
Keesokan harinya, atau setelah
genap tiga hari Keylan berada di rumah sakit.
Siang itu Raka datang mengunjungi
Keylan yang tengah berbaring dengan bermain ponselnya, seperti ada sesuatu yang
penting didalamnya.
“Lu dari kemarin kemana aja gak
kesini?” tanya Keylan tanpa memalingakn wajahnya melihat kedatangan si sepupu.
“Seharian kemarin gue sibuk sama
pelajaran tambahan, dan lagian gue males datang kesini,” ujar Raka sambil duduk
di samping Keylan, ia pun mengeluarkan ponselnya.
Keduanya saling diam, sibuk
dengan pikirannya masing-masing.
“Lan,” ujar Raka tertahan seakan
ragu untuk mengatakannya. Raka memalingkan wajah menghadap sepupunya, setelah
sebelumnya menaruh ponsel di atas ranjang ruangan Keylan itu.
Sementara Keylan hanya mendeham
sebagai tanda menjawab panggilan Raka.
“Gue ada berita buruk buat lu,”
sambung Raka.
“Berita apaan? Gue di cariin Pak
Rahmad?” tanya Keylan, tiba-tiba saja ia teringat pak Rahmad, guru BK nya yang
gemar sekali menghukumnya, meskipun itu kesalahan kecil.
“Dih, kalau itu bagi lu berita
baik, kan,”
“Kampret lu. Cepetan berita apaan,”
“Aresti pacaran sama saingan lu,”
ucap Raka berusaha membuat Keylan terkejut dengan berita buruk itu, tapi
ekspresi Keylan datang dan malah ber-oh ria, “Kok lu Cuma oh sih, kaget ngapa,”
“Lah gue harus
kaget?” Tanya Keylan pada Raka, kini Raka yang seakan tak peduli, “Hah?! Serius
lu?”
Raka tak peduli
dengan Keylan yang mendramatisir keadaan seolah ia benar-benar terkejut.
“Gue serius
kali, Key,”
“Gue udah
tahu,” setelah mengetakan hal itu Keylan menunjukkan hubungan Aresti dengan
laki-laki yang dimaksud Raka di Facebook.
Raka
memperhatikan, ternyata bukan hanya di Instagram saja Aresti saja yang
mengumbar hubungan itu, tapi juga di sosmed lainnya.
“Lu gak
cemburu?” tanya Raka setelah Keylan menarik ponselnya.
“Enggak,” ucap
Keylan, “Gue kalau ngerti kok kalau Aresti enggak suka sama gue sejak lama,
balapan itu Cuma alasan dia aja biar lepas dari gue, dari awal kan emang dia
gak suka sama gue,”
Raka
mengangguk-angguk mendengar ucapan Keylan itu.
“Move on kalau
gitu,”
“Gue ngapain
harus move on, karena sejak balapan di mulai gue udah hilang rasa suka dengan
dia,” Ujar Keylan.
Sebelum balapan
dimulai, Keylan mulai berpikir bahwa Aresti tak benar-benar mengharapkannya
untuk menjadi kekasihnya, karena jika Aresti menyukainya sudah dari dulu
menerimanya, dan balapan itu menjadi cara Aresti lepas dari jeratan cinta
Keylan.
Terlihat dari
selama Keylan berada di rumah sakit Aresti tak mengunjunginya sama sekali,
padahal Keylan berharap agar gadis itu melihatnya, bahka di sosmed pu Aresti
tak merasa iba karena Keykan kecelaan akibat dari perlombaan yang ia ajukan
sebagai syarat pacaran.
“Lu gak niat
bunuh diri, kan karena itu?” tanya Raka, Keylan beranjak sedikit untuk duduk,
kemudian memukul pelan kepala Raka, “Apaan sih lu, sakit tau,”
“Lagian lu juga
aneh, sudah gue bilang gue bisa move on, ngapain harus bunuh diri segala.
Banyak cewek yang suka sama gue,”
“Misalnya?”
tanya Raka lagi.
Keylan
mengingat-ngingat, apa selama ini ada perempuan yang mau dengannya, karena ia
selalu sibuk untuk mengejar cinta seorang gadis bernama Aresti?
Padahal
sebenarnya banyak, tapi Keylan saja yang seakan tak peduli dengan semua itu,
bayangkan saja setiap angkatan baru selalu saja ada gadis yang tertarik
dengannya. Keylan punya banyak kelebihan di balik sikap kekanannya.
Keylan bisa
olahraga meskipun tak pernah masuk tim manapun. Bisa bermain musik, bakat yang
tak pernah diturunkan keluarga Putra maupun keluarga Susanto.
