
Bian menyiramkan air mawar di atas tanah
kuburan, kemudian menaburkan kembang setaman.
Ia tak habis pikir, begitu cepat masalah
berlalu. Padahal rasanya baru kemarin ia masuk dalam wahana mematikan dengan si
penulis skenario yang menakutkan. Sekarang semaunya sudah berakhir.
Bian mengelus batu nisan itu, lalu berniat
beranjak pergi dari sana. Saat membalikkan badan, ia berpapasan dengan Kesya.
Wajah Kesya nampak canggung begitupun Bian,
ini kali pertama bertemu Kesya saat tengah berziarah di makam yang sama.
Bian tak berucap sepatah kata pun, ia hanya
berlalu pergi dan membiarkan Kesya berziarah dengan kusyuk disana.
Belasan tahun sudah, ia tak pernah terlibat
pembicaraan lagi dengan Kesya. Kesya Kemungkinan masih sakit hati dengan semua
yang terjadi.
Bagaimana mungkin seorang perempuan yang
telah kehilangan keperawanan nya sebelum menikah bisa berhenti memaafkan si
lelaki. Itu nampak mustahil.
Dari ujung makam tempat dimana Bian
memarkirkan mobilnya, ia melihat Kesya tengah membacakan ayat suci Alquran dan
doa yang ia panjatkan.
Kesya masih terlihat terpukul atas
kehilangan sang Papa yang sangat di sayangnya. Bian bisa merasakan frekuensi
getir dalam diri Kesya.
Bian pun merasa bersalah atas kematian Tuan
Susanto. Ia seperti penyebab dari semua itu, meskipun berulang kali Mama dan
Papanya mengatakan itu sudah kehendak Tuhan, tapi ia tetap mereka bersalah.
"Ngapain kamu disini?" tanya
seseorang mengganggu Bian yang tengah mengamati Kesya.
Bian menoleh dan melihat pemilik sumber
suara itu, ternyata Yunda tengah berdiri di sampingnya sambil melihat padanya.
"Malah diam aja." sambung Yunda.
"Habis nyekar om Susanto." Jawab
Bian datar, ia memang tak begitu mengenal teman teman Kesya.
Yunda tak berkata lagi, sama sama diam
sepeti Bian lalu menatap Kesya yang masih begitu Kusyuk.
Tak berapa lama Kesya berjalan mendekati
keduanya setelah selesai melakukan hal itu. Raut wajah Kesya seperti tak suka
saat melihat Bian masih ada disana.
Muak rasanya, melihat Bian yang terus hadir
dalam hidupnya meskipun mereka masing masing sudah memiliki keluarga.
Sesampainya di sana, Kesya langsung menarik
tangan Yunda untuk menuju mobil. Kesya berusaha bersikap biasa, karena ia tahu,
ia sudah terlalu tua untuk mengambek.
"Kes, aku mau ngomong." Kata Bian
akhirnya, suara yang bertahun-tahun tersimpan dalam tenggorokannya kini keluar
dengan sendirinya.
Kesya sempat berhenti, kemudian menjalankan
langkahnya kembali. Hampir menarik pintu mobil tapi Bian lebih dulu
mencegahnya.
Pintu mobil itu kembali tertutup, Yunda
yang melihat keduanya yang akan terlibat masalah serius tak mau ikut campur.
Dan akhirnya masuk lebih dulu kedalam mobil nya.
Sementara itu Kesya membalikkan badannya,
menoleh kearah Bian. Ia belum berucap apapun pada Bian, dari tatapan matanya
nampak ia tak suka.
"Sudah hampir dua puluh tahun, kenapa
kamu belum bisa memaafkanku?" sambil Bian, berusaha bersikap setengah
mungkin. "Aku sudah meminta maaf atas kesalahanku. Sampai kapan kamu mau
buat aku merasa bersalah?"
Rentetan kata dari Bian itu tak sedikit pun
membuat Kesya bergeming, wajahnya yang datar semakin mendatar.
"Jawab aku," kata Bian lagi.
"Aku berusaha memaafkan perlakukan Papa mu yang sudah membuat Papaku
hancur, membuat aku dan Renata kekurangan kasih sayang sejak. Tapi, hanya
karena itu kamu tak memaafkanku."
"Hanya karena itu?" akhirnya
kalimat itu keluar dari mulut Kesya. "Jika saja bukan Kevano yang
menikahiku dulu, sampai sekarang aku belum tentu menikah. Lagi pula Papaku
sudah meninggal."
