My Berondong Husband

My Berondong Husband
#8 Teguran Dari Pak Bos Ruben



Kesya buru-buru mengambil sepatunya lalu menutup pintu apartementnya untuk berangkat kerja, tapi sesaat setelah mengunci pintu dan berbalik, ia hampir kaget saat melihat Kevano berdiri dibelakangnya.


"Ya Allah, ngapain sih kamu pagi-pagi udah nongol disini?" Kata Kesya merajuk.


"Kita kan sekantor, jadi gimana kalau kita berangkat bareng,"


"Enggak perlu. Makasih."


"Ayolah, aku bawa motor jadi kita cepat sampai dan gak kena macet."


"Enggak mau Kevano." Ujar Kesya sambil berjalan meninggalkan Kevano yang mematung disana.


Melihat Kesya berjalan menjauh dan meninggalkannya, Kevano mengekor dibelakang Kesya sambil terus memaksa untuk naik motor bersamanya. Tapi, Kesya terus saja menolak.


Sesampainya diluar apartement dan dihalte bus, Kesya masih enggan ikut dengan Kevano.


"Hari ini kamu meeting kan?" Ucap Kevano dengan memasang wajah santainya.


Mendengar ucapan Kevano, Kesya menoleh dan menatapnya, bagaimana Kevano tahu jika ia hari ada meeting.


"Aku tahu kok. Gak usah lihat gitu banget lah." sambkenk j Kevano. "Kalau telat, pak bos bisa marah lho."


"Cukup. Yaudah ayo."


Mendengar nama pak bos Kesya tiba-tiba merinding, apalagi jika mengigat wajah pak bos yang chubby menyeramkan, bukannya imut.


"Siap." Kevano mengambil motor gedenya yang terparkir didekat apartement, setelah mengambil motornya lalu ia memberikan helm pada Kesya."Hati-hati kepalanya, dipasar gak ada yang jual."


Kesya mengambil helm dari tangan Kevano, duduk diatas motor Kevano, sesaat setelah itu motor berjalan seperti biasa. Meskipun saat itu pikiran Kesya masih tetap was-wasa, jika mereka tak sampai tempat kerja tepat waktu.


"Kita mau lewat mana?"


"Jalan Karunya, disana ada jalan tikusnya."


"Bukannya itu jalan kecil banget ya, emang motor bisa lewat?"


"Tenang saja, aku ini mantan pembalap pas SMA."


"Sampai nyasar, kupotong palamu."


Kevano tak menjawab, hanya mengangguk sambil mengedipkan mata sebelah kirinya.


Motor yang Kevano dan Kesya kendarai mulai berjalan lebih cepat saat telah melewati kerumunan kendaraan dijalan raya. Sekarang mereka mulai masuk kedalam gang sempit, dari plang tertulis gang Kemuning, setelah masuk gang mereka masuk lagi kedalam jalan kecil dan sempit, Karunya.


Itu hanya jalan setapak, yang samping kanan kirinya dipenuhi semak belukar dan pepohonan yang lumayan tinggi. Motor yang mereka kendarai bahkan beberapa kali hampir terjatuh, meski hanya oleng.


"Kamu ngerti jalan gak sih?"


"Ngerti kok. Tapi, bentar deh." Kevano menghentikan motornya, lalu menyalakan ponsel dan membuka sebuah aplikasi. "Kita lihat maps."


Melihat Kevano hanya bisa nyengir dan tersenyum, Kesya semakin kesal karena sudah setengah delapan ia belum setengah jalan kekantor. Apalagi setengah jam lagi meeting dimulai, tak mungkin ia telah.


Kesya ingat, dulu saat terlambat mengantor ia mendapat teguran keras pak bos dan gajihnya dipotong dua puluh persen, padahal saat itu ia habis kredit ponsel dan lainnya.


"Gimana, ketemu gak jalannya?" Tegur Kesya, saat Kevano terus saja mengecek maps yang sejak tadi tak ada habisnya.


"Kayaknya dimaps jalan ini gak ada deh."


"Terus gimana?"


"Udah jalan aja." Ucap Kevano lalu menjalankan motor gedenya kembali.


Terus saja motor itu berjalan, dan anehnya jalan itu seperti tak ada habisnya. Saat sampai dipersimpangan, Kevano selalu ambil inisiatif bahwa kanan itu baik, jadi ia berjalan kearah kiri.


Mereka terus saja mengikuti jalan itu, hingga benar-benar nampak beberapa kendaraan yang lalu lalang berlawanan arah dengan jalan mereka. Sampai mereka keluar dari jalan sempit tadi.


"Nah kita keluar, kan?" Ucap Kevano dengan sumringah, seakan ia habis melewati halangan paling berat yang pernah ada.


Meskipun Kevano bilang begitu, Kesya tetap tidak merasa bahagia, malah ia semakin terlihat gusar.


"Keluar, keluar. Gak lihat apa, kita ini didepan toko rumah buku, itu artinya sekitar sepuluh kilo meter dari kantor. Hancur dah reputasiku dikantor, gagal naik pangkat." Kesya mengucek matanya seakan ia akan menangis padahal ia hanya ingin membuat suasana tambah dramatis.


"Keburu aja lah, jalan ini sepi jarang macet."


"Keburu gimana? Ini hampir jam delapan, aku bisa ketinggalan absen sekaligus meeting."


"Jangan ngoceh terus. Pegangan!" Teriak Kevano kemudian, mendengar itu Kesya refleks memegang pinggang Kevano, dan..


Wus...


Kevano terus menarik gasