My Berondong Husband

My Berondong Husband
#39 Dua Minggu Setelah Tragedi Itu



Macet padat di ibukota, saat Kevano pulang dari kuliahnya bersama Maji.


Mobil yang mereka kendarai merangkak perlahan bagai kura-kura. Kevano hampir saja mati karena merasa bosan menunggu macet ini berakhir. Padahal biasanya ia bisa mengebut dan menyalip dengan mudah kendaraan yang ada.


Karena ia tahu pukul lima sore adalah waktunya para pekerja, mahasiswa ataupun pelajar pulang kerumah. Semua bertumpuk dijalanan, yang sudah seperti hujan turun dari langit.


"Ji, masih lama ya?" Tanya Kevano pada Maji yang sibuk dengan mobilnya.


"Masih mas, panjang banget macetnya." Ucap Maji dengan mata yang terus memantau arah depan.


"Lagian lu sih lewat sini segala, jalan biasanya kan cepat."


"Maaf mas tadi gak kepikiran."


Kevano benar-benar bosan. Lalu dikeluarkannya ponsel dari saku celananya, membuka sosmed yang tak tentu hasilnya. Bersenda gurau melihat komedi meme dan lainnya.


Hingga tangan Kevano memperbesar sebuah gambar tentang berita yang menjadi headline news hari ini. Kevano baru sadar.


Dibacanya perlahan dan dengan seksama setiap rentet tulisan itu, semakin pindah paragraf semakin matanya mendelik.


Lalu ia membuka Youtube, ia masukan kata kunci seperti berita yang ia baca tadi. Muncul banyak list tentang berita yang sedang hangat itu.


Ia mengatur napasnya, apa yang sebenarnya terjadi selama ia pergi. Dengan gerakan cepat ia membuka pintu mobil, Maji beberapa kali berteriak tapi tak Kevano hiraukan.


Kevano terus menyusuri trotoar, berlari sekencang mungkin dengan napas terengah-engah.


Bagaimana ia baru tahu tentang berita itu, padahal seharusnya ia berpikir setelah persidangan papa dan omnya kemarin. Meskipun keputusan Pengadilan menetapkan omnya tersangka dan membebaskan Papanya karena tidak terbukti.


Kenapa ia tak berpikir soal Bian? Bagaimana keadaan dan nasibnya Bian? Dan apa yang terjadi pada Kesya? Ia begitu bodoh.


Langkahnya semakin cepat, ia menyeka keringat dari wajahnya. Apartemen Kesya tak begitu jauh dari tempat dimana mobilnya macet.


Tinggal dua blok lagi. Dengan pikiran kacau seperti menahan amarah ia mulai tak bisa diam. Digeleng-gelengkanya kepalanya sambil berlari, ia takut jika terjadi apa-apa dengan Kesya.


Apalagi nomor Kesya sudah hilang dari ponselnya. Karena ia pikir Kesya sudah tak butuh dirinya, tapi nyatanya Ia yang butuh Kesya.


Sesampainya diapartemen, Kevano lalu masuk dan berjalan menaiki lift. Rasanya lift itu berjalan begitu lambat, hingga Kevano terus mengetuk pintunya.


Pintu lift terbuka, Kevano berjalan sedikit menuju ruangan Kesya yang berada dari ujung nomor dua.


Diketuknya pintu kamar Kesya dengan perlahan, tak ada jawaban. Ia mencoba memutar gagang pintu, terbuka tak dikunci. Dengan perasaan was-was dan gemetar ia berjalan memasuki tempat itu.


Rumah Kesya yang biasanya rapi kini terlihat berantakan. Kevano memeriksa setiap tempat, dari mulai kamar mandi hingga kamar tidur, bahkan ia memeriksa balkon jika Kesya terjun. Tapi, tidak ada.


Kemudian ia memeriksa dapur, takut jika Kesya bunuh diri dengan pisau. Dengan perlahan ia memeriksa, dan...


Kevano beradu pandangan dengan seorang perempuan, yang tengah berusaha menutup pintu kulkas dengan kakinya karena tangannya penuh dengan makanan.


"Kewano kamwu nwngapwain kwsiwni?" Ucap Kesya dengan mulut yang penuh makanan.


Kevano mematung diam, melihat Kesya yang melakukan hal itu. Rasanya bodoh sekali ia mengkhawatirkan perempuan itu. Tapi, meskipun berpikir begitu ia mendekati Kesya, lalu mendekap tubuh Kesya dengan erat membuat makanan yang berada ditangan Kesya menempel pada bajunya.


"No, kamu kenapa?" Sambung Kesya sesudah menelan makannya.


"Kamu bodoh." Kata Kevano sambil terus meneteskan air mata.


"Bodoh kenapa? Lagian ngapain kamu kesini?"


"Aku mengkhawatirkanmu setelah melihat berita di Youtube, aku berlari tiga kilometer, untuk melihat keadaanmu. Aku takut kamu bunuh diri karena si bodoh Bian."


"Oh itu." Jawab enteng Kesya. "Dua minggu ini aku memang mencari Bian, tak gak ketemu. Aku udah sering nangis, tapi tadi habis nangis aku lapar. Jadi aku makan, dan membawa ini semua kekamar untuk melanjutkan nangisku."


Kevano menjitak kepala Kesya, lalu mengambil makanan itu dari tangan Kesya dan menaruhnya diatas meja. Menarik tangan Kesya untuk duduk disofa ruang tamu.


"Bian sudah ketangkep," Ucap Kevano kemudian saat mereka duduk di Sofa.


Kesya mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan pernikahanmu?" Sambung Kevano.


Kesya malah menggeleng. Kemudian ia mulai meneteskan air mata lagi, hingga membahas pipinya, ia teringat semua hal yang telah terjadi antara ia dan Bian. Sakit rasanya. Bahkan ia tak bagaimana nasib pernikahannya nanti.


"Aku gak tau, No. Aku gak mungkin batalin pernikahannya ini. Rasanya sakit banget." Keluh Kesya, air matanya terus menetes ia kemudian menutupinya dengan kedua telapak tangan.


Kevano meraih belakang kepala Kesya, lalu menaruhnya didadanya agar Kesya bisa menangis dengan puas.


"Menikahlah denganku." Ucap Kevano.


Kesya masih tersedu menangis, lalu menjawab. "Enggak mungkin, No."


"Apa yang gak mungkin. Ini impianku. Kau ingat gak bocah kecil sebelas tahun lalu dengan lutut berdarah yang kau obati. Aku berjanji akan menikahimu kan."


"Tapi, aku masih sakit hati karena Bian."


"Mungkin lukaku dulu tak sesakit lukamu, tapi aku akan menyembuhkannya. Jika kau belum cinta padaku, tak apa semuanya bisa ditunggu." Ucap Kevano, Kesya melepaskan diri dari pelukan itu.


"Tapi, No. Aku sudah gak perawan lagi, aku sudah melakukannya dengan Bian malam sebelum ia pergi."


"Aku tak peduli, jika pun kau hamil anak Bian. Maka aku akan tetap bertanggungjawab. Nanti jika Bian meminta hak atas anaknya, aku rela melepaskanmu."


"Enggak, No. Enggak semudah itu." Kesya kembali menangis. "Aku gak bisa nikah sama kamu. Bagaimana dengan Tuan Putra atau orang tuaku."


"Aku yang akan meminta restu pada mereka."


Kesya diam, ia tak pernah berpikir sejauh ini tentang Kevano. Bukan ia tak ingin menikah dengan Kevano, tapi Kevano masih terlalu kecil untuk menjadi suaminya, bagaimana jika benar ia hamil anak Bian, apa jadinya dengan Kevano nanti. Dan Jika Bian tak bersalah, itu akan membuat hati Kevano benar-benar sakit.


Jika soal cinta, Kesya sudah menyukai Kevano sejak dulu. Sikapnya yang baik dan bertanggungjawab membuatnya begitu peduli, apalagi sejak mengatakan bahwa Bian itu tak baik, ia mulai yakin bahwa Kevano memikirkan dirinya.


"No, tapi kamu masih kecil. Tak perlu kamu melakukan hal ini. Biar aku yang menyelesaikannya sendirian."


"Coba bayangkan bagaiamana nasib orang tuamu nanti jika pernikahanmu gagal. Mereka akan malu sama semua orang. Tan, aku akan menikahimu apapun yang terjadi."


Kesya tak bisa berkata apapun lagi, apa yang diucapkan Kevano memang benar adanya. Ia mulai berpikir tentang orang tuanya dan nasib dirinya sendiri.