My Berondong Husband

My Berondong Husband
#93 Bian dan Keluarga Kecil Kevano



Bian menyiramkan air mawar di atas tanah


kuburan, kemudian menaburkan kembang setaman.


Ia tak habis pikir, begitu cepat masalah


berlalu. Padahal rasanya baru kemarin ia masuk dalam wahana mematikan dengan si


penulis skenario yang menakutkan. Sekarang semaunya sudah berakhir.


Bian mengelus batu nisan itu, lalu berniat


beranjak pergi dari sana. Saat membalikkan badan, ia berpapasan dengan Kesya.


Wajah Kesya nampak canggung begitupun Bian,


ini kali pertama bertemu Kesya saat tengah berziarah di makam yang sama.


Bian tak berucap sepatah kata pun, ia hanya


berlalu pergi dan membiarkan Kesya berziarah dengan kusyuk disana.


Belasan tahun sudah, ia tak pernah terlibat


pembicaraan lagi dengan Kesya. Kesya Kemungkinan masih sakit hati dengan semua


yang terjadi.


Bagaimana mungkin seorang perempuan yang


telah kehilangan keperawanan nya sebelum menikah bisa berhenti memaafkan si


lelaki. Itu nampak mustahil.


Dari ujung makam tempat dimana Bian


memarkirkan mobilnya, ia melihat Kesya tengah membacakan ayat suci Alquran dan


doa yang ia panjatkan.


Kesya masih terlihat terpukul atas


kehilangan sang Papa yang sangat di sayangnya. Bian bisa merasakan frekuensi


getir dalam diri Kesya.


Bian pun merasa bersalah atas kematian Tuan


Susanto. Ia seperti penyebab dari semua itu, meskipun berulang kali Mama dan


Papanya mengatakan itu sudah kehendak Tuhan, tapi ia tetap mereka bersalah.


"Ngapain kamu disini?" tanya


seseorang mengganggu Bian yang tengah mengamati Kesya.


Bian menoleh dan melihat pemilik sumber


suara itu, ternyata Yunda tengah berdiri di sampingnya sambil melihat padanya.


"Malah diam aja." sambung Yunda.


"Habis nyekar om Susanto." Jawab


Bian datar, ia memang tak begitu mengenal teman teman Kesya.


Yunda tak berkata lagi, sama sama diam


sepeti Bian lalu menatap Kesya yang masih begitu Kusyuk.


Tak berapa lama Kesya berjalan mendekati


keduanya setelah selesai melakukan hal itu. Raut wajah Kesya seperti tak suka


saat melihat Bian masih ada disana.


Muak rasanya, melihat Bian yang terus hadir


dalam hidupnya meskipun mereka masing masing sudah memiliki keluarga.


Sesampainya di sana, Kesya langsung menarik


tangan Yunda untuk menuju mobil. Kesya berusaha bersikap biasa, karena ia tahu,


ia sudah terlalu tua untuk mengambek.


"Kes, aku mau ngomong." Kata Bian


akhirnya, suara yang bertahun-tahun tersimpan dalam tenggorokannya kini keluar


dengan sendirinya.


Kesya sempat berhenti, kemudian menjalankan


langkahnya kembali. Hampir menarik pintu mobil tapi Bian lebih dulu


mencegahnya.


Pintu mobil itu kembali tertutup, Yunda


yang melihat keduanya yang akan terlibat masalah serius tak mau ikut campur.


Dan akhirnya masuk lebih dulu kedalam mobil nya.


Sementara itu Kesya membalikkan badannya,


menoleh kearah Bian. Ia belum berucap apapun pada Bian, dari tatapan matanya


nampak ia tak suka.


"Sudah hampir dua puluh tahun, kenapa


kamu belum bisa memaafkanku?" sambil Bian, berusaha bersikap setengah


mungkin. "Aku sudah meminta maaf atas kesalahanku. Sampai kapan kamu mau


buat aku merasa bersalah?"


Rentetan kata dari Bian itu tak sedikit pun


membuat Kesya bergeming, wajahnya yang datar semakin mendatar.


"Jawab aku," kata Bian lagi.


"Aku berusaha memaafkan perlakukan Papa mu yang sudah membuat Papaku


hancur, membuat aku dan Renata kekurangan kasih sayang sejak. Tapi, hanya


karena itu kamu tak memaafkanku."


"Hanya karena itu?" akhirnya


kalimat itu keluar dari mulut Kesya. "Jika saja bukan Kevano yang


menikahiku dulu, sampai sekarang aku belum tentu menikah. Lagi pula Papaku


sudah meninggal."