"Lalu apa aku harus meninggal dulu
agar kamu memaafkan ku?" tanya Bian.
Mendengar pertanyaan Bian itu, Kesya malah
membalikkan tubuhnya, membuka pintu mobil dan masuk kedalam.
Dari dalam terlihat bahwa Kesya menyuruh
Yunda untuk menjalankan mobil nya.
Setelah itu mobil berlalu pergi dan
meninggalkan Bian disana sendiri. Masih dengan pikiran yang kacau dan tak tahu
harus melakukan apapun, karena Kesya
belum juga mengatakan tentang permintaan maaf itu.
Dulu saat di penjara Kesya memang
mengatakan akan berusaha melupakan semuanya, tapi nyatanya sampai sekarang
belum di lupakan.
Bian kemudian membawa mobilnya ikut pergi
dari sana.
Sementara itu Kesya yang saat ini berada di
mobil bersama Yunda. Kesya masih terdiam dalam seribu bahasa, ia tak tahu harus
melakukan apa lagi.
Semenjak Kematian sang Papa dan banyak
masalah terbongkar yang tak pernah ia tahu, ia mulai menyesal terlalu
menyalahkan Bian atas semua hal.
Dalam dari semua masalah keluarga Bian
memang Papanya, papa yang selama ini baik padanya ternyata menyimpan dendam
yang tak berkesudahan.
Hal itu ia tahu setelah tuan Tedi
mengatakan sesaat setelah kematian sang Papa.
Lagi pula sebenarnya meskipun ia sudah tak
perawan, Kevano masih tetap bersamanya sampai sekarang. Jadi mungkin jika ia
terlalu menyalahkan Bian, ia juga salah.
"Kes," Ucap lirih Yunda sembari
mengemudi.
Kesya menoleh, memperhatikan Yunda.
"Kamu masih kepikiran sama perkataan
Bian tadi?" sambung Yunda.
"Apa aku salah jika masih marah dengan
Bian, meskipun sudah belasan tahun
lebih?" tanya Kesya.
Yunda mengerutkan keningnya, dia tahu apa
yang di maksud sahabatnya itu.
"Salah tidak, tapi aku yakin kamu tahu
kalau kamu masih gengsi untuk memaafkan Bian. Tapi, ayolah kita sudah sama sama
tua. Usia kita tidak cocok untuk saling marah dan ngambek lagi." ucap
Yunda.
Kesya paham dengan ucapan Yunda itu, memang
harusnya ia melupakan segalanya. Tapi, setiap berusaha melupakan permasalahan
itu, Bian tetap hadir dalam pikirannya.
Ia pikir setelah Bian keluar dari penjara,
Bian akan berusaha mengejarnya lagi. Ternyata tidak. Bian bahkan tak pernah
muncul, muncul pun itu saat pemakaman sang Papa.
Saat Kesya masih bingung dengan dirinya
sendiri. Bian menjalankan mobilnya dengan pikiran yang berusaha ia tenangkan.
Tujuh belas tahun lalu, setelah Bian keluar
dari penjara. Ia merasakan kebebasan yang teramat sangat. Setelah bebas ia
langsung mencari laki laki itu, laki laki tak lain Papa dari Kesya.
Namun sayangnya ia terlambat, sehari
sebelum ia bertemu dengan nya. Tuan Susanto lebih dulu pergi ke Amerika. Tapi,
naas pesawat yang di tumpangi tuan Susanto jatuh tak lama setelah lepas landas.
Tuan Susanto di nyatakan tewas dan pulang
dalam keadaan susah menjadi mayat. Bian yang berniat balas dendam, malah tak
tega dengan apa yang terjadi.
Ia berusaha menyalahkan diri sendiri, jika
seandainya Ia tak berniat mengejar tuan Susanto, pasti tuan Susanto tak pergi.
Karena tuan Susanto tahu tujuan utama Bian keluar adalah balas dendam.
Setelah kematian tuan Susanto,Tedi sang
Papa mengatakan semua yang terjadi pada Nyonya Susan dan Kesya. Awal nya mereka
menolak tapi akhirnya menerima semua kenyataan yang ada.
Belasan tahun sudah berlalu, tak ada lagi
permasalahan dalam hidupnya. Bahkan ia sekrang tak menjadi pengacara lagi,
karena sibuk membangun bisnis milik keluarganya, menikah bersama seorang perempuan
yang selalu menjenguknya didalam penjara. Laras.
