My Berondong Husband

My Berondong Husband
#59 Ruben Jatuh Cinta 1 (Americano Coffe)



"Americano Coffe satu."


"Americano Coffe satu."


Ucap dua orang bersamaan saat mereka memesan kopi yang sama, si kasir terdiam pesanan mana yang harus dilayani terlebih dahulu.


Sementara itu keduanya saling pandang, dengan tatapan mata yang tak biasa, lalu masing-masing ujung bibir mereka tersenyum simpul.


"Mbaknya aja dulu mas," ucap salah satunya, Ruben.


Si kasir mengangguk lalu melayani perempuan yang dipanggil mbak oleh Ruben tadi. Dan perempuan itu kembali tersenyum, lalu membayar pesanannya, kemudian memilih tempat duduk tak jauh dari tempat pemesanan.


Berganti Ruben yang memesan, setelah memesan itu berniat mencari tempat duduk, tapi entah mengapa mata nya tetap tertuju pada perempuan tadi.


Ruben memberanikan diri melangkah mendekati perempuan tadi, lalu berdiri tepat didepan mejanya.


"Boleh duduk disini?" Tanya Ruben memastikan kursi yang berada dalam satu meja dengan kursi perempuan itu.


Sang perempuan mengangguk. "Boleh, kebetulan kosong."


Perempuan itu tersenyum lagi, lebih manis dari yang tadi. Ruben seketika terkesima, gerak rambut panjang perempuan itu seakan tertiup angin, wajahnya nampak cantik dengan satu lesung pipit dipipi kanan.


"Sendirian aja?"


"Kebetulan iya."


"Namaku Ruben," Ucap Ruben mengulurkan tangan pada perempuan itu, sekilas perempuan itu melihat, lalu menangkap tangan Ruben.


"Shiha,"


"Namanya bagus, unik, mirip nama orang melayu Malaysia."


"Mungkin saat saya lahir, Malaysia sedang trend, ya." Kata Shiha lagi lagi tersenyum.


Senyuman itu membuat Ruben seperti masuk dalam pusaran pelangi, lalu jatuh diatas tumpukan awan berbentuk hati berwarna merah jambu.


Inikah namanya cinta pada pandangan pertama? Seperti sebuah hal mustahil pikiran itu muncul dalam benaknya, karena selama ini ia belum terpikirkan soal cinta atau sejenisnya, meski ia sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun.


Nampak aneh? Tapi tidak bagi Ruben.


Menikmati kesendirian itu sesuatu hal yang menyenangkan meskipun bagi orang sesuatu yang cukup lucu mungkin.


Banyak teman, saudara, relasi bahkan karyawannya, menjodohkannya dengan banyak perempuan, tapi ia belum berniat memiliki satu hubungan pun. Baik dalam pacaran ataupun pernikahan.


Tapi setelah bertemu dengan Shiha yang memang pertama kalinya, semua terasa berbeda. Ada suara yang seakan mendorong Ruben untuk menyapa Shiha lebih dulu.


Lamunan Ruben seketika hilang saat kopi pesanan mereka sudah sampai diatas meja, dua americano coffe, dengan gambaran diatas.


Shiha menikmati kopinya, saat Ruben melakukan hal yang sama, tapi dari balik lubang gantungan cangkir, mata nya masih menatap Shiha.


"Tinggal dimana?" Tanya Ruben lagi, mencairkan suasana yang berusaha terus ia bangun.


"Di Perumahan palem indah, Blok D." Jawab perempuan itu.


"Jauh banget dari sini, kerja?"


"Iya kerjanya dekat kok, di Situ tuh." Shihah menunjuk sebuah gedung kaca berlantai lima.


Ruben memalingkan wajahnya, menatap gedung yang ditunjuk Shiha tadi. Ruben memastikan, gedung itu adalah sebuah kantor yang dimana tempat para desain dan arsitek bekerja.


"Oh desainer? Atau arsitek?"


"Untuk sekarang asisten arsitek, bantu-bantu bikin rumah."


"Kuli?"


Shiha tersenyum, lalu tertawa pelan yang ditutup dengan punggung tangannya.


"Kamu lucu, emang tangannya berotot ya. Bukan, aku yang membantu merancang desain rumah."


"Oh, kirain kamu kuli."


"Kalau kamu sendiri? Kamu pekerja kantoran juga kan?" Kali ini Ruben yang balik bertanya.


"Aku cuma pegawai biasa di Putra Group, bagian desain grafis." Ujar Ruben berbohong, entah kenapa ia tak ingin mengatakan bahwa ia pemilik dari cabang Putra Group.


