
Seorang perempuan mengetuk pintu ruang kerja Bian, setelah Bian menjawabnya perempuan itu masuk. Sinta, yang tak lain sekretaris Bian.
"Ada apa?" tanya Bian pada Sinta.
"Ada laki laki yang mencari bapak, dia menunggu di lobi." jawab Sinta.
"Siapa?" tanya Bian kembali.
"Dia tidak menyebutkan namanya pak, katanya hanya ingin bertemu bapak saja."
"Biarkan dia masuk."
Setelah mendengar hal itu, Sinta mengangguk kemudian berlalu pergi dari ruangan Bian. Sementara Bian masih bertanya dengan dirinya sendiri, siapa laki laki yang ingin bertemu dengannya. Tumben sekali ada orang orang ingin bertemu tanpa mengatur janji ataupun memberitahu tahu dari instansi atau siapa dirinya pada sang sekretaris.
Tak berapa lama seorang lelaki yang usianya tak jauh darinya mengetuk pintu, Kemudian membukanya melihat laki laki itu Bian terdiam sesaat namun kemudian bibirnya mengamuk tipis seolah ia tidak peduli apa yang telah terjadi dulu dalam hidupnya karena lelaki itu lelaki itu pun tersenyum Bian menyuruhnya duduk.
"Pagi, Bos." Sapa laki laki itu yang tak lain ada Reno.
"Kalender ku sudah berganti lebih dari enam belas tahun dan selamat itu kamu kemana?" tanya Bian mencoba bergurau, padahal sakit di hatinya bisa saja kembali dan bakal lebih menyakitkan lagi.
"Menghilangkan diri, takut padamu."Kata Reno lagi.
"Jika saja kamu gak datang ke penjara waktu itu dan meminta maaf padaku, mungkin sekarang kamu yang masih di penjara, menjalani hukuman, atas kasus suap dan penganiayaan."
"Sambutanmu begitu ramah, Bian."
"Terlalu ramah untuk orang brengsek sepetimu, Reno." meski mengatakan hal itu Bian masih dengan nada bergurau dan bercanda.
Reno terdiam mendengar ucapan Bian, ia menyadari betapa brengsek dirinya yang sudah membuat Bian sengsara didalam penjara.
Beberapa tahun itu setelah ia meminta maaf pada Bian, ia meninggalkan kota dengan waktu yang cukup lama. Bahkan setelah memiliki masalah dengan tuan susanto.
Beberapa Tahun Lalu
Reno membersihkan lukanya dengan air yang ada di danau kecil dekat pondok di tengah hutan dengan cahaya api yang ia nyalakan dengan ranting kayu yang ia dapatkan di sekitar pondok itu.
Reno meringis kesakitan karena lukanya,
"awwhhh.. ssshh, sial.. kenapa ini sangat sakit" ucap Reno "Gue harus lebih hati-hati lagi dan mungkin akan terus berada disini hingga keadaan benar dalam keadaan aman. gue nyesel udah jalin kerjasama sama orang kaya dia, sekarang gue kena batunya" tambahnya.
Reno menatap disana untuk malam itu, tak mungkin ia pulang dalam keadaan seperti itu, jika ketahuan lelaki itu ia bisa saja mati.
Reno tahu sekarang betapa menakutkannya laki laki itu, melakukan semua yang baginya benar.
Keesokan paginya...
Setelah semalam Reno tidur di pondok kecil dan tua, pagi ini berniat untuk pulang meskipun dengan tubuh yang masih penuh luka.
Saat keluar dari hutan itu ternyata tak begitu jauh dari rumahnya, mungkin hanya perlu masuk daerah ramai padat penduduk.
Pelan sekali ia berjalan, ia berusaha membuat tubuhnya kuat dan juga terus berhati hati agar tak ada siapapun orang dari laki laki itu yang mengetahui dirinya.
Lemah sekali tubuhnya, tapi ia terus paksakan.
Dan tak berapa lama, dengan napas berat dan terengah-engah ia sampai di rumahnya. Berulang kali ia mengetuk pintu itu, tapi tak ada jawaban dari siapapun.