%%%
"Woy jangan curang, Pa. Ah, gak
asyik." Ucap Keylan sambil melempar stick nya di samping PS. Sambil dia
memasang wajah datar.
Untuk ketiga kalinya dalam malam ini,
Keylan kapan bermain game dengan sang Papa. Keylan sebal, setiap mencoba
memenangkan game, sang Papa Kevano selalu saja punya trik dan cara untuk
membuatnya kesal.
"Loh-loh jangan gitu, masa kalah
ngambek. Kayak cewek aja." Ujar Kevano sambil mengejek Keylan yang masih
memasang wajah tak peduli. "Ayo main lagi, cari game lain."
"Moba atau Garena, di HP deh."
Usul Keylan.
"Oke, siapa takut." Kata Kevano
sambil menyusul Keylan duduk di sofa dan mengambil ponsel pintarnya yang
awalnya tergeletak di atas meja. "Papa pakai ini, ya?"
"Mana lihat." Keylan menengok
ponsel papanya, lalu sedikit kaget. "Papa curang, kok ada skin itu. Keylan
mau juga."
"Beli dong." Kevano mencibir
Keylan.
"Bagi duit." Keylan mengatungkan
tangannya pada Kevano.
"Enggak boleh."
Keylan kembali memasang wajah tak suka.
Kemduian..
"Ma!" Teriak Keylan, tapi belum
sempat melanjutkan, Kevano sudah membungkam mulut Keylan dengan telapak
tangannya. "Pawpah, Bewli Skiwn Mwahal."
Mendengar teriakan Keylan Kesya dari kamar
berteriak, lalu keluar dari pintu. "Kenapa sih Key?"
"Enggak jadi, Ma." Kata Keylan
nyengir. Karena sebelumnya sang Papa janji akan memberikannya uang untuk
ngegame.
"Mama mau bersihkan bajumu, besok udah
gak kamu pakai lagi kan seragam yang numpuk itu?" tanya Kesya kemudian.
"Enggak, Ma. Besok kan pakai
batik." Jawab Keylan, sudah mulai fokus bermain game bersama Kevano.
Kesya berjalan masuk kedalam kamar Keylan,
kamar yang berulang kali ditata tapi tetap saja terus berantakan,
membingungkan. Apa yang sebangsanya di lakukan Keylan didalam kamarnya? Begitu
terus pikir Kesya.
Saat Kesya sibuk dengan kamar Keylan,
Keylan dan Kevano bermain game dengan volume yang sengaja di kencang kan.
Alhasil suara teriakan, padang dan pertempuran nampak jelas.
Lalu...
"Keylan!" Teriak Kesya dari kamar
Keylan.
Keylan kaget, ponselnya hampir saja
terjatuh. Begitu juga Kevano yang mendengar teriakan Kesya ikut bingung.
Keduanya langsung bergegas menuju tempat di mana Kesya berada.
"Kenapa, Ma?" Tanya Keylan.
"Iya, kamu kenapa, Ma?" tanya
Kevano mengulang.
Kesya berjalan mendekati keduanya yang
masih berada diambang pintu, sambil membawa amplop berwarna putih.
"Ini baca, Pa." suruh Kesya pada
Kevano.
Kevano menerima amplop itu, membukanya lalu
membaca nya. Dengan jeli Kevano melihat rentetan tulisan berketik itu dengan
bagian bawah berstempel, kemudian tak lama menutupnya kembali.
Dan
Kemduian
Cetak!
Dengan sedikit keras Kevano menjitak kepala
Keylan.
"Aw!" Teriak Keylan sambil
memegang atas kepalanya. "Sakit, Pa."
"Ini kenapa kamu gak bilang?"
tanya Kevano.
Lagi lagi Keylan hanya bisa nyengir.
"Keylan lupa ngasih tau Papa sama Mama."
"Itu kenapa lagi kamu di panggil,
pasti nakal kan?" kini tanya Kesya.
Keylan menggeleng perlahan.
"Enggak kok, Keylan cuma manjat tembok
sama ngotorin lapangan." Jawab Keylan dengan entengnya.
"Itu namanya nakal Keylan. Lain kali kalau
dapat surat bilang sama Papa atau Mama." Kata Kesya.
"Iya, lain kali Keylan bilang."
Ucap Keylan pelan.
"Gak ada lain kali, kalau lain kali
berarti kamu mau nakal lagi." Ujar Kevano. "Biar besok Papa yang
"Serius, Pa?" tanya Keylan
sumringah.
