
Katanya jika
seorang gadis telah memasuki masa puber, ia akan nampak lebih cantik dan
dewasa. Pandangannya yang tajam bak elang akan mampu menembus hati para laki
laki.
Ah masa?
Apakah harus percaya itu, atau hal itu mungkin saja pernah terjadi pada beberapa
orang gadis yang beranjak dewasa.
Seperti yang
dilakukannya, dengan tubuh ramping kecil dan seragam putih abu-abu ia
melenggak-lenggokkan tubuhnya didepan cermin dengan tersenyum sendiri. Sesekali
ia mengaca dan mengagumi wajahnya yang selalu dikatakan cantik oleh beberapa
orang. Termasuk Papa dan Mama, kakak dan satpamnya juga.
BRUK...!
Seseorang
melemparkan benda diatas kasurnya yang membuatnya langsung kaget dan menurunkan
senyum yang sejak tadi menggantung dibibirnya. Ia menatap datar orang yang
melakukan hal itu, orang aneh yang selalu menggangu ritual paginya.
“Hello snow white, apa Mirror loe itu bakalan ngomong
kalau loe yang paling cantik di Jakarta ini? Atau malah Mirror loe milih gue.”
Ucap Reina ngasal yang masih menyandarkan tubuhnya dibahu pintu sambil menaruh
tangannya didepan perut. “Ini udah hampir jam tujuh, kita bisa telat masuk lho,
Lu gak mau kan nama baik lu sebagai Siswi teladan tercoreng.”
“Apa sih
Rei, gak usah repot deh. Gue mau tampil yang cantik hari ini, biar anak-anak bisa
lihat betapa cantiknya gue, apalagi kan hari ini gue tampil sebagai ketua
Cherleaders.” Ucap Aresti masih berlagak cantik.
“Please deh,
kayaknya tante Dina kebanyakan ngasih obat tidur di minuman lu, sampai lu belum
juga bangun. Cepet ambil tas lu, kalau nggak gue bakalan siram sampe lu
bangun.” Runtuk Reina melihat tingkah Aresti.
“Iya-iya gue
selesaikan.”
Aresti
berjalan ogah-ogahan mengambil tasnya lalu menghampiri Reina yang udah manyun
sejak tadi diambang pintu. Setiap pagi omelan Reina sudah seperti sarapan yang
mengenyangkan perutnya, bagaimana tidak Aresti tak pernah mau denger omongan
Reina kalau ia akan terlambat kalau kebanyakan ngaca. Setiap pagi Aresti sudah
merasa seperti Snow White yang cantiknya mengalahkan si Ratu Jahat, aroma tubuhnya
yang wangi akibat parfum setengah botol mengudara disekeliling kamar, bau sabun
bahkan menyeruak dikamar mandi. Bagaimana sang mama tidak kesal kalau dalam
seminggu bisa membelikannya sabun tiga kali.
Aresti kini memang telah tumbuh menjadi gadis SMA yang
manis, tidak seperti dulu yang mandi saja jarang. Meski jarang mandi hasilnya
tetap bagus, ia ditaksir ribuan cowok yang siap menjadi pacarnya. Ah, dasar
Aresti, ia hanya ingin membuat remaja-remaja cowok tanggung itu patah hati
dengan minta ditraktir makan, nonton, dan jalan-jalan. Setelah itu ia pergi
meninggalkan dengan seenaknya.
“Eh loe tahu
si Keylan gak?” tanya Reina, sesaat setelah mereka masuk kedalam Mobil yang
dikendarai supir milik keluarga Aresti.
“Tahu? Eh
enggak.” Jawab Aresti malas sambil mengocek Ponselnya. Ia sibuk mengecek
sosmednya yang pasti sudah banyak ucapan selamat pagi dari para fansnya, yang
jumlahnya saja sudah sampai ribuan, atau mungkin jutaan.
“Ah masa lu
gak kenal? Itu lho cowok ciamik yang super cute anak XI IPA 6.” Oceh Raina,
yang nggak ditanggapi Aresti, ia malah beringsut memunggungi Reina menghadap
kaca mobil yang terbuka lebar menyebarkan angin alami, itu hasil dari AC mobil
yang mati.
Saat mobil
itu tiba-tiba saja berhenti dilampu merah, Keylan jenuh dengan para fans
fanatik di sosmed. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela, tiba-tiba
matanya menangkap satu sosok yang membuat bibirnya tersenyum lebar dan mulutnya
berucap “manis”. Seorang cowok dan teman cowoknya tengah duduk dimotor dandanan
rapi dan rambut yang tertutup helm, bergaya anak remaja jaman sekarang.
