My Berondong Husband

My Berondong Husband
#47 Weekend With Kesya and Kevano



Setelah selesai mengeringkan diri seusai mandi dan berganti pakaian dengan kaos tipis berwarna kuning, Kevano berjalan menuju tempat makan dimana Kesya tengah menikmati sarapan paginya.


"Kami pesan makanan?" Tanya Kevano sambil merebahkan kedua belah pantatnya diatas kursi.


"Iya tadi pesan bang ojol, tumbenan ada yang buka jam segini." Jawab Kesya sambil mengunyah makanan.


"Kebiasaan, coba kamu itu masak Nur." Ucap Kevano sambil mengambil makanannya. "Biar hemat."


"Iya, nanti kalau aku mau. Ish.. Sudah makan aja."


Kevano tersenyum tipis pada Kesya, sudah Berbulan-bulan mereka menikah dan Kesya tak pernah terlihat masak. Selalu pesan makanan diluar, Kevano memang tak pernah melarang hal itu karena ia tahu bahwa Kesya juga yang mencari uang.


"Aku mau cari kerja." Kata Kevano spontan.


Mendengar hal itu Kesya terbatuk. "Mau kerja apa? Kuliah aja yang rajin. Aku bisa kok cari uang."


"Kerja apapun, dibengkel Om Dani juga bisa. Aku kepala keluarga, seenggaknya aku kasih nafkah kamu biarpun sedikit."


"Sya," Kesya memegang punggung tangan Kevano. "Nafkah yang kamu kasih udah sangat cukup. Aku gak peduli kamu belum kerja atau bagaimanapun."


"Tapi, Nur. Aku pengen bertanggungjawab sebagai suami. Ijinkan aku kerja ya?" Rayu Kevano.


"Kamu sudah sangat bertanggungjawab, Sya. Tapi, kalau itu pilihanmu aku bisa apa." Kesya melepaskan tangan Kevano, lalu mengambil kembali makanannya. "Kenapa kamu gak kerja di Putra Group aja, itukan punya papamu?"


"Aku gak paham soal kantor. Aku pahamnya soal motor."


"Belajar, suatu saat salah satu perusahaan Papamu pasti jatuh ketanganmu."


"Kalau gak mau gimana? Aku mau usaha sendiri, Nur."


"Sya, kamu jangan egois. Ada banyak orang diluar sana yang ingin seperti kamu, kamu malah sia-siakan."


Kevano terdiam mendengar ucapan Kesya, apa selama ini ia memang egois? Karena ia merasa nyaman dengan keadaan sepeti itu. Ia pikir ia bisa bekerja dan berusaha sendiri, tapi setelah mendengarkan ucapan Kesya tadi ternyata ia kurang bersyukur.


Sedangkan Kesya yang melihat perubahan wajah Kevano kembali memegang punggung tangannya.


"Udah gak usah dipikirin, nanti kamu juga paham." Sambung Kesya. "Gimana kalau hari ini kita jalan-jalan, mumpung weekend."


Kevano menarik bibirnya keatas untuk tersenyum. "Yuk, ketaman hiburan. Kita main sepuasnya."


"Selesaikan dulu makananmu."


Mendengar ucapan Kesya yang sudah seperti titah seorang ratu, Kevano langsung mempercepat makannya. Setelah selesai ia merapikan semua yang ada dimeja, dan menaruh piring kotor Di tempat cucian.


Kesya tersenyum melihat tingkat Kevano yang berubah begitu cepat, padahal tadi murung dan aneh.


Setelah semuanya selesai, Kevano dan Kesya berjalan bersama keluar apartemen dengan masing-masing baju santai. Kesya dengan kaos pendek berwarna ungu dipadukan celana panjang, sementara Kevano menggunakan kaos kuning dan celana jeans pendek selulut.


"Kenapa gak bawa helm?" Tanya Kesya saat ia baru ingat bahwa mereka akan menggunakan motor.


"Gak perlu nanti pomadeku rusak, kita lewat jalan tikus aja." Ucap Kevano sambil menyisir rambut klimisnya dengan jari tangan.


"Enggak, ingat terakhir kali kita terlambat. Gajihku dipotong. Jika sekarang kita salah jalan lagi bisa malam kita sampai sana."


"Santuy, suamimu ini sudah hapal jalan sekitar sini." Jawab santai Kevano sambil menggandeng tangan Kesya untuk naik keatas motor.


Kevano mengendarai motor itu dengan perlahan, sementara Kesya memeluk sang suami dari belakang.


