
Pagi sudah menjelang, udara di puncak begitu sejuk. Hawa dingin dari arah bukit masih terasa menusuk kulit rasanya. Setelah membuat segelas teh, Kesya berjalan keluar melihat pemandangan itu.
Hamparan kehijauan yang terlihat, rumah-rumah yang nampak kecil dari tempat Kesya berdiri. Ia memutuskan untuk duduk setelah melap kursi yang tadi terkena embun. Ditaruhnya segelas teh diatas meja sambil sesekali ai memeriksa ponselnya.
Ada pesan dari Bian, menanyakan kapan ia pulang, mamanya yang khawatir karena ponselnya sempat tidak aktif, tapi ada yang mengusik pikirannya tentang Kevano. Beberapa hari ini bocah itu tak mengganggu hidupnya lagi, tak ada satupun spam atau chat disosmednya, tak ada menghubungi meski hanya sekedar mengatakan, “Pagi tante.”
Seharusnya itu membuatnya bisa menarik napas lega, tapi tidak semudah itu. Semua perkataan Kevano masih menggantung dalam pikirannya. Ia yakin ada sesuatu yang telah terjadi, tak mungkin orang setak peduli Kevano bisa mengatakan bahwa Bian itu tak baik, dan harus meninggalkannya.
Jika saat itu terulang, mungkin ia kaan menghentikan sikap Bian yang terlihat berlebih dan lebih kekanakan dari Kevano. Meskipun apa yang dikatan Bian benar, tak perlu orang lain ikut campur dalam urusan hubungan mereka.
Kedatangan Kevano dihidupnya seperti memberi signal dalam masalah hidupnya, tapi kedatangan Kevano juga berdampak baik bagi pekerjaanya. Pak bos jarang lagi memarahinya, pekerjaannya menjadi terjamin dan semuanya terlihat menyenangkan.
Semenjak masalah diresto itu Kevano menghilang bagai ditelan bumi, ia sudah tak bekerja lagi di Putra Group dan saat terakhir ia menyajarpun Kevano tak muncul lagi.
“Lagi mikir apa, mbak?”tanya seseorang yang membuyarkan lamunan Kesya.
Kesya terkesiap sesaat lalu memalingkan wajahnya, Mang Adin sudah duduk dikerja disamping meja dimana tehnya berada.
“Enggak kok Mang, Cuma lihatin pemandangan aja.” Ucap Kesya bohong, tersenyum ramah kearah Mang Adin.
“Masa mbak mau bohongi orang tua seperti saya yang sudah lihat wajah orang jutaan kali,” kata lembut Mang Adin dengan logat daerahnya.
Kesya mengangguk. Memang benar apa yang dikatakan Mang Adin, ia sedang berusaha berbohong dan itu terlihat dari wajahnya. Sangat nampak, meskipun itu bukan Mang Adin, banyak orang yang bisa menebaknya.
“Cuma masalah cinta, Mang.” Ucap Kesya kemudian, menahan kata-katanya sendiri.
“Soal cowok ya atau lagi kepikiran nikah.”
“Lebih tepatnya lagi mikiran soal pernikahan yang tinggal nunggu harinya, Mang.”
“Wah, selamat ya mbak. Semoga jadi keluarga yang di ridhoi Tuhan.”
Kesya mengangguk, sambil menggumamkan kata aamiin.
Sesekali Kesya terlibat obrolan yang cukup serius dengan Mang Adin. Saat membicarakan soal pernikahan Mang Adin begitu antusias, kata lelaki berusia hampir lima puluh tahun itu. Dulu saat masih muda, ia dan istrinya dijodohkan, pernikahan mereka karena terpaksa, tapi entah kenapa pribahasa Cinta ada karena terbiasa itu benar adanya.
Meskipun menikah karena terpksa, Mang Adin dan istrinya masih tetap bersama dan memiliki tiga orang anak, Yoga dan kedua kakaknya yang sudah bekerja.
“Langgeng ya, Mang.”
“Ya langgeng gak langgeng mbak, namanya pemberian dari Tuhan meskipun kita bilang terpaksa tapi kalau udah jodoh, kita bisa apa.”
Kesya hanya bisa terus mengangguk mendengar ucapan Mang Adin. Setelah mendnegar ucapan itu, ia semkain memantapkan niatnya untuk menikah dengan Bian. Tidak ada kata ragu lagi, omongan orang hanyalah bumbu dalam percintaanya.
Saat ia masih mengobrol bersama Mang Adin, Gnada datang dengan pakaian santainya.
“Pagi, Mang?” Sapa Ganda.
“Pagi, Den. Saya mau permisi bersih-bersih vila dulu.” Ucap Mang Adin meminta izin untuk berlalu pergi.
“Lah malah pergi. Gendis baru aja datang.” Ujar Ganda, lalu mengambil alih tempat duduk Mang Adin tadi. “Lagi ngobrolin apa kalian tadi, seru banget kayaknya.”
“Ngobrolin anaknya, masih ada yang jomblo gak, siapa tau mau sama kamu.”
“Ah serius lu, ada gak?” tanya Ganda penasaran, dengan ucapan bohong Kesya.