"Gak bisa Mama aja, besok Papa pak
sibuk kerja." Sergah Kesya.
"Enggak kok, Ma. Biar Papa aja. Mama
urus Resto aja, sesekali Papa juga pengen jadi wali murid."
Mendengar ucapan itu, Keylan mengelus
dadanya sambil mengucap syukur dalam hati. Jika yang datang sang Mama, pasti
disana sang Mama ikut mengomelinya dan setelah selesai tetap saja mengomel.
Sampai sakit telinganya.
"Seneng kamu, ya." Ucap Kesya.
"Banget." Jawab Keylan.
"Udah-udah, ayo main lagi. Bisa kalah
kita." Ucap Kevano.
Setelah itu Kevano dan Keylan berjalan
kembali menuju Sofa dan melanjutkan permainan game mereka yang sempat tertunda
karena omelan Kesya.
Kalau Kesya sudah mengomel, Keylan dan
Kevano kompak untuk diam dan hanya mengangguk, karena jika tidak Kesya akan mengeluarkan
tanduk amarahnya sebagai the power of emak emak.
"Kiri-kiri, itu sampingmu musuh,
Key." Ucap Kevano sibuk bermain game dengan Keylan. Mereka satu tim.
"Eh dia bukan tim kita?"
"Bukan, habisi."
Kadang pemandangan seperti itu sering
sekali terlihat di keluarga Kecil Keke. Meskipun Kevano dan Kesya sama-sama
sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing, tapi mereka selalu menyempatkan
pulang tak telat.
Mereka selalu ingin melihat tumbuh kembang
Keylan, tanpa bantuan orang lain. Apalagi bagi Kesya.
Dulu saat Keylan berusia tiga tahun, ia
tiba tiba saja sakit. Dan sakit itu hampir merenggut dirinya. Kesya bingung dan
sudah diambang batas dirinya.
Pengobatan sudah ia jalani, bahkan hingga
kemo, tapi semuanya hampir mustahil. Kanker itu menyerang dirinya begitu jauh.
Tapi, semangat hidupnya membuat Kesya
kembali bangkit. Dan setelah operasi pengangkatannya kanker, akhirnya ia sembuh
total dan sekarang ia bisa selalu melihat tingkah konyol Keylan dan Kevano sang
suami.
Tak berbeda dengan Kesya, Kevano pun
merasakan hal yang sama. Kantornya semakin besar, dan pekerjaannya begitu sibuk
banyak menyita waktu nya. Tapi, ia ingin melihat anaknya tumbuh sedikit demi
sedikit.
Kevano ingin merasakan menjadi orang tua
seutuhnya, ingin setiap pulang melihat istri dan anaknya ribut dirumah, membuat
suasana rumah semakin meriah.
"Papa sama Mama gak pengen nambah
adek," tanya Keylan beberapa tahun lalu saat ia masih duduk di bangku
sekolah menengah pertama.
Mendengar ucapan Keylan, Kesya dan Kevano
saling tatap. Bukan mereka tidak mau, tapi tidak bisa.
Karena bukan hanya kanker saja yang
diangkat tapi juga rahim milik Kesya, karna penyakit itu ada di rahim Kesya.
"Nanti kalau Keylan udah lulus
sekolah, Papa sama Mama punya adek." Jawab Kevano.
"Kenapa gitu?" tanya Keylan lagi.
"Emang Keylan mau kalau uang jajannya
di bagi sama adek?"
Keylan terdiam sesaat, lalu menggeleng
perlahan.
"Nah, jadi nanti saja kalau mau punya
adek." sambung Kevano.
Sementara Kesya tak banyak bicara saat itu,
ia tak ingin Keylan mengetahui apa yang sudah terjadi padanya. Ia hanya ingin
Keylan tahu bahwa ia memilik masa lalu unik bersama Kevano yang seorang
Berondong.
Saat mendengar bahwa dulu Papanya adalah
Berondong. Entah bagaiamana, Keylan juga ingin menjadi Berondong yang menikahi
seorang perempuan yang lebih tua darinya. Yang memiliki uang yang lebih matang
dari.
Meksipun berulang kali, Kevano mengatakan
bahawa ia seharusnya menikah dengan perempuan yang memiliki usia yang seumuran
dengannya, tapi Keylan tak peduli.