%%%


Tak berapa Kevano dan Kesya sampai disebuah taman bermain, setelah memesan tiket mereka berdua mengelilingi tempat itu sambil terlihat bahagia.


"Sya, naik itu yuk!" ajak Kesya pada Kevano sambil menunjuk sebuah Komedi putar.


"Enggak mau, kurang seru. Gimana kalau itu?" Sekarang Kevano menunjuk sebuah Lolercoster.


"Enggak, ngeri banget." Ucap Kesya berusaha menolak.


"Iss, gak boleh menolak."


Kevano menarik paksa tangan Kesya, dengan sekuat tenaga Kesya menolak tapi ia kalah kuat. Setelah mengatakan bahwa mereka ingin naik pada sang penjaga, akhirnya mereka mendapat giliran.


Kevano lebih dulu naik denga memasang pengaman, sedangkan Kesya terlihat ogah-ogahan. Tapi, dengan paksaan yang kuat akhirnya ia masuk.


Pengaman dipasang, dengan perlahan Roller Coaster itu berjalan, kecepatan bertambah mengencang dan semakin kencang, Kesya berteriak histeris dan sekuat ketanaga, suaranya terterpa angin membuatnya semakin bising, sementara Kevano terlihat bahagia.


Teriakan kegembiraan nampak dihati Kevano, dalam pikiran Kesya begitu jengkel. Tapi, rasa jengkelnya tertutup ketakutan. Roller Coaster itu terus berputar, meliuk-liuk, naik-turun, mengikuti daerah perlintasan yang ada.


Tak berapa lama permainan itu berhenti. Kevano turun dengan perasaan belum puas, sementara Kesya mulai pusing, bahkan hingga dibantu Kevano.


Setelah sempurna turun, perutnya mual dan ia muntah disebuah semak-semak.


"Kamu kenapa?" Tanya Kevano pada Kesya.


"Udah tahu muntah. Aku pusing naik begituan." Ucap Kesya merajuk.


Mendengar itu Kevano hanya bisa nyengir, lalu membawa Kesya ketempat duduk.


"Beliin minum gih."


"Tunggu sini ya."


Kevano berjalan menjauh menuju sebuah stan yang menjual minuman dan makanan, sedangnkan Kesya duduk disebuah bangku dengan memegang perutnya yang masih terasa mual.


Baru dua puluh menit pertama ia bermain disana, kepalanya sudah terasa pusing, ini semua gara-gara suami anehnya yang membuatnya sebal.


Tak berapa lama Kevano datang dengan membawa dua botol air mineral dingin. Setelah menerima Kesya langsung meminumnya dengan perlahan.


"Gimana udah enakan?" kembali tanya Kevano. Kesya mengangguk. "Kalau gitu kita main lain."


"Boleh, tapi aku yang milih."


Kini Kevano yang mengangguk.


Setelah itu Kesya menarik tangan Kevano menuju sebuah biang lala yang cukup tinggi dengan tempat duduk yang seperti sebuah sangkar burung.


Mereka berdua masuk kedalam biang lala itu, bermain dan berputar. Saat berada diatas Kesya menunjuk dengan sebuah rasa bahagia, bagaiamana ia melihat kota nampak sangat kecil.


Melihat Kesya yang begitu bahagia dan rautnya berubah membuat Kevano ikut bahagia.


"Sya, lihat deh. Apartement kita kelihatan dari sini." Kesya menunjuk sebuah bangunan yang katanya tempat mereka tinggal.


"Mana?" Kevano ikut berusaha melihat ke bawah. "Bukan itu Nur, itu hotel."


"Eh masa sih." Kesya menggaruk-garuk kepala atasnya sebagai reflek karena salah.


Biang lala itu berputar lagi, kemudian setelah putaran terakhirnya, berhenti seketika dan turun.


"Eh foto sama badut yuk, Sya."


"Badut," Kata Kevano sambil melihat badut yang ditunjuk Kesya tadi.


Sebuah badut berkostume beruang tengah membagikan balon pada anak-anak yang sesekali berfoto padanya. Kevano mengangguk lalu mengekor pada Kesya yang lebih dulu jalan.


Melihat tingkah Kesya yang sejak tadi bahagia, Kevano ikut bahagia. Ia baru tahu bahwa Kesya ternyata begitu kekanakan, sangat berbeda dengan dirinya yang seharusnya masih terlihat seperti bocah kecil.


Hari Itu mereka berdua menikmati permainan diwahana hiburan sepuasnya, hanya berdua dan berdua. Mencoba semau permainan. Saling berteriak satu sama lain, bahkan mengulang Roller Coaster hingga tiga kali.