My Berondong Husband

My Berondong Husband
#30 Happy Weekend Trio Kalong (1)



"I'm cooming, guys!" teriak Kesya sambil berjalan manja mendekati kedua sahabat konyolnya yang sudah berada diluar mobil.


Yunda dan Ganda menatap geli pemandnagan itu, sepertinya Kesya tengah mabuk lem.


“Lu kenapa sih, Kes? Kebanyakan ngedrug ya?” seru Yunda.


“Aduh mulutnya cantik banget ya, enggak lah. Aku mau happy aja sih, mumpung sama kalian.”


“Iyain ajalah biar cepat.” Ucap Ganda bahkan hampir tak peduli dengan apa yang dilakukan Kesya.


Mereka bertiga memasuki mobil yang dirental Ganda, karena ketiganya tak memiliki mobil pribadi.


“Mau kemana nih?” Sambung Ganda.


“Kemana sja. Tapi, kita shooping dulu.” Ucap Kesya.


Yunda mengangguk. Ketika tiga orang dengan hobi yang sama dikumpulkan maka pecah dunia ini.


Hari ini hari sabtu, hari weekend bagi mereka. Seperti janji kemarin bahwa mereka akan menikmati weeknd itu tanpa beban, tanpa harus mendengar omongan pak bos ataupun mengingat masalh mereka maisng-maisng.


Bagi Kesya itu adalah moment yang tepat, agar ia bisa melupakan masalahnya dengan Bian dan Kevano. Permasalah pelik yang ia tak tahu dari mana asalnya. Ia juga tak mungkin menanyakan pada Bian penyebab anatra percekcokannya dengan Kevano.


Bian tipe pendiam jika ada masalah, meskipun ditanya belum tentu ia mengatakanya.


”Malam ini kita nginap ya, guys?” tanya Ganda meminta persetujuan kedua sahabtanya.


“Dimana?” kembali tanya Yunda sambil mengendarai mobilnya.


“Saudara gue punya vila dipuncak, itung-itung semlam dua hari lah kita disana.” Kata Ganda sambil menikmati cemilannya.


“Serius nih kita nginap? Bawa makanan dan kita manggang ya.” Seru Kesya seperti kebiasaanya kalau soal makanan pasti ia cepat.


“Tenang, disana sudah disiapin sama saudara gue. Tempatnya emang tempat buat liburan, jadi lengkap semua.”


Yunda dan Kesya bersorak bahagia sesaat. Sebelum sorakan itu berhneti saat meilhat razia kendaraan didepan mereka. Yunda menghentikan kendaraanya dibelakang mobil lainnya yang masih dalam pemeriksaan.


“Kenapa, Yun?” tanya Kesya sambil memegang bahu Yunda.


“Ada razia, cuy.”


“Emang lu gak punya SIM? Surat-surat mobil ini kan lengkap.” Tambah Ganda.


“Kagak punya.” Jawab Yunda sambil memamerkan giginya.


“Gih mundur, gue aja yang bawa sampai razia habis.”


Setelah Ganda mengucapkan itu, mereka bertukar posisi didalam mobil. Yunda mundur kebelakang sementara si centil maju kedepan kearah kemudi.


Mereka menunggu giliran razia, Kesya sibuk dengan makanannya, Yunda dengan ponselnya dan sesekali swafoto, sementara Ganda mengetuk-ngetuk kemudi dan sesekali menaruh wajahnya disana, ia seperti mengantuk yang sulit ditahan.


Tak berapa lama giliran mereka sampai, seorang polisi mengetuk kaca mobil bagian kemudi. Ganda membukanya, kedua anggota trio kalong ikut mengeok keluar, saat mata mereka  menangkap wajah tampan si polisi.


Tanpa diminta Ganda membuka pintunya, sambil tersenyum ramah.


“Selamat pagi, Pak.” Ucap polisi itu sambil memberi hormat tangan pada Ganda.


“Pagi. Kok pak sih, panggil dedek kenapa.” Kata Ganda dengan gaya centilnya, yang menggoda si polisi.


“Bisa saya melihat surat-surat kendaraannya,”


“Surat apa nih pak?! Surat berkas nikah kita ya!” teriak Yunda  dari dalam mobil. Mndengar itu si polisi hanya tersenyum.


“Ada, Pak.” Ganda memeriksa dompetnya, lalu memeberikan STNK dan SIM pada polisi. “Sekalian nomor ha-penya gak, pak?”


Si polisi menatan tawa. “Boleh, tapi ha-penya gak bawa.”


“Catet aja disitu.” Ganda menunjuk kertas yang dibawa polisi.


“Lagian ha-penya dibawa istri.”


“Udah punya istri ternyata.” Desis Yunda, meskipun mendesis tapi suaranya terdengar jelas dari luar.


