
Dua hari liburan bersama trio kalong adalah hal yang paling mnyenangkan bagi Kesya, apalagi liburan kepuncak yang tak pernah mereka rencanakan. Bisa bertemu dengan tempat yang indah, Mang Adin dan keluarganya yang selalu ramah, Yoga yang baik, dan kebun teh yang begitu luas.
Setelah berlibur Kesya harus kembali pada pekerjaannya yang menyita banyak waktunya, lima hari dalam seminggu, sepuluh jam dalam sehari. Tapi, ia menikmati pekerjaannya itu, menikmati setiap yang ia lakukan, karena ia sudah melakukannya lebih empat tahun dan ia merasa nyaman.
Seperti pagi itu, meskipun telat tidur, ia tetap bisa bangun tepat waktu dan absen tanpa terlambat, sementara Ganda dan Yunda malah harus tertinggal absen serta datang dengan kantung mata hitam mirip panda.
“Kalian ngapain sih?” tanya Kesya pada kedua temannya itu yang mengenakkan tubuhnya tidur diatas meja.
“Ngantuk, capek, komplit banget.” Gumam Ganda, tanpa mengangkat wajahnya.
“Emang kalian tidur jam berapa?”
“Hampir subuh,” Ucap Yunda.
Padahal selama di puncak Kesya melihat mereka beruda begitu menikmatinya, tapi entah kenapa ketika kembali kekantor selalu saja banyak alasannya.
Saat tengah mulai bekerja dengan laporannya, pak bos Ruben datang mengagetkan Yunda dan Ganda. Kesya pun ikut kaget.
“Pak bos, Gendis kan jadi kaget, kalau jantung Gendis copot, di warung gak ada yang jual.” Ujar Ganda sambil memegang dadanya menahan kaget akibat ulah pak bos.
“Bodo amat.” Jawab datar pak bos Ruben. “Nur, ada yang mau ketemu kamu.”
“Sekarang, pak?” tanya Kesya.
“Minggu depan. Ya sekarang lah.”
Kesya mengangguk-angguk, lalu berjalan mengikuti pak bos untuk masuk kedalam ruanganya, sementara kedua anggota trio kalong kembali tidur dan berusaha memulaskan diri.
Kesya membulatkan pikirannya, siapa yang ingin bertemunya sepagi ini, lagi pula tumben sekali ada client yang meminta bertemu, biasanya pak bos yang melayaninya atau jika ingin bertemu langsung menghubunginya.
Sesampainya diruang pak bos, aroma lain tercium, wangin menyeruak yang ia kenal, untuk memastikan perkiraannya, ia mengedarkan seluruh pandangan matanya. Sesosok yang akrab dengan ingatannya.
“Nur, ini pak Kevin Sanjaya ingin berbicara dengan kamu.” Ucap Pak bos kemudian.
“Pagi pak,” Kesya menyalami sang tamu dan tersenyum ramah.
Kevin Sanjaya tak menjawab salam itu, hanya tersenyum lalu menyalami kembali tangan Kesya.
“Bapak cari saya?” sambung Kesya sambil bertanya.
“Iya. Kamu sibuk?”
“Tidak, pak. Hanya sedikit pekerjaan.”
Kesya dan pak bos mengambil tempat duduk menghadap Kevin Sanjaya, diruangan pak bos ada bagian khusu untuk menerima tamu.
“Biasanya bukan saya yang datang, tapi saya yang langsung meminta kamu untuk mengerjakan iklan ini.” Ucap Kevin kemudian, saat keduanya sudah mengenakkan posisinya duduk.
“Kalau boleh tahu, iklan apa Pak?”
“Perusahaan kami baru memproduksi makanan baru, karena bahan bakunya cukup mahal, kami ingin produk itu cepat laku. Maka dari itu kami ingin kamu membuat iklan yang menarik perhatian banyak orang.” Papar Kevin pada Kesya, sementara Kesya mengangguk paham atas ucapan itu. “Bagaimana kamu bisa melakukannya?”
“Saya akan coba diskusikan dengan tim saya dan pak Ruben, mungkin cukup lama, tapi kami meminta dua minggu, setelah itu biar tim yang datang langsung AB Group.”
Kevin mengangguk dan tersenyum. “Oke, untuk beberapa hal bisa kita diskusikan disini sebentar.”
Ketiganya mulai membahas soal produk yang akan mereka iklan kan. Kesya memiliki pekerjaan dan client baru, padahal ia sudah berniat untuk cuti minggu depan, karena sebulan lagi ia akan melangsungkan pernikahanya.
Sebenarnya pak bos sudah mengijinkan ia cuti, hanya saja ia masih berpikir soal pekerjaan yang begitu menumpuk, jika bukan ia yang mengerjakan siapa lagi, tak mungkin trio kalong membantu karena mereka juga ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.
Tak lama diskusi itu berlangsung, setelah semuanya selesai, Kevin sanjaya berpamitan keluar bersama Asistennya, Kesya pun berjalan keluar menuju kursinya. Pembahasan itu menyita satu jam waktunya.
