My Berondong Husband

My Berondong Husband
#86 Masalah Ganda Tentang Keluarganya



Ganda menuju pintu apartemennya, saat ia mendengar bell itu dibunyikan seseorang. Dengan hanya menggunakan handuk yang meilit tubuhnya sampai bagian atas, padahal dadanya rata.


Sesekali Ganda sedikit mendegus, rasanya masih pagi sekali, kenapa sudah ada yang bertamu. Mungkin itu salah satu dari anggota trio kalong, jika tidak Kesya pasti Yunda. Tapi, Kesya mungkin masih bersama Kevano ditempat tidur. Berarti Yunda. Begitu pikir Gadan.


“Yun, lu ngapain sih jam segini kesi...” ucap Ganda terhenti, orang yang ia kira Yunda itu ternyata bukan.


Ganda terdiam melihat seorang perempuan yang berdiri diambang pintu apartemennya. Napasnya menajdi berta dan matanya mulai berkaca-kaca, ia tak bisa melanjutkan ucapannya lagi.


Seperrti perempuan itu, ia juga sama tak bis berkata apa-apa karena air matanya sudah jatuh membahasi pipinya. Selangkah kemudian ia menerjang dan memeluk tubuh Ganda sekuat mungkin.


Lalu menghamburkan tangisnya disana.


“Mama, kok datang kesini gak bilang sama Ganda.” Sambung Ganda lagi akhirnya bisa berkata.


Ganda melepaskan pelukan perempuan itu lalu menutup pintu apatemennya.


Perempuan yang di panggil mama tadi duduk diatas sofa ruang tamu, sambil berusaha menyeka air matanya. Perempuan itu memang Mama dari Ganda.


“Kamu gak pulang?” tanya sang mama kemudian.


Ganda masih kaget dan bingung, Ia menurunkan handuknya sampai hanya melilit pusar kebawah.


“Mama belum jawab pertanyaa Ganda, ngapain mama kesini?”


“Memang kalau orangtua kangen sama anaknya harus bilang dulu.” Jawab sang mama.


“Ma, Mama itu jauh tinggalnya. Dan mama sepagi ini sudah sampai sini, jam berapa mama pergi.”


“Kemarin sore.”


Ganda benar-benar bingung dengan keadaan itu. Mamanya datang tiba tiba, padahal mereka tidak tinggal satu kota, dan tempat tinggal sang mama cukup jauh dari sana.


“Kamu gak pulang?” ulang sang mama dengan pertanyaan yang sama.


Setiap mendengar pertanyaan itu Ganda seolah kembali kemasa lalu dan mengingat semua kenangan yang pernah ditorehkan sang Papa.


Ia diusri dari rumah oleh sang papa, dengn alasan agar ia mandiri dan menjadi lelaki sejati. Padahal sejak dulu sikapnay memang begitu sedikit kearah perempaun.


Ganda sedih mengingat hal itu tapi mau bagaimana lagi, ia sulit menghilangkan semuanya. Rasanya setiap berusaha berubah ia selalu dihantui rasa was-was yang tinggi.


Saat diusir sang papa saudaranya tak ada yang mau membantu, mereka hanay diam dan tak bersuara, hanya sang mama saja yang berusaha untuk menceha kepergian itu.


Saat itu Ganda sudah berkerja disalah satu boutique menjadi asisten perancang baju, karena diusir sang papa. Ganda memuntuskan untuk pergi dari kota itu dan mencari tempat tinggal baru diluar kota yang cukup jauh.


Sejak hari itu ia tak pernah berniat ingin kembali kerumah sampai sang papa yang memintanya kembali, tapi setelah sekian tahun ia tunggu, sang papa tak menyureuhnay untuk pulang.


“Nanti, nunggu papa nyuruh Ganda pulang.”


Mendengar ucapan itu sang maam kembali terisak, suara tangisnya terdengar parau dan menyayat hati. Ganda berjalan kedapur dan mengambil segelas air untuk sang mama. Lalu memberikannya.


“Papamu sudah meninggal.” Ucap sang mama kemudian.


Ganda tercekat diam, ia lagi lagi hanya bisa terdiam. Kemudian otaknya menggaris bawahi kata meninggal, ia berusaha mencerna kata-kata itu.


“Maksud mama?” tanya Ganda berusah amemastikan omongan sang mama. “Mama ngomong gitu bukan supaya Ganda pulang kan?”


Sang mama menggeleng perlahan. “Setahun setelah kamu pergi dari rumah, Papa jatuh sakit dan kemudian stroke. Sudah dibawa berobat berulang kali, sampai mama gadaikan tanah dan rumah ke bank, tapi gak sembuh. Seminggu yang lalu papamu meninggal.”


“Terus,” desak Ganda agar mamanya terus berbicara mengenai papanya, ia tak peduli tapi ia selalu penasaran dengan kabar orangtuanya.


“Hutang mama banyak, kakak-kakakmu gak ada yang mau peduli, adikmu masih kuliah. Mobil sudah mama jual.” Sang mama tak tahan dengan kesedihannnya, air matanya terus mengalir.


Melihat mamanya menangis, Ganda ikut menangis.


