
Di Episode akan menjelaskan tentang beberapa percintaan yang Ada di Novel ini..
Jadi kalau gak mau baca gak apa-apa. Asal tetap Like.. haha
***
Angga berniat memetik buah ceri yang ada dipekarang rumah, warna merah ranumnya terlihat begitu enak.
Tapi, baru saja ia memegang batanganya, tangannya sudah disambit sebuah sapu yang terbuat dari daun pelepah kepala.
“Aduh.” Ucap Angga sambil mengaduh dan memegang tangannya yang sakit. Angga menoleh melihat seseorang yang menyambitnya. Ternyata sang kakak. “Apaan sih mas, sakit tahu.”
“Lagian kamu mau ngapain? Metik ceri mas? Enak aja, itu belinya mahal tau, impor dari luar negeri.” Ucap sang kakak sambil mendatarkan wajahnya, wajahnya memang datang.
“Pelit.” Ejek Angga, kemudian berjalan menuju teras dan duduk disana, sang kakak menyusul sambil membawa gitar. “Mas mau ngapain? Bawa gitar segala.”
“Ajarin mas main gitar dong, mas pengen bisa main musik.”
Angga menatap sang kakak dengan pertanyaan aneh yang seolah berusaha mencari apa yang membuat sang kakak ingin sekali belajar gitar. “Tumben, buat apa? Mau belajar jadi cowok romantis ya.”
Meskipun Angga sudah berusaha bercanda selucu apapun, si kakak tetap saja memasang wajah lempeng.
“Oke, oke. Aaku bantuin belajar gitar. Itu wajah nakutin banget.” Sambung Angga, lalu mengambil gitar yang dipegang sang kakak. “Mas mau dari mana dulu?”
“Apanya?” tanya si kakak tak paham.
“Kunci gitarnya lah, masa kunci inggris.” Kata Angga.
“Oh. Dari yang mudah dan enak dulu, ya.”
Angga mengangguk lalu mengambil posisi pada jarinya dan tangganya diatas senar.
“Ini namanya kunci A minor, ini kunci G. Ini biasanya sering di pakai buat lagu, karena kuncinya paling mudah.”
Sang kakak mendengarkan penjelasan Angga sambil ber-oh ria.
“Kalau kunci yang ada disini?” tanya sang kakak kemudian.
Adrian mendengus, ternyata sang kakak ingin diajari kunci dasar gitar untuk mengajar SBK.
“Kenapa gak dikasih teori aja sih mas?”
“Mas ganti guru, jadi ya harus praktik dikit.”
Mereka kemudian berbicara tak jelas, sambil belajar gitar dan si kakak tak paham paham padahal itu kunci paling mudah bagi Angga, karena memang Angga jagonya.
Saat mengajari kakaknya itu, ponsel Angga berbunyi. Ketika melihat ID si penelphone ternyata Renata, buru-buru Angga mengangkatnya.
“Hallo Nata sayang.” Ucapnya lembut dan bersikap manja. Sang kakak yang melihat sedikit jijik.
“Jijik, Angga.” Kata Renata dari ujung telephone sana.
“Iya maaf. Kenapa, tumben telphone?”
“Sibuk gak?”
Angga terdiam sesaat, ekor matanya melirik si kakak yang tak paham paham belajar gitar.
“Kalau buat Nata, Angga gak pernah sibuk kok. Kenapa-kenapa cerita.”
“Temenin ke toko buku yuk, sekarang.”
“Siap, otw.”
Tut
Tut
Tut
Angga mematikan ponselnya kemudian berlalu pergi dari hadapan sang kakak, sementara si kakak merasa bingung karena ditinggal sendiri dengan gitar yang tak bisa bisa ia mainkan.
Angga mengganti pakaiannya, lalu mengendarai motornya untuk menuju rumah si gebetan yang tak pernhah mau menerinya. Heran.
Kemudian...
Tak berapa lama, Angga sampai dirumah Renata, sedangkan Renata sudah menunggu didepan rumahnya dengan tampilan yang sedikit modis. Dan pas untuk anak seusianya.
“Ketoko buku mana nih?” tanya Angga begitu ia sudah menjalankan motornya, suaranya agak samar samar terdengar karena angin sedang tidak baik.