Saat sampai dimeja kerja, kedua sahabatnya ternyata belum bangun. Tapi, ada yang aneh dimeja kerjanya, yakni sebuah kotak makanan yang berbuat dari plastik dari salah satu resto cepat saji.
Seingatnya ia tak memesan makanan apapun, tapi kenapa ada kotak seperti ini.
“Ndis, ini makanan kamu ya?” tanya Kesya sambil menggoyangkan lengan kiri Ganda.
“Si OB tadi yang naruh.”
“OB? Mbak Dian maksud kamu?”
Tak berapa lama ia menemuinya yang tengah membersihkan piring.
“Mbak Dian, ini makanan mbak yang bawa ya?” Tanya Kesya.
Mbak Dian menoleh setelah membersihkan tangannya. “Iya Bu,”
“Loh saya kan gak ada pesan makanan.”
“Itu titipan bang ojol, katanya suruh ngasih Bu Kesya.”
“Bang ojolnya bilang gak dari siapa?”
“Enggak tu Bu, pokoknya suruh saya ngasih yang namanya Bu Kesya sudah gitu aja. Kan setahu saya namanya Bu Kesya cuma ibu aja.”
“Iya sih.” Ucap Kesya smabil menggaruk rambutnya. “Yasudah mbak, mungkin dari pacar saya.”
Kesya berlalu pergi dengan pikiran yang bingung, dari siapa makanan itu. Apa mungkin dari Bian? Tapi, Bian bukan tipe laki-laki yang suka memberikan makanan seperti itu. Ia hendak menghubungi Bian menanyakannya, tapi ia urungkan.
Jika Bian tahu ada yang mengirim makanan untuknya, itu akan menjadi satu masalah lain, akhir-akhir ini sikap Bian sering cemburuan, pasti Bian langsung berpikir bahwa makanan itu dari Kevano.
Sesampainya kembali di mejanya, ia menikmati ayam goreng spicy yang ia sukai itu. Pengirim sepertinya tahu bahwa ia kelaparan dan memang suka makanan cepat saji, meskipun tidak baik. Bahkan dengan paket makanan itu ada sebotol tupperware maca yang ia lupa membawanya.
%%%
“Lu jangan lupa turnamen besok malam, gue tunggu jam sembilan.” Ucap Adrian sesaat setelah ia dan Kevano keluar dari kelasnya.
Jam mata kulaih telah usai, mereke berniat untuk pulang, dan Kevano pun hari ini tak ada hal yang ingin ia kerjakan diluar.
“Sip, gue pasti ingat kok.” Jawab Kevano sambil mengambil motornya yang berada diparkiran.
Keduanya mengambil motor masing-masing dan berpisah diparkiran itu, Kevano berjalan pulang, Adrian pun memutuskan untuk pulang, tapi Renata mencegahnya.
“Adrian tunggu bentar.” Ucap Renata dengan sedikit seru.
Adrian yang mendengar ucapan itu memastikan mesin motornya. “Apaan?”
“Anterin gue pulang dong, akhir-akhir Kevano gak mau. Lu gak sibuk, kan?”
“Enggak sih, ayo deh.”
Tanpa diperintah Adrian untuk kedua kalinya, Renata duduk dibelakang tubuh Adrian tanpa menggunakan helm.
Motor itu pun melaju keluar dari area kampus. Melewati geliat kendaraan siang hari, dimana orang-orang tengah menikmati istirahat makan.
“Yan, gue boleh tanya gak sih?!” seru Renata, saat suaranya terasa tak begitu terdengar karena angin yang kencang
“Apaan?! Gue masih jomblo!” Adrian ikut berteriak agar suaranya terdengar.
“Bukan itu peak! Gue mau tanya, kenapa akhir-akhir ini sikap Kevano sama gue aneh!”
“Aneh gimana?!”
“Aneh aja gitu sejak Kak Kesya gantiin pak Arman ngajar!”
Mendengar ucapan Renata itu, entah kenapa tiba-tiba Adrian meminggirkan motornya dan berhenti dipinggir jalan.
“Kok berhenti sih?” tanya Renata bingung.
“Lu gak usah ngomong yang enggak-enggak soal Kevano ataupun Kesya ya, gue gak suka.” Ucap Adrian terlihat marah, namun ia tahan.
“Kok jadi lu yang marah sih.”
“Ya jelas gue marah, semua ini tu karena abang lu yang sudah nyakitin perasaan Kevano.”
“Nyakitin perasaan gimana?” Tanya Renata makin bingung dengan pembicaraan itu.
“Dah sana pulang sendiri lu, jalan kaki kek atau naik angkutan umum.” Kata Adrian kemudian lalu menyalakan motornya dan berlalu pergi dari hadapan Renata.
Renata terdiam disana dengan perasaan dan pikiran yang bingung. Apa masalah yang terjadi antara Kevano dan Bian? Apa itu karena ucapannya beberapa hari lalu yang seakan memprovokasi kedekatan antara Kesya dan Kevano. Tapi seperti itu yang dilihatnya. Disisi lain ia ingin menyelamatkan hubungan kakaknya, tapi ia juga juga cemburu dengan kedekatan itu.