My Berondong Husband

My Berondong Husband
#82 Adrian Masih Mencintai Yola



Sudah sebulan lamanya, Adrian tak menemukan kemana Yola pergi. Yola menghilang bak ditelan bumi.


Teman teman sesama perempuan pinggir jalan pun tak mau membuka mulut untuk mengatakan kemana Yola pergi. Meskipun Adrian tahu mereka berusaha menutupi kepergian Yola.


Rasa kehilangan terus memuncak, tapi ia tak ingin terus menyalahkan Mamanya. Ia tak ingin masalah itu terus berlaruh dan memperkeruh keadaan.


Ia ingin hubungan dengan mamanya berjalan baik seperti dulu, sebelum praha keluarganya terjadi.


Jika Yola tak datang kembali berarti Yola tak di ciptakan untuknya, kadang ia harus berbaik sangka pada Tuhan.


Pada bagian mana Tuhan salah dan menyakiti hambanya tanpa memberi alasan yang jelas atas perpisahan itu.


Adrian terus berusaha melupakan sakit hati atas kepergian Yola. Yola yang dulu negeri dongengnya yang indah, dengannya ia bisa berfantasi. Kini negeri itu menghilang di terpa tsunami dahsyat yang meluluh lantahkan segalanya.


Merasa kehilangan pasti. Tapi, semenangis apapun ia. Yola tak akan kembali lagi seperti dulu. Yola kini hanyalah sebuah bayangan semu, ada tapi saat ia berusaha pegang ia tak tersentuh.


"Ma, Adrian berangkat kuliah dulu." Ucap Adrian sambil menyalimi tangan Sang Mama.


Sang Mama mengulurkan tangan pada Adrian sambil tersenyum. Putranya kembali seperti dulu. Mama mana yang tak bahagia dengan keadaan itu, apalagi Adrian anak tunggalnya.


"Iya, hati-hati dijalan. Belajar yang rajin."


Adrian mengangguk. "Nanti habis kuliah, Adrian mau main ke apartemen Kevano sama Kesya."


"Jangan malam-malam."


Adrian kembali mengangguk. Kemudian berlalu dari hadapan sang Mama. Berjalan keluar menuju motornya yang sudah siap dengan setia.


Ia menjalankan motor gedenya, tanpa pikiran apapun. Ia berusaha membuang semua pikiran yang terus bergelayut diotaknya. Karena setiap berpikir, bayangan bayangan Yola menyelinap dan seakan ada didekatnya.


Rasanya masih hangat goncengan belakangan motornya, kadang ia mengelus bagian pinggang. Saat Yola merangkulnya erat dulu.


Adrian tak berangkat kuliah dulu, karena masih ada satu jam untuk masuk jelas. Ia pergi ke bengkel untuk sekedar mengecek motornya baik atau tidak.


"Bang, chek motor." Ucap Adrian pada salah satu montir saat ia masuk kedalam bengkel.


"Apanya yang rusak? Tumbenan." tanya salah satu montir itu, yang biasa mengurusi motor Adrian.


"Periksa mesinnya aja, ganti oli, sama bersihkan karbunya."


Si montir mengacungkan jempolnya, lalu memeriksa motor sepertinya yang diminta Adrian tadi.


Adrian menunggu disebuah bangku panjang sambil memainkan ponselnya. Menyibukkan diri dengan segalanya.


Yola itu masih ada, hanya saja dia pergi. Begitu terus pikiran Adrian menyemangati dirinya sendiri.


Tak sampai setengah jam kemudian motornya sudah beres dan bersih setelah diperiksa si montir.


"Nah dah beres." Kata si montir sambil memberikan kunci motor pada Adrian.


Adrian mengalihkan pandangannya dari ponsel dan mengambil kunci itu.


"Lu ngapa dah, lemes gitu." sambung si montir saat melihat Adrian tak seperti biasanya.


Adrian menggeleng pelan.


"Bohong lu. Cerita aja kalau ada masalah. Kayak kita baru kenal aja."


Adrian menunduk sambil menggaruk belakang kepalanya. "Cewek gue minggat."


"Minggat?" Ulang si montir.


"Iya, pergi entah kemana." Kata Adrian.


"Kok bisa? Lu apain dia?" Tanya si montir.


"Enggak gue apa-apain. Dia pergi setelah ada masalah sama nyokap gue. Sekeluarga nya ngilang gak tahu kemana. Gue sampai bingung nyari dia." Papar Adrian.


"Yaudah santai aja. Kalau dia pergi berarti belum jodoh lu. Santai aja. Masih banyak cewek lain. Lu itu ganteng dan kaya. Lagian kalau dia balik pasti bakalan balik." Ucap si montir berusaha menyemangati Adrian.


"Iya juga sih, Bang. Tapi, masih kepikiran aja. Dia minggat cepet banget."


"Selow aja. Gue yang jelek aja punya istri kok. Masa lu yang ganteng masih gak bisa move on dan cari yang baru."


"Lu pakai pelet kali." Gelak Adrian. Si montir ikut tertawa atas ejekan Adrian.