“Ke Gramedia aja deh, biasa disana lengkap bukunya.” Jawab Renata, ia pun harus sedikit mengencangkan suaranya, kadang kalau dijalan Angga sudah budek dengan sendirinya. Mirip teman pelit yang sulit dimintai contekan.
“Oke kita kesana.”
Angga memnbawa motornya ke sebuah toko buku yang sebenarnya tak jauh dari rumah Renata, tapi karena Renata malas sendirian jadi ia mengajak Angga, sekaligus agar ia tak berjalan kaki.
Tak berapa lama mereka sampai disana. Lalu keduanya masih dan mulai mencari buku.
“Cari buku apa sih?” tanya Angga saat mereka sudah berada di toko buku, Renata sedang memilih-milih buku.
“Ini buku seni, buat tugas. Aku udah cari di internet tapi gak paham.” Ucap Renata.
“Yaudah aku lihat buku di rak sana ya.” Kata Angga kemudian berlalu pergi.
Renata melihat kearah mana Angga pergi, matanya mengekor dan menemukan bahwa Angga sedang melihat lihat komik jepang di rak dengan deretan paling belakang.
Melihat tingkah Angga yang masih seeperti itu Renata hanya bisa tersenyum. Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta dengan laki laki seperti itu?
Laki laki yang berhasil membuat dunianya berubah menjadi negeri dongen yang indah dan penuh warna.
Angga memiliki semua yang hal yang membuatnya ideal sebagai laki-laki, meskipun kadang sikap marahnya sering tak terkontrol tapi itu sangat jarang sekali.
Angga sadar bahwa Renata menatpnya, ia pun memandang Renata kemudian menjulurkan lidahnya. Renata mendekat dan memukul kepala Angga dengan buku yang hendak ia beli. Mereka kemudian bercanda disana.
%%%
Sudah hampri dua bulan lamanya Ruben dan Shiha berumah tangga, sampai saat ini mereka masih tinggal dirumah keluarga Lutfi, karena mertua Ruben yang meminta.
Awalnya Ruben ingin sekali membeli rumah sendiri, tapi mereka terus memaksa untuk tinggal disana.
Ruben seebnarnya tak suka tinggal disana, kadang sifat nyonya Lufti yang matre tak terkontrol, selalu meminta uang dengn jumlah yang besar dan dengan alasan yang tak logis.
Ingin sekali Ruben menolak hal itu, tapi ia tak enak dengan Shiha, akhirnya ia mengikuti kemauan sang mertua, menyebalkan sekali memiliki mertua yang mata duitan, tapi tak apa lah yang penting ia mendapatkan Shiha.
“Yang mau aku bawain bekal?” tanya Shiha saat mereka tengah menikmati sarapan, hanya mereka berdua tanpa ada mertuanya.
“Boleh deh yang, tapi roti aja ya.” Jawab Ruben.
“Sama Buah sekalian ya?”
Ruben mengangguk.
Setelah itu Shiha menyiapkan makanan yang akan dibawa Ruben bekerja. Selama dua bulan ini, setiap pagi sebelum belarangkat bekerja, Shiha selalu saja menyiapkan makanan untuknya, tidak seperti sebelum menikah. Bahkan ia sarapan saja sampai tidak.
Selesai membereskan bekal Shiha dan Ruben berangkat bekerja, Ruben sengaja mengantar sang istri kekantor karena kantor mereka tak begitu jauh.
“Yang, mama kok selalu minta uang sih.” Ucap Ruben saat mereka sudah berada didalam mobil.
“Kapan?” tanya Shiha.
“Sering, katanya buat lunasi apa itu. Aku bukannya gak mau ngasih, tapi kenapa sesering itu sih.”
“Aku gak tau kalau mama sering mint uang sama kamu, dia gak ada ngomong sama aku lho.” Jawab Shiha dengan perkataan Ruben, karena memang begitu adanya.
“Aku gak masalah kok, tapi jangan begitu sering ya, bilang sama mama. Aku gak enak ngomongnya, nanti dikira gak sopan lagi.”
Shiha mengangguk.
“Iya nangti aku ngomong.” Meskipun mengatak hal itu, Shiha juga tak enak pada sang mama, karena ia selalu saja kalah berdebat dengan mamanya, mamanya selalu punya cara untuk menghindari masalah.
