My Berondong Husband

My Berondong Husband
#21 Ada Sebuah Rencana Jahat.



"Sya!" Panggil tuan Putra pada Kevano dengan nada yang tinggi, sepertinya ia masih terbawa suasana saat memarahi Kevano.


"Iya, Pa." Jawab Kevano pelan.


"Kamu mau kuliah, kan? Kamu mampir dulu tempat Om Gio ya, Papa mau titip."


Kevano mendekati papanya saat Tuan Putra memberikan sebuah amplop kecil berwarna coklat.


"Apa ini, Pa?" Tanya Kevano saat sudah menerima benda itu.


"Itu uang. Bawa hati-hati, jumlahnya banyak. Sampai hilang, kamu ganti sama uang jajanmu setahun." Ucap tuan Putra yang membuat Kevano nyalinya ciut.


"Dih masih dendam aja, Pa."


Setelah mengucapkan itu Kevano berlalu pergi keluar rumah. Hari ini ia berniat menggunakan mobil yang diperbolehkan Mamanya, padahal sang Papa masih melarangnya menggunakan semua fasilitas sampai ia semester tiga dengan IPK yang memuaskan.


Dijalankan mobil itu dengan kecepatan sedang, kuliahnya masih cukup lama. Ia sebenarnya sengaja berangkat lebih siang supaya bisa mampir ke kantor untuk bertemu dengan Kesya, si tante manis yang menggoda.


Senyumnya mengulas sendiri, beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan Kesya karena kuliah libur dan ia dilarang sang Papa keluar rumah. Rasanya sepertinya anak gadis dipingit yang mau menikah.


Setelah bisa keluar rumah, Papanya malah menyuruh pergi ke rumah Om Gio. Mengingat permintaannya papanya, ia melirik bungkusan yang dititipkanya tadi.


Kevano melongo dan menelan lidah, uang dengan jumlah yang cukup banyak. Lebih dari seratus juga sepertinya, kenapa uang sebanyak itu bukanya ditransfer saja malah dititipkan padanya. Pantas saja papanya memawas dirinya. Setelah mengetahui isinya, ia bergegas menyimpannya lagi dengan rapi didalam tas ransel miliknya yang berada disamping kemudi.


Mengingat Om Gio ia selalu melihat bahwa ayah dari Adrian itu sangat memuakkan, sifatnya sejak dulu arogan dan ambisius. Ia tak pernah mau mengalah, bahkan saat Putra Grup jatuh ketangan Sang Papa, Om Gio seakan tak terima meskipun ia sudah mendapat beberapa kantor cabang.


Kevano membuang pikiran itu, Om Gio bukan urusannya. Ia memang keluarganya tapi tak lebih dari itu.


Setelah beberapa menit mengendarai mobilnya, Kevano memarkirkanya diluar pagar rumah Om Gio karena dipelataran sudah ada mobil lain.


Kevano keluar mobil, berjalan memasuki area rumah Om Gio yang memiliki halaman yang tak luas. Saat hendak mengetuk pintu, Kevano mendengar dua orang bercakap-cakap dengan cukup keras.


Kevano urungkan ketukannya, ia malah menguping dari balik kayu pintu. Dipererat dan dipertajam telinganya agar mampu mendengar semua ucapan orang yang ada didalam. Sepertinya cukup penting.


"Lakukan apapun untuk memenangkan persidangan." Kata om Gio yang didengar Kevano.


"Iya, tapi apa?"


"Apaapun, kau pengacara handal. Atau kau bisa menyuap mereka."


Kevano menjauhkan telinganya dari pintu, percakapan itu membuat dirinya bingung. Apa yang sedang direncanakan omnya lagi sekarang.


Belum sempat ia menaruh telinganya lagi, seseorang menepuk pundaknya yang membuatnya sedikit kaget.


"Lu ngapain, No?" Tegur Adrian, Kevano menoleh.


"Enggak, anu-ini-apa. Gue mau anterin titipan Papa ke Om Gio." Ucap Kevano dengan nada gugup.


"Oh, gue balik ambil buku. Kita berangkat bareng ya, mobil mau gue tinggal."


Kevano menajamkan mata nya, lelaki itu yang tempo hari dilihatnya dirumah Kesya. Yang menurut Kesya itu kekasihnya dan mereka akan menikah. Tapi, setelah mendengar omongan tadi, Kevano seperti tak ikhlas Kesya jatuh kedalam pelukan lelaki seperti itu.


"Om, ini ada titipan dari Papa." Ucap Kevano sambil memberikan amplop itu pada om Gio.


Tanda mengucapkan apapun Om Gio mengambil amplop coklat itu.


Sesaat setelah memberikannya, ia kembali keluar rumah dengan Adrian.


Apa yang direncanakan Om Gio dengan calon suami Kesya itu? Batin Kevano.


%%%


"Lu kenapa sih ngelamun terus, No." Ucap Adrian membuyarkan lamunan Kevano.


Kevano terkesiap lalu fokus pada mobil nya.


"Siapa sih orang yang sama Om Gio tadi?" Tanya Kevano mulai penasaran.


"Oh, itu pengacara Papa."


"Pengacara? Emang om Gio kenapa lagi?"


"Dia kena masalah lagi, katanya korupsi dana pemerintah. Gue juga bingung apa yang dipikirin orang tua itu. Nah sekarang dia nyawa pengacara handal untuk Bantuin dia."


"Tapi," Kevano tak melanjutkan ucapannya, jika takut menyinggung perasaan Adrian untuk mengatakan apa yang didengarnya tadi.


"Tapi apa?" selidik Adrian.


Kevano menggeleng.


"Papa pasti melakukan berbagai cara agar lolos dari jeratan hukum." sambung Adrian.


"Cara apa?"


"Apa aja. Yang penting dia gak masuk penjara."


Apa saja? jika benar begitu, berarti mereka sedang membicarakan sesuatu yang jahat. Bian, lelaki itu juga terlibat. Apa perlu ia mengatakan pada Kesya? Tapi, jika ia mengatakan pada perempuan itu, ia tak ingin menyakiti perasaanya. Jika tidak, bagaimana nasib Kesya nantinya.


Kevano pikir lelaki sesopan Bian memiliki sifat baik, ternyata tidak.


Ia tahu kenapa Om Gio melakukan hal itu, karena Papanya sudah tidak mau membantunya lagi. Tapi, uang ratusan juta tadi untuk apa? Apa itu untuk memenangkan pengadilan? Jika benar itu namanya curang.


Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengudara dipikirkannya, sekarang ia mulai masuk kedalam masalah yang tak masuk akal. Tentang Keluarganya, Omnya, serta Kesya perempuan yang disukainya.


Kevano mengacak rambutnya. Ia tak bisa berbuat lebih. Mungkin mereka melakukan itu karena terpaksa.


Setelah sampai di kampus dan keluar dari mobil, ia berniat melupakan semua itu dan fokus pada kuliahnya. Meskipun masih sulit.