My Berondong Husband

My Berondong Husband
#85 Kehamilan Kesya Memasuki Bulan Delapan dan Ia pun Cuti



"Lu beneran mau cuti?" tanya Ganda bersikap seolah sedih saat melihat Kesya membereskan barangnya.


"Kamu gak lihat perutku makin gede, Ndis." Ujar Kesya sambil terus membereskan barangnya dibantu Yunda.


"Tapi kalau kita kangen gimana, kan kita gak bisa ghibah bareng." lanjut Ganda.


"Bisa lah, kalian tinggal datang aja ke apartemen, tapi setelah lahiran aku pulang sih."


"Serius lu kerumah bokap sama nyokap lu?" timpal Yunda setelah membantu mengemas barang milik Kesya.


"Serius lah, kalian kira aku bisa ngurusin anak sendiri." Ucap Kesya.


"Jadi kangen sama Kekesnya Gendis. Sayang." Kata Ganda sambil berusaha memeluk Kesya. Tapi ke tolak, ada Ganda berpikir kalau di depannya ada balon gede hidup.


"Kamu gak lihat apa Ndis, ini apa yang ada di perutku."


"Eh iya lupa, Kes." Kata Ganda dengan nada centilnya.


"Bantuin aku bawa ke mobil." perintah Kesya.


Ganda mengangguk, lalu membawa beberapa barang milik Kesya keluar kantor dan menuju mobil milik Kevano.


"Yang buka bagasi." Ucap Kesya begitu mereka sampai di mobil.


Kevano mengindahkan ucapan itu, ia lantas bergegas keluar dari mobil dan membuka bagasi.


"Kan ada Gendis, gitu masih nyuruh aku lho." Kata Kevano sambil memasukkan barang itu kedalam bagasi.


"Suamiku itu kamu apa Gendis sih?"


"Ya aku lah, yang bikin balon ini aja aku." Ujar Kevano sambil mengelus perut Kesya.


"Nah itu tahu, lagian kalau Gendis bantuin masukan barang sebagai nanti kuku cantik Gendis rusak." Kata Ganda sambil terus memeriksa kukunya. rusak pun Kesya dan Kevano tak peduli.


"Makasih ya, Gendis ku sayang. Mami penggibah." Ucap Kesya ikut bersikap sedikit centil pada Ganda.


"Sama-sama Kekes, bye. Kekev jagain Kekes sama baby nya." Kata Ganda berusaha menyuruh Kevano, lalu berjalan menajuh dari keduanya.


"Gue tahu lah, cowok tulang iga bakar. Gue kan suaminya." Ucap Kevano sambil membawa Kesya masuk kedalam mobil secara perlahan.


Kemudian mobil itu berjalan dan mereka pun memutuskan untuk pulang. untuk menaruh semua barang milik Kesya.


Tak berapa lama mereka sudah sampai diapartemen, Kevano membuka bagasi mengambil semua barang yang entah kenapa banyak tumpukan buku masuk kedalam apartemen.


Kesya meninggal Kevano lebih dulu, karena ia tahu Kevano pasti bisa melakukannya sendiri tanpa ada orang yang membantu.


Kevano mengambil barang barang, masuk kedalam apartemen dan kemudian masuk kedalam lift.


Untung saja lift nya hidup, kalau mati ia ikut nanti sepertinya. Karena barang milik Kesya itu banyak dan berat sekali.


Padahal awalnya ada satpam yang hendak membantu membawa barang itu, tapi dengan beralagak nya Kevano menolak bantuan itu, akhirnya ia kesusahan sendiri.


"Taruh mana ini barang mu, yang?" tanya Kevano pada Kesya yang menghadap cemilanya didepan televisi.


Dasar Kesya, suaminya angkat barang dia santai santai.


"Taruh di bawah meja aja kayaknya deh, yang." Ucap Kesya.


Kevano mendengarkan omongan itu, lalu bergegas membawa barang barang ke kamar mereka, menaruh dan menata barang itu dibawah meja seperti yang Kesya mau.


Lalu Kevano kembali ke ruang tamu untuk mendatangi Kesya.


Sesampainya kesana ia lansung mentidurkan diri dan tidur dipangkuan Kesya.


"Udah makin gede ya. Tinggal nunggu bulannya aja." celetuk Kevano.


"Mau kamu kasih nama siapa nanti kalau udah lari? Hero?"


"Enggak dong, maunya nama yang sederhana. Yang bagus mewakili semua orang."


"Contohnya?" tanya kembali Kesya.


"Gabungan nama Papa sama Mamanya misalnya."


"Syano?" Usul ngawur Kesya.


"Enggak ah, aneh. Kita nama pikiran nanti. Yang penting Hero ini lahir dulu." Ucap Kevano sambil terus mengelus perut Kesya.


Sudah berbulan-bulan lamanya mereka menunggu kehadiran si Hero, rasa bahagia terus menyelimuti setia saat.