"Sialan lu. Dia itu gak gue apa-apain juga udah klepek-klepek sama gue. Lu tahu gak karena apa?" Adrian menggeleng. "Karena sesuatu."


"Halah. Dah, gue mau kekampus dulu. Gue bayar besok lusa pas Koh Chang ada."


"Oke. Hati-hati."


"Lu kira gue anak perawan hati-hati." Kata Adrian. Sambil menjalankan motornya keluar dari bengkel itu.


Kemudian...


Adrian sampai di kampus dengan wajah yang masih sama seperti saat ia pergi tadi. Didalam pun ia masih seperti begitu.


"Kagak, Kampret." Celetuk Adrian. "Gue lagi galau, Yola minggat."


"Yola, cewek malam itu?" selidik Kevano pada Adrian.


Adrian mengangguk.


"Minggat kemana? Palingan sama laki laki lain." sambung Kevano.


"Enggak, No. Gue kenal Yola." Kata Adrian.


"Yaudah kita sambil nongkrong di cafe depan. Nge-es, biar otak dingin."


Adrian lagi lagi hanya bisa mengangguk dengan ucapan Kevano itu. Kemudian mereka mengambil tasnya dan mengikuti kemana Kevano pergi.


Mereka turun ke lantai dasar, ke luar area kampus dan berjalan sedikit menuju Cafe yang tak jauh dari kampus mereka.


"Mas, Chocolate ice sama Moca Float, ya." Ucap Kevano begitu sampai di cafe dan memesan minuman. Semantara Adrian sudah mencari meja untuk duduk.


Tak berapa lama pesanannya sudah selesai, ia membayar dan membawa pesanan itu kemeja yang telah diduduki Adrian.


"Nih minum jangan disiram ke kepala, mentang-mentang panas." Ucap Kevano lagi sambil memberikan moca float pada Adrian.


"Ngelucu lu." Sahut Adrian.


"Gas cerita soal si Yoga."


"Yola woy, Yoga cowok. Lu kira gue M**o."


"Kayaknya gitu." ejek Kevano. "Lu mau cerita apa mau kita ghibah aja."


"Dih jijik. Lu kira ciwik-ciwik lagi pada ngumpul."


"Cepat bangke, lu cerita kagak. Kenapa dan gimana si Yola bisa minggat?"


Setelah itu Adrian menceritakan semua yang telah terjadi selama sebulan ini, antara ia, mamanya dan perempuan bernama Yola.


"Sejak setelah tragedi itu Yola sudah tak nampak lagi, hilang begitu aja." Kata Adrian menyelesaikan ceritanya.


"Sadis amat mama lu, kayak kisah mafia aja." Kata Kevano menggidik.


"Gue juga baru tahu kalau Mama gue sadis. Dan Sampai sekarang gue gak tahu kemana dia pergi."


"Teman-temannya? Nomer hpnya? Kliennya om-omnya?"


"Gila lu. Mana gue kenal kliennya. Nomornya udah gak aktif, teman teman seprofesi nya gak ada yang mau buka buka mulut ke gue."


"Hmm, sabar ya. Kalau jodoh pasti balik, kalau enggak bukan jodoh."


"Ulang teros kata kata itu. Bosan gue dengar. Kayak gak ada dialog lain."


"Terus gue harus bilang apa? Sabar ya Adrian, sepupuku yang ganteng, gitu?"


"Enggak juga sih."


Setelah itu mereka menghabiskan minuman itu, Adrian menghabiskan rokoknya. Dan mereka pergi dri cafe itu, karena masih ada jam kuliah setelah maghrib nanti.


Malamnya setelah pulang kuliah...


Adrian sengaja ingin pada sang Mama tadi untuk pergi ke rumah Kevano tadi setelah pulang kuliah.


Dan sekarang ia berada disana, didepan pintu apartemen bersama dengan Kevano. Karena Kesya tak kunjung membukakan pintu.


"Yang, sayang." Ucap Kevano sambil terus mengetuk pintu.


"Aku disini." Ujar Kesya dari arah belakang mengagetkan Adrian dan Kevano.


"Kamu dari mana? Kok bawa banyak plastik." Tanya Kevano sambil mengambil plastik yang pegang Kesya.


"Habis belanja cemilan." Jawab Kesya. "Eh ada Adrian juga. Ayo masuk."


Adrian tersenyum lalu mengangguk.


"Coba ngomong sama aku, kalau mau beli cemilan. Biar kamu gak turun naik. Nanti sayangku capek lho. Kasihan kan Hero." Ujar Kevano sambil mengikuti Kesya masuk kedalam, begitu pun Adrian.


"Apaan sih. Kamu gak ingat kata dokter kalau aku harus sehat. Banyakin jalan kaki."


"Iya sih, tapi kan cinta..."


"Enggak ada tapi-tapian." Potong Kesya.


Adrian yang melihat tingkat keduanya hanya bisa terdiam. Bisa bisanya mereka pamer kemesraan di depannya.


Didepan jomblo yang polos dan tak berdosa. Begitu teganya mereka. Adrian rasanya pengen pulang dan mengurung diri di kamar.