My Berondong Husband

My Berondong Husband
#70 Enam Bulan Kehamilan Kesya



Kesya dan Kevano sedang berada di ruang tunggu rumah sakit, hari ini jadwal pemeriksaan kandungan milik Kesya.


Sesekali Kevano mengelus perut besar Kesya sambil bersikap seorang yang ada didalam bisa menanggapi apa yang ia lakukan.


"Nyonya Kesya, silahkan." Panggil sang suster.


Kevano dan Kesya merespon lalu berjalan perlahan ke ruangan sang dokter. Diruangan sang dokter Kesya langsung di suruh untuk berbaring untuk diperiksa kandungannya.


Kevano melihat apa yang dilakukan dokter tanpa mengalihkan pandangannya dari layar USG meskipun ia tak paham apapun dari layar itu.


Tapi bentuknya lucu, yang ada didalam begitu mungil dan menggemaskan, sudah nampak berbentuk berupa bayi yang siap dengan kelahirannya.


"Bayinya sehat, Pak, Bu. Dan detak jantungnya juga normal. Tidak ada apa-apa." Ucap sang dokter setelah memeriksa kandungan Kesya.


"Jenis kelaminnya dok?" Tanya Kevano tak sabar mendengar jawaban sang dokter.


"Apa sih, Sya. Kan kemarin aku bilang buat gak nanyain itu biar kejutan nanti." Potong Kesya.


"Udah gak sabar sayang. Gimana, dok?"


"Dari USG tadi laki laki, Pak." Jawab sang dokter.


"Tuh kan laki laki, pasti ganteng kyak Papanya."


"Padahal kalau cewek kayak Mamanya."


Melihat tingkah keduanya sang dokter hanya bisa tersenyum dan menyiratkan perasaan bahagia.


"Ini hasil pemeriksaan dan foto USG nya. Nanti beberapa bulan terakhir sesering periksa ya, Bu." Ucap Dokter.


"Baik, Makasih, dokter." Kevano mengambil amplop kertas yang diberikan sang dokter. "Kami permisi."


Kesya dan Kevano berlalu dari ruangan sang dokter. Ada kebahagian yang terpancar dari keduanya.


Beberapa bulan lagi mereka menunggu kelahiran jagoan kecil mereka yang sudah dipastikan berjenis kelamin laki laki.


"Besok kamu ikut senam, ya." Ucap Kevano saat keduanya sudah berada didalam mobil.


"Harus ya?" tanya Kesya.


"Harus, wajib, kudu." kata Kevano.


"Tapi aku kan besok kerja, Sya." Ujar Kesya.


"Aku ijinkan sama Bang Kano besok, sayang." Ucap Kevano.


"Ih malas, gak suka deh." Kata Kesya dengan sedikit merajuk.


Kevano melirik sekilas kearah Kesya, lalu mengelus pipinya perlahan.


"Jangan ngambek dong. Kamu senam kan biar anaknya sehat dan aktif."


"Aku kan sudah aktif terus di kantor. Masa masih kurang."


"Kurang, pokoknya besok senam ya. Banyak ibu ibu lho disana."


"Kan emang yang hamil semaunya ibu ibu. Masa bapak bapak hamil."


Kevano tertawa geli mendengar ucapan Kesya.


"Bener juga kamu ya. Makan, yuk."


"Yuk. Makan siomay ya?"


"Hmm." Kata Kevano sambil berlaga berpikir dengan permintaan Kesya. "Mau gak ya,"


"Ayolah, ini yang pengen yang didalam lho."


"Demi calon jagoanku, mati kita kesana. Go!" Kata Kevano dengan semangatnya dan membawa mobil itu berjalan menuju tempat yang sudah mereka janjikan.


"Gimana kuliahmu, Sya?" Tanya Kesya pada Kevano yang masih sibuk dengan mobilnya.


"Lancar dong. Mungkin minggu depan sudah mulai UAS."


"Yaudah belajar yang rajin, biar IPK nya bagus."


"Siap, kan ada sang istri yang membantu suaminya belajar."


"Ogah. Belajar sendiri."


"Dih kok gitu sih My Wife." Kevano menggerlingkan mata kirinya sebagai tanda menggoda.


Kesya hanya terdiam sambil memajukan bibirnya, makin hari makin alay tingkat laku Kevano, tapi meskipun begitu Kesya tetap sayang bahkan lebih lebih sayangnya.


Kevano yang terlalu over kadang memang membuatnya sebal, tapi dibalik sebalnya banyak hal yang tak bisa ia katakan untuk semua yang dilakukan Kevano.


"Hayo ngelamun aja, lagi lamunin suamimu yang ganteng dan lucu ini, ya." Tegur Kevano saat melihat Kesya melamun.


"Enggak melamun, lagi mikirin pekerjaan." Jawab Kesya bohong.


"Lah kerjaan kok dipikirin, dikerjakan dong. Kamu gak boleh banyak pikiran ya, gak baik. Kamu gak ingat kata dokter,"


Kesya mengangguk.


"Aku ingat, tapi kan aku keingatan gitu." Ujar Kesya.


"Udah gak usah banyak dipikirin pekerjaannya."


Lagi lagi Kesya hanya bisa mengangguk dengan ucapan Kevano, sepertinya karena Kevano belum pernah bekerja jadi ia belum tahu bagaimana sulit dan kejamnya dunia pekerjaan itu. Jika sedikitpun kurang pasti ada masalah.


Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di tempat Siomay yang meraka tuju.


Kesya ingat tempat itu, tempat dimana dulu ia sering menghabiskan waktu makan siang bersama laki laki berandal yang sekarang jadi suaminya.


Dulu padahal ia tak pernah berpikir jika seandainya Kevano akan menikahinya, karena ia memang gak suka dengan sikap Kevano yang terlalu berlebihan dan terus mengejarnya. Padahal sudah berulang kali ia menolah utaraan perasaan Kevano.


Kesya ingat rasanya saat itu, Kevano mengatakan bahwa ia menyukai Kesya padahal saat itu Kesya masih berstatus pacaran dengan Bian, dan dengan terus terang Kesya menolak.


Itu bukan pertama dan terakhir kalinya, tapi sering sekali bahkan Kesya sampai hapal apa yang diucapkan Kevano saat itu.


"Ini, yang. Siomay doble tahu buat kamu, buat aku double telur." Ucap Kevano sambil meletakkan makanan itu diatas meja.


"Saus kacangnya kok banyak punyamu." protes Kesya.


"Yaudah ini," Kevano menyendokkan saus kacang yang tadi diminta Kesya, lalu menaruhnya diatas atas piring milik Kesya.


"Sya, kamu ingat gak dulu kita sering makan disini." Ucap Kesya kemudian.


"Enggak ingat." Jawab Kevano singkat.


"Ih, masa sih."


"Kalau kuingat lagi, sedih rasanya. Aku pernah kamu tolak di tempat ini. Rasanya saat itu mau banting gerobak, tapi punya orang."


Kesya menahan tawanya.


"Sampai segitu nya?"


"Habis jengkel, udah ditembak masih aja ditolak terus."


"Ya kamu tahu saat itu aku masih pacaran sama Bian."


"Bodo lah, aku kepikiran dan ngambek."


Kesya menjulurkan lidahnya tanda mengejek Kevano.


%%%


Setelah menikmati siomay itu mereka pulang dan akhirnya sampai di apartemen.


Kevano langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa agar penat dalam dirinya bisa hilang seketika, meskipun lelah bercampur bahagia.


"Kamu mau Kopi, Sya!?" tawar Kesya sambil berteriak dari arah dapur.


"Boleh, Cappucino aja!" Ucap Kevano


Setelah mendengar permintaan Kevano, Kesya nampak membuatnya. Setelah selesai ia langsung membawanya pada Kevano.


Keesokan paginya...


Kevano mengantarkan Kesya ketempat senam hitung hamil yang tak jauh dari rumah mereka.


Disana ada beberapa ibu hamil yang kandungannya juga sudah lebih besar dari Kesya.


Sang instruktur melakukan gerakan perlahan agar para ibu ibu bisa mengikuti tanpa harus kewalahan.


"Sambil atur napasnya, Bu. Karena pernapasan itu penting." Ucap sang Instruktur


Sedangkan Kevano yang menunggu dari kejauhan terus menatap kearah mereka, tidak lebih tepatnya melihat Kesya yang melakukan senam.


Sesekali Kevano tersenyum dan menahan tawanya, baginya itu sedikit lucu dan unik.


"Kita istirahat sebentar ya, Bu. Lima menit saja untuk mengambil napa yang baik." Sambung si Instruktur.


Para ibu ibu termasuk Kesya beristirahat sejenak, saat itu lah para ibu ibu menghampiri Kesya dan saling berkenalan.


"Datang sama adiknya ya, Bu?" Tanya salah satu dari ibu ibu itu pada Kesya.


"Adik?" tanya balik Kesya bingung.


"Iya, yang duduk disana." Ucap Ibu lainnya sambil menunjuk Kevano yang melambai pada kerumunan itu.


"Oh itu suami saya, Bu." Jawab spontan Kesya.


Para ibu ibu melihat dengan tatapan aneh dan tak percaya. Sesekali mereka membandingkan Kesya dan Kevano, yang berbeda jauh.


"Berondong banget, Bu." Kata salah satu ibu ibu itu lagi.


"Iya, masih sembilan belas tahun dia, Bu."


"Kok bisa dapat yang muda gitu. Bagi dong tipsnya."


Kesya hanya tertawa tanpa menjawab ucapan ibu ibu lagi.


Dan senam pun dilaksanakan kembali, dengan para ibu ibu yang masih penasaran cara mendapatkan Berondong seganteng Kevano.


Siangnya..


Setelah selesai melakukan senam kehamilan, Kesya dan Kevano bergegas pulang.


"Ibu ibu tadi ngomongin kamu." Ucap Kesya saat meraka sudah berada didalam mobil.


"Ngomongin gimana?" Tanya Kevano berlagak bodoh. Padahal ia sengaja tebar pesona disana.


"Mereka kira kamu adikku, terus mereka juga tanya tips mendapatkan Berondong. Dikira aku google apa." Ujar Kesya lagi sambil menahan tawanya.


"Terus kamu jawab apa?"


"Aku jawab aja pakai pelet sama pelebur rasa. Suruh pakai yang banyak biar dapat." Ucap ngaco' Kesya.


"Dikira aku ikan lele apa." Kata Kevano ikut tertawa.