
Perjalann ke arah puncap memakan waktu lebih dari dua jam dengan medan yang sebenarnya cukup nyaman, namun karean tempatnya jauh, terpaksa mereka lama. Itupun puncak ada diluar kota.
Ganda sampai mabuk kendaraan dan setelah menginjakkan kakinya didaerah puncak ia mengeluarkan hamoir semua yang sudah ia makan hari ini.
“Muntah lu banyak banget.” Ucap Yunda yang mengurut leher belakang Ganda.
“Lama banget sih lu bawa mobil. Gue sampai gak tahan.” Kata Ganda, sesekali ia muntah lagi.
Ketiganya keluar dari mobil dan berjalan kearah vila yang cukup besar, dengan pemandnagan yang begitu indah. Ppeohonan dan bukit yang hijau.
Didepan pintu vila putih itu, terlihat ada seorang lelaki paruh baya yang sudah menunggu. Ia tersenyum ramah yang tertutupi keruput tua diwajahnya.
“Selamat sore Selamat datang aden dan mbak-mbak.” Ucap ramah penjaga vila itu.
“Iya, mang. Selamat sore. Saya Ganda keponakannya Pakde Hanum dan ini teman-teman saya.” Kata Ganda pada Mang Adin, penjaga vila milik Pakdenya.
“Iya, Den. Pak Hanum sudah bilang sama saya. Mari masuk.” Mang Adin mempersilahkan ketiganya masih. Saat hendak mengambil tas milik Kesya, Kesya menggeleng.
“Biar saya saja yang membawa, Mang. Mamang tunjukin jalannya saja.”
Mang Adin mengangguk dan menunjukkan apapun yang ada di vila itu. Mulai dari kamar yang mereka tinggali untuk temoat tidur, halaman luas yang bisa mereka gunakan dan banyak hal lainnya.
Setelah dirasa cukup, Mang Adin berllau pergi meninggalkan ketiganya disana.
“Oke, sebelum kita pesta. Kita harus mandi dulu. Dan soal bahan makanan kata Pakde gue udah disipain di kulkas.” Kta Ganda.
Mendengar kata makanan Kesya bejalan kearah kulkas, melihat apakah ada maknan yang bisa ia cemil setidaknya sampai pesta berlangsung nanti malam. Karena perutnay sudah begitu lapar lagi.
“Banyak banegt isinya, Ndis.” Ucap Kesya, sambil melihat isi kulkas itu dan mengambil satu bungkul cemilan berat.
“Iya, ini vila sering banget dikunjungi orang. Jadi buat persiapan aja, siapa tahu mereka mau ada acara, jadi gak perlu beli lagi. Lagian kan tempat belanja jauh.”
Kesya mengangguk tak menjawab ucapan Ganda, mulutnya sudah penuh dengan makanan. Sementara Yunda sejak tadi memperhatikan seluruh isi vila itu, dari mulai detail sampai pajangan dinding. Hingga matanya tertuju pada sebuah bingkai yang berisi foto sebuah keluarga besar.
“Ini foto keluarga lu, Ndis?” tanya Yunda menunjuk foto yang beada satu meter diatasnya.
“Iya, keluarga besar. Saking besarnya gue lupa saudara gue.”
“Berapa jumlahnya?”
“Papa gue itu dua belas saudara, yang punya vila ini anak keempat. Terus almarhumah Mama gue lima saudara. Masing-maisng sudah berkeluarga dan beranak-pinak. Kadang pas gue jalan ada yang nyapa, katanya sih sepupu gue, tapi gue aja gak kenal.”Papar Ganda dengan gaya manjanya, yang membuat Yunda dan Kesya mengangguk-angguk.
Ternyata ada banyak yang yang belum Ganda ceritakan, termausk keluargnay sendiri. Karena selama ini yang Yunda dan Kesya tahu adalahganda tak begitu akrab dengan Papa dan kakak-kakaknya karena gaya Ganda yang seperti perempuan, sebabitulah ia pergi dari rumah dan memilih tinggal sendiri.
Dengan gajihnya yang cukup lumayan, ia mengkredit sebuah perumnas dengan k\=ukuran tiga puluh enam. Mungkin terlihat kecil, tapi dari pada mengontrak tempat orang yang tak bisa menjadi miliknya, itu lebih ke pembuangan uang.
“Yaudah deh lu pada mandi gih. Ada dua kamar mandi, dibelakang sama dikamar samping.” Sambung Ganda.
“Gue mandi dibelakang aja deh, Yunda biar dikamar samping.” Kata Kesya
Ganda mengangguk.
“Lu mandi dimana, Ndis?” Tanya Yunda.
“Gue mau mandi disendang. Gak jauh kok, kalau kalian mau ikut ayo aja.”
“Wah seru tuh, mending kita kesana aja.”Ajak Yunda.