"Lalu apa aku harus meninggal dulu


agar kamu memaafkan ku?" tanya Bian.


Mendengar pertanyaan Bian itu, Kesya malah


membalikkan tubuhnya, membuka pintu mobil dan masuk kedalam.


Dari dalam terlihat bahwa Kesya menyuruh


Yunda untuk menjalankan mobil nya.


Setelah itu mobil berlalu pergi dan


meninggalkan Bian disana sendiri. Masih dengan pikiran yang kacau dan tak tahu


harus  melakukan apapun, karena Kesya


belum juga mengatakan tentang permintaan maaf itu.


Dulu saat di penjara Kesya memang


mengatakan akan berusaha melupakan semuanya, tapi nyatanya sampai sekarang


belum di lupakan.


Bian kemudian membawa mobilnya ikut pergi


dari sana.


Sementara itu Kesya yang saat ini berada di


mobil bersama Yunda. Kesya masih terdiam dalam seribu bahasa, ia tak tahu harus


melakukan apa lagi.


Semenjak Kematian sang Papa dan banyak


masalah terbongkar yang tak pernah ia tahu, ia mulai menyesal terlalu


menyalahkan Bian atas semua hal.


Dalam dari semua masalah keluarga Bian


memang Papanya, papa yang selama ini baik padanya ternyata menyimpan dendam


yang tak berkesudahan.


Hal itu ia tahu setelah tuan Tedi


mengatakan sesaat setelah kematian sang Papa.


Lagi pula sebenarnya meskipun ia sudah tak


perawan, Kevano masih tetap bersamanya sampai sekarang. Jadi mungkin jika ia


terlalu menyalahkan Bian, ia juga salah.


"Kes," Ucap lirih Yunda sembari


mengemudi.


Kesya menoleh, memperhatikan Yunda.


"Kamu masih kepikiran sama perkataan


Bian tadi?" sambung Yunda.


"Apa aku salah jika masih marah dengan


Bian,   meskipun sudah belasan tahun


lebih?" tanya Kesya.


Yunda mengerutkan keningnya, dia tahu apa


yang di maksud sahabatnya itu.


"Salah tidak, tapi aku yakin kamu tahu


kalau kamu masih gengsi untuk memaafkan Bian. Tapi, ayolah kita sudah sama sama


tua. Usia kita tidak cocok untuk saling marah dan ngambek lagi." ucap


Yunda.


Kesya paham dengan ucapan Yunda itu, memang


harusnya ia melupakan segalanya. Tapi, setiap berusaha melupakan permasalahan


itu, Bian tetap hadir dalam pikirannya.


Ia pikir setelah Bian keluar dari penjara,


Bian akan berusaha mengejarnya lagi. Ternyata tidak. Bian bahkan tak pernah


muncul, muncul pun itu saat pemakaman sang Papa.


Saat Kesya masih bingung dengan dirinya


sendiri. Bian menjalankan mobilnya dengan pikiran yang berusaha ia tenangkan.


Tujuh belas tahun lalu, setelah Bian keluar


dari penjara. Ia merasakan kebebasan yang teramat sangat. Setelah bebas ia


langsung mencari laki laki itu, laki laki tak lain Papa dari Kesya.


Namun sayangnya ia terlambat, sehari


sebelum ia bertemu dengan nya. Tuan Susanto lebih dulu pergi ke Amerika. Tapi,


naas pesawat yang di tumpangi tuan Susanto jatuh tak lama setelah lepas landas.


Tuan Susanto di nyatakan tewas dan pulang


dalam keadaan susah menjadi mayat. Bian yang berniat balas dendam, malah tak


tega dengan apa yang terjadi.


Ia berusaha menyalahkan diri sendiri, jika


seandainya Ia tak berniat mengejar tuan Susanto, pasti tuan Susanto tak pergi.


Karena tuan Susanto tahu tujuan utama Bian keluar adalah balas dendam.


Setelah kematian tuan Susanto,Tedi sang


Papa mengatakan semua yang terjadi pada Nyonya Susan dan Kesya. Awal nya mereka


menolak tapi akhirnya menerima semua kenyataan yang ada.


Belasan tahun sudah berlalu, tak ada lagi


permasalahan dalam hidupnya. Bahkan ia sekrang tak menjadi pengacara lagi,


karena sibuk membangun bisnis milik keluarganya, menikah bersama seorang perempuan


yang selalu menjenguknya didalam penjara. Laras.


%%%


"Woy jangan curang, Pa. Ah, gak


asyik." Ucap Keylan sambil melempar stick nya di samping PS. Sambil dia


memasang wajah datar.


Untuk ketiga kalinya dalam malam ini,


Keylan kapan bermain game dengan sang Papa. Keylan sebal, setiap mencoba


memenangkan game, sang Papa Kevano selalu saja punya trik dan cara untuk


membuatnya kesal.


"Loh-loh jangan gitu, masa kalah


ngambek. Kayak cewek aja." Ujar Kevano sambil mengejek Keylan yang masih


memasang wajah tak peduli. "Ayo main lagi, cari game lain."


"Moba atau Garena, di HP deh."


Usul Keylan.


"Oke, siapa takut." Kata Kevano


sambil menyusul Keylan duduk di sofa dan mengambil ponsel pintarnya yang


awalnya tergeletak di atas meja. "Papa pakai ini, ya?"


"Mana lihat." Keylan menengok


ponsel papanya, lalu sedikit kaget. "Papa curang, kok ada skin itu. Keylan


mau juga."


"Beli dong." Kevano mencibir


Keylan.


"Bagi duit." Keylan mengatungkan


tangannya pada Kevano.


"Enggak boleh."


Keylan kembali memasang wajah tak suka.


Kemduian..


"Ma!" Teriak Keylan, tapi belum


sempat melanjutkan, Kevano sudah membungkam mulut Keylan dengan telapak


tangannya. "Pawpah, Bewli Skiwn Mwahal."


Mendengar teriakan Keylan Kesya dari kamar


berteriak, lalu keluar dari pintu. "Kenapa sih Key?"


"Enggak jadi, Ma." Kata Keylan


nyengir. Karena sebelumnya sang Papa janji akan memberikannya uang untuk


ngegame.


"Mama mau bersihkan bajumu, besok udah


gak kamu pakai lagi kan seragam yang numpuk itu?" tanya Kesya kemudian.


"Enggak, Ma. Besok kan pakai


batik." Jawab Keylan, sudah mulai fokus bermain game bersama Kevano.


Kesya berjalan masuk kedalam kamar Keylan,


kamar yang berulang kali ditata tapi tetap saja terus berantakan,


membingungkan. Apa yang sebangsanya di lakukan Keylan didalam kamarnya? Begitu


terus pikir Kesya.


Saat Kesya sibuk dengan kamar Keylan,


Keylan dan Kevano bermain game dengan volume yang sengaja di kencang kan.


Alhasil suara teriakan, padang dan pertempuran nampak jelas.


Lalu...


"Keylan!" Teriak Kesya dari kamar


Keylan.


Keylan kaget, ponselnya hampir saja


terjatuh. Begitu juga Kevano yang mendengar teriakan Kesya ikut bingung.


Keduanya langsung bergegas menuju tempat di mana Kesya berada.


"Kenapa, Ma?" Tanya Keylan.


"Iya, kamu kenapa, Ma?" tanya


Kevano mengulang.


Kesya berjalan mendekati keduanya yang


masih berada diambang pintu, sambil membawa amplop berwarna putih.


"Ini baca, Pa." suruh Kesya pada


Kevano.


Kevano menerima amplop itu, membukanya lalu


membaca nya. Dengan jeli Kevano melihat rentetan tulisan berketik itu dengan


bagian bawah berstempel, kemudian tak lama  menutupnya kembali.


Dan


Kemduian


Cetak!


Dengan sedikit keras Kevano menjitak kepala


Keylan.


"Aw!" Teriak Keylan sambil


memegang atas kepalanya. "Sakit, Pa."


"Ini kenapa kamu gak bilang?"


tanya Kevano.


Lagi lagi Keylan hanya bisa nyengir.


"Keylan lupa ngasih tau Papa sama Mama."


"Itu kenapa lagi kamu di panggil,


pasti nakal kan?" kini tanya Kesya.


Keylan menggeleng perlahan.


"Enggak kok, Keylan cuma manjat tembok


sama ngotorin lapangan." Jawab Keylan dengan entengnya.


"Itu namanya nakal Keylan. Lain kali kalau


dapat surat bilang sama Papa atau Mama." Kata Kesya.


"Iya, lain kali Keylan bilang."


Ucap Keylan pelan.


"Gak ada lain kali, kalau lain kali


berarti kamu mau nakal lagi." Ujar Kevano. "Biar besok Papa yang


"Serius, Pa?" tanya Keylan


sumringah.


"Gak bisa Mama aja, besok Papa pak


sibuk kerja." Sergah Kesya.


"Enggak kok, Ma. Biar Papa aja. Mama


urus Resto aja, sesekali Papa juga pengen jadi wali murid."


Mendengar ucapan itu, Keylan mengelus


dadanya sambil mengucap syukur dalam hati. Jika yang datang sang Mama, pasti


disana sang Mama ikut mengomelinya dan setelah selesai tetap saja mengomel.


Sampai sakit telinganya.


"Seneng kamu, ya." Ucap Kesya.


"Banget." Jawab Keylan.


"Udah-udah, ayo main lagi. Bisa kalah


kita." Ucap Kevano.


Setelah itu Kevano dan Keylan berjalan


kembali menuju Sofa dan melanjutkan permainan game mereka yang sempat tertunda


karena omelan Kesya.


Kalau Kesya sudah mengomel, Keylan dan


Kevano kompak untuk diam dan hanya mengangguk, karena jika tidak Kesya akan mengeluarkan


tanduk amarahnya sebagai the power of emak emak.


"Kiri-kiri, itu sampingmu musuh,


Key." Ucap Kevano sibuk bermain game dengan Keylan. Mereka satu tim.


"Eh dia bukan tim kita?"


"Bukan, habisi."


Kadang pemandangan seperti itu sering


sekali terlihat di keluarga Kecil Keke. Meskipun Kevano dan Kesya sama-sama


sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing, tapi mereka selalu menyempatkan


pulang tak telat.


Mereka selalu ingin melihat tumbuh kembang


Keylan, tanpa bantuan orang lain. Apalagi bagi Kesya.


Dulu saat Keylan berusia tiga tahun, ia


tiba tiba saja sakit. Dan sakit itu hampir merenggut dirinya. Kesya bingung dan


sudah diambang batas dirinya.


Pengobatan sudah ia jalani, bahkan hingga


kemo, tapi semuanya hampir mustahil. Kanker itu menyerang dirinya begitu jauh.


Tapi, semangat hidupnya membuat Kesya


kembali bangkit. Dan setelah operasi pengangkatannya kanker, akhirnya ia sembuh


total dan sekarang ia bisa selalu melihat tingkah konyol Keylan dan Kevano sang


suami.


Tak berbeda dengan Kesya, Kevano pun


merasakan hal yang sama. Kantornya semakin besar, dan pekerjaannya begitu sibuk


banyak menyita waktu nya. Tapi, ia ingin melihat anaknya tumbuh sedikit demi


sedikit.


Kevano ingin merasakan menjadi orang tua


seutuhnya, ingin setiap pulang melihat istri dan anaknya ribut dirumah, membuat


suasana rumah semakin meriah.


"Papa sama Mama gak pengen nambah


adek," tanya Keylan beberapa tahun lalu saat ia masih duduk di bangku


sekolah menengah pertama.


Mendengar ucapan Keylan, Kesya dan Kevano


saling tatap. Bukan mereka tidak mau, tapi tidak bisa.


Karena bukan hanya kanker saja yang


diangkat tapi juga rahim milik Kesya, karna penyakit itu ada di rahim Kesya.


"Nanti kalau Keylan udah lulus


sekolah, Papa sama Mama punya adek." Jawab Kevano.


"Kenapa gitu?" tanya Keylan lagi.


"Emang Keylan mau kalau uang jajannya


di bagi sama adek?"


Keylan terdiam sesaat, lalu menggeleng


perlahan.


"Nah, jadi nanti saja kalau mau punya


adek." sambung Kevano.


Sementara Kesya tak banyak bicara saat itu,


ia tak ingin Keylan mengetahui apa yang sudah terjadi padanya. Ia hanya ingin


Keylan tahu bahwa ia memilik masa lalu unik bersama Kevano yang seorang


Berondong.


Saat mendengar bahwa dulu Papanya adalah


Berondong. Entah bagaiamana, Keylan juga ingin menjadi Berondong yang menikahi


seorang perempuan yang lebih tua darinya. Yang memiliki uang yang lebih matang


dari.


Meksipun berulang kali, Kevano mengatakan


bahawa ia seharusnya menikah dengan perempuan yang memiliki usia yang seumuran


dengannya, tapi Keylan tak peduli.


