
"Laras, bawa laporan meeting kemarin ke ruangan saya." Ucap laki-laki pada salah satu pegawainya bernama Laras.
"Baik, Pak." Kata Laras sambil tersenyum pada sang bos.
Laki-laki itu kemudian masuk kedalam ruang kerjanya kembali, membiarkan Laras mengambil dan menyusun berkasnya untuk dibawa keruangannya.
Setelah mendapatkan berkasnya Laras menuju dimana bosnya berada, mengetuk pintu lalu masuk kedalam ruangan.
Laras duduk didepan meja sang bos, dan bosnya langsung menerima berkas itu. Itu adalah berkas laporan hasil meeting beberapa hari lalu tentang saham dan laporan kalinya yang teramat penting bagi perusahaannya.
Meskipun begitu laki laki itu mempercayakan semaunya pada Laras, karena yakin Laras bisa mengurus semuanya.
"Sudah kamu salin laporan ini, Ras?" Tanya laki laki itu pada Laras.
"Sudah, Pak. Saya masukan pada bagian bulanan, dan filenya nanti saya kirim ke email bapak."
"Bagus, yang ini kamu fotokopi dan berikan pada Pak Rian, biarkan untuk arsip."
Laras mengangguk.
"Kamu sekarang boleh keluar." Sambung laki laki itu.
"Baik, Pak. Permisi." Kata Laras kemudian berjalan keluar dari ruangan bosnya menuju meja kerjanya kembali.
Sementara laki laki itu masih di tempat yang sama, memperhatikan Laras yang berjalan keluar lalu hilang ditelan dinding kantor.
Laras yang cantik dan baik, ramah dan pekerja keras. Sudah lebih dari lima tahun Laras bekerja padanya, maka tak heran banyak hal yang ia tahu tentang Laras.
Apalagi saat ia tahu bahwa Laras adalah mantan kekasih dari Bian, seorang pengacara yang sangat ia benci. Awalnya ia anggap biasa hubungan mereka, tapi saat Bian berusaha memenjarakannya dan membuat sakit anaknya perempuannya ia mulai dendam pada Bian.
Sakit hatinya ia terus tahan, hingga akhirnya ia melihat Bian masuk kedalam penjara. Perasaan meang menyelimutinya, dibantu rival Bian dikantor semakin membuatnya merasa bahagia.
Saat Bian dipenjara banyak hal yang ingin lakukan padanya, ia berusaha membuat hidup Bian semakin sengsara. Dengan menyogok jaksa penuntut umum yang memberatkan sidangnya. Juga memberikan gepokan uang pada ketua penjaga penjara untuk menaruh Bian disel yang sama seperti tahanan lainnya.
Meskipun hal itu menyalahi aturan hukum, tapi ia tak peduli. Yang pasti ia ingin melihat hidup Bian benar-benar hancur.
Dan belum lama ini, salah satu bawahannya bernama Bondan berhasil mengambil alih saham milik Nyonya Mira, yang tak lain ibu dari Bian.
Sedikit demi sedikit ia juga akan akan menghancurkan keluarganya, karena dulu ia juga terlibat masalah dengan Tedi, mantan suami Nyonya Mira dan Ayah dari Bian.
Tak ada yang tahu semua itu, karena ia terus simpan dengan rapat, bahkan dari keluarganya juga.
Dendam dalam dirinya terus membara dan bergelok, meski begitu saat bertemu Bian dan Nyonya Mira ia selalu bersikap ramah dan seakan tak terjadi apapun diantara mereka.
Semangat itu Laras sudah berada di meja kerjanya, sibuk dengan pekerjanya yang menumpuk diatas meja. Ada banyak laporan yang harus ia kerjakan sebelum weekend ini, agar ia bisa bersantai dirumah sambil menikmati hidup.
"Ras, sibuk banget." Ucap Lia salah satu teman Laras menegurnya.
"Kalau gak sibuk ini pekerjaan gak selesai, Ya. Jangan ajak gue ghibah, oke." Jawab Laras tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop, yang sesekali matanya bergantian memandang laporan yang harus ia salon.
"Gue gak ngajak ghibah atau gosip, cuma mau tanya aja. Lu masih masih sering jengukin Bian?"