Tapi itu dulu, nyatanya sekarang Keylan
tergila gila dengan gadis bernama Aresti, seorang gadis yang membuat dunianya
tak bisa berputar dengan cara yang tepat.
%%%
Malam Harinya
"Gimana tadi di sekolah? Apa kata guru
BK nya? Keylan di Keluarin ya?" tanya Kesya sambil menyuapkan makanan ke
dalam mulutnya.
"Ih Mama doanya kok gitu banget sih
buat anak sendiri." rungut Keylan.
"Kan ini bukan pertama kamu di tegur
jadi wajar kalau Mama mikirnya gitu." Ucap Kesya dengan santainya, tak
peduli dengan raut anaknya yang tak suka.
Tapi, itu biasa. Drama makan malam dan
sarapan yang biasa terjadi di keluarga Kecil nya. Jika tak seperti itu pasti
keluarga Kecil bernama Keke itu akan terasa sepi.
"Enggak kok Ma, teguran aja. Biasalah
Keylan kan emang bandel." Jawab Kevano atas pertanyaan Keylan.
"Kalau dia di keluarin dari sekolah
kan lumayan, Pa. Dia bisa jadi OB di Resto Mama." Terus ucap Kesya,
semakin membuat Keylan tak suka.
"Pa, lihat Mama tu. Kejam banget sama
Keylan. Keylan anak kandung bukan sih,"
"Bukan." Jawab Kesya dan Kevano
bersamaan bahkan terlihat kompak membuat drama.
"Bodo amat. Gini banget Ya Allah my
parent." Ucap Keylan seolah tak peduli dengan perkataan Kesya dan Kevano,
karena Keylan tahu itu hanya sebuah guyonan dari orangtuanya.
"Kalau kamu benar bukan anak Papa sama
Mama gimana?" tanya Kesya melanjutkan pembicaraan tak jelas itu.
"Aku akan mengemas barang, dan pergi
mencari orangtuaku." Jawab Keylan ikut berdrama.
"Gak perlu cari, orangtuamu itu Mang
Kusno (Supir)." Ucap Kevano menambahi.
"Seriusan? Pantesan aku merasa mirip.
Mang Kus, jadilah orangtua Keylan mulai dari sekarang!" Teriak Keylan.
"Bagus Ma, kita kekurangan jatah
beras." Kata Kevano.
Lalu Kesya dan Kevano menahan tawanya
karena makanan yang masih berada di mulutnya.
Ketiga nya menikmati makanan buatan Kesya,
dan tak berapa lama meraka selesai dengan makanan yang telah mereka nikmati.
Keylan berlalu menuju kamarnya, sementara
Kevano membantu Kesya membereskan semua bekas makanan.
"Kamu ngerasa gak sih kalau Keylan itu
mirip kamu pas masih sekolah?" tanya Kesya saat ia mencuci piring, Kevano
membereskan peralatan diatas meja makan.
"Enggak mirip lah, aku kan dulu siswa
baik dan rajin." Jawab Kevano dengan entengnya. Ia telah selesai dengan
piringnya, lalu berdiri di dekat Kesya. "Kenapa?"
"Enggak mirip gimana? Nakalmu itu udah
mencapai batas tahu, sukanya ngetrek, kebut-kebutan. Untung Keylan gak main
gituan."
"Kalau Keylan main gituan, gimana?"
tanya Kevano, Kesya menghentikan cuci piringnya lalu menghadap kearah Kevano.
"Enggak ya, aku gak mau Keylan jadi
anak nakal. Cukup Papanya aja."
"Tapi, anak seusia dia, masih suka
cari jati diri, Ma. Gak baik kita larang."
"Baik, makanya aku gak ngebolehin dia
punya motor sendiri." Kata Kesya melanjutkan cuci piringnya. "Lagi
pula, Pa. Jati diri gak perlu di Cari dengan cara gak baik. Emang kamu mau
keadaan yang sudah menimpa kamu dulu terulang sama Keylan?"
Mendengar ucapan Kesya, Kevano hanya bisa
menggelengkan kepalanya. Memang benar apa yang di katakan Kesya, meskipun
Kevano mengatakan bawah Keylan perlu mencari jati dirinya, nyatanya sebagai
seorang Mama Kesya lebih memahami apa yang terbaik untuk Keylan.
Kesya masih mencuci piringnya, saat Kevano
berjalan mendekati Kesya dan berdiri dibelakangnya, sambil memeluk Kesya dari
belakang.
"Apaan sih, Pa. Mama siram nih."
Kata Kesya berusaha melepaskan pelukan Kevano.
"Udah lama Papa gak peluk Mama, emang
gak boleh apa? Terkahir kali gini kan pas Mama hamil Keylan." Ucap Kevano.
"Ih, udah tua juga. Meluk di kasur kan
sering." Gelak Kesya.
"Hus, itu beda lah." Ujar Kevano.
Kesya terdiam mendengar ucapan Kevano, dia
melanjutkan mencuci piringnya. Di saat seperti itu, tiba-tiba saja Keylan
berdiri tak jauh dari keduanya.
"Hayo, Mama sama Papa mau
ngapain?" ucap Keylan mengagetkan Kesya dan Kevano.
"Kamu ngagetin aja," Kata Kevano
sambil melepaskan pelukan nya pada Kesya.
"Papa ngapain sih peluk Mama
gitu?" tanya Keylan lagi malah penasaran, meskipun sebenarnya ia
bena-benar ingin tahu.
"Kepo, dah sana masuk kamar
kamu." Perintah Kevano.
Keylan mengindahkan ucapan sang Papa, lalu
berjalan menuju kamarnya, dengan santai.
Sesampainya di dalam kamar, Keylan
mengambil ponselnya sambil merebahkan diri diatas kasur.
Tak ada yang ingin ia kerjakan selain
berstalking riya semua akun sosmed milik sang gadis pujaan, Aresti.
Mengingat soal Aresti, Keylan jadi
mengingat tentang tantangan yang di berikannya. Sampai hari ini Keylan belum
juga mendapatkan motor untuk dia bawa adu balap nanti.
Padahal hari balapan tinggal lima hari
lagi, dan ia belum menemukan satu pun titik terang dari siapa yang bisa
memberikannya fasilitas motor itu.
Jika meminta pada sang Mama itu sangat
tidak mungkin, karena sang Mama pasti menolak dan akan memarahinya. Meskipun
yang papa membolehkannya.
Keylan juga tak mungkin pinjam motor Raka
yang hanya matic biasa. Ia ingin membeli dengan uang tabungannya, tapi terasa
tak mungkin karena akan menambah masalah bagi dirinya dan sang Mama.
Atau ia meminta saja pada sang Nenek,
karena ia dan Raka cuci kesayangan dari orang kaya raya pasti diberikan.
Meskipun itu juga terlihat mustahil.
Keylan tak bisa melepaskan balapan itu
karena sudah berjanji akan mengikutinya, lagi pula Aresti adalah gadis yang
sudah di sukanya sejak lama, dan saat mengajukan syarat untuk menjadi pacar, ia
lansung menerima.
Aresti yang cantik dan menggemaskan selalu
berhasil membuat Keylan diambang batas bahagia. Keylan tak tahu dari mana
perasaan itu yang pasti ia sangat bahagia.
Sebelum pergi kerumah sang Nenek besok, ia
meminta Raka mengantarkannya. Lalu ia mencari nomor Raka dan menghubungi
nomornya.
Semantara itu Raka, tengah menikmati makan
malamnya bersama Orangtua dan Shila si adik perempuan nya yang masih sekolah
Dasar.
Saat tiba tiba ponselnya berbunyi, Reka
belum berniat menjawabnya saat sang Mama (Shiha) menegurnya.
"Hallo." sapa Raka pada Keylan
yang ada di ujung telephone sana. "Hah, iya, oke besok habis
sekolah."
Setelah itu Keylan lalu memutuskan sambungan
itu dan berniat kembali menyantap masakan sang Mama.
"Siapa?" tanya Ruben pada Raka.
"Keylan, Pa." Jawab Raka.
"Ngapain dia?" kini Shiha yang
bertanya.
"Besok dia ngajak kerumah nenek.
Katanya lama gak main kesana." Kata Raka.
"Oh gitu." Ucap Shiha.
"Keylan gimana pas di sekolah?"
tanya lagi Ruben.
"Ya gitu lah, Pa. Masih tetap nakal
kayak dulu."
"Kasih tau dia nya, Ka. Masa mau nakal
terus dia setahun lagi lulus lho." Ucap Ruben.
"Halah sudah sering, Pa. Emang dianya
aja yang bandel dikasih taunya, Pa." Ujar Raka.
Memang berita kenakalan Keylan bukan sesuatu yang
baru bagi Keluarga Putra, Keylan sudah begitu saat ia dan Raka masih kecil,
jadi keluarga Putra tidak heran.