Setelah melakukan pemeriksaan, si polisi mempersilahkan trio kalong itu berllau pergi.


“Masa ha-pe aja dipakai istri, ngreditnya barengan kali, ya.” Celetuk Kesya, suaranya baru keluar setelah selesai razia.


Ucapannya itu membuat Ganda dan Yunda menahan tawanya.


Memang jika trio kalong sudah berkumpul tiada duanya, dunia bisa pecah gara-gara mnereka saja.


%%%


“Cocok gak?” tanya Kesya pada Yunda saat ia mencoba sebuah baju.


“Lu mau pakai daster, lu kan gak halim, Kes.”


“Pengen aja pakai buat dirumah biar lega aja.” Ucap Kesya smabil memilih pakain yang hendak ia beli.


Pagi ini mereka pergi ke mall untuk shooping dan berjalan-jalan, dan yang pertama kali mereka tuju adalah tempat pakaian. Dengan dompet yang baru terisi uang gajihan, mereka seakan orang kaya-raya padahal banyak tunggakan dan kreditan yang harus mereka cicil, mislanya Kesya yang harus mengumpulakn uang untuk biaya apartemennya.


Biaya tempatnya itu tidak murah, maka dari itu ia harus ekstra berhemat, tapi baginya sesekali berbelanja mungkin tidak apa-apa.


“Udah belum?” tanya Ganda mendekati keduanya.


“Belum dapat.”  Ucap Yunda.


Plak!


Ganda memukul belakang kepala Yunda setelah mengatakan hal itu. Bagaimana ia belum dapat, sementara ditangannya sudah menumpuk puluhan baju, seperti orang yang hendak pindah rumah.


“Itu ditangan lu apaan, kok belum dapat.”


Yunda nyengir. “Masih dikit, bentaran ya. Lu beli apa?”


“Baju sama celana aja,” Ucap Ganda sambil memperlihatkan dua totebag miliknya. “Nanti sebelum makan kita mampir dulu ditoko sepatu depan resto ya. Lu belanja apa, Kes?”


Kesya mengoelh kearah Ganda. “Ini aku lagi cari baju buat santai dirumah.”


“Kenapa gak kaos sama celana pendek aja.”


“Daster itu lebih longgar dan nyaman.”


“Iya, nyaman kalau dibuka sama bapak-bapak tetangga lu itu.” Seloroh Yunda sambil menggandeng tangan Ganda dan berjalan menuju kasih.


“Sembarangan.” Ucap Kesya lalu mengambil baju dan menyusul kedua sahabtnya itu.


Merek bertiga membayar barang yang telah mereka bawa, menunggu dikasir sambil sibuk dengan ponsel meraka masing-maisng. Tak berapa lama mereka selesai membayar dan berlalu dari toko baju itu.


Yunda dan Kesya berjalan menuju resto karena mereka sudah begitu lapar, sementara Ganda mencari sepatu kerjanya sendiri yang tak jauh dari resto itu.


“Lu mau makan apa, Kes?” tawar Yunda sambil melihat menu.


“Samain aja deh.”


Yunda mengatakn pesanannya pada pelayan yang sejak tadi menunggunya memilih makannya. Setelah itu si pelayan pergi.


“Gimana persiapan pernikahan lu sama Bian?”


“Tahap Finising aja sih. Minggu depan udah mau sebar undangan.”


“Asyik. Sebagai sahabat, gue harus dapat undangan spesial.” Ucap Yunda tersenyum.


“Sanati aja, lu dapat undang bertaburkan berlian dua puluh empat karat.”


Yunda mengacungkan jempolnya.


“Karat-an.” Sambung Kesya, lalu tertawa.


“Sialan lu ah.” Kata Yunda sambil cemberut.”Tapi, lu serius mau nikah, kan?”


Kesya menatap wajah Yunda yang terlihat begitu penasaran dengan pernikahannya. Pertanyaan itu sudah sering ditanyakan, bukan hanya Yunda tapi juga Ganda, kadang pertanyaan itu juga ia tanyakan pada diri sendiri. Apa ia sudah siap?


“Siap. Emang kenapa?” tanya Kesy memastikan.


“Enggak tau aja, kayaknya lu ragu.”


Kesya tak menajwab hanya diam saja. Ragu? Bagaiman Yunda yang biasa cerewet dan tak peduli bisa berkata seperti itu?


Tak berapa lama pesanan mereka datang, dan diwaktu yang bersamaan Ganda menuju kearah mereka dengan membawa barang-barang yang ia beli tadi. Setelah itu memesan makanan dan minuman.


Ditambah Ganda sang pengghibah pembicaraan itu bisa semakin seru, apalagi jika sudah membicarakan orang lain. Pengghibahan itu sudah menjaid setengah dari hidupnya. Kesya dan Yunda pun sudah tertular efek Ganda.