“Udah, gak usah dipikirin.” Kata Ruben melihat pergantian raut wajah Shiha.
Shiha menoleh kearah Ruben lalu tersenyum manis. Melihat senyuman itu dunai Ruben seakan berhenti, itu seperti sebuah candu yang sangat sulit untuk dilupakan.
Shiha adalah cinta pertama dan akan menjadi yang terakhir bagi Ruben, karena Ruben begitu sayang pada Shiha, dari sorot matanya, Shiha pun merasakan hal yang sama. Bahkan mungkin cinta Shiha lebih besar.
Mereka sampai dikantor Shiha, Ruben menurukan sang istri tepat didepan gedung, setelah itu pergi kekantornya sendiri, karena sebentar lagi jam absen. Ia ingin menyidak para bawahannya yang telat datang kekantor.
Tak berapa lama ia pun sampai dikantor juga, kantor dengan beberapa lantai itu nampak megah dan semakin di depan. Awalnya ia pesimis mengembangkan kantor itu, karena ia memang tak menguasai dunia perkantoran, tapi sang papa terus mendesak dan mengatakan bahwa ia harus belajar.
Sejak saat itu ia mulai bangkit dan menghilangkan rasa pesimis dalam dirinya, cabang pertama Putra Group sudah diakui oleh banyak orang sebagai perusahaan pengiklan terbesar di Indonesia.
“Pagi, Pak Bos!” sapa beberapa karyawan yang melihat ia berjalan, padahal ia tak meminta mereka hormat, tapi mereka mau dengan sendirinya dan akhrinya seperti kebiasan.
“Yuyun, kirim berkas kemarin keemail saya. Yang sudah di audit ya.” Kata Ruben saat berjalan melewati meja Yunda dan Ganda, Kesya bekum datang untuk bekerja, ia masih cuti melahirkan.
Yunda yang mendengar ucapan itu hanya bisa mengangguk.
%%%
Hari ini Kesya sudah boleh untuk pulang kerumah bersama sang bayi karena sudah lebih sehatan dan tubuh si bayi juga lumayan kuat.
Setelah membereskan pakaian miliknya, ia kemudian menggendong si anak sementara Kevano memebawa barang-barang milik kesya menuuju mobil.
Sesampainya dimobil Kevano langsung menjalankan mobil itu perlahan, meskipun sebenatrnay ia ingin ceoat sampai kerumah agar bisa bermain bersama si mungil, begitu panggilannya.
Kevano menatap Kesya yang mengegndong sang anak, kebahaian hidupnya kini semakin teru bertambah.
Ia tak tahu lagi harus mengatakan apa, karena apa yang telah ia dapatkan sudah sangat lebih. ia mendapatkan istri yang cantik dan baik, sementara anak yang begitu tampan dan menggemaskan.
Selama perjalanan ia tak bisa membuang wajahnya dari memandang kedua kebahagiaanya itu, mereka adalah hidupnay sekarang, mereka adalah miliknya yang tak akan pernah bisa tergantikan.
“Hati hati bawa motornya, Sya.” Tegur Kesya saat melihat Kevano sibuk melihat dirinya dan si anak.
“Iya, aku hati hati kok, ini juga fokus nyetirnya.” Jawab Kevano.
“Harus, agar kita bisa selamat sampai tujuan.
Kevano hanya bisa mengangguk-angguk mendegar ucapan Kesya padanya. Meskipun ia terus melihat mereka berdua, Kevano tetap berusaha fokus pada mobil yang mereka kendarai.
Tak berapa lama mereka sampai diapartemen dan Kesya langsung menaruh anaknya di atas tempat tdiur, tulang tulangany sedikit capek.
Melihat sang anak di atas tempat tidur, Kevano hendak mengambilnya tapi dicegah Kesya.
“Kenapa yang, aku mau gendong Hero?”
“Dia mau tiduran dibawah, biar dia bebas aja.”
Mendengar ucapan Kesya itu Kevano hanya bisa mendengus kemudian tiduran disamping sang anak.
“Selamatan tujuh harian kapan?” tanya Kevano kemudian.
“Lusa mungkin, kenapa?”
“Kok mungkin sih, sayang. Kan kita yang ngurus.”
“Udah biar mama aja yang ngurus itu. Kamu siapin nama aja yang bagus buat dia.” Ucap Kesya.
“Udah dong, biar namanya ini kelihatan imut buat dia.”
“Imut?” tanya kesya bingung, apa maksud dari kata imut.
“Kayak aku.” Kata Kevano sambil bersikap seolah dia anak kecil yang masih imut.
“Iya aja deh. Nih bikin susu.”
Mendapat perintah itu, Kevano langsung beranjak kedapur setelah sebelumnya ia lebih dulu mengambil botol minum dan susu yang awalnay ditaruh didalam tas miliknya.
Kevano tak tahu lagi harus mengatakan apa untuk semua ini, hidupnya awalnya memang berantakan dan kacau. Sejak mengenal Kesya semuanya nampak berubah.
Dulu ia ingit bagaimana ia harus mendapatkan cinta di tante, harus rela berebut dengan seorang pemuda sukses dan pandai dalam segal hal.
Saat itu sikap otimisnya sudah menghilang karena mereka kalah lebih dulu dengan Bian, tapi setelah berjalannya waktu ia sadar bahwa sikap mengalahnya itu tak baik. Ia harus selalu optimis bagaimana pun keadaanya, ia harsu bisa menjadi suami sekaligus orang tua yang bisa dibanggakan.
Kevano ingin sekali anak-anaknya banggsa memilki ayah sepertinya, yang tak pandai bekerjam yang tak badai kuliah, hanya pandai membuat masalah.
Jika ia ingin bagaiaman dulu sering dimarahi sang Papa, yang akhrinya dibantu Ruben. Benar kata Ruben, ia tak bisa berterus menerus meminta bantuan orang lain, ia harus bisa bangkut dan mengatakan pada semua orang bahwa dirinya bisa sendirim tanpa harus mempersulut orang lain dengan masalah yang ia buat.
%%%
Yunda dan Abrar telah resmi berpacaran, meskipun awalnya itu hanya sebuah pksan dari sang papa, Yunda tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk bersama Abrar.
Abrar memang tipikla laki-laki yang suka mengatur, sikapnya terlalu over padanya. Yunda mengang sangat mencintai Abrar tapi jika tekan dikekang terus rasanya juga tak begitu enak. Ia ingin bebas terbang seperti burung tanpa takut terjebat tali.
Seeprti kejadian malam itu...
"Jadi? Aku boleh pergi dengan mereka, Kak?" Yunda merasa senang dan bertanya untuk memperjelas jawaban yang diberikan oleh Dr.Abrar padanya.
"Aku tidak akan melarangmu pergi bersama mereka. Tapi, aku akan menjemputmu di sana sekitar pukul 9 malam saat aku sudah selesai dengan jadwal kerjaku. Kita akan pulang setelahnya. Bagaimana, Yun?" Lagi - lagi Yunda merasa kecewa akan ucapan yang diberikan oleh Dr.Abrar padanya.
"Kenapa begitu? Aku bukan Anak kecil lagi. Yang harus pulang sebelum jam 10 malam. Papa dan Mama saja tidak pernah melarangku seperti itu." Jawab Yunda dengan ketus pada Abrar.
"Aku kan sudah bilang, aku tidak melarangmu. Aku hanya ingin menjemput kekasihku dan mengantarnya pulang ke Rumah. Kalau kamu tidak mau menurutinya, terpaksa aku mengurungmu di sini dan menemaniku untuk bertugas malam ini sampai pulang nanti. Kamu boleh pilih yang mana satu kegiatan yang kamu sukai." Tutur Abrar yanh dnegan cueknya mengabaikan wajah kesal Yunda. Dia berjalan menuju kursinya dan duduk dengan santainya.
Meskipun Abrar suka sekali melarangnya melakukan ini dan itu, tapi ia tetap mencintai dan menyenyangi Abrar sebagai kekasihnya, karen kebaikan Abarar berbeda dengqn kebaikan pada mantannya.
Merek suka sekali memporotinya. Semua lelaki baginya sama, sangat mengecewakan kecuali Abrar semuanya nampak berbeda.
