My Berondong Husband

My Berondong Husband
#97 Tentang Gadis Bernama Aresti



Katanya jika


seorang gadis telah memasuki masa puber, ia akan nampak lebih cantik dan


dewasa. Pandangannya yang tajam bak elang akan mampu menembus hati para laki


laki.


Ah masa?


Apakah harus percaya itu, atau hal itu mungkin saja pernah terjadi pada beberapa


orang gadis yang beranjak dewasa.


Seperti yang


dilakukannya, dengan tubuh ramping kecil dan seragam putih abu-abu ia


melenggak-lenggokkan tubuhnya didepan cermin dengan tersenyum sendiri. Sesekali


ia mengaca dan mengagumi wajahnya yang selalu dikatakan cantik oleh beberapa


orang. Termasuk Papa dan Mama, kakak dan satpamnya juga.


BRUK...!


Seseorang


melemparkan benda diatas kasurnya yang membuatnya langsung kaget dan menurunkan


senyum yang sejak tadi menggantung dibibirnya. Ia menatap datar orang yang


melakukan hal itu, orang aneh yang selalu menggangu ritual paginya.


“Hello snow white, apa Mirror loe itu bakalan ngomong


kalau loe yang paling cantik di Jakarta ini? Atau malah Mirror loe milih gue.”


Ucap Reina ngasal yang masih menyandarkan tubuhnya dibahu pintu sambil menaruh


tangannya didepan perut. “Ini udah hampir jam tujuh, kita bisa telat masuk lho,


Lu gak mau kan nama baik lu sebagai Siswi teladan tercoreng.”


“Apa sih


Rei, gak usah repot deh. Gue mau tampil yang cantik hari ini, biar anak-anak bisa


lihat betapa cantiknya gue, apalagi kan hari ini gue tampil sebagai ketua


Cherleaders.” Ucap Aresti masih berlagak cantik.


“Please deh,


kayaknya tante Dina kebanyakan ngasih obat tidur di minuman lu, sampai lu belum


juga bangun. Cepet ambil tas lu, kalau nggak gue bakalan siram sampe lu


bangun.” Runtuk Reina melihat tingkah Aresti.


“Iya-iya gue


selesaikan.”


Aresti


berjalan ogah-ogahan mengambil tasnya lalu menghampiri Reina yang udah manyun


sejak tadi diambang pintu. Setiap pagi omelan Reina sudah seperti sarapan yang


mengenyangkan perutnya, bagaimana tidak Aresti tak pernah mau denger omongan


Reina kalau ia akan terlambat kalau kebanyakan ngaca. Setiap pagi Aresti sudah


merasa seperti Snow White yang cantiknya mengalahkan si Ratu Jahat, aroma tubuhnya


yang wangi akibat parfum setengah botol mengudara disekeliling kamar, bau sabun


bahkan menyeruak dikamar mandi. Bagaimana sang mama tidak kesal kalau dalam


seminggu bisa membelikannya sabun tiga kali.


Aresti kini memang telah tumbuh menjadi gadis SMA yang


manis, tidak seperti dulu yang mandi saja jarang. Meski jarang mandi hasilnya


tetap bagus, ia ditaksir ribuan cowok yang siap menjadi pacarnya. Ah, dasar


Aresti, ia hanya ingin membuat remaja-remaja cowok tanggung itu patah hati


dengan minta ditraktir makan, nonton, dan jalan-jalan. Setelah itu ia pergi


meninggalkan dengan seenaknya.


“Eh loe tahu


si Keylan gak?” tanya Reina, sesaat setelah mereka masuk kedalam Mobil yang


dikendarai supir milik keluarga Aresti.


“Tahu? Eh


enggak.” Jawab Aresti malas sambil mengocek Ponselnya. Ia sibuk mengecek


sosmednya yang pasti sudah banyak ucapan selamat pagi dari para fansnya, yang


jumlahnya saja sudah sampai ribuan, atau mungkin jutaan.


“Ah masa lu


gak kenal? Itu lho cowok ciamik yang super cute anak XI IPA 6.” Oceh Raina,


yang nggak ditanggapi Aresti, ia malah beringsut memunggungi Reina menghadap


kaca mobil yang terbuka lebar menyebarkan angin alami, itu hasil dari AC mobil


yang mati.


Saat mobil


itu tiba-tiba saja berhenti dilampu merah, Keylan jenuh dengan para fans


fanatik di sosmed. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela, tiba-tiba


matanya menangkap satu sosok yang membuat bibirnya tersenyum lebar dan mulutnya


berucap “manis”. Seorang cowok dan teman cowoknya tengah duduk dimotor dandanan


rapi dan rambut yang tertutup helm, bergaya anak remaja jaman sekarang.


