My Berondong Husband

My Berondong Husband
#27 Rahasia Dibalik Rahasia



Kevano keluar dari kamarnya menuju ruang makan, dimana orang tuanya dan Ruben sudah berada disana.


Sesampainya meja makan, mendudukkan diri dan mulai mengambil makanannya. Tidak ada percakapan yang lebih seperti biasanya.


"Gimana kuliahmu, Sya?" Tanya Tuan Putra kemudian.


"Tenang Pa, kuliah Arsya lancar." Jawab Kevano sambil mengunyah makanannya.


"Dia bolos seminggu, Pa." Sergah Ruben kemudian.


Raut wajah Kevano berubah. Mulut abangnya tidak bisa dijaga, mudah sekali mengatakan sesuatu yang tak orang lain pikirkan.


"Beneran itu, Sya?" Tanya Nyonya Putra.


Kevano menggelengkan kepalanya dengan keras sebagai tanda tidak.


"Sembarangan. Arsya kuliah kok Pa, Ma. Lancar banget malahan." Kilah Kevano, jika tidak cepat dia katakan bisa-bisa orang tuanya percaya apa yang di katakan Ruben.


"Boong." Ucap Ruben tanpa ekspresi.


Gemas, Kevano meremas lengan kiri Ruben yang berbalut jas hitam. Sementara Ruben terus menikmati makananya tanda peduli adiknya.


"Kalau sampai Papa tau kamu bolos kuliah, Papa akan kirim kamu ke China buat kuliah disana." gertak tuan Putra.


China. Mendengar nama itu saja Kevano merinding, ia tak akan bisa tinggal diluar negeri begitu saja. Itu tidak mungkin.


"Ke India aja, Pa. Biar tiap hari dia alergi."


Tadi China, lalu Ruben mengatakan India, tidak mungkin. Karena Kevano alergi rempah-rempah berlebih, bisa-bisa ia mati disana.


"Bang lu tu jarang ngomong. Kenapa sekali ngomong pedes kayak cabe rawit." Ucap Kevano menyindir abangnya.


"Bodo." Pelan, sedikit, tapi menusuk hati. Itulah perkataan Ruben.


Saat tengah menikmati makanan mereka, Tuan Putra mengangkat telephone nya. Dari kejauhan suara Tuan Putra terdengar, sepertinya sangat penting.


Tak berapa lama Tuan Putra datang dengan raut wajah yang berbeda.


"No (Arkano) hubungi pengacara, Papa." Ucap tuan Putra pada Ruben.


"Buat apa, Pa?" Tanya Ruben.


Kevano ikut mendengar pembicaraan itu, apa maksud pengacara? Apa Papannya masuk kedalam masalah lagi?


"Ommu bikin masalah lagi."


"Om Gio Lesmana?"


Tuan Putra mengangguk.


"Bukannya dia udah cari pengacara handal. Kenapa minta pengacara, Papa?"


"Iya, dia udah pakai Biandra. Tapi, dia mau menyeret Papa masuk dalam masalah lagi."


"Kok gitu, Pa?" sergah Kevano ikut campur dalam masalah itu.


"Arsya diam aja. Selesaikan makanmu." Ucap Nyonya Putra menghentikan pertanyaan Kevano.


Kevano mengangguk, mengikuti ucapan mamanya. Lagi pula jika ia ikut campur itu tak akan menyelesaikan masalah.


"Sudah Arkano hubungi, Pa. Nanti Om Rendra datang ke kantor setelah meeting jam sembilan." Kata Ruben.


Tuan Putra mengangguk.


Memang tak bisa dipungkiri jika adiknya itu selalu membuat masalah sejak dulu, sejak ia tak terima jika Putra Grup jatuh ketanganya. Itu juga bukan kemaunnya, semua sudah direncanakan Papanya.