“Hei, ngelamun aja.” Tergur Arbab saat Yunda berada ditaman rumah sakit.
“Enggak ngelamun kok, Cuma lagi mikirin sesuatu.” Kata Yunda.
“Mikirin apa? Mikirin aku ya?”
“Ih geer, aku lagi mikirin kerjaan.”
“Nanti aja dipikirinnya, sekarang kita makan aja gimana. Aku lapar.”
“Emang kamu belum?”
Abrar menggengkan kepalanya.
“Ayo.” Ajak Abrar lalu menggandeng tangan Yunda.
Meskipun terlihat aneh, awaknya perjodohan itu hanya sebuah permianan semata, tapi lebih jauh hingga saat ini Abrar seperti benar benar jatuh cinta dengan seorang perempuan yang suka keluyuran bernama Yunda.
Sikapnya yang unik dan lucu berbeda dengan perempuan lain yang sudah pernah ia kenal. Yundan memiliki banyak cara agar semua hal dan pembicraan berjalan seperti maunya. Awalnay ia pikir Yunda hanya perempuan membosankan yang tak ingin ia kenal lebih lanjut, tapi ternyata pikirannya sangat salah.
Yunda seorang perempuan yang melampaui ekspektasinya, unik dan cantik.
%%%
“Kenapa lu suka sama gue?”
“Apa jatuh cinta sama seseorang itu memilki alasan.”
"Pasti, karena sebuah sebab ada akibatnya.”
“Gue suka karena sikap lu beda dari perempuan yang lain. Lu gak jaim, natural bisa mengerti semua tentang yang cowok suka.” Papar Adrian.
“Oke, terus?” tanya Mili lagi sambil menyelidik Adrian.
“Terus gue mau jadi pacar lu.”
“Gue pikir-pikir dulu.”
“Aku gak mau nunggu, cewek kalau dandan aja lama, apalagi ngasih jawaban.”
“Oke, gue mau jadi pacar lu.”
“Serius?”
Mili mengangguk mendengar pertanyaan itu, Adrian ikut begitu bahagia saat Mili menerimanya. Mungkin ini jalan baru bagi Adrian untuk benar-benr bis melupakan betapa sakitnya di tinggal seorang perempuan bernama Yola.
Ini bukan pelarian, ini memang cinta.
Sejak hari itu merek resmi memiliki hubungan yang dengan. Mili memliki daya tarik dan daya pikat yang luar biasa.
Ia yang awalnya berpikir untuk membuat Mili sebagai pelarian, tapi nyatanya malah ia yang dijadikan temoat jatuh cinta yang luar biasa.
Mili membius Adrian dengan banyak cara, bagaimana Mili menjelaskan tentang banyak hal membuat pembicaraan mereka tak pernah monoton dan bosan.
“Lu serius kan sama gue?” tanya Mili saat mereka kembali pergi danau itu.
Adrian menghadap Mili, lalu memegang tangan Mili dengan erat. “Aku sangat serius sama kamu Mil, setidaknya kita katakan hubungan ini sama kedua orang tua kita.”
"Tapi apa ini gak terlalu dini, Dri?" tanya Mili.
"Aku pikir enggak."
Mili mengangguk menerima perkataan yang keluar dari mulut Adrian.
%%%
Sudah beberapa bulan sejak pernikahan Kevin Sanjaya dengan seorang gadis muda bernama Stefani. Awal hanya ia ragu untuk menikah kembali setelah lebih tahun di tinggal sang istri, rasa kehilang selama bertahun-tahun terus memuncak dalam dirinya, dan dan terluka itu pasti. Tapi ia tak mungkin berontak pada takdir Tuhan.
Sebagai seorang laki laki ia harusnya kuat, tapi sekuat apapun hatinya tetap lah rapuh, Kevin memutuskan untuk menutup hatinya dari perempuan mana pun yang berusaha mendapatkannya. Selain itu ia seorang duda memiliki anak dan tak ia tak berusia muda lagi.
Meskipun memiliki perusahaan besar dan kekayaan melimpah kadang Kevin masih merasa kurang dan minder dengan sendirinya, tapi ia tak pernah ambil pusing.
