
Adrian berjalan naik menuju lantai dua rumahnya. Ia sudah berpakaian rapi dengan kemeja formal lengan pendek dan celana katun hitam.
"Sayang, ayo keluar nanti kita kesiangan ketempat kakakmu," ucap Adrian didepan pintu kamar yang dari luar nampak tempelan manis berwarna smoth.
Tak berapa lama pintu itu berjalan perlahan kebelakang, nampak seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun mengenakan pakaian cantiknya.
"Alika sudah siap, Pa," ucap gadis kecil itu yang mengaku bernama Alika, putri Adrian.
Adrian menarik tangan kiri sang putri untuk turun, tanpa mengucapkan satu kata pun. Hari ini mereka ada janji untuk menjenguk Keylan dirumah sakit, setelah sebelumnya Kevano memberi kabar tentang kecelakaan Keylan.
"Pa, kak Keylan seperti apa? Alika lupa," ujar Alika saat ia sudah masuk kedalam mobil Adrian, sang papa.
"Lupa?" tanya Adrian sambil membawa mobil nya keluar dari halaman rumah, "Terakhir kali kita kesana lima tahun lalu ya, pas kakakmu sunat. Kamu juga masih kecil, kata om Kevano, kak Keylan itu mirip papanya,"
"Berarti seperti Alika mirip, Mama," ucap Alika semangat, Adrian terdiam, mengendurkan senyum di bibirnya. Entah mengapa tiba-tiba saja Alika mengingatkannya pada sang istri.
Alika memperhatikan wajah sang papa, rautnya berubah, seperti ada yang terpikirkan disana.
"Papa kenapa? Alika salah bicara ya?" sambung Alika sambil bertanya.
"Enggak, Papa gak apa apa sayang. Iya kamu cantik mirip Mama dulu." jawab Adrian berusaha mengangkat senyum lagi.
Setelah itu Adrian hanya fokus pada mobilnya, sementara Alika sibuk dengan ponselnya.
Sejak mendengar cerita Kevano yang mengatakan bahwa Keylan mengalami kecelakaan, sebagai om ia merasa harus menjenguknya, dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali kekota setelah Alika bisa meliburkan dirinya.
Alika sudah kelas empat SD sekarang, tumbuh menjadi gadis cantik yang seperti sang Mama, hal itu tak bisa ia tampik. Tapi, setiap mengingat kemiripan mereka, ada luka lama yang kembali membekas di hatinya.
Semua terjadi begitu saja, bayang bayang hitam yang menghancurkan keluarga kecilnya dan merenggut Mili dari hidupnya, sakit sekali rasanya.
Dua kali ia harus ditinggal seorang perempuan yang sangat ia cintai, dua-duanya perempuan yang baginya begitu berharga, tapi semua tinggal cerita.
Adrian mengalihkan pikirannya pada mobil yang tengah ia kendarai, ia tak ingin masa lalu kembali terulang lagi. Sekilas ia melihat Alika yang nampak sibuk dengan ponselnya.
Awalnya ia tak ingin memberi Alika ponsel, tapi sejak ia mulai jarang dirumah mau tak mau ia harus memberi pegangan Alika agar tak menganggu pekerjaanya.
"Masih jauh, Pa?" tanya Alika, mengalihkan matanya pada sang papa.
"Sebentar lagi. Papa juga sedikit lupa, kayaknya disekitaran sini," Adrian tersenyum pelan, terlihat wajah manisnya sebagai Papa muda nampak dan tak hilang. "Nah, kita sampai."
Setelah Adrian mengucapkan kata itu, ia berbelok disebuah rumah sakit yang cukup besar, dan kemudian memarkirkan mobilnya.
Adrian dan sang anak turun dari mobil, masuk kedalam rumah sakit, dan menemui Keylan, setelah sebelumnya bertanya pada resepsionis dimana ruangan anak sepupunya.
Alika sudah nampak menggandeng tangan Adrian, pegangannya semakin erat saat orang dengan ranjang dorong melintas di dekatnya. Adrian mengerti dan memegangi pundak Alika.
Tak berapa lama, mereka sampai di ruang yang dituju. Adrian mengetuk beberapa kali sambil mengucapkan salam. Seorang perempuan membuka pintu ruangan lalu tersenyum saat melihat Adrian.
"Adrian," ucap Kevano, kemudian memeluk erat Adrian, "Gimana kabar lu?"