Apalagi sebentar lagi mereka akan menjadi orangtua, kebahagiaan itu semakin bertambah dan semakin banyak.


Mereka tengah berbelanja kebutuhan melahirkan disalah satu supermaker. Seperti membeli pakaian dan perlengkapan lainnya.


"Yang ini aja botol nya lucu, kan?" Kata Kevano sambil meminta persetujuan Kesya saat ia memegang sebuah botol dot berurukuran cukup besar dengan bentuk pipih.


"Aneh ih, cari yang kecil aja, semakin besar semakin banyak air yang keluar, kan jadi aneh." Ucap Kesya.


"Iya juga sih. Yaudah cari yang lain."


"Kamu pilih-pilih aja, aku mau cari pakaian disana." Ujar Kesya kemudian meninggalkan Kevano disana.


Kevano hanya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.


Ia kemudian memilih beberapa barang yang dibutuhkan untuk si anak nanti, batang yang penting dan memang dibutuhkan.


Meskipun nanti saat ia tumbuh lebih besar barang itu gak digunakan lagi. Tapi tak apa apa karena hidup memang harus perlu berproses dan tumbuh dewasa.


Tak berapa lama mereka selesai memilih barang, Kevano membawa barang itu ke kasir begitu pun Kesya yang banyak membawa barang.


Bukan hanya pakaian tapi juga tempat tidur busa agar si bayi bisa tidur dengan tenang nantinya.


Melihat Kesya sibuk dengan bawaannya, Kevano membantu. Dan membawa barang itu untuk menuju kasir.


Setelah itu mereka menghitung dan membayar, lalu membawa barang kelaur dari pusat perbelajaan.


"Sudah semua?" tanya Kevano saat mereka sudah berapa di dalam mobil.


Kesya sedikit menengok kearah belakang, memastikan tidak ada yang terlupa untuk dibeli atau tertinggal diatas meja kasir.


"Sepertinya udah semua sih, kalau kurang nanti kita bisa beli lagi." Kata Kesya kemudian.


Lalu Kevano menjalankan mobil itu, melaju dan kemudian meninggalkan pusat perbelanjaan itu.


%%%


Sesampainya dirumah, selesai mengemas dan membereskan barang ditempat yang dirapi.


Kesya dan Kevano menikmati makan malam bersama, makan malam yang tak pernah dimasak oleh Kesya tapi selalu ia beli.


Kevano tak melarang hal itu, karena baginya perempuan tak selalu di dapur. Ini jaman sudah berubah, sudah saatnya emansipasi perempuan berjalan sebagaimana mestinya, bukan.


"Aku kelupaan sesuatu tadi." Ucap Kesya sambil menyuapkan makanan kemulutnya.


"Lupa apa?" tanya Kevano.


"Lupa beli mangkuk makannya, kayaknya gak ada kan?"


"Iya aku lupa juga. Yaudah nanti aku yang cari, kan."


Kesya mengangguk sambil tersenyum.


"Biasanya sayang cuti berapa bulan?" tanya Kevano kemudian.


"Dua bulanan sih, tapi aku mungkin sedikit minta perpanjang sama Bang Kano. Biar aku bisa jagian anak kita."


"Kalau sayang kerja, siapa yang jagain Hero?"


"Kamu lah, Sya. Masa aku bawa ke kantor."


"Tapi, aku kan harus kebengkel." Ucap Kevano.


Karena memang Kevano sekarang berkerja sebagai montir disalah satu bengkel. Meskipun dengan gajih kecil, setidaknya ia bisa berguna sebagai seorang suami.


"Mau dititip sama Mamaku aja gimana?" Tanya Kesya meminta persetujuan.


"Apa gak merepotkan? Kalau gak gimana kalau kita menyewa babysitter aja?"


Mendengar ucapan Kevano itu Kesya berusaha menimbang dan seolah berpikir.


"Terlalu beresiko gak sih? Aku tak babysitter gak terampil." Ucap Kesya takut dan berpikir negatif untuk mencari pengasih pada anaknya.


"Kita cari yang terlatih, kita hubungi biro jasa babysitter nanti."


Meskipun mendengarkan hal itu entah kenapa Kesya masih saja kepikiran, pikiran negatifnya kadang bisa muncul seketika.


Bagaimana nanti jika babysitter yang mereka pekerjaan seperti yang ada diberita berita, tipikal pemarah dan aneh. Bisa-bisa anaknya bisa kenapa-kenapa.


"Yaudah kalau masih ragu, kita pikirkan nanti. Kan aku selalu bilang yang penting anak ini lahir dulu. Selebihnya kita urus nanti." Sambung Kevano, Kesya sepertinya mengangguk setuju dengan hal itu.


Memang seharusnya rencana nanti dibuat nanti, menunggu yang sudah ada lebih dulu. Karena kadang semua tak sesuai dengan rencana manusia, jika Tuhan tak pernah menginginkan hal itu.