Setelah bertahun tahun lamanya menyimpan sendiri perasaanya, ia bertemu dengan Stefani yang tak lain awalnya hanya seorang mahasiswa magang yang sengaja ia angkat menjadi sekretarisnya, karena sekretaris lamanya mengundrukan diri.
Sikap Stefani yang kelewatan ceria dan ramah seolah bagai dua kutub magnet dengan siftnya yang cuek dan selalu perfensionis. Meskipun begitu Stefani yang sudah jatuh hati padanya membuat semuanya berjalan sesuai dengan kehendaknya.
Awalnya ia tak menyukai Stefani, tapi karena kedekatan Stefani dengan Ran, semuanya berubah. Ran begitu menikmati kebersamaanya dengan Stefani, karena sejak kecii ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
Seperti pagi itu, Stefani selesai menyiapkan masakan untuk sarapan.
Kevin dan Ran sudah berada di meja makan menikmati nasi goreng dan makanan lain, sementara Stefani masih berkutat di dapur.
“Ran, ayo makan.” Ucap Kevin saat melihat Ran tak menyentuh makannya.
Ran menggeleng.
“Ayo dimakan, nanti keburu telat datang sekolahnya.” Sambung Kevin sambil terus memaksa Ran yang tak bergeming sediktpun, padahal biasanya ia suka dengan masakan sang ibu barunya. “Cepat dimakan.”
“Kenapa?” tanya Stefani datang dari arah dapur.
“Ran gak mau makan itu, tumbenan.” Jawab Kevin.
Stefani mengambil piiring yang penuh makanan yang tak di sentuh Ran tadi, lalu menyendokkan makanan dan mulai mengarahkan kemulut Ran.
“Ayo Ran buka mulut, Mama suapin.” Kata Stefani.
Ran tersenyum kemudian membuka mulutnya, sejak tadi memang itu yang di inginkannya. Kemudian Ran menikmati makanan itu seolah itu makanan paling enak yang pernah ia rasakan.
Tak berapa lama, mereka selesai menikmati makanan itu, Kevin, Ran bersiap untuk berangkat, begitu pula Stefani.
Mereka pergi menggunakan mobil, dan lebih dulu mengantarkan Ran kesekolahnya. Ran sudah masuk Taman Kanak-Kanak nol Besar, tak lama lagi akan masuk Sekolah Daar. Bagi Kevin moment kelahiran Ran sepertinya baru saja kemarin terjadi. Sekarang sang anak sudah tumbuh besar.
Tak berapa lama mereka sampai di sekolah Ran, Ran mencium punggung tangan Kevin dan Stefani, setelah itu ia lemabai dan masuk kedalam sekolahnya. Kini tinggal mereka berdua yang berada didalam mobil.
“Kayaknya kamu gak perlu kerja lagi deha, Yang.” Ucap Kevin, Stefani menoleh menatap Kevin yang tengah mengemudi,
“Kenapa, kamu gak suka aku kerja?” tanya Stefani dengan nada pensarannya karena ucapan Kevin tadi.
“Bukan begitu, masa seorang Nyonya Kevin Sanjaya harus bekerja di perusahaan suaminya. Aku kan bisa cari sekrestaris lain. Kamu dirumah aja, ya. Mengurus rumah.” Kata Kevin.
“Nanti kalau kamu macem-macem dikantor gimana, aku kan gak bisa ngawasi.” Ujar Stefani dengan dahinya yang mengkerut.
“Macem-macem gimana? Selama ini emang aku pernah macem-macem apa? Bahkan sebelum kita nikah.”
Stefani terdiam mendengar ucapan Kevin, memang benar apa yang di katakan Keavin kalau sang suami tak pernha berbuat hal yang aneh-aneh, tapi ia tetap saja khawatir dan takut jika Kevin tergoda perempaun lain atau bahkan sekretaris barunya.
“Kalau itu maumu, boleh. Tapi, ada satu syaratnya.” Kata Stefani kemudian. “Sekretarismu harus laki laki.”
Kevin hanya bisa mengangguk dengan perkataan Stefani, mau laki laki ataupun perempaun menurutnya tak masalah, tapi sikap Stefani yang setelah menikah begitu cemburuan tak bisa menikah. Jadi mau tak mau ia harus mengikuti semuanya asal itu baik dan tak membuat beban.