My Berondong Husband

My Berondong Husband
#100 Keylan dan Raka



Keesokan harinya, atau setelah


genap tiga hari Keylan berada di rumah sakit.


Siang itu Raka datang mengunjungi


Keylan yang tengah berbaring dengan bermain ponselnya, seperti ada sesuatu yang


penting didalamnya.


“Lu dari kemarin kemana aja gak


kesini?” tanya Keylan tanpa memalingakn wajahnya melihat kedatangan si sepupu.


“Seharian kemarin gue sibuk sama


pelajaran tambahan, dan lagian gue males datang kesini,” ujar Raka sambil duduk


di samping Keylan, ia pun mengeluarkan ponselnya.


Keduanya saling diam, sibuk


dengan pikirannya masing-masing.


“Lan,” ujar Raka tertahan seakan


ragu untuk mengatakannya. Raka memalingkan wajah menghadap sepupunya, setelah


sebelumnya menaruh ponsel di atas ranjang ruangan Keylan itu.


Sementara Keylan hanya mendeham


sebagai tanda menjawab panggilan Raka.


“Gue ada berita buruk buat lu,”


sambung Raka.


“Berita apaan? Gue di cariin Pak


Rahmad?” tanya Keylan, tiba-tiba saja ia teringat pak Rahmad, guru BK nya yang


gemar sekali menghukumnya, meskipun itu kesalahan kecil.


“Dih, kalau itu bagi lu berita


baik, kan,”


“Kampret lu. Cepetan berita apaan,”


“Aresti pacaran sama saingan lu,”


ucap Raka berusaha membuat Keylan terkejut dengan berita buruk itu, tapi


ekspresi Keylan datang dan malah ber-oh ria, “Kok lu Cuma oh sih, kaget ngapa,”


“Lah gue harus


kaget?” Tanya Keylan pada Raka, kini Raka yang seakan tak peduli, “Hah?! Serius


lu?”


Raka tak peduli


dengan Keylan yang mendramatisir keadaan seolah ia benar-benar terkejut.


“Gue serius


kali, Key,”


“Gue udah


tahu,” setelah mengetakan hal itu Keylan menunjukkan hubungan Aresti dengan


laki-laki yang dimaksud Raka di Facebook.


Raka


memperhatikan, ternyata bukan hanya di Instagram saja Aresti saja yang


mengumbar hubungan itu, tapi juga di sosmed lainnya.


“Lu gak


cemburu?” tanya Raka setelah Keylan menarik ponselnya.


“Enggak,” ucap


Keylan, “Gue kalau ngerti kok kalau Aresti enggak suka sama gue sejak lama,


balapan itu Cuma alasan dia aja biar lepas dari gue, dari awal kan emang dia


gak suka sama gue,”


Raka


mengangguk-angguk mendengar ucapan Keylan itu.


“Move on kalau


gitu,”


“Gue ngapain


harus move on, karena sejak balapan di mulai gue udah hilang rasa suka dengan


dia,” Ujar Keylan.


Sebelum balapan


dimulai, Keylan mulai berpikir bahwa Aresti tak benar-benar mengharapkannya


untuk menjadi kekasihnya, karena jika Aresti menyukainya sudah dari dulu


menerimanya, dan balapan itu menjadi cara Aresti lepas dari jeratan cinta


Keylan.


Terlihat dari


selama Keylan berada di rumah sakit Aresti tak mengunjunginya sama sekali,


padahal Keylan berharap agar gadis itu melihatnya, bahka di sosmed pu Aresti


tak merasa iba karena Keykan kecelaan akibat dari perlombaan yang ia ajukan


sebagai syarat pacaran.


“Lu gak niat


bunuh diri, kan karena itu?” tanya Raka, Keylan beranjak sedikit untuk duduk,


kemudian memukul pelan kepala Raka, “Apaan sih lu, sakit tau,”


“Lagian lu juga


aneh, sudah gue bilang gue bisa move on, ngapain harus bunuh diri segala.


Banyak cewek yang suka sama gue,”


“Misalnya?”


tanya Raka lagi.


Keylan


mengingat-ngingat, apa selama ini ada perempuan yang mau dengannya, karena ia


selalu sibuk untuk mengejar cinta seorang gadis bernama Aresti?


Padahal


sebenarnya banyak, tapi Keylan saja yang seakan tak peduli dengan semua itu,


bayangkan saja setiap angkatan baru selalu saja ada gadis yang tertarik


dengannya. Keylan punya banyak kelebihan di balik sikap kekanannya.


Keylan bisa


olahraga meskipun tak pernah masuk tim manapun. Bisa bermain musik, bakat yang


tak pernah diturunkan keluarga Putra maupun keluarga Susanto.


