My Berondong Husband

My Berondong Husband
#41 My Berondong Husband (end S1)



Bisa saja aku jatuh cinta padamu, jika saja Tuhan lebih cepat mempertemukan kita.


***


"Serius lu mau nikah sama Kekev?!" Tanya Ganda tak percaya dengan ucapan Kesya.


Kesya mengangguk.


Saat itu mereka tengah berkumpul bersama sebagai pesta bujang. Menikmati makan malam bersama disebuah resto.


"Kok bisa sih, Kes?" Yunda ikut berucap dengan pernyataan Kesya tadi.


"Jangan bilang lu terpaksa dengan pernikahan lu, secara Bian kan dipenjara." Sambung Ganda.


"Awalnya. Tapi, setelah Kevano meminta izin Papa untuk menggantikan Bian, aku mulai suka sama dia." papar Kesya.


Ganda dan Yunda tak habis pikir dengan Kesya, bagaimana mungkin ia menerima tawaran Kevano untuk mengantikan Bian. Entah Kevano yang bodoh atau Kesya yang tak tahu lagi harus berbuat apa, dari pada malu pada persiapan pernikahannya yang tinggal menunggu hari H.


Hari itu Kesya sengaja meminta bertemu dengan Trio kalong sebelum ia berstatus sebagai istri seorang Kevano Putra, awalnya saat ia meminta bertemu Ganda dan Yunda berpikir ingin curhat setelah mengetahui soal penangkapan Bian, tapi semuanya berbeda.


"Lu gak mau ketemu Bian gitu?" Tanya Yunda kemudian.


Kesya tak menjawab, ia hanya mengangkat bahunya tanda tak ingin mengatakan apapun.


Sakit hati? Pasti. Semua masih membekas dalam pikirannya, selama dua tahun menjalin hubungan dan dalam satu malam semuanya hancur.


Tak ada yang ingin ia ucapkan pada Bian, sebagai seorang wanita yang sebenarnya tak pernah peduli Kesya hanya berpikir bahwa Bian memiliki alasan untuk itu.


Jikapun ingin bertemu, ia takut rasa sakit dan muaknya semakin dalam pada Bian. Benar apa yang dikatakan Kevano, jika ia hamil anak Bian, ia hanya perlu Bian yang bertanggung jawab jika tidak Kevano akan menjaganya sebagai ayah sambung.


"Lu gak pengen lihat Bian? Atau setidaknya lu tampar wajahnya?" Ucap Ganda. Trio kalong sudah tahu apa yang terjadi malam sebelum Bian pergi.


"Enggak lah, nanti ada waktunya aku ketemu dia, entah beberapa hari, bulan atau tahunan lagi." kata Kesya bersikap biasa, seolah ia tak pernah sakit hati atas perbuatan Bian padanya.


Yunda dan Ganda tak bisa berkata apa apa lagi jika itu sudah kemauan dari Kesya, sifat tak peduli dan merasa semuanya baik-baik saja terus membekas dalam dirinya, bahkan mereka yang berteman sudah sangat lama bingung, entah dari mana Kesya memiliki sifat aneh itu.


Sementara itu dirumah keluarga Putra, Kevano membuat Tuan dan Nyonya Putra serta Ruben terheran-heran dengan keputusannya meminta izin untuk menikah.


"Kamu pikir kamu ngomong apa, Sya." Ucap Tuan Putra masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Kevano.


"Kevano serius mau menikahi Kesya, Pa."


"Tapi, ini terlalu cepat dan kenapa harus menikah, Sya?" Tanya Nyonya Putra.


"Karena Kevano sayang sama Kesya. Mama sama Papa mau Kevano berubahkan, sekarang saatnya Kevano berubah menjadi lebih baik." Papar Kevano.


"Tapi, kamu gak perlu menikah kan," kata Tuan Putra. "Menikah itu bukan sesuatu permainan, itu ikatan lahir batin. Lihat Arkano saja belum menikah."


Mendengar ucapan Papanya Ruben hanya terdiam, dalam keadaan sepeti ini papanya masih bisa menyindir soal statusnya yang masih melajang.


"Pa, Ma. Arsya mohon, izinin Arsya menikah ya. Arsya janji bakalan jadi anak yang lebih baik lagi. Setelah menikah nanti. Arsya bakalan kerja mandiri."


Tuan Putra menghembuskan napas bertanya, entah apa yang ada didalam pikiran Kevano, tapi ia mulai berpikir sepertinya Kevano begitu serius dengan permainannya.


"Papa izinin kamu menikah, tapi papa gak bisa datang keacara ijab qabulmu lusa."


"Loh kenapa, katanya papa izinin?" Tanya Kevano bingung.


