
"Terima kasih atas bantuanmu," ucap Bian pada Pengacaranya, saat mereka bertemu dipenjara.
"Sudah tugas saya membantu, bapak." kata Pengacara itu, sambil tersenyum ramah.
Kemarin adalah hari paling menentukan bagi Bian, persidangannya yang telah dilaksanakan membuahkan kabar baik, bahwa Bian mendapat keringanan potongan masa tahanan selama satu tahun. Karena selama di penjara Bian bersikap baik.
Tak sampai empat tahun lagi ia akan mencium aroma kebebasan, meskipun agak lama tapi ia akan tetap menantikannya.
Ia sudah sangat rindu pekerjaannya, keluarganya, dan juga mantan calon istrinya, meskipun Kesya sudah menikah dengan lelaki lain.
Bian tak peduli, perasaan cinta dan sayangnya pada Kesya mengalahkan segalanya. Lagian pula ia yakin Kesya tak benar-benar mencintai Kevano, karena pernikahan mereka terjadi secara terpaksa, andai saja saat itu ia tak masuk penjara, Kevano tak berhak apapun atas Kesya.
Bian tak menyesali semua itu, karena hal itu sudah terjadi.
"Bagaimana dengan Reno?" Tanya Bian kemudian.
"Selama dua hari ini Reno tak melakukan gerak-gerik yang mencurigakan, selain ia bertemu beberapa client." Sesaat setelah itu sang pengacara mengambil sebuah ponsel dari kantong celananya. "Ini salah satu clientnya."
Bian mengambil ponsel itu, lalu memperhatikan foto Reno dengan seseorang. Orang yang berbicara dengan Reno begitu ia kenal, mereka terlihat akrab. Bian mulai berpikir apa hubungan mereka.
Apa orang itu client dari Reno? Atau sekedar teman? Jikapun client ada masalah apa, sepertinya sebelum ia masuk kedalam penjara semuanya baik-baik saja, Jika teman sejak kapan mereka akrab?
"Apa bapak mengenalnya?" Sambung sang pengacara.
"Iya, aku kenal dia. Tapi, aku gak tau ada urusan apa mereka berdua." Ucap Bian dengan wajah yang masih penasaran. "Kamu selidiki terus Reno dan juga dia. Aku curiga mereka melakukan kongsi."
"Baik, Pak." sang pengacara mengangguk. "Saya permisi kalau begitu."
Setelah itu pengacar Bian berlalu pergi, sementara Bian masih memikirkan hal itu. Entah kenapa ia curiga bahwa ada sesuatu hal yang tak baik antara keduanya, meskipun masih sangat semu.
%%%
Adrian mengantar Yola ke pulang ke tempatnya. Kesebuah kos-kosan sempit dan kecil. Didalam kos itu, saat Adrian sekilas menengok nampak seorang ibu tua dan Anak yang masih kecil.
"Kamu mau mampir dulu?" Tawar Yola, Adrian tersenyum menolak. "Yaudah, hati-hati dijalan."
Adrian masuk kedalam mobilnya, melajukannya lalu meninggalkan kos tempat tinggal Yola.
Didalam mobil ia masih terpikir sejenak, tentang kejadian tadi malam. Didalam hotel mereka berdua tak melakukan apapun selain mengobrol, Adrian memang sengaja tak meminta berhubungan, sebagai pelayan Yola pun tak memaksa, yang penting ia mendapatkan uang.
Bagi Adrian,Yola itu gadis baik dan gigih meski pekerjaannya tidak baik. Yola masih berusia dua puluh tiga tahun, sejak ditinggal ayahnya saat SMP, Yola bekerja apapun untuk adik yang masih sekolah dan ibunya yang menderita sakit kronis.
Saat berada dihotel, mereka berdua terlihat obrolan yang panjang dan menyenangkan. Baru kali itu rasanya Adrian bisa berbicara panjang lebar pada seorang perempuan, ia memang tak seperti Kevano yang banyak bicara, yang bisa menebar kharisma walau dengan tingkah nakal.
Adrian tipe lelaki yang hanya diam, tak mempersalahkan suatu hubungan, meskipun banyak teman temannya yang sudah memiliki pacar, baginya jalan jalan dan keluyuran lebih menyenangkan dari pada sebuah status yang dibalut kebohongan. Pacaran.