“Ada, cewek cantik banget. Mau aku minta kenalin gak? Biar kamu tobat dan kembali kejalan yang benar.”
“Ih, Kekes bikin sebel deh. Gue kira beneran.”
“Lagian kamu ya, pagi-pagi udah kepo aja, pasti mau ngajak ghibah.”
Ganda memiringkan kepalanya sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong si ratu centil mana?” sambung Kesya sambil bertanya keberadaan Yunda yang tak terlihat sejak tadi.
“Yuyun lagi jalan sama Yoga tu, entah kemana. Gue harap dia gak pulang dalam keadaan habis *****.” Ucap Ganda dengan entengnya.
“Ya Allah, mulutnya manis banget si cantik ini.” Kata Kesya sambil mengejek ucapan Ganda. Seperti biasa, mulut lelalki bertulang itu begitu menusuk hati dan empedu, sekali berucap langsung menancap seprti anak panah.
“Nanti sore kita pulang, jadi sekarang mending kita jalan-jalan. Katanya sih didekat sini ada kebun teh sama buah lainnya. Gue belum pernah kesana.”
“Kuy, kita kesana.” Ujar Kesya begitu semangat.
Kesya menyeruput tehnya lalu mengikuti Gandayang berjalan lebih dulu. Sebelum mereka kembali kekot dan besok bekerja, memang ada baiknya lebih dulu menikmati semua itu, mumpung gratis juga. Kesya selalu bersemangat jika itu gratis, meskipun tak gratis ia akan berusaha menikmatinya jika itu bersama dengan trio kalong, sahabat-sahabat gilanya.
%%%
Pererjalanan menuju kebun teh tak begitu jauh, sedikit menggunakn sepeda yang mereka pinjam dari Mang Adin. Karena merek berdua penasaran ada kebun teh ditemoat seperti itu, apalagi sebagai anak-anak yang lahir dan besar di kota, mereka jarang melihat pemandangan seperti itu.
Sesampainya disana, kebun teh itu cukup ramai dengan para pemetik dan juga pengunjung, hingga keduanya melihat pemandangan yang tak biasa, Yunda dan Yoga menikmati semua itu hanya berdua.
“Eh si tante, katanya gak suka berodong.” Ucap Kesya sambil berjalan mendekati Yunda dan Yoga.
Yunda menoleh kesumber suara itu, melihat Ganda dan Kesya yang datang wajahnya mulau cemberut dan kaku.Dua pengacau datang. Batinnya.
“Ngapain sih lu berdua datang,” kata Yunda sambil cemberut.
“Suka-suka kita dong, ini kan tempat terbuka.” Seloroh Ganda. “Lagian gue kita lu sama Yoga ***** dihutan sono.”
Yoga mengangguk tak paham dengan permbicaraan mereka.
“Kapan kita pulang?” sambung Yunda begitu ia sampai idekat Ganda dan Yunda.
“Entar sore. Seakarang lu puasin, jalan-jalan atau nuntasin pekerjaan lu sama Yoga, kan baklan lama gak ketemu tuh.”
“Ketemu lah, Yoga kan sekota sama kita. Dan gue udah nawarin pekerjaan dikantor setelah dia lulus nanti.”
“Emang lu dah tanya pak bos Ruben?” tanya Kesya.
“Belum sih, tapi pasti boleh. Secara gue kan pegawai teladan bulan selama bertahun-tahun.”
Kesya dan Ganda tak memperdulikan ucapan Yunda, mereka berdua malah ikut para pekerja untuk memetik dan mengumpulkan pucuk teh, katanya teh yang dipetik sendiri itu rasanya lebih nikmat dan harum.
Tapi, Kesya yang tak pernah melakukan itu malah salah memetiknya, petikan terlalu panjang, bukannya yang muda ia ambil malah sampai daun yang muda.
Memetik teh seperti ini mengingatkannya saat ada kegiatan di Jepang dulu. Bersama dengan Pak bos Ruben, mereka berdua mendapat proyek pebuatan iklan salah satu merk minuman yang sudah terkenal disana, sebelum pulang ke Indonesia mereka berjalan-jalan dulu kekebun teh, lalu menikmati teh hijau khas salah satu daerah yang ada di Jepang.
Harum dan wangi teh itu masih ia ingat, sejak saat itu ia menyukai teh hijau, dan meminum maca itu menjadi salah satu alasannya.
Berbeda saat ia pergi ke Malaysia, ia harus berpanas-panas membantu pekerja untuk mengambil buah sawit, proyek iklan disana cukup lama sekitar semingguan. Sambil melihat proyek iklan minyak goreng, mereka diberikan waktu berwisata gratis, mereka pikir tempatnya indah ternyata kebun sawit.
“Kekes!” Teriak Ganda tepat ditelinga kanan Kesya. Yang seketika membuatnya bangun dari dunianya yang begitu mengasyikkan.”Ngelamun aja, kita di panggil Mang Adin itu.”
“Eh,” Kesya tersadar lalu melihta mang Adin yang melambai pada mereka, ditangan kirinya membawa beberapa potong ikan, mungkin mereka diajak membakar ikan lagi. “Sorry deh. Ayo Kesana.”
