My Berondong Husband

My Berondong Husband
#34 Sebuah Pernyataan



Renata menjatuhkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu sambil mengatur napasnya. Karena ditinggal Adrian terpaksa ia harus naik taksi, dan karena tempatnya berdiri adalah jalan kecil ia berjalan kearah jalan besar.


Kakinya cukup pegal, ia terus mengurutnya dengan perasaan yang sedikit dongkol. Ia masih terpikir soal masalah antar kakaknya, Kesya dan Kevano, apa benar sampai separah itu.


Apa Kevano mengetahui kalau ia yang mengadu pada Bian atau tidak, karena yang mengetahui pergerakan Kesya selama di kampus hanya ia.


Dengan wajah merungut ia menahan kesal, hingga panggilan sang mama tak ia hiraukan.


“Rena!” teriak sang mama tepat ditelinga kirinya.


Renata terkaget dan sadar sesaat.


“Apa sih, ma?”


“Kamu kenapa, kok pulang-pulang gak ngucap salam, malah melamun disini.”


“Renata capek.” Keluh Renata.


“Capek kenapa?”


“Tadi habis jalan jauh, karena ditinggal Adrian.”


“Loh, kok bisa? Kamu gak bareng sama Kevano.”


Renata menggeleng.


“Kakak mana?” tanya Renata sambil mencari sosok kakaknya.


“Ada tuh lagi makan.”


Mendengar ucapan mamanya, Renata bergegas pergi berlari kecil menyusul kakaknya yang tengah menikmati makan siang diruang makan.


Sesampainya disana ia melihat Bian dengan enaknya terus memenuhi makanan kemulutnya.


Brak!


“Uhuk!” Bian terbatuk saat Renata membanting bukunya keatas meja makan. “Apa-apaan sih kamu. Ganggu kakak makan aja.”


“Kakak bilang apa sih sama Kevano?” Ucap Renata sambil mengambil tempat duduk disamping Bian.


“Bilang apa?” tanya Bian pura-pura tak tahu.


“Kakak pasti ngomong sesuatu kan sama Kevano sampai sikapnya dingin sama Rena.”


“Enggak ada, kalaupun ada itu bukan soal kamu.”


“Tuh kan kakak gitu.” Rungut Renata sambil menutup wajahnya diatas meja dengan lipatan tangan.


Bian terdiam melihat kelakuakn adinya yang aneh, tak biasanya Renata begitu selama ini. Apa gadis ini sedang patah hati? Jika pun benar lalu dengan hal apa?


“Kenapa sih? Kakak Cuma bilang suruh jauhin Kesya, karena Kevano ganggu hubungan dan kerjaan kakak sama Om nya.”


“Terserah lah. Ada bagusnya kalau Kevano ganggu lagian kerjaan kakak gak baik.” Setelah mengucapkan itu, Renata berjalan berlalu pergi membawa kembali buku-bukunya.


Anak kecil ini tahu apa. Batin Bian pada adiknya.


Sementara itu, Kesya masih terdiam didalam kantin, makan siangnya belum ia sentuh padahal sudah hampir dingin, ikan pepes bumbu kuning, yang sengaja ia minta dengan mbak Dian.


“Lu kenapa lagi sih, Kekes ku sayang?” Tegur Yunda sambil menaruh semanggkuk mie instans lengkap dengan dua telur mata sapi.


“Enggak papa.” Ucap Kesya.


“Ngomong gak, atau gue siram kuah mie nih.” Ujar Yunda berlagak galak dengan Kesya.


“Si ibu galak banget, kayak lagi datang matahari.”


“Lagian lu gak ngomong sih.”


“Ini lho aku bingung, siapa yang ngasih makanan tadi pagi.”


“Pacar lu kali, kan kalian mau nikah dia pasti sayang-sayang banget sama lu.”


“Gak mungkin. Bian bukan tipe orang yang seperti itu.”


“Atau si Kekev!” seru Ganda ikut menimbrung dalam pembicaraan mereka. Ia mulai duduk dan menaruh baksonya.


“Dia kan berhari-hari gak ada kekantor, lagian kayaknya dia marah sama aku.”


“Gue bingung deh sama Bian, kenapa dia semarah itu sama Kekev kalau Cuma masalah kecil. Dia kan Cuma cemburu.” Ucap Yunda, berusaha meyakinkan kedua temannya dengan ucapannya.


Kesya dan Ganda terdiam, sambil mengangguk-angguk. Ucapan Yunda ada benarnya.


“Atau ada masalah lain, yang sengaja Bian sembunyikan. Yang hanya dia dan Kekev yang tahu.” Sambung Yunda.


“Gue setuju.” Kata Ganda. “Kayaknya bukan hanya cemburu deh, masalahnya pasti lebih rumit.”


“Misalnya pekerjaan?”


“Enggak mungkin ah, Kevano kuliah dan Bian kerja.” Kesya masih terus menyangkal ucapan Ganda dan Yunda.


“Berarti orang tuanya Kekev pernah dipenjarain sama Bian.” Tebak Ganda.


“Ngaco aja sih lu Ndis, tuan Putra gak pernah masuk penjara.”