Mendengar pertanyaan Lia itu Laras kemudian memandangnya dengan mata yang tak biasa, seperti tengah melihat sesuatu secara berbeda.
"Mata lu kenapa?" Sambung Lia.
Laras menghela napas lalu mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Masih." Kata singkat Laras.
"Cinta itu buta, Ya."
"Iya, tapi enggak bodoh. Meskipun lu jenguk Bian terus-terusan, pas keluar dari penjara nanti pun yang dicari bakalan Kesya bukannya lu."
Laras hanya mendengarkan omongan Lia sambil terdiam. Rasanya semua yang keluar dari mulutnya tentang ia dan Bian memang benar.
Ia terlalu sayang dengan Bian, bahkan meskipun Bian sudah menyelingkuhinya dan lebih memilih Kesya.
Sakit hati dan kecewa ia dengan perlakuan Bian, tapi ia bisa apa. Marah pun tak mungkin semuanya kembali padanya.
Awalnya memang Bian tak mengaku bahwa ia berpacaran dengan Kesya, tapi akhirnya ia mengatakan semua itu. Bahkan saat ia mendengar bahwa mereka akan menikah semakin sakit rasa didada.
Padahal dulu, Bian adalah tipikal lelaki idamannya, yang baik dan selalu bersikap seolah ia pangeran hati milik Laras.
Tapi semuanya berubah, entah karena bosan dengan hubungannya, atau bagaimana. Hubungan yang berjalan hampir satu tahun kandas begitu saja.
Apalagi saat ia tahu Kesya adalah anak orang kaya raya pemilik perusahaan, ia semakin minder dan merasa tak sanggup menyaingi Kesya yang wah dalam segala hal.
Laras mundur dan menganggap semaunya tak pernah terjadi. Hingga Bian masuk dalam masalah besar
Bian masuk penjara. Mengetahui hal itu ia berniat membuat semuanya membaik dan berharap Bian kembali luluh dan cinta padanya.
Laras bodoh? Ia sadar dengan hal itu, bahkan konsekuensinya pun ia tahu. Tapi, cinta tetap mengalahkan segalanya. Ia tak bisa menolak perasaan yang terus ada hatinya.
"Ras, malah ngelamun lu." Sambung Lia.
"Gue kepikiran sama omongan lu, Ya. Apa gue salah, kalau terus-terusan berharap pada Bian?"
"Enggak ada yang salah dalam sebuah perasaan, tapi lu harus sadar posisi aja lagi. Takut lu nya makin sakit hati nanti. Sikap Bian gak bakalan berubah, Ras."
"Memang benar kata lu, Ya. Gue juga berusaha menyingkirkan perasaan ini, tapi sulit susah banget."
"Gue bantu."
"Caranya?"
"Sini Ha-pe lu." Minta Lia.
Laras memberikan ponselnya yang awalnya tergeletak diatas meja kerjanya. Lia menerima ponsel itu, lalu seperti mencari sesuatu disana dan mulai sibuk dengan ponsel Laras.
"Lu ngapain sih, Ya?" Tanya Laras.
"Sabar, bentar lagi." Jawab Lia tetap sibuk dengan ponsel Laras. "Dah, ini."
"Apa ini?" Tanya Laras bingung, apa yang sudah Lia lakukan pada ponselnya.
"Aplikasi Kencan online, sudah waktunya lu move on dari cowok kayak Bian. Udah gak baik tetap ada dipaksa bertahan."
"Ogah ah Lia, gue Uninstall nih." Hampir saja Laras menghapus aplikasi itu. Tapi, Lia mencegah.
"Jangan, awas aja kalau lu hapus. Sebagai sahabat lu gue pengen lihat lu bahagia dengan kisah percintaan lu. Bukannya ngegalau terus gak jelas sama orang gak jelas."
Laras hanya mendehem mendengar ucapan alay dari Lia, ia tak ingin membantah apapun yang dikatakan Lia, jika ia bilang tidak. Bisa-bisa akan panjang urusannya nanti dan makin runyam.
Meskipun begitu Lia tipikal sahabat yang baik padanya, yang selalu support padanya dan tak pernah membutnya bersedih ataupun galau.