Tapi itu dulu, nyatanya sekarang Keylan


tergila gila dengan gadis bernama Aresti, seorang gadis yang membuat dunianya


tak bisa berputar dengan cara yang tepat.


%%%


Malam Harinya


"Gimana tadi di sekolah? Apa kata guru


BK nya? Keylan di Keluarin ya?" tanya Kesya sambil menyuapkan makanan ke


dalam mulutnya.


"Ih Mama doanya kok gitu banget sih


buat anak sendiri." rungut Keylan.


"Kan ini bukan pertama kamu di tegur


jadi wajar kalau Mama mikirnya gitu." Ucap Kesya dengan santainya, tak


peduli dengan raut anaknya yang tak suka.


Tapi, itu biasa. Drama makan malam dan


sarapan yang biasa terjadi di keluarga Kecil nya. Jika tak seperti itu pasti


keluarga Kecil bernama Keke itu akan terasa sepi.


"Enggak kok Ma, teguran aja. Biasalah


Keylan kan emang bandel." Jawab Kevano atas pertanyaan Keylan.


"Kalau dia di keluarin dari sekolah


kan lumayan, Pa. Dia bisa jadi OB di Resto Mama." Terus ucap Kesya,


semakin membuat Keylan tak suka.


"Pa, lihat Mama tu. Kejam banget sama


Keylan. Keylan anak kandung bukan sih,"


"Bukan." Jawab Kesya dan Kevano


bersamaan bahkan terlihat kompak membuat drama.


"Bodo amat. Gini banget Ya Allah my


parent." Ucap Keylan seolah tak peduli dengan perkataan Kesya dan Kevano,


karena Keylan tahu itu hanya sebuah guyonan dari orangtuanya.


"Kalau kamu benar bukan anak Papa sama


Mama gimana?" tanya Kesya melanjutkan pembicaraan tak jelas itu.


"Aku akan mengemas barang, dan pergi


mencari orangtuaku." Jawab Keylan ikut berdrama.


"Gak perlu cari, orangtuamu itu Mang


Kusno (Supir)." Ucap Kevano menambahi.


"Seriusan? Pantesan aku merasa mirip.


Mang Kus, jadilah orangtua Keylan mulai dari sekarang!" Teriak Keylan.


"Bagus Ma, kita kekurangan jatah


beras." Kata Kevano.


Lalu Kesya dan Kevano menahan tawanya


karena makanan yang masih berada di mulutnya.


Ketiga nya menikmati makanan buatan Kesya,


dan tak berapa lama meraka selesai dengan makanan yang telah mereka nikmati.


Keylan berlalu menuju kamarnya, sementara


Kevano membantu Kesya membereskan semua bekas makanan.


"Kamu ngerasa gak sih kalau Keylan itu


mirip kamu pas masih sekolah?" tanya Kesya saat ia mencuci piring, Kevano


membereskan peralatan diatas meja makan.


"Enggak mirip lah, aku kan dulu siswa


baik dan rajin." Jawab Kevano dengan entengnya. Ia telah selesai dengan


piringnya, lalu berdiri di dekat Kesya. "Kenapa?"


"Enggak mirip gimana? Nakalmu itu udah


mencapai batas tahu, sukanya ngetrek, kebut-kebutan. Untung Keylan gak main


gituan."


"Kalau Keylan main gituan, gimana?"


tanya Kevano, Kesya menghentikan cuci piringnya lalu menghadap kearah Kevano.


"Enggak ya, aku gak mau Keylan jadi


anak nakal. Cukup Papanya aja."


"Tapi, anak seusia dia, masih suka


cari jati diri, Ma. Gak baik kita larang."


"Baik, makanya aku gak ngebolehin dia


punya motor sendiri." Kata Kesya melanjutkan cuci piringnya. "Lagi


pula, Pa. Jati diri gak perlu di Cari dengan cara gak baik. Emang kamu mau


keadaan yang sudah menimpa kamu dulu terulang sama Keylan?"


Mendengar ucapan Kesya, Kevano hanya bisa


menggelengkan kepalanya. Memang benar apa yang di katakan Kesya, meskipun


Kevano mengatakan bawah Keylan perlu mencari jati dirinya, nyatanya sebagai


seorang Mama Kesya lebih memahami apa yang terbaik untuk Keylan.


Kesya masih mencuci piringnya, saat Kevano


berjalan mendekati Kesya dan berdiri dibelakangnya, sambil memeluk Kesya dari


belakang.


"Apaan sih, Pa. Mama siram nih."


Kata Kesya berusaha melepaskan pelukan Kevano.


"Udah lama Papa gak peluk Mama, emang


gak boleh apa? Terkahir kali gini kan pas Mama hamil Keylan." Ucap Kevano.


"Ih, udah tua juga. Meluk di kasur kan


sering." Gelak Kesya.


"Hus, itu beda lah." Ujar Kevano.


Kesya terdiam mendengar ucapan Kevano, dia


melanjutkan mencuci piringnya. Di saat seperti itu, tiba-tiba saja Keylan


berdiri tak jauh dari keduanya.


"Hayo, Mama sama Papa mau


ngapain?" ucap Keylan mengagetkan Kesya dan Kevano.


"Kamu ngagetin aja," Kata Kevano


sambil melepaskan pelukan nya pada Kesya.


"Papa ngapain sih peluk Mama


gitu?" tanya Keylan lagi malah penasaran, meskipun sebenarnya ia


bena-benar ingin tahu.


"Kepo, dah sana masuk kamar


kamu." Perintah Kevano.


Keylan mengindahkan ucapan sang Papa, lalu


berjalan menuju kamarnya, dengan santai.


Sesampainya di dalam kamar, Keylan


mengambil ponselnya sambil merebahkan diri diatas kasur.


Tak ada yang ingin ia kerjakan selain


berstalking riya semua akun sosmed milik sang gadis pujaan, Aresti.


Mengingat soal Aresti, Keylan jadi


mengingat tentang tantangan yang di berikannya. Sampai hari ini Keylan belum


juga mendapatkan motor untuk dia bawa adu balap nanti.


Padahal hari balapan tinggal lima hari


lagi, dan ia belum menemukan satu pun titik terang dari siapa yang bisa


memberikannya fasilitas motor itu.


Jika meminta pada sang Mama itu sangat


tidak mungkin, karena sang Mama pasti menolak dan akan memarahinya. Meskipun


yang papa membolehkannya.


Keylan juga tak mungkin pinjam motor Raka


yang hanya matic biasa. Ia ingin membeli dengan uang tabungannya, tapi terasa


tak mungkin karena akan menambah masalah bagi dirinya dan sang Mama.


Atau ia meminta saja pada sang Nenek,


karena ia dan Raka cuci kesayangan dari orang kaya raya pasti diberikan.


Meskipun itu juga terlihat mustahil.


Keylan tak bisa melepaskan balapan itu


karena sudah berjanji akan mengikutinya, lagi pula Aresti adalah gadis yang


sudah di sukanya sejak lama, dan saat mengajukan syarat untuk menjadi pacar, ia


lansung menerima.


Aresti yang cantik dan menggemaskan selalu


berhasil membuat Keylan diambang batas bahagia. Keylan tak tahu dari mana


perasaan itu yang pasti ia sangat bahagia.


Sebelum pergi kerumah sang Nenek besok, ia


meminta Raka mengantarkannya. Lalu ia mencari nomor Raka dan menghubungi


nomornya.


Semantara itu Raka, tengah menikmati makan


malamnya bersama Orangtua dan Shila si adik perempuan nya yang masih sekolah


Dasar.


Saat tiba tiba ponselnya berbunyi, Reka


belum berniat menjawabnya saat sang Mama (Shiha) menegurnya.


"Hallo." sapa Raka pada Keylan


yang ada di ujung telephone sana. "Hah, iya, oke besok habis


sekolah."


Setelah itu Keylan lalu memutuskan sambungan


itu dan berniat kembali menyantap masakan sang Mama.


"Siapa?" tanya Ruben pada Raka.


"Keylan, Pa." Jawab Raka.


"Ngapain dia?" kini Shiha yang


bertanya.


"Besok dia ngajak kerumah nenek.


Katanya lama gak main kesana." Kata Raka.


"Oh gitu." Ucap Shiha.


"Keylan gimana pas di sekolah?"


tanya lagi Ruben.


"Ya gitu lah, Pa. Masih tetap nakal


kayak dulu."


"Kasih tau dia nya, Ka. Masa mau nakal


terus dia setahun lagi lulus lho." Ucap Ruben.


"Halah sudah sering, Pa. Emang dianya


aja yang bandel dikasih taunya, Pa." Ujar Raka.


Memang berita kenakalan Keylan bukan sesuatu yang


baru bagi Keluarga Putra, Keylan sudah begitu saat ia dan Raka masih kecil,


jadi keluarga Putra tidak heran.