Di tambah lagi
mungkin setelah ini ia ingin di belikan motor seperti itu, karena menurut Raka
motor Ruben masih berada di bengkel akibat kecelakaan parah itu.
Setelah Keylan
pikir tapi sepertinya sang mama tak akan mengizinkan ia membawa motor, sebab
kecelakaan itu membekas dalam di hati sang mama, terlihat dari pertengkaraanya
dengan sang papa.
Jika mengingat
hal itu, Keylan merasa tak enak, sebab selama ini ia melihat keluarganya begitu
akur dan tenang, tak ada pertengkaran yang terjadi di antara kedua orangtuanya.
Keluarganya selalu terlihat baik, humoris dan bahagia.
“Yaudah lah gue
balik dulu, di cariin Mama,” ujar Raka membereskan tas dan ponselnya, lalu
berdiri dari duduknya.
“Cepet
amat lu balik, gue di tinggalin sendiri nih,” kata Keylan merungut karena ia
akan sendirian lagi.
“Gak
usah manja, lu udah gede, paling bentar lagi om sama tante kesini,”
Setelah
mengucapkan hal itu Raka berlalu pergi, meninggalkan ruangan Keylan, berjalan
keluar dari area rumah sakit dan menuju parkiran.
Diambilnya
motor itu, setelah membayar parkir, ia mengendarai motornya di jalanan. Sudah
lebih dari tiga hari rasanya ia tak bersama dengan Keylan, sepupu gilanya.
Meskipun
Keylan selalu bertingkah aneh dan melakukan hal semaunya, tapi ia tak bisa mengungkapkan
betapa ia sayang pada Keylan, hal itu nampak saat malam dimana Keylan kecelaan,
ia khawatir bukan main, bahkan saat om dan tantenya mengomel padanya, ia hanya
bisa terdiam tak berani menjawab.
Raka
mengakui bahwa ia ceroboh tak menjaga Keylan dengan baik, meskipun Keylan
memiliki usia sayang lebih tua darinya, tapi Keylan masih butuh di bimbing,
maka dari itu Kesya dan Kevano meminta Raka, dengan harus selalu berada di
dekatnya.
Bahkan
harus satu sekolah dan satu motor, padahal banyak pilihan dan dengan mudah Raka
bisa saja masuk kesekolah favorit karena kepintaraanya. Tapi, karena permintaan
Kesya dan Ruben pun memperbolehkan Raka masuk sekolah bersama Keylan, akhirnya
ia tak bisa menolah hal itu.
Kembali
ke Raka yang fokus dengan motornya, ada sedikit macet di jalanan, tapi tak
sampai memakan waktu yang banyak, setelah itu Raka sampai di rumahnya, dari
luar nampak sebuah mobil berwarna metalic yang membuat Raka mengendurkan
bibirnya.
Ia
sudah tahu siapa pemilik mobil itu, jika pemilik mobil itu datang pasti sebuah
keriuhan pun ikut datang, bukan ia tak suka tapi ada hal lain.
Raka
membuka pintu, setelah sebelumnya ia telah mengucapkan salam dan mengetuk
pintu, kebiasaan yang di ajarkan Shiha sang Mama padanya.
“Raka,
sayang, baru pulang ya?” tanya seorang perempuan paruh baya, sang nenek dari
pihak mama.
Raka
berhenti dan memperhatikan neneknya yang sedang berbincang seru dengan sang
mama.
“Dari
tadi sih, Nek. Tapi, ke rumah sakit dulu jenguk Keylan,” jawab Raka.
“Anak
itu, saking nakalnya dia sampai buat masalah, dan sekarang kecelakaan. Kamu
jangan ikutan ya,” ucap sang nenek lagi.
Raka
mengangguk.
“Sudah,
Raka bersih-bersih dulu, terus makan, Mama sudah masak tadi,” Ucap Shiha,
lagi-lagi Raka hanya bisa mengangguk.
“Yang
banyak sayang, biar makin sehat dan pintar!” teriak sang nenek, Raka tak
menghiraukan ucapan itu.
Setiap
neneknya datang selalu ada saja bahan pembicaraan yang tak Raka suka, entah itu
tentang Kaylan, adiknya yang tak sepintar ia, sampai papanya yang entah kenapa
tak di sukai neneknya. Seperti ada masalah yang serius antara mereka.
Sesampainya
di kamar, Raka membersihkan tubuhnya dan mengganti baju, kemudian bergegas
menuju ruang makan untuk menikmati makanan yang sudah tersaji disana, adiknya
belum pulang sekolah seperti biasanya.
Raka
begitu lahap menikmati makanan itu, tak berapa lama makanan itu sudah habis,
dan Raka kembali ke kamarnya untuk sekedar bermain game ataupun tidur, agar
tenaganya pulih untuk ia belajar nanti malam.