"Uhuk, lepasin." Ucap Adrian menepuk punggung Kevano, sebagai tanda agar Kevano melepaskannya.
Kevano melepaskannya, "Sorry, gue seneng lu datang,"
"Seneng sih seneng, tapi gak perlu meluk juga kali, badan lu udah gede banget sekarang,"
Kevano tergelak, sambil mengelus perutnya yang sedikit buncit.
"Gimana keadaanmu, Key," sambung Adrian sambil bertanya pada Keylan yang juga nampak bahagia melihat Om dan adiknya datang.
"Baik om, kata dokter sih besok sudah boleh pulang," jawab Keylan sumringah.
Pinta Adrian, tak lama Alika yang sejak tadi mengobrol dengan Kesya menghampiri Keylan dengan membawa parsel berisi buah.
"Ini buah buat kak Keylan, kata Papa baik buat kesehatan," ucap Alika.
"Makasih, gak usah repot repot," Ujar Kevano, belum sempat Kevano mengambil pemberitaan Alika, tangannya lebih dulu di pukul pelan Kesya.
"Biar tante aja yang simpan," Kesya mengambil parsel itu dan mematuhinya tak jauh dari ranjang tidur. "Sekarang gimana kalau Alika ikut tante ke kantin, kita beli ice cream."
Mendengar ucapan itu Alika tersenyum, lalu menggandeng tangan sang tante. Kesya dan Alika berjalan keluar meninggalkan mereka bertiga disana.
"Kenapa kok bisa sampai jatuh?" Tanya Adrian kemudian pada Kevano.
"Dapat apesnya om, niatnya kabur, malah nabrak batang bohong," jawab Keylan sambil mengingat kejadian beberapa hari lalu saat nasib malang menimpanya.
"Kamu kalau mau kabur-kaburan, belajar sama Papamu harusnya. Papa mu ahlinya kalau disuruh kabur dari balapan,"
"Papa gak mau ngajarin Keylan, om,"
"Bukan gak mau, kan itu pas Mamamu belum tau kamu belajar motor, apalagi buat balapan." Ujar Kevano tak mau disalahkan.
Meskipun ia akan dibilang suami takut istri, ia tak peduli selama itu baik ia lakukan.
"Papa takut sama mama," kata Keylan lagi.
"Bukan takut, cuma papamu gak mau kecewakan mamamu," ucap Adrian.
Mereka mengobrol banyak hal, saat tiba-tiba seorang laki-laki muda datang.
"Om Adrian," ucap Raka begitu melihat Adrian disana, setelah itu ia menyalami.
"Raka, kan? Kok kamu udah segede ini, ganteng, gak mirip Papamu." Ujar Adrian pada Raka, yang hampir membuatnya pangling dengan perubahannya.
"Iya, om. Gak mirip gimana, orang anak papa kok, kandung lho om, Raka udah chek Kartu Keluarga,"
Mendengar hal itu Keylan, Kevano, dan Adrian tertawa karena ucapan Raka.
"Salam buat papa sama mamamu dari om Adrian," kata Adrian.
Raka mengangguk, lalu mengambil tempat duduk disamping ranjang Keylan.
"Raka, jaga Keylan dulu ya, Om mau ngerokok diluar sama om Adrian,"
Raka mengangguk lagi, lalu membiarkan kedua omnya keluar dan berlalu pergi dari sana.
Kevano dan Adrian berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit. Lalu mencari smooking room yang ternyata tak jauh dari sana.
"Gimana kabar lu?" tanya Kevano lagi begitu mereka sampai di smooking room. Padahal pertanyaan itu sudah ia tanyakan tadi
"Kayak yang lu lihat, sehat." Ujar Adrian, "Tapi, ada yang masih belum sehat."
Adrian memegang dada sebelah kiri bawahnya, Kevano paham maksudnya. Ternyata sampai sejauh ini Adrian belum bisa melupakan kepergian Mili yang tiba-tiba.
Rasanya baru kemarin, Kevano melihat Adrian menikmati hari pernikahannya dengan Mili, lalu mereka memiliki Alika kecil, tapi semua nasib buruk itu menimpanya.
Dalam perjalanan pulang dari liburan, mobil yang mereka tumpangi terguling dan menabrak pohon.
Adrian dan Alika selamat, sementara Mili meninggal di tempat karena terjepit besi-besi mobil.
JIKA INGIN BERSUA DENGAN AUTHOR DI IG (@titiksemuu_)