, saat Keylan mengatakan bahwa ada pria lain yang sudah berpacaran dengan gadis yang Keylan sebut Aresti tadi.


“Ih, Papa kok ketawa, ngejek ya,” ujar Keylan saat melihat Kevano masih berusaha menutupi ketawanya.


“Lucu banget,” kata Kevano kini mulai tertawa dengan lepas. “Masa kamu gak sadar kalau di bohongi sama dia.”


Mendengar ucapan itu Keylan yang awalnya menatap Kevano, kini memalingkan wajahnya. “Sadarnya pas udah di tempat lomba, Pa. Karena Keylan yakin pasti Aresti Cuma bohong soal ingin menjadi pacar Keylan setelah perlombaan nanti.”


Kevano tak tahu bagaimana rasanya sakit hati saat berumur seperti Keylan, karena ia dulu masih senang bermain. Setelah lulus SMA ia langsung jatuh hati pada Kesya, saat itulah ia mulai mengerti bagaimana harsu berjuang. Itupun bukan cinta monyet ala anak seusinya.


19 tahun rasanya ia sudah memiliki Keylan kecil, bagaimana mungkin ia harus bermain dengan cerita cinta yang tak pasti.


“Pa,” panggil Kesya memasuki ruang keluarga, Kevano dan Keylan masih asyik bermain game. “Ada tamu tuh.”


“Siapa?” tanya Kevano meninggalkan stik PS, dan berjalan mendekati Kesya.


“Pak Hamdan, karyawan Papa di kantor,” ucap Kesya.


Kevano melirik jam tangannya. Pukul enam lebih lima belas, ia memang ada janji ingin bertemu dengan karayawannya itu.


“Iya, Papa kesana. Mama, sudah siapin makan malam kan?”


Kesya mengangguk, Kevano kemudian berjalan menuju ruang tamu.


Saat berada di ruang tamu, nampak pak Hamdan dan seorang gadis beliau mungkin sesuai dengan Keylan tengah duduk di sofa sana. Pak Hamdan tersenyum ramah saat melihat Kevano berjalan mendekatinya, saat sudah dekat keduanya bersaliman dan tersenyum ramah.


“Malam, Pak Hamdan,” sapa Kevano.


“Malam, Pak Kevano,” jawab pak Hamdan.


“Duduk,” perintah Kevano pada Pak Hamdan dan gadis itu. “Ini siapa, Pak?”


“Ini anak kedua saya, Pak. Kebetulan kakak dan Mamanya sedang ada urusan keluar kota, jadi dari pada saya tinggal dia saya bawa kesini.”


“Begitu ya. Cantik ya, kayak Marisa,” puji Kevano pada gadis itu yang disamakan dengan perempuan bernama Marisa yang tak lain anak pertama pak Hamdan dan juga karyawannya di kantor.


Kedunya lalu berbincang dengan membahas pekerjaan yang sengaaj merela lakukan di rumah, karena saat di kantor mereka tak sempat. Pak Hamdan adalah salah satu karyawan senior di perusahaan Keylan, bahkan sejak perusahaan itu masih di pegang Ruben.


Pak Hamdan kini bertindak sebagai manager keuangan, saat di pegangnya perusahaan terus mengalami kenaikan yang baik.


Saat ini Kevano dan pak Hamdan sedang membahasa tentang prospek kerja kedepannya soal anggaran dana dan pembukaan cabang perusahaan baru dari Putra Group di luar kota.


Awalnya Kevano berharap pak Hamdan bisa mengurus perusahaan baru itu, namun menurut pak Hamdan ia tak bisa pindah keluar kota karena keluargnay disini, anaknya juga masih masih sekolah. Maka dari itu Kevano mungkin memindahkan pak Hamdan keperusahaan lain yang satu kota.


Setelah pembicaraan yang cukup lama hingga lebih setengah jam, Kesya mengatakan pada Kevano karena makan makan sudah siap, Kevano mengajak pak Hamdan serta anak gadisnya untuk makan.


Ketiganya berjalan menuju ruang makan, untuk menikmati makan malam bersama, namun Keylan belum muncul di ruangan itu. Melihat itu Kesya bergegas memanggil Keylan yang ternyata masih main game kini dengan ponselnya.


“Makan, Key,” ucap Kesya menyuruh Keylan makan, tapi Keylan hanya menjawab-nanti. “Makan!”


Setelah ucapan Kesya naik dengan nada tertinggi, Keylan kaget dan bergegas mematikan ponselnya, berlari menuju ruang makan dengan cepat sebelum sang mama mulai dengan amukannya.


Keylan sampai di ruang makan, lalu duduk di salah satu kursi disisi kanan yang Kevano, saat kemudian matanya bertuju pada gadis di sebelah pak Hamdan.


“Key, kenalan sama anaknya Pak Hamdan itu,” ucap Kevano menyuruh Keylan bekenalan.


Kevano hanya mengangguk, tanpa menanggapi ucapan sang papa, karena gadis yang berada di depannya itu tak lain Aresti anak dari karyawan papanya. Begitupun Aresti yang nampak canggung serta malu, bingung pun nampak disana.