Bibirnya kemerahan dengan balutan rahang tangguh yang
pas dipadu dengan kulit pucatnya, tapi satu hal yang membuat Aresti tertegun
sampai membuat air liurnya naik turun karena kagum.
Sebenarnya
bahkan terlihat unik dan berbeda dari yang lain, hanya saja ia gengsi
mengatakannya.
"Lu
dengerin gue gak sih, Res?" tegur Reina.
"Iya
denger, Keylan adik kelas, kan."
"Au-ah
gelap.” Reina memunggungi Aresti sambil memasang bibir dog face.
Aresti hanya
bisa cengengesan melihat Reina ngambek, karena tak mendengarkan celotehan Reina
sejak tadi. Padahal sahabat gokilnya itu sudah berhari-hari sebelumnya
menyiapkan berita terhangat dan terheboh biar bisa meng-ember bareng, tapi
jangankan nanggepin, Aresti saja nggak mendengar apa yang di ucapkan Reina.
“Sorry deh, Reina yang unyu. Gue bakal dengerin kok
kalau lu cerita lagi, peace ya peace.”
“Peace pas peace, nggak ah. Padahal kan gue udah up
date tuh berita buat lu jauh-jauh hari, eh malahan lu enak banget ngacuhin. Lu
terlalu Halu sendiri.”
“Kan gue udah minta maaf, lagian lu gak mau turun udah
sampai sekolah nih.”
“Oh iya-ya. Oke, turun.”
Mereka
berdua turun dari mobil dengan gaya yang dibuat seperti artis Hollywood atau
bahkan pemeran sinetron yang didramatisasi agar membuat para penontonnya
memiringkan kepala supaya bisa mengintip siapa sebenarnya sipenumpang, tapi hal
itu tak terjadi dengan kedua remaja bersepatu kets warna hitam dengan perpaduan
tali berwarna terang. Jelas itu melanggar peraturan sekolah.
“AW!” jerit Reina tertahan saat rok belakangnya
terjepit pintu mobil.
“Kenapa lu?”
Reina tersenyum bego. “Rok bekalang gue kejepit.”
“Hadeh, gila lu.”
Aresti
meninggalkan Reina yang masih sibuk dengan hal konyolnya, padahal lonceng
sebentar lagi hampir berbunyi atau bahkan sudah berbunyi. Jika sudah begitu,
mereka siap-siap hormat kebendera karena dapat hukuman dari Bu Siti, guru
Bahasa Indonesia yang super killer ketimbang guru BP dan kepala sekolah diaduk
jadi satu terus dikasih tepung sama fermipan. Kebayang gimana kejamnya.
“Res, lihat pintunya udah ditutup. Bu Siti udah masuk
kan. Mendingan kita kabur dari pada dihukum lagi.”
“Apa sih loe Rei, kita kan sudah sering dihukum. Ayam
potong banget sih loe.”
“Ayam potong?”
“Iya, ayam potong kalau dikagetin mati. Udah ah
mendingan kita cepet masuk.”
Keduanya
berjalan cepat menuju kelas mereka, hari pertama masuk tahun ajaran baru udah
dapat masalah lagi. Semakin mempercepat langkah mereka, semakin mereka
kepikiran hukuman-hukuman mengerikan dari guru killer itu. Hih, bulu kuduk
serasa berdiri semua kalau dibayangin.
Aresti mengetuk pelan pintu kelasnya, pelan-pelan
tapi tak dibuka refleks tangannya menarik gagang pintu hingga terbuka lebar.
Sebelum masuk ia mengintip semuanya, tapi ia tak menemukan Bu Siti malahan ia
melihat Pak Rahman guru BP.
“Aresti, kamu telat?” tegur Pak Rahman.
Aresti tergagap dan bingung. “Hah, apa Pak? Telat? Ah,
itu, anu, apanya? Mobil saya rusak. Iya kan Rei?”
Setelah disenggol Aresti sebagai saran buat bohong,
Reina tersenyum. “Oh iya Pak, mobilnya Raya tadi rusak. Bannya glinding ke
selokan.”
Ucapan Reina membuat teman-temannya tertawa, karena
kebohongan itu gagal total.
“Sudah-sudah, cepat kalian duduk. Bu Siti hari ini
gak datang."
Aresti dan
Reina hanya mengangguk pelan mendengar ucapan pak Rahman itu.
Mereka
menarik napas tenang karena pak Rahma tidak menghukum mereka.