Ganda dan Kesya keluar dari kebun teh itu menuju kearah Mang Adin, sementara Yunda dan Yoga lebih dulu kesana.
“Ini ada beberapa ikan yang Mamang dapat disungai. Mari kita bakar bersama.” Ajak Mang Adin, begitu keempatnya sudah sampai ditempat Mang Adin, dipinggir kebun teh yang rindang dan ada tempat santainya.
Keempatnya mengangguk, lalu mengambil beberapa bahan yang akan mereka gunakan untuk membakar ikan-ikan itu. Sembari membakar mereka masih sempatnya bercanda, yang membuat Mang Adin dan Yoga ikut tertawa melihat tingkayt konyol ketiga sahabat itu.
Sebenarnya da yang terjadi antara Yoga dan Yunda sesaat setelah perkenal mereka tadi malam. Yoga telah mengenal Yunda lama dari sosmed, mereka sering berbicara dan berbincang, tapi tak pernah sekalipun bertemu. Yoga memiliki sikap yang ramah seperti sang bapak, yang membuat Yunda jatuh cinta dalam hitungan detik.
Cara bicara Yoga yang begitu pelan dan manis, menggubnkan kata aku-kamu, kadang pun saya, membuat siapapun pasti terpesona. Tapi, bagi Yunda bukan hanya itu. Yoga memiliki sesuatu yang membuat banyak perempuan luluh, yakni tubuhnya.
“Mereka baik-baik, ya?” tanya Mang Adin pada Yoga, sambil membakar ikan, sementara trio kalong masih bercanda.
“Iya, Bah. Mereka baik kok.” Jawab Yoga sambil tersenyum.
“Abah tau kamu sama Mbak Yunda saling suka, kenapa gak pacaran aja.”
“Ah Abah, kami saling suka. Tapi, belum tentu mbak Yunda mau pacaran sama Yoga.”
Mang Adin tak menjawab, ia malah memanggil trio kalong itu untuk menggantikannya membakar ikan, karena ia hendak pulang.
%%%
Dua hari rasanya kurang untuk mereka berlibur, dan seperti janji mereka tadi, sore itu juga mereka memutuskan pulang.
Setelah memberi salam pada Keluarga Mang Adin, ketiganya melambai dari balik jendela kaca, untuk sore itu Yoga ikut bersama mereka. Karena besok ia harus berangkat kuliah.
“Gimana kuliahmu, Ga?” tanya Ganda begitu mobil yang di kendarai Yunda sudah mulai berjalan meninggalkan area vila.
“Lancar kok mas. Besok lusa tinggal sidang.” Ucap Yoga.
Mendengar Ganda dipanggil mas,Yunda dan Kesya tak bisa menahan tanya, mereka tertawa begitu keras. Karena selama ini yang mereka tahu Ganda dipanggil Gendis atau dalam bahasa daerahnya berarti gadis cantik.
“Kalian ngetawain apaan sih?” kata Ganda bersikap bodoh.
“Lucu juga ya, kamu dipanggil mas. Berapa aneh gitu.” Ucap Kesya sambil menahan tawanya yang sejak tadi terus keluar.
“Gue kan masih cowok luarannya, ya jelas lah dipanggil mas. Terus lu ambil jurusan apa?”
“Bisnis dan Mangement.”
Ganda mengangguk-angguk, Yunda sudah mulai menyetel musik dengan nyaring, ia berniat berkaraoke dengan riang lagi, tapi ketiag kawannnya seperti enggak. Bahkan Kesya terlihat menguap dan mengantuk, tak berapa lama ia tertidur begitu pulas. Begitupun yang dilakukan oleh Ganda yang duduk dibelakang.
“Lu tidur juga, Yo?” tanya Yunda memastikan keadaan Yoga, dari balik kaca yang ada diatas kemudinya ia melihat Yoga menggelengkan kepalanya. “Kalau enggak temenin gue ngobrol, ya.Kan bis ajadi masalah kalau aku juga ikut tidur.”
“Iya, aku temenin kok.”
Yoga dan Yunda memulai pembicaraan mereka yang seperti tak ada habisnya, padahal sudah sejak malam tadi mereka terus mengobrol membahas apapun itu, dari kuliah sampai hal yang lebih pribadi.
“Gimana perispaan sidangnya?” tanya Yunda kemudian.
“Masih gerogi sih, tapi sudah belajar untuk mengira-ngira aja, kira-kira apa yang akan ditanyakan penguji nanti.”
“Santai saja lah, gak usah gerogi. Itu Cuma sebentar kok. Keluar dari pintu sidang, hidup lu baru dimulai.”
“Dulu mbak Yunda gerogi gak pas sidang?” tanya Yoga bergantian.
Awalnya Yunda ingin berbohong, tapi ia urungkan. “Gerogi sih.”
Yoga tertawa lirih mendengar ucapan Yunda itu.
Pembicaraan itu terus berlanjut hingga mereka sampai dikota kembali, perjalannya memasuki kota juga memakan waktu yang cukup lama, apalagi kalau terkena macet sore, dimana orang-orang pulang dari menikmati weekend mereka.