
Kesya menatap keluar kaca jendela bus. Sore ini langit nampak mendung, seperti akan hujan. Padahal ini juli, dimana musim panas datang dengan teriknya.
Mendung diluar sana seperti tahu akan apa yang ada dalam pikiranya yang tengah galau. Entah karena apa, tiba-tiba saja ia merasakan perasaan yang tak menentu.
Mungkin ia terlalu cuek pada Kevano, sampai mimik wajah Kevano berubah. Tapi, apa yang dikatakan Bian benar, ia harus menjauhi lelaki manapun termasuk Kevano, karena itu akan mengganggu hubungan mereka berdua.
"Mbak, permisi. Masih kosong?" Tanya seseorang mengagetkan Kesya.
Spontan saja Kesya terkejut dan menolehkan kepalanya kesumber suara. Dilihatnya seorang perempuan dengan menggendong bayi kecil.
"Eh iya, kosong mbak." Ucap Kesya sambil mempersilahkan perempuan itu duduk.
Perempuan itu duduk dan menata gendongan pada bayinya senyaman mungkin. Saat ia duduk, ia sempat memperhatikan Kesya yang masih melamun menatap luar jendela.
"Nurinda, ya?" Tanya perempuan itu ragu.
Mendengar nama belakangnya disebut, Kesya kembali menoleh.
"Iya, siapa ya?" kata Kesya ikut ragu. Lalu memperhatikan perempuan itu, tapi ia tak mengenalinya.
Apa perempuan itu teman kantornya? Tidak mungkin, pakainya saja seperti seorang perempuan biasa.
"Kamu lupa sama aku? Aku Rasti teman kuliahmu dulu. Kita akrab lho dulu."
Rasti? Teman kuliah? Kesya berusaha mengingat nama itu. Sepertinya ia tak ingat, sambil mengingat ia terus memperhatikan wajah perempuan bernama Rasti itu.
Kesya mulai ingat, Rasti temanya dulu adalah perempuan cantik yang modis dan terlihat elegan. Tapi, kenapa semaunya berubah. Kemana Rasti yang dulu.
"Ya Allah Rasti, si Ratu Kampus tiga kali berturut-turut." Ucap Kesya sumringah. Mereka memang akrab dulu. "Sekarang kok kamu,"
Kesya menghentikan omongannya, ia tak ingin menyakiti perasaan Rasti.
"Iya aku tau kok, kamu mau bilang aku berubah kan."
Kesya mengangguk.
"Papaku bangkrut, semua asetnya disita bank. Dan aku ditipu suamiku yang katanya pengusaha sukses." Sambung Rasti dengan perasaan haru, matanya mulai berkaca-kaca. Hampir saja Kesya ikut menangis.
"Sabar ya." Kesya menepuk punggung Rasti. "Ini anakmu, lucu banget."
Rasti mengangguk dengan tersenyum bohong.
Setelah itu mereka mulai berbincang dengan, bagaimana kehidupan keduanya. Bagaimana Rasti menikah dan Bagaimana Kesya berkarir. Bahkan Kesya sempat berpikir jangan-jangan Bian tukang bohong.
Tapi, itu tidak mungkin. Karena sudah jelas Bian seorang Pengacara dan anak dari seorang pengusaha sukses.
Inilah yang Kesya sukai dari menaiki kendaraan umum, dimana ia bisa melihat banyak hal. Mulai dari orang-orang yang tak ia lihat digendung perkantoran, ia bertemu dengan teman lama, bahkan ia mendapatkan banyak ide dari sana.
Itulah alasan ia sangat suka menggunakan Bus.
"Aku permisi dulu ya, Ras. Sudah sampai." Kata Kesya berpamitan pada Rasti. "Kamu hubungi aja nanti nomorku kalau butuh bantuan."
Rasti mengangguk.
Dengan Perlahan Kesya Berjalan menuruni bus dan keluar dari sana. Saat sudah sampai diluar, Kesya hendak memasuki apartemen, tapi sebuah mobil hitam lebih dulu berhenti didepannya.
"Bian, ngapain kamu?"
"Gak ngapa-ngapain, aku mau ngajak kamu makan malam, yuk." Kata Bian.
Tanpa menjawab ucapan Bian, Kesya berjalan menuju mobil Bian dan masuk kedalam sana. Ia baru ingat, bahwa ia belum makan. Apalagi ia menolak ajakan Kevano tadi.
"Gimana ngajarnya tadi?" Sambung Bian sambil menatap Kesya yang duduk disampingnya.
"Capek. Besok terakhir kok."
"Kasihannya. Butuh refleksi gak?"
"Kayaknya butuh pijatan mama deh." Ucap Kesya tersenyum. "Eh kamu tumben sih jam segini udah pulang?"
"Pengen aja pulang cepat, sedikit mengurangi kegiatan. Minggu depan aku persidangan, doakan menang ya."
Kesya mengangguk.
"Mau makan apa, yang?" Sambung Bian.
"Seafood aja gimana, lagi pengen makan cumi sama udang."
Tanpa menjawab, Bian menjalankan mobilnya kesebuah resto mewah. Sesampainya disana ia memarkirkan mobilnya.
%%%
Kesya sampai diapartemen sekitar pukul sembilan malam, setelah makan ia tak langsung pulang. Bian mengajaknya berjalan-jalan lebih dulu, menikmati udara malam sambil shopping membeli makanan, kadang Bian bisa loyal.
Belum sempat Kesya membuka pintu seseorang menatapnya dari kejauhan. Perlahan tatapan itu mulai mendekat.
"Baru pulang, dek." Ucap Seorang lelaki yang sudah separuh baya, tetangga apartemennya.
Kesya tersenyum dan cepat-cepat masuk kedalam apartemennya.
Lelaki yang menakutkan.
Sesampainya didalam, ia melepaskan sepatunya dan menaruh tasnya diatas meja. Hari yang melelahkan.
Kesya merentangkan tubuhnya yang terasa lelah, penat yang mendera. Ternyata lebih lelah mengajar daripada berkerja, untung saja tak sampai lama.
Ketika selesai ia merapikan diri, ponselnya berbunyi. Sebuah chat masuk. Dari Kevano.
Aku ingin bertemu besok diresto. Penting. Begitu bunyi chat itu.
Kesya mengerutkan keningnya, sambil berpikir yang tak keras. Apa yang akan dikatakan bocah itu, apa ia akan melakukan pembelaan karena diacuhkan.
Kesya berniat tak membalas pesan itu, tapi ia tetap ingin mendatangi Kevano. Karena tak biasanya Kevano memintanya bertemu. Biasanya jika ingin bertemu dengannya Kevano akan langsung datang departemennya tanpa permisi. Seperti maling.
Tapi, pesan itu seakan mengatakan bahwa apa yang ingin diucapkan Kevano benar-benar penting. Dan sepenting apa? Kesya tak tahu.
Ia menghilangkan pikirnya lalu berjalan kekamar mandi untuk menyegarkan dirinya.