Ganda mengangguk, tanda setuju. Karena selama ini ia sering melihat tuan Putra selaku pemilik Putra Group kadang dua minggu sekali mengecek kantor dan melihat keadaanya seakan tak percaya dengan pak bos Ruben.


“Udahlah kalian gak usah ikut mikirin hubungan kita berdua.” Ucap Kesya berusaha mengakhiri pembicraan itu, tapi Yunda dan Ganda yang seprtinya kehabisan bahan ghibahan ingin terus membahas.


“Kalau itu masalah serius, dan lu gak dikasih tau gimana nanti pas udah nikah.” Kata Ganda.


“Sudah aku bilang, gak usah dibahas. Gara-gara kalian kan moodku jelek, aku jadi laper lagi, kan. Jadi pengen ayam bakar.”


Yunda dan Ganda tak merespon ucapan ngasal Kesya.


%%%


Siang dan sore begitu cepat berlalu, saat ini Kevano tengah asyik bermian PS didalam kamarnya sendirian. Ia lakukan untuk menghilangkan jenuh dan bosan setelah belajar untuk UTS besok.


“Main sendirian lu, kok gak ngajak gue?” tanya Ruben sambil memasuki kamar Kevano.


“Gue tadi lihat lu masih sibuk sama kerjaan.” Ucap Kevano tanpa memalingkan wajahnya dari layar PS.


Ruben mendekati Kevano dan mengambil satu stick PS lain.


“Ganti game kek, yang seru. Kita tanding.” Ujar Ruben sambil memilih beberap game. “Nah, ini aja.”


Kevano memperhatikan game itu dengan seksama.


“Serius lu, digame ini gue udah menang lima kali sama Adrian.” Kata Kevano sesumbar dan berlagak sombong.


“Kita buktiin deh, kalau lu menang gue kasih duit. Kalau lu kalah, ngomong apapun yang mau lu ceritain.”


“Truth or dare gitu ceritanya. Oke, deal.”


Setelah itu Kevano dan Ruben memilih karakter mereka masing-maisng, game yang mereka mainkan adalah game pertempuran kekaisaran. Setelah mendapatkan karakter mereka mulai bertanding.


Kevano membuat suasana menjadi seru dengan ucapannya, sementara Ruben hanya diam. Dari awal sampai pertengahan game Kevano mendominasi, bahkan Ruben hampir kehabisan blood, tapi diakhir-akhir game Kevano harus kalah, karena kehabisan point.


“Oke cerita,” ucap Ruben kemudian, setelah Kevano membanting stick karena kesal.


“Gue mau balapan besok malam.” Kevano mengatakan itu tanpa beban sedikitpun, dan Ruben yang mendengarkan tak bereaksi apapun.


“Ada hadiahnya gak? Lu pakai motor siapa?”


“Gue bakal cerita tapi jangan ngomong ke Papa sama Mama, ya.” Ruben mengangguk. “Hadiahnya motor, mereka bilang sih turnamen tapi gue tahu ini gak resmi. Gue dipinjamin motor Adrian, lu tau kan motor yang harganya muaahal itu.”


Lagi-lagi Ruben hanya mengangguk.


“Makasih ya abang Ruben yang ganteng.” Ujar Kevano berlagak manja dan berusaha memeluk Ruben.


“Gue masih normal.” Ucap Ruben menghindari pelukan Kevano. “Ngomong-ngomong gimana hubungan lu sama Kesya?”


“Lu tanya dia terus, gue jadi keingat, kan?” Kevano berlagak memasang wajah melo.


“Pepet terus kalau lu suka, rebut dari Biandra. Gue bantu.” Kata Ruben dengan begitu semangat, tak seperti biasanya.


“Enggak lah, ngapain coba. Lagian Kesya juga bilang dia mau nikah, dan gue harus jauhin dia.”


“Lu bilang aja sama Kesya kalau Bian itu gak baik, temuin lagi siapa tau dia ngerti.”


“Enggak bang, gak perlu.”


Wajah Kevano benar-benar terlihat lesu. Ia benar, ia tak mungkin bisa melakukan apapun untuk membuat Kesya menjadi miliknya, ia bukan tipe perebut, jika Kesya miliknya maka pasti datang padanya.


Mengingat Kesya ia jadi mengingat masalah yang terjadi pada mereka, setelah Bian memukulnya malam itu, ia tersadar sepertinya Renata ikut dalam masalahnya, karen Renata adalah adik kandung dari Bian.


Renata juga pernah mengatakan bahwa menyukainya, dan selama di kampus pun Renata tahu bahwa ia dekat dengan Kesya. Mungkin Renata Juga yang telah mengatakan itu pada Bian.


“Eh masalah Papa, gimana bang?” sambung Kevano.


“Papa masih dalam proses, minggu depan Om Gio bakalan sidang, dan Papa sebagai saksi, tapi juga bisa menjadi tersangka kalau terbukti Papa bersalah.”


“Kok bisa gitu bang?”


“Ya, lu pasti tahu kan kalau Papa minjamin uang ke Om Gio itu banyak banget.”


“Buat nyuap ya?” tebak Kevano kemudian.


Ruben mengangguk, tak berkata begitupun Kevano pasti paham, karena ia sudah dewasa dan mengerti tentang keadaan pekerjaan orang tuanya beresiko.