Bibirnya kemerahan dengan balutan rahang tangguh yang


pas dipadu dengan kulit pucatnya, tapi satu hal yang membuat Aresti tertegun


sampai membuat air liurnya naik turun karena kagum.


Sebenarnya


bahkan terlihat unik dan berbeda dari yang lain, hanya saja ia gengsi


mengatakannya.


"Lu


dengerin gue gak sih, Res?" tegur Reina.


"Iya


denger, Keylan adik kelas, kan."


"Au-ah


gelap.” Reina memunggungi Aresti sambil memasang bibir dog face.


Aresti hanya


bisa cengengesan melihat Reina ngambek, karena tak mendengarkan celotehan Reina


sejak tadi. Padahal sahabat gokilnya itu sudah berhari-hari sebelumnya


menyiapkan berita terhangat dan terheboh biar bisa meng-ember bareng, tapi


jangankan nanggepin, Aresti saja nggak mendengar apa yang di ucapkan Reina.


“Sorry deh, Reina yang unyu. Gue bakal dengerin kok


kalau lu cerita lagi, peace ya peace.”


“Peace pas peace, nggak ah. Padahal kan gue udah up


date tuh berita buat lu jauh-jauh hari, eh malahan lu enak banget ngacuhin. Lu


terlalu Halu sendiri.”


“Kan gue udah minta maaf, lagian lu gak mau turun udah


sampai sekolah nih.”


“Oh iya-ya. Oke, turun.”


Mereka


berdua turun dari mobil dengan gaya yang dibuat seperti artis Hollywood atau


bahkan pemeran sinetron yang didramatisasi agar membuat para penontonnya


memiringkan kepala supaya bisa mengintip siapa sebenarnya sipenumpang, tapi hal


itu tak terjadi dengan kedua remaja bersepatu kets warna hitam dengan perpaduan


tali berwarna terang. Jelas itu melanggar peraturan sekolah.


“AW!” jerit Reina tertahan saat rok belakangnya


terjepit pintu mobil.


“Kenapa lu?”


Reina tersenyum bego. “Rok bekalang gue kejepit.”


“Hadeh, gila lu.”


Aresti


meninggalkan Reina yang masih sibuk dengan hal konyolnya, padahal lonceng


sebentar lagi hampir berbunyi atau bahkan sudah berbunyi. Jika sudah begitu,


mereka siap-siap hormat kebendera karena dapat hukuman dari Bu Siti, guru


Bahasa Indonesia yang super killer ketimbang guru BP dan kepala sekolah diaduk


jadi satu terus dikasih tepung sama fermipan. Kebayang gimana kejamnya.


“Res, lihat pintunya udah ditutup. Bu Siti udah masuk


kan. Mendingan kita kabur dari pada dihukum lagi.”


“Apa sih loe Rei, kita kan sudah sering dihukum. Ayam


potong banget sih loe.”


“Ayam potong?”


“Iya, ayam potong kalau dikagetin mati. Udah ah


mendingan kita cepet masuk.”


Keduanya


berjalan cepat menuju kelas mereka, hari pertama masuk tahun ajaran baru udah


dapat masalah lagi. Semakin mempercepat langkah mereka, semakin mereka


kepikiran hukuman-hukuman mengerikan dari guru killer itu. Hih, bulu kuduk


serasa berdiri semua kalau dibayangin.


Aresti mengetuk pelan pintu kelasnya, pelan-pelan


tapi tak dibuka refleks tangannya menarik gagang pintu hingga terbuka lebar.


Sebelum masuk ia mengintip semuanya, tapi ia tak menemukan Bu Siti malahan ia


melihat Pak Rahman guru BP.


“Aresti, kamu telat?” tegur Pak Rahman.


Aresti tergagap dan bingung. “Hah, apa Pak? Telat? Ah,


itu, anu, apanya? Mobil saya rusak. Iya kan Rei?”


Setelah disenggol Aresti sebagai saran buat bohong,


Reina tersenyum. “Oh iya Pak, mobilnya Raya tadi rusak. Bannya glinding ke


selokan.”


Ucapan Reina membuat teman-temannya tertawa, karena


kebohongan itu gagal total.


“Sudah-sudah, cepat kalian duduk. Bu Siti hari ini


gak datang."


Aresti dan


Reina hanya mengangguk pelan mendengar ucapan pak Rahman itu.


Mereka


menarik napas tenang karena pak Rahma tidak menghukum mereka.