Tak berapa lama ia sampai dirumah, memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam. Saat ia berjalan diruang tamu sang mama dengan wajah tak suka sudah duduk di Sofa.
"Dari mana kamu?" Tanya Nyonya Lesmana.
Dengan wajah malas dan cuek Adrian sebenarnya enggak menjawab.
"Dari rumah Bang Ruben." Jawab Adrian sekenanya.
"Ngapain kamu menginap disana, apa kamu gak punya rumah."
"Ma, Adrian cuma ngiap aja. Biasanya juga gak apa-apa, kan."
"Sekarang enggak, keluarga Ruben itu yang sudah buat Papa mu masuk penjara."
Ia tahu ucapan apapun saat ini tak akan berguna pada mama yang tengah marah. Sejak Papanya masih penjara, sang Mama terus saja menyalahkan Om PUtra, karena Omnya tidak membantu persidangan Papanya. Bagi Adrian itu memang harus dilakukan agar papanya jera, lagi pula pekerjaan yang dilakukan sang Papa tidak baik.
"Sesekali papa biar dikasih teguran, agar berhenti mencari uang haram." Sambung Bian sambil berjalan menuju kamarnya, tak ada habisnya jika ia mendengarkan Mamanya berbicara.
"Meskipun haram itu yang membiayai kehidupanmu!"
Teriakan sang Mama hanya berhenti diluar pintu kamar, saat ini ia telah merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sambil mengocek ponselnya.
Ada sebuah pesan masuk dari Yola, perkataan yang baik dan ramah. Perempuan itu tiba-tiba bisa membuatnya bahagia, dengan apapun yang terlintas dalam benaknya.
Semantara itu Renata tengah berjalan di lorong kampus dengan membawa tumpukan buku yang ia pinjam dari perpustakaan, dengan langkah santai.
Akhir-akhir tugasnya cukup banyak, apalagi ditambah sebentar lagi akan ujian semester.
Saat berjalan itulah, tanpa ia melihat ada seseorang yang menabrak tubuhnya dengan kencang, hingga membuatnya terjatuh dan menghamburkan buku-buku yang ia bawa.
"So..Sorry." Ucap terbata si penabrak.
"Kalau jalan bisa hati-hati gak sih." Ujar Renata ketus sambil mengambil buku-buku miliknya, si penabrak itu membantu. Setelah semuanya setelah Renata berdiri. "Makanya lihat kalau jalan, ini lorong lebar banget."
"Iya, maaf gue gak sengaja." Kata si penabrak yang ternyata seorang Lelaki.
"Lain kali hati-hati." Renata masih cemberut. "Lu anak pendidikan, kan? Ngapain disini?"
"Oh, ini gue mau ngantar Surat buat Fakultas teknik. Tapi, gue gak tau dimana."
"Fakultas teknik ada di lantai atas."
"Gue gak tau, lu bisa anterin."
"Modus. Lagian bawaan gue banyak."
Mendengar itu, Si penabrak mengambil buku-buku dari tangan Renata.
"Sekarang gak ada alasan lu buat nolak."
Renata tak bisa menolak permintaan si menabrak sekarang, mau tak mau ia harus mengantarkan, lagi pula ia sedang tak sibuk sekarang.
"Nama gue Angga, kalau lu?" Sambung si penabraknya yang mengaku bernama Angga.
"Renata, panggil Rena."
"Kalau gue panggil Nata gimana?"
"Jangan sok akrab, Rena aja."
"Nata aja, atau kupanggil sayang."
Mendengar ucapan Angga, Renata menoleh. Memicingkan mata tajam kearah Angga. Lelaki ini sok akrab banget. Batin Renata.
"Memang anak Pendidikan itu Suka gombal dan modul, ya?"
"Kami gak pernah diajarkan gombal, kami berbicara sesuai fakta. Karena kami nanti mengajar anak-anak dengan rasional. Atau siapa tau bukan anak orang aja yang aku ajar, anak kita juga bisa."
Renata semakin memburu langkahnya, Angga semakin terlihat aneh. Apalagi Angga mencoba akrab dengan mengganti suku kata menjadi aku.
Sesampainya di lantas atas dan menunjuk sebuah ruangan fakultas, Angga masuk kedalam sedangkan Renata berjalan pergi.