Mungkin Rian sudah pergi sekolah. Pikirnya. Tapi, saat ia berniat memutar untuk mencari pintu masuk belakang, pintu itu terbuka.
Reno berharap cemas dengan bukaan pintu itu, tapi yang akhirnya yang muncul ternyata Randi.
"Ren," kata Randi kemudian. Tangannya berusaha memapah Reno.
Dengan pelan ia membawa tubuh Reno masuk kedalam rumah, meskipun sering tak sesuai pemikiran dengan Reno. Tapi melihat sang adik dalam keadaan begitu Randi begitu kasihan.
Setelah menaruh Reno diatas sofa, Randi berjalan mengambil kotak obat didalam lemari.
"Lu kenapa?" Sambung Randi sambil mengoleskan obat merah di luka Reno.
"Aww!" Teriak Reno sambil mengaduh, karena obat merah itu bertemu dengan lukanya. "Sakit kak."
"Tahan." Ucap Randi lagi. "Lu belum jawab pertanyaan gue, lu kenapa? Kok bisa sampai parah banget badan lu? Lu berantem sama siapa sih."
Mendengar banyak pertanyaan dari Randi, Reno malah kaget sendiri. Tumben sekali Randi begitu peduli padanya.
"Gue gak berantem, tapi gue dihajar sama orang."
"Kok bisa?"
"Panjang ceritanya kak, lain kali aku ceritakan. Sekarang aku mau tidur dulu." Kata Reno lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Randi yang membereskan kotak obatnya.
Setelah kejadian itu, Reno memutuskan membawa Rian dan dirinya untuk pindah keluar kota, keluar dari pekerjaan dan membiarkan rumah itu dihuni Randi sendiri.
Seminggu setelah ia pindah, pengawal tuan Susanto sempat datang kerumahnya bahkan membongkar dan menghancurkan rumahnya, Rendi pun menjadi sasarannya.
Meskipun begitu ia tetap tak berniat untuk pulang kerumahnya dan menetap di kota lain. Hingga ia tak tahu bahwa tuan susanto sudah meninggal karena kecelakaan pesawat.
****End Flash back
"Aku minta maaf untuk kejadian beberapa tahun lalu." Kata Reno kemudian, rautnya sedikit berubah.
"Bukan beberapa, tapi sudah lebih dari enam belas tahun lalu, dan aku memaafkanmu."
"Tenang lah, aku tahu setelah meminta maaf padaku pasti hidupmu tak tenang. Tapi, tuan s sudah tidak ada sekarang kamu bisa lebih menikmati hidup."
Reno mengangguk mendengar ucapan Bian itu.
Setelah itu Reno dan Bian mulai bercakap-cakap lagi seperti biasanya, bukan seperti biasanya tapi seperti tidak pernah terjadi masalah serius dalam hidup mereka. meskipun seharusnya mereka masih sakit hati antara keduanya. Reno sakit hati karena merasa kalah dari Bian, Bian yang lebih sakit hati karena Reno yang melakukan kekejaman dari batas wajar.
Kemudian Reno memutuskan untuk berpamitan pada Bian, sesaat setelah Laras datang keuangan Bian.
"Itu siapa? Client kamu?" tanya Laras sambil menaruh sekotak yang berisi makanan diatas meja.
"Itu Reno teman pengacara lamaku." jawab Bian tak ingin mengatakan pada Laras siapa sebenarnya Bian itu.
Sementara Laras yang biasanya tak peduli dengan apapun yang tidak ingin diceritakan Bian saat ini entah kenapa ia begitu penasaran.
Bian sadar dengan perubahan wajah Laras, sampai mengurungkan untuk mengambil makannya.
"Kamu kenapa? Masih penasaran siapa laki laki itu?" tanya Bian memastikan.
"Aku kayak aneh aja gitu."
Melihat Laras semakin bingung, akhirnya Bian menceritakan semua tentang dirinya dan Reno, siapa sebenarnya Reno dan apa hubungannya dengannya Bian.
Akhirnya Laras mengetahui semuanya apa yang terjadi antara mereka. Penyebab Bian masuk penjara karena Reno.