Menginagt pada kedua kakaknya yang juga tak pernah akrab denagnnya, membuat sakit hati dan kecewa seolah kembali tersulut.


Sejak dulu sejak mereka masih kecil kedua kakaknya selalu diberi semua fasilitas yang mereka mau oleh sang papa, bahkan apa yang tidak Ganda dapatkan mereka mendapatkan.


Gand iri saat itu, ia seperti bukan anak kandung sang papa. Jadi sejak saat itu jika ia ingin sesuatu ia harsu bekerja sendir, mandiri sejak duduk di bangku SMP, ia harsu melakukan apapun untuk membuat semuanya hidupnya bahagia.


“Kemana Mas Aris sama Mbak Marisa sekarang?” tanya Ganda lagi.


“Yasudah biar Ganda yang bantu urus hutang mama, dan Hendra mulai besok suruh pindah kesini, biar Ganda yang bayar kuliahnya.” Ucap Ganda.


“Kamu serius, Nak?” tanya sang mama memastikan.


Ganda mengangguk. “Berapa hutang mama?”


“Dua ratus, di tiga bank. Penggadaian sertifikate terjadwal akhir bulan ini.”


“Mama hari ini tidur dulu disini, pulang besok saja sama Ganda. Sekalian jemput Hendra.”


Kini sang mama mengangguk.


“Ganda berangkat kerja dulu, mama istirahat sepuasanya, silahkan makan. Ganda nanti tinggalin kartu debit, kalau mama mau jalan-jalan.” Sambung Ganda.


Kemudian Ganda membiarkan sang Mama istirat, ia bergegas mengganti pakaiannya dan bersiap untuk berangkat kekantor. Setengah jam lagi ia absen, tak terasa percakapan dengan sang mama sudah memakan waktu hampir satu jam lebih.


%%%


“Seratus juta?!” ucap Yunda kaget saat Ganda mengatakan ingin meminjam uang padanya dengan nomila yang begitu fantastis.


“Hus.” Refleks Ganda menutup mulut Yunda dengan telapak tangannya, agar ia sadar sedang dimana mereka sekarang. “Kenceng banget sih lu, kalau orang-orang kantor tahu gimana?”


“Habsi pikiran lu gak logis, pindah duit kok kayak ngerampok. Mau buat belanjain berondong lu.”


“Si kampret. Engga Yuyun, gue butuh banget secepatnya. Tadi pagi nyokap gue datang, dia bilang punya hutang dua ratus juga sama bank, buat berobat bokap gue.  Dia minta tolong sama gue.”


“Lah saudara saudara lu kemana?” tany Yunda dengan nada bingung dan polosnya.


“Mereka itu datang kalau lagi seneng, kedua kakak gue aja gak mau bantu.”


“Gitu. Yaudah gue pinjamin dulu sama lu, nanti lu bayar sama kakak gue ya. Soalnya gue gak punya uang sebanyak itu.”


“Serius lu?”


“Kapan sih gue bohong. Ini sudah gue chat, tunggu aja e-banking nya.”


“Ehmm.. jadi sayang sama Yunda.” Kata Ganda sambil memeluk erat tumbuh Ganda. “Astagfirullah bukan makhrom.”


Ganda melepaskan pelukan itu, Yunda mendengus sambil mengembangkan hidungnya, lalu menjitak kepala Ganda.


“Ingin gue cubit tu ginjal, cowok tulang ingat kok tahu makhrom.” Kata Yunda sedikit sebal.


“Gue berusaha menjadi cowok sehari buat mama gue.” Ujar Ganda berusaha duduk dengan tegak.


“Jangan sehari  aja, selamanya kalau bisa.”


“Itu aku pikirkan dulu.” Ganda tertawa.


Setelah pembicraan tak jelas itu mereka memutuskan untuk pergi kekantir, akrena sudah waktunya jam istirahat.


“Gimana hubungan lu sama dokter Abrar?” tanya Ganda kemudian sambil menyeruput es teh tawarnya, gula menyebabkan diabetes dan kegemukan.


“Baik. Cuma...” ujar Yunda memeotong perkataannya.


“Cuma apa?”


“Cuma dia cintaku didunia ini.” Ucap Yunda sambil seolah ia bernyanyi. “Enggak, dia agak protektif sama gue. Masa gue dilarang clubing sama keluyuran.”


Kemudian Yunda menyangga gadunya dengn tangan kanan dan seolah ia cemberut.


“Bagus dong, berarti dia ingin ngerubah lu jadi cewek baik-baik.”


“Tapi gue gak suka, Ndis. Terlalu ngekang gitu. Nyebelin deh.”


“Terus lu maunya gimana? Kayak Yoga yang porotin lu terus pergi gitu aja?”


Yunda mengindahkan perkataan Ganda, jika ia pikir lebih dalam memang ada benarnya juga. Jika dibandingkan dengan berodnong yang sudah memporotinya, Dokter tampan Abrar jauh melampuinya.


Apalagi sang papa sudah setuju dengan hubungan ia dan dokter Abrar. Dokter Abrar yang baik dan ramah, cerdas juga sangat telaten padanya.  Tipikal laki-laki yang sulit untuk dilupakan.