My Berondong Husband

My Berondong Husband
#66 Adrian dan Yola (2)



Malam telah datang, membaurkan cerita baru dan meninggalkan senja dengan segala kisah siang.


Adrian dan Yola masih bersama, kini mereka tak lagi di jembatan itu. Mereka menikmati kisah mereka sendiri disebuah resto yang tak jauh dari rumah Yola.


"Makanan ibumu lebih enak dari makanan resto ini." Ucap Adrian pada Yola sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Jangan berlebihan, itu cuma nasi kangkung saja. Kami sering makan."


"Aku enggak, mungkin pernah tapi lupa."


"Karena hidupmu terlalu berlebih, coba kamu pikir, makanan semahal ini kamu makan dalam sekali. Boros itu namanya."


"Terus aku harus gimana, tiap bulan aku dikasih uang jajan. Sayang kan kalau gak digunakan."


"Kamu dikasih uang, tapi kamu bilang orang tuamu gak sayang. Terus kamu sebut apa orang tuaku yang gak ngasih uang."


"Beda, La. Kadang semua gak hanya sebatas materi. Sudah, ayo buka mulut." Adrian menyuapkan makanan ke mulut Yola yang langsung diterima Yola dengan senang hati.


Apa itu termasuk romantis? Yola tersipu sendiri dengan semua cara mesra yang dilakukan Adrian untuknya.


Bocah ini mengubah hidupnya, bukan kearah yang lebih baik tapi pada hal yang lebih positif.


Untuk beberapa bulan ini, Yola sudah tak menjajakan diri seperti biasanya. Malah kadang hanya sibuk bersama Adrian. Menemaninya mengobrol atau sekedar makan bersama.


Adrian loyal, membuang uang untuknya seperti membuang tisu. Kadang Yola pikir anak seusia Adrian belum tahu susahnya mencari uang, tapi setiap diberi tahu Adrian selalu bilang bahwa itu haknya sebagai anak.


"Ibumu belum tahu kalau kamu kerja jadi perempuan malam?" Sambung Adrian sambil bertanya.


Yola menghentikan makannya saat mendengar ucapan Adrian.


Selama ini memang sang ibu tidak tahu bahwa ia bekerja sebagai wanita malam. Yang ibunya tahu ia bekerja sebagai pelayan restoran dan memiliki shif malam.


Yola tak bisa berterus terang pada sang ibu, bukan takut sang ibu marah tapi ia tak tega jika ibunya bersedih karena tak bisa memberikan apa yang seharusnya ia berikan.


"Iya, aku sembunyiin itu dari ibu." Jawab Yola pelan, lebih tepatnya lesu.


"Mau sampai kapan?"


Sampai kapan? Lagi lagi Yola berhenti pada pertanyaan itu. Sampai kapan ia harus berbohong pada sang ibu bahwa ia hanyalah perempuan yang suka menjajakan diri dengan mudahnya?


"Sampai.." Ucap Yola tercetak, serasa makanan yang ia makan hanya berhenti ditenggorokan. "Sampai waktu yang tak bisa aku tentukan."


"Yola, kamu bisa bekerja yang lain."


"Enggak semudah itu, Adri. Aku gak bis kerja yang gajinya bulanan, aku butuh uang setiap saat."


Adrian menarik napasnya perlahan, ia tak bisa banyak membantu Yola dan urusannya. Memaksa Yola berhenti pun kini ia harus berpikir berulang kali.


Jika ia memaksa Yola berhenti, Yola akan susah bekerja, lagi pula ia siapa, hanya client yang berusaha akrab dengannya.


Sedangkan Yola memahami perubahan sikap dari Adrian, ia tahu Adrian sedang memikirkan nasibnya. Adrian bukan hanya seorang client, tapi juga sudah ia anggap sebagai teman.


Adrian punya sifat yang dewasa dan baik, yang bisa membuat suasana lebih tenang.


"Aku gak tega lihat kamu kerja,"


"Ya kita ikuti saja alurnya, siapa tau kan nanti ada pekerjaan yang lebih baik dari ini."


Adrian menganggu pelan.


"Yaudah habisin makanannya." Ucap Adrian berusaha menyimpulkan senyum lagi.


"Iya aku makan."


Keduanya menikmati makanan dengan lahap, makanan yang terlalu mahal untuk Yola dan terlalu biasa untuk Adrian.


Kadang Yola sempat berpikir, apa seandainya ia ingin menikah dengan bocah bernama Adrian ini salah? Meskipun ia sadar ia bukan siapa-siapa. Ia hanya perempuan biasa yang setiap lelaki boleh menyentuhnya dengan imbalan harga.


Adrian dari keluarga terpandang. Sementara ia hanya dari kalangan rendah, ini bukan dongeng cinderella semua tak sesuai rencana. Ia tak mungkin menikahi sang pangeran, sementara ia hanya seorang perempuan dan hanya perempuan biasa.


%%%


Malam melarut, Yola dan Adrian sudah tak diresto itu lagi. Yola sudah ingin kembali bekerja tapi Adrian mencegahnya, ia ingin menjadi client nya sekali lagi.


Maka dari itu Adrian chek in pada sebuah hotel.


"Kamu serius pas bilang mau chek in?" Tanya Yola pada Adrian yang merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur kamar itu.


"Serius lah, kan udah bilang mau minta diajarin." Jawab Adrian sambil mengedipkan mata sebelahnya.


"Loh bukanya ajarin matematika?"


"Bercanda kali, ajarin yang lain lah." Adrian kemudian duduk dari tidurnya dan memandang kearah Yola yang tengah melepaskan jaketnya dan menaruh tasnya diatas meja dekat tombol lampu kamar itu. "Kamu cantik."


Yola melirik ke arah Adrian lalu menarik bibir caranya ke atas "Kamu memujiku untuk apa agar aku luluh, begitu?


"Enggak serius Kalau kamu tidak cantik mana mungkin banyak laki-laki yang mau bersamamu."


"Adri rayuanmu tidak berguna buat. Jujur sebenarnya aku belum pernah mendapat klien seorang bocah sepertimu bocah."


" Hah, bocah? Maksudmu aku masih terlihat imut begitu aku sudah sembilan belas tahun sebentar lagi dua puluh kenapa aku masih disebut bocah?"


Yola menggeleng lalu berjalan pelan kearah Adrian yang masih duduk di atas tempat tidur.


Adrian memalingkan wajahnya menangkap Yola sambil tersenyum. Adrian selalu berpikir kenapa perempuan semuda Yola harus menanggung beban yang sangat berat.


Sesaat kemudian tatapan Adrian menjadi lebih Intens, ia memajukan wajahnya dan menatap Yola dari jarak empat jarinya.


Semakin dari dekat Yola semakin nampak cantik, meskipun sudah bertemu dengan Yola tapi ia pertama kalinya bagi Adrian melakukan hal sedekat ini.


Bibirnya nya berusaha menyatu dengan bibir Yola, awalnya Yola ingin menolak tapi Adrian selalu lu mencari celah agar Dola mau melakukannya.


Yola pasrah, lalu semuanya berjalan begitu cepat tanpa bisa Yola cegah lagi.