Semantara Kevano yang mendengar pembicaraan itu mulai berpikir sesuatu. Jika sampai Papa nya terkena masalah, bisa-bisa masuk penjara. Tapi, tempo hari saat ia mendengar pembicaraan antara Bian dan Om Gio, ia serasa tak terima.


Om Gio sudah keterlaluan, padahal ia yang membuat masalah karena korupsi, sekarang ia menyeret Papanya, dan bahkan melegalkan berbagai cara untuk memenangkan persidangan.


Disaat seperti itu Kevano malah teringat Kesya, ia berniat mengatakan semuanya pada Kesya, agar perempuan itu tahu bagaimana kelakuan calon suaminya.


"Kevano pergi dulu, Ma, Pa." Ucap Kevano setelah makanan dipiringnya habis.


"Kemana?" tanya Nyonya Putra.


"Nugas, Ma. Assalamualaikum."


Setelah mengucapkan salam dan mencium punggung tangan orang tuanya Kevano berjalan keluar rumah.


Sebenarnya ia tak ada tujuan, kampus belum waktunya, ingin bertemu dengan Kesya, ia berjanji dengannya nanti malam.


Mungkin ia harus berjalan-jalan supaya pikirannya bisa lebih tenang. Dan ia siap mengatakan pada Kesya apa yang sebenarnya terjadi. Ia tak ingin melihat Kesya menikah dengan lelaki seperti Bian, dengan sifat yang tak baik.


%%%


Pukul tujuh malam. Seperti janji Kevano. Kesya sudah menunggu sejak tadi, bahkan sebelum pukul tujuh. Sekarang sudah lewat lima belas menit, dan Kevano belum datang.


Tak sampai lima menit kemudian Kevano datang keresto itu dengan napas memburu karena berlari.


"Udah lama nunggu?" Ucap Kevano mengatur Napasnya.


"Sampai hampir keriput."


"Emang sudah."


"Sembarangan." Kata Kesya dengan cuek.


Kesya masih tak ingin banyak bicara dengan Kevano, karena ia ingin melupakan soal Kevano atau lelaki manapun.


"Mau ngomong apa sih? Tumben banget." Sambung Kesya.


"Aku minum dulu kenapa, Tan." Kevano menarik Honey Lemon tea milik Kesya lalu menyeruput isinya dengan cepat.


Setelah menikmati minuman, mengatur napasnya dan mengatur duduknya, Kevano mulai menatap wajah Kesya.


"Cepetan mau ngomong apa." Desak Kesya saat ia melihat Kevano sepertinya sudah siap.


"Ini soal hubungan tante sama om Bian." Ucap Kevano, Kesya mengerutkan kening.


Apa maksud Kevano soal hubungannya?


"Kenapa dengan hubungan kami?"


"Bian itu gak baik tante. Tante harus batalion rencana pernikahan sama dia."


"Kenapa sih? Kok kamu tiba-tiba aneh gitu."


"Soalnya Bian itu.."


Belum sempat melanjutkan perkataannya, seseorang datang dan memotong pembicaraan Kevano.


"Kenapa sama gue?" Ucap Bian yang datang tiba-tiba.


Kevano dan Kesya sama-sama terkejut melihat kedatangan Bian.


"Untung gue ikutin Kesya kesini. Lu pasti mau ngehasut Kesya buat putusin gue, kan. Licik banget lu." Sambung Bian dengan nada marahnya.


"Emang kenyataannya lu gak baik buat Kesya!" Suara Kevano meninggi.


"Bocah kayak lu tau apa soal baik atau enggak!" Bian ikut sedikit berteriak tapi kemudian ditahan, karena tahu disana banyak orang. "Kita pulang, Sayang."


Bian menarik tangan Kesya berjalan keluar resto, sementara Kevano masih berada disana.


Gagal rencananya untuk mengatakan yang jujur pada Kesya, kenapa bisa tiba-tiba Bian datang.


Kevano menggeram kemudian berlalu pergi dari resto itu.