My Berondong Husband

My Berondong Husband
#104 Bian Kembali Datang



Saat itu resto Kesya nampak ramai, karena ia melihat pegawainya sedikit kewalahan akhirnya ia membantu mereka. Tak peduli bahwa ia pemilik resto itu, karena ia ingin semua berjalan baik tanpa sedikit kendala pun.


Saat tengah membantu, seseorang yang baru saja masuk kedalam resto nya tertangkap matanya, orang itupun melihat Kesya yang tengah menunggu pesanan.


Kesya menarik napas berat, lalu menghembuskan nya secara perlahan, tidak ada yang bisa ia suruh untuk menggantikannya menjamu pelanggan itu, terpaksa ia sendiri yang datang kesana, dengan perasaan yang sedikit malas.


Laki laki yang tak lain Bian itu melihat kedatangan Kesya, lalu ia berlagak mengocek ponselnya, agar Kesya tak tahu bahwa ia melihatnya sejak tadi.


"Mau pesan apa?" ujar Kesya sambil menyodorkan buku menu pada Bian, Bian menarik buku menu itu sambil sesekali melihat kearah Kesya, wajah Kesya datar.


Bian memilih beberapa menu dan minuman, Kesya mencatat, setelah itu berlalu pergi untuk mengatakan pesanan itu pada sang koki.


Kesya menunggu pesanan Bian sembari duduk di belakang meja kasir, Bian masih sibuk dengan ponselnya. Entah kenapa Kesya terus melihat Bian, rasa bencinya dulu sudah sedikit sirna, karena ia tak mau terbebani dengan perasaan benci pada Bian.


Jika pun benci memang seharusnya Bian yang melakukan hal itu, karena sang papa yang sudah membuat hidup Bian dan keluarganya hancur berantakan.


Hari itu Bian datang sendiri ke Resto, tanpa keluarganya ataupun orang kantor, entah karena apa Bian datang, sekedar makan atau ada yang lain, karena kantor Bian dengan resto Kesya sedikit jauh.


"Bu," tegur Sang kasir pada Kesya.


"Ehmm," ujar Kesya, tersadar. Kemudian ia meraih nampan yang sudah berisi makanan pesanan Bian.


Kesya berjalan membawa nampan itu menuju Bian, Bian masih tak bergeming dan tak sadar akan kedatangan Kesya, jika tidak Kesya meletakkan pesanannya diatas meja.


Bian memasukkan ponselnya kedalam saku baju hem yang sudah terlepas dari jas kerjanya, yang ia letakkan disandaran kursi.


Setelah selesai Kesya hendak pergi, tapi tangannya di tahan Bian, Kesya menatap tangannya itu lalu berganti dengan wajah Bian.


"Lepas," kata Kesya singkat.


"Aku ingin bicara," ujar Bian berharap.


"Kau tidak lihat restoku ramai, aku sibuk,"


"Aku menunggu sampai restomu sepi,"


"Nanti kalau sudah tutup,"


Bian mengangguk, Kesya meninggalkan Bian setelah tangannya terlepas. Benar dugaan Kesya jika Bian hanya ingin bertemu dengannya bukan sekedar ingin menikmati makanan di restonya.


Bian melihat Kesya yang meninggalkan mejanya, meskipun Kesya tak nampak semarah dulu, tapi Kesya masih terlihat tak suka atas kehadirannya yang terus membuat Kesya merasa tidak nyaman, Bian tahu itu.


Kebasannya dari penjara dan pembukanya rahasia kelam orangtuanya tak membuat sedikit pun perasaan luluh dihati Kesya, Kesya tetap membencinya, karena Kesya merasa permasalahannya dengan Bian itu beda cerita.


Berulang kali ia berusaha meminta maaf, tapi Kesya tak pernah merespon sedikit pun, berulang kali ia dan Kesya bertemu empat mata, tapi Kesya selalu mengacuhkannya. Kesya seperti menyimpan dendam yang tak berkesudahan.


Bagaimana dendam itu bisa habis, jika Bian mengambil bagian terpenting dari Kesya bahkan bagi semua perempuan. Sejak saat itu pun semua milik Kesya serasa hancur.


Bian tahu itu, sangat paham bahkan, tapi apa yang bisa ia lakukan, ia tak bisa melakukan apapun selain hanya diam dan menyesalinya.


%%%


Satu persatu Kesya memberikan gaji para pegawainya, ia memang sengaja tak memberikan dalam bentuk debit, karena baginya memberi Kes itu lebih efektif.


"Bu, bapak-bapak tadi belum pergi," ujar salah satu pegawai terakhirnya yang ia beri gajih.


Kesya mengingat soal Bian, laki laki itu benar benar menunggu untuk bisa berbicara dengannya lagi, padahal Kesya enggak mengatakan apapun.


"Iya, itu teman, Ibu. Makasih ya Fitri," ucap Kesya.


Pegawainya mengangguk kemudian pergi, Kesya membereskan dirinya lalu keluar dari ruangannya.


Ia melihat Bian yang masih di tempat yang sama dengan meja yang sekarang sudah nampak bersih. Kesya berjalan kearah meja Bian, lalu mengambil kursi didepan Bian.


Bian tersadar dan mulai tersenyum pada Kesya, meskipun Kesya masih dengan ekspresi yang sama, datar.


"Mau ngomong apa? Jangan lama, sebentar lagi suamiku jemput," ujar Kesya kemudian.


"Aku mau minta maaf," kata Bian.


"Sudah berapa kali kamu bilang maaf,"


"Aku selalu berusaha meminta maaf tulus bahkan sejak di penjara, tapi kamu gak pernah mau maafin aku,"


"Aku maafin," ucap singkat Kesya.


"Bohong. Kamu gak benar-benar maafin aku, kan?"


"Aku harus ngomong apalagi biar kamu percaya kalau aku maafkan kamu,"


"Kita bisa mencoba semuanya dari awal, jika menjadi seseorang yang dekat itu amat mustahil, maka kita bisa menjadi teman," ucap Bian pada Kesya, sementara Kesya masih dengan wajah yang sama, bingung.


"Bisa-bisa, rekan bisnis pun bisa," ujar sebuah suara dari balik pintu resto.


Kesya memandang Kevano yang baru datang, begitu pun dengan Bian.


"Tapi, bisnis mu sama aku, bukan sama istriku," sambung Kevano.


"Aku kesini cuma minta maaf sama Kesya, tapi Kesya seperti tak mau memaafkan ku," ucap Bian.


"Begitu, Yang?" tanya Kevano pada Kesya, Kesya menggeleng pelan, berharap gelengannya tak terlihat Bian, "Nah Kesya sudah maafin kamu, sekarang apa lagi? Resto sudah tutup, pegawai juga sudah pulang, gak baik kan seorang Biandra mantan pengacara terkenal berduaan dengan istri orang lain,"


Wajah Bian entah kenapa menggeram dengan sendirinya, seperti tak begitu suka, ada perasaan dongkol tak terima. Dengan lekas ia mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu, lalu mengambil jas nya yang sejak tadi menggantung di sandaran kursi.


Dengan langkah sebal Bisa keluar dari resto itu, lalu menuju mobilnya, sekilas Kesya dan Kevano mendengar suara mobil Bian yang menderu dan memburu, seperti cepat cepat ingin pergi dengan perasaan malu.


"Sudah ayo pulang," ajak Kevano, tanpa berusaha memperjalas masalah tadi.


Kesya mengangguk lalu berdiri dan berjalan beriringan dengan Kevano, keluar dari resto dan membiarkan pegawainya mengunci.


Saat sampai dimobil keduanya masih diam, sampai mobil itu melaju.