"Wah, perusahaan besar yang ada diujung jalan itu?"


"Hebat ya bisa kerja disana." sambung Shiha.


"Apa hebatnya?"


"Hebat aja, bagiku semua orang yang mau bekerja dan mengambil resiko dalam pekerjaan itu hebat."


Ruben hanya terus mengangguk-angguk.


Lalu keduanya terlibat pembicaraan yang sesekali diselingi canda dan tawa.


Ruben seperti bukan dirinya, ia bisa begitu leluasa bercerita pada Shiha, padahal biasanya ia kaku dan bersikap cuek pada banyak perempuan.


Sementara begitu ramah dan baik menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Ruben, seakan ia tak merasa terganggu dari pertanyaan pertanyaan itu.


"Jadi kamu suka film horor juga?" Tanya Shiha kemudian.


"Iya, seru aja lihat orang ketakutan, tapi merinding juga sih pas bayangin kita ada diposisinya."


"Bener, aku juga suka. Nonton filmnya, tapi pas ada adegan hantu, langsung teriak ketakutan."


Ruben dan Shiha bersama tertawa. Baru kali ini Ruben bisa tertawa begitu lepasnya, seakan ia tak pernah menjadi orang yang cuek dan sombong.


Dari pandangannya Shiha melirik jam berwarna hitam metal ditangan kirinya.


"Sudah sore, aku mau pulang dulu ya, sampai ketemu lagi." sambung Shiha.


Awalnya Ruben mengangguk, tapi kemudian ia berbaikan diri dan berucap. "Aku bisa minta nomormu, atau setidaknya aku antar kamu pulang."


"Boleh,"


Ruben mengeluarkan ponselnya lalu mengetik dan mensave nomor Shiha.


"Aku antar pulang?" tawar Ruben.


"Gak perlu, nanti merepotkan kamu lagi. Kita juga baru kenal, kan."


"Aku gak merasa direpotkan, lagi pula aku juga mau pulang, meskipun tak searah."


Shiha berusaha terus menolak dengan tawaran Ruben, tapi Ruben terus memaksanya.


"Ya udah boleh deh." Akhirnya Shiha menyerah dan membiarkan Ruben mengantarnya pulang.


Shiha dan Ruben berjalan beriringan keluar dari caffe itu. Ruben membimbing Shiha untuk menuju mobilnya, dan entah kenapa seperti pas sekali, hari ini ia hanya membawa mobil dinas milik kantor dan bukan mobil mahal miliknya.


Keduanya masuk kedalam mobil milik Ruben, Shiha duduk disampingnya yang tengah mengemudi. Lalu menjalankan mobil itu perlahan.


"Enggak papa nih aku antar kamu pulang?" Tanya Ruben lagi dan lagi.


"Enggak kok, santai saja. Kalau inti pertanyaanmu ada yang marah atau enggak, aku jawab enggak." jawab Shiha yang ceplas ceplos.


Ruben tak banyak berbicara lagi, karena memang itu yang ingin ia dengar dari mulut Shiha.


Meskipun bertanya seperti itu, Ruben berpikir apakah ia benar-benar ingin mengenal seorang perempuan bernama Shiha dengan yakin? Karena selama ini ia belum pernah melakukannya.


Kisah cintanya memang tak semulus orang lain, saat orang lain berganti pacar seperti makan kacang, ia cukup diam sambil menikmati vape mahal nya.


Awalnya ia pikir berpacaran dan menjalin hubungan itu hanya membuang waktu dan hal yang tak penting.


"Ini kemana lagi?" Tanya Ruben saat mobil yang ia masuk perumahan palem indah blok D.


"Dua gang setelah masuk blok, rumah warna krim nomor 24."


Ruben menjalankan mobilnya menuju rumah yang dibilang Shiha tadi. Dari sana rumah Shiha sudah tak jauh lagi, Ruben sebenarnya tahu perumahan itu, tapi ia hanya terus memutar mobilnya dan membuatnya tersesat agar bisa lebih lama bersama dengan Shiha.


Tapi, akhirnya Ruben menghentikan mobilnya didepan rumah Shiha. Sebuah ruma asri yang indah dengan dua lantai.


Shiha membuka pintu, lalu keluar dari mobil Ruben.


"Mau mampir?" tawar Shiha.


"Mungkin lain kali, aku ada jadwal juga."


Shiha mengangguk lalu melambai pelan pada Ruben yang mulai menjalankan lagi mobilnya.


Ruben membawa mobil itu berjalan menjauhi dari rumah Shiha, meskipun begitu ia terus melihat Shiha dari balik kaca spion.