Di tambah lagi


mungkin setelah ini ia ingin di belikan motor seperti itu, karena menurut Raka


motor Ruben masih berada di bengkel akibat kecelakaan parah itu.


Setelah Keylan


pikir tapi sepertinya sang mama tak akan mengizinkan ia membawa motor, sebab


kecelakaan itu membekas dalam di hati sang mama, terlihat dari pertengkaraanya


dengan sang papa.


Jika mengingat


hal itu, Keylan merasa tak enak, sebab selama ini ia melihat keluarganya begitu


akur dan tenang, tak ada pertengkaran yang terjadi di antara kedua orangtuanya.


Keluarganya selalu terlihat baik, humoris dan bahagia.


“Yaudah lah gue


balik dulu, di cariin Mama,” ujar Raka membereskan tas dan ponselnya, lalu


berdiri dari duduknya.


“Cepet


amat lu balik, gue di tinggalin sendiri nih,” kata Keylan merungut karena ia


akan sendirian lagi.


“Gak


usah manja, lu udah gede, paling bentar lagi om sama tante kesini,”


Setelah


mengucapkan hal itu Raka berlalu pergi, meninggalkan ruangan Keylan, berjalan


keluar dari area rumah sakit dan menuju parkiran.


Diambilnya


motor itu, setelah membayar parkir, ia mengendarai motornya di jalanan. Sudah


lebih dari tiga hari rasanya ia tak bersama dengan Keylan, sepupu gilanya.


Meskipun


Keylan selalu bertingkah aneh dan melakukan hal semaunya, tapi ia tak bisa mengungkapkan


betapa ia sayang pada Keylan, hal itu nampak saat malam dimana Keylan kecelaan,


ia khawatir bukan main, bahkan saat om dan tantenya mengomel padanya, ia hanya


bisa terdiam tak berani menjawab.


Raka


mengakui bahwa ia ceroboh tak menjaga Keylan dengan baik, meskipun Keylan


memiliki usia sayang lebih tua darinya, tapi Keylan masih butuh di bimbing,


maka dari itu Kesya dan Kevano meminta Raka, dengan harus selalu berada di


dekatnya.


Bahkan


harus satu sekolah dan satu motor, padahal banyak pilihan dan dengan mudah Raka


bisa saja masuk kesekolah favorit karena kepintaraanya. Tapi, karena permintaan


Kesya dan Ruben pun memperbolehkan Raka masuk sekolah bersama Keylan, akhirnya


ia tak bisa menolah hal itu.


Kembali


ke Raka yang fokus dengan motornya, ada sedikit macet di jalanan, tapi tak


sampai memakan waktu yang banyak, setelah itu Raka sampai di rumahnya, dari


luar nampak sebuah mobil berwarna metalic yang membuat Raka mengendurkan


bibirnya.


Ia


sudah tahu siapa pemilik mobil itu, jika pemilik mobil itu datang pasti sebuah


keriuhan pun ikut datang, bukan ia tak suka tapi ada hal lain.


Raka


membuka pintu, setelah sebelumnya ia telah mengucapkan salam dan mengetuk


pintu, kebiasaan yang di ajarkan Shiha sang Mama padanya.


“Raka,


sayang, baru pulang ya?” tanya seorang perempuan paruh baya, sang nenek dari


pihak mama.


Raka


berhenti dan memperhatikan neneknya yang sedang berbincang seru dengan sang


mama.


“Dari


tadi sih, Nek. Tapi, ke rumah sakit dulu jenguk Keylan,”  jawab Raka.


“Anak


itu, saking nakalnya dia sampai buat masalah, dan sekarang kecelakaan. Kamu


jangan ikutan ya,” ucap sang nenek lagi.


Raka


mengangguk.


“Sudah,


Raka bersih-bersih dulu, terus makan, Mama sudah masak tadi,” Ucap Shiha,


lagi-lagi Raka hanya bisa mengangguk.


“Yang


banyak sayang, biar makin sehat dan pintar!” teriak sang nenek, Raka tak


menghiraukan ucapan itu.


Setiap


neneknya datang selalu ada saja bahan pembicaraan yang tak Raka suka, entah itu


tentang Kaylan, adiknya yang tak sepintar ia, sampai papanya yang entah kenapa


tak di sukai neneknya. Seperti ada masalah yang serius antara mereka.


Sesampainya


di kamar, Raka membersihkan tubuhnya dan mengganti baju, kemudian bergegas


menuju ruang makan untuk menikmati makanan yang sudah tersaji disana, adiknya


belum pulang sekolah seperti biasanya.


Raka


begitu lahap menikmati makanan itu, tak berapa lama makanan itu sudah habis,


dan Raka kembali ke kamarnya untuk sekedar bermain game ataupun tidur, agar


tenaganya pulih untuk ia belajar nanti malam.