Kesya setuju.
Ketiganya bergegas menaruh barang-barang mereka didalam kamar, membawa pakaian bilas seadanya dan bejalan keluar.
Didekat vial itu ada sebuah sendang yang tak begitu besar, tempatnya dibawah bukit yang ditutupi pepohonan rindang, lebih mirip curuk. Air sendang itu begitu jernih dan bersih, udara disana pun cukup sejuk.
Setelah sampai disana, mereka terlihat bahagia dan begitu senang. Mandi dan bermain air, menghilangkan pikiran seteres akibat pekerjaan yang terus menumpuk.
Mata Yunda seeprti tak bisa diam, ia terus memutar kepalanya melihat semua pemandangan itu, hingga matanya seperti melihat sosok bayangan sekilas yang membentuk seorang lelaki. Tapi, ia tak ambil pusing mungkin hanya pepohonan biasa.
Sementara Ganda sudah bersemedi bawah air sendang, dengan gaya yoga.Kesya yang tak bisa berenang berjalan pelan menghampir Yunda, padahal air disana tidaknya dalam.
“Lu ngapain sih, Kes?” Tanya Yunda begitu Kesya memegang erat pundaknya dari belakang.
“Aku takut.” Ucap Kesya, wajahnya terliaht parno.
“Airnya enggak dalam kali, Cuma sepinggang. Lepasin gue.”
Kesya melepaskan pegangannya pada tubuh Yunda, lalu berusah asetetnag mungkin dan berjalan didalam air. Tapi, baru saja berusaha menikmati air itu, ia terpeleset dan tubuhnya masuk semua didalam air.
Melihat Kesya yang terjatuh, Ganda dan Yunda bukannya menolong mereka malah tertawa begitu keras.
“Dasar teman sialan kalian.” Rungut Kesya, sambil menyeka air yang membasahi wajahnya.
“Bodo.” Ganda tertawa begitu kencang, beberapa air masuk kedalam mulutnya.
Tak berapa lama mereka bermain air, seorang lelaki muda yang usinay dibawah mereka datang. Yunda menangkap itu.
“Permisi Den Ganda, Abah menyuruh saya memanggil Aden dan teman-temannya untuk makan.” Ucap lelaki itu.
“Iya, bentar lagi kami kesana. Makan dirumah Mang Adin, kan.”
Lelaki muda itu mengangguk, lalu berjalan pergi dari sendang itu.
Yunda yang memperhatikan lelaki tadi, teringat bayangan yang terliaht dibalik pohon.
“Itu tadi siapa, Ndis?” tanya Yunda penasaran.
“Itu anaknya Mang Adin, Yoga namanya. Jarang dia dirumah, kuliah di Kota.” Ucap Ganda, lalu keluar dari Sendang itu diikuti Kesya dan Yunda. “Kenapa? Lu naksir ya? Emang sih Yoga hot banget, lebih hot dari Kekev. Kalau lu mau gue bisa mintain nomor ha-penya.”
Yunda terkaget dengan perkataan Ganda.
“Dih, apaan sih lu. Gue gak tertarik sama berondong, laagian gue bukan Kesya si tante girang.” Kata Yunda. Meskipun berkata begitu, sebarnya Yunda tertarik dengan lelaki itu, begitu tampan dan memang hot. Badannya yang bagus tercetak dari kaos yang tipis dan ketat yang digunakannya.
Usia dua puluh delapan tahun memang seharusnya Yunda sudah memikirkan soal pernikahan, tapi sampai hari ini satu lelaki yang dekat dengannya saja tidak ada.
“Serius nih?”Rayu Ganda.
“Yaudah deh boleh kalau lu maksa.” Ucap Yunda kemudian berlagak sok pasrah.
“Dih dasar murah, gue gak maksa.”
Pembicaraan itu berhenti saat mereka sudah sampai di vila untuk mengerikan tubuh dan berganti pakaian, lalu setelah itu menikmati makanan. Ketiganya sudah begitu lapar, bagi mereka makanan adalah segalanya.
Sesampainya dirumah Mang Adin, sang istri langsung mempersilahkan ketiganya untuk menikmati makanan. Sementara Yunda masih fokus mencari Yoda.
“Yoga kemana, Mang?” tanya Ganda, begitu paham dengan Yunda yang sejak tadi celingak-celinguk.
“Lagi belajar dikamar, Den. Katanya buat persiapan sidang.” Ucap Mang Adin seperti biasanya.
“Wah keren tuh. Bisa panggilin gak, ada temen yang mau kenal.”
Mendengar ucapan Ganda, dengan kaget Yunda melirik Ganda. Sementara Ganda bersikap seolah ia tak peduli.
Istri Mang Adin berjalan menjauh menuju kamar Yoga, sesaat setelah itu Yoga datang dan bergabung dengan mereka.