"Soalnya papa ada perkerjaan diluar kota."


Mendengar hal itu sontak saja Kevano langsung memeluk sang Papa bahagia. Ia tahu pasti bahwa orang tuanya akan mengizinkannya menikah.


%%%


Kevano menggunakan setelah jas hitam dengan dalaman kemeja putih, sementara Kesya menggunakan kebaya putih dengan tudung kepala. Begitu cantik.


Kesya sengaja tak memakai gaun yang telah ia pesan bersama Bian dulu, karena ia hanya ingin semuanya tentang Kevano.


"Baik bisa kita mulai acara ini?" Tanya seorang penghulu kepada seluruh saksi dan beberapa kerabat yang menyaksikan. Semuanya mengangguk memulai. "Saudara Arsya Kevano Putra, saya nikahkan dan saya kawinkan, dengan Kesya Almora Nurinda yang telah diserahkan walinya kepada saya, dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Dengan sekali tarikan napas Kevano mengikuti ucapan penghulu. "Saya terima nikah dan kawinnya Kesya Almora Nurinda dengan mahar tersebut tunai."


Setelah itu beberapa saksi mengatakan SAH. Pernikahan berjalan tenang dan hikmat, ada derai air mata yang membahasi pipi Kesya.


Sesaat itu, Kevano mulai membacakan nota kesepakatan pernikahan tentang apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan selama menikah dengan Kesya.


Jantung Kevano masih berdetak cepat, rasanya lebih menggetarkan daripada tertangkap polisi, lebih mendebarkan dari jatuh keaspal.


Tapi, sayangnya dari keharuan itu Tuan Putra tak muncul, hanya ada Ruben dan Nyonya Putra, bukan tak merestui tapi ada pekerjaan yang tak bisa ia tinggal diluar kota.


Sementara Renata dan Nyonya Mira yang melihat itu berusaha bahagia, semua persiapan yang harusnya untuk Bian malah tak berjalan sesuai keinginan mereka.


Setelah ijab qabul berjalan, sesi lainnya mereka lakukan, yakni berkumpul dan sekaligus resepsi.


Beberapa tamu yang nampak akrab datang, seperti Yunda, Ganda, Adrian, hingga Kevin dan Stefani.


Saat sampai pada Adrian yang bersalaman ia mengajak Kevano bercanda. "No, nanti malam kalau lu sama Kesya wik-wik jangan lupa rekam terus kasih gue."


"Sialan lu." Umpat Kevano sambil tertawa.


Kesya ikut tertawa, kebahagian hari itu tak pernah ia pikir sebelumnya. Menikah dengan Berondong nakal dan terlalu pede, menyebalkan dan menjengkelkan, tapi ia suka.


Tuhan memang Maha membolak-balikkan hati, mungkin hari ini kita jatuh cinta padanya, tapi esok belum tentu.


"Kamu bahagia gak?" Tanya Kevano sesaat setelah salaman itu berhenti dan mereka duduk dipelaminan.


"Apa raut wajahku ini bilang bahwa aku tak bahagia?" Tanya balik Kesya.


Kevano tersenyum, sesekali ia mencubit mesra pipi Kesya. Sesuatu yang dulu selalu membuat Kesya marah jika ia lakukan.


Kevano tak pernah berpikir, diusianya yang masih terlalu muda, yakni delapan belas tahun, ia harus menikah dengan perempuan yang terpaut lebih sembilan tahun darinya. Ia tak menyesal karena itu adalah keinginannya sendiri, janji yang telah ia buat lebih dari Sebelas tahun.


Pernikahan itu memang terlihat mendadak baginya, dan ia tak berpikir jika dalam keadaan sepeti itu ia akan menikahi Kesya, yakni sebagai pengganti dari seorang Lelaki brengsek.


%%%


"Dengan ini, saudara Biandra Arya Wijaya dijatuhi hukuman kurung selama lima tahun dan denda sebesar lima belas juta rupiah, sesuai pasal 2 (Dua)."


Tuk


Tuk


Tuk


Hakim memutuskan dan menetapkan hukuman bagia Bian, karena terbukti bahwa ia bersalah. Pukulan palu itu menandai berlakunya masa tahanan bagi Bian.


Raut wajah Bian terlihat tak menyesal karena ia tahu resiko apa yang akan terjadi setelah ia melakukan pekerjaan itu.


Setelah putusan hakim, dua polisi membawa tubuhnya masuk tempat kurungan. Ia nampak terus menunduk dan tak mengucapkan apapun pada wartawan yang sejak tadi bertanya begitu banyak padanya.


Pakaian yang ia gunakan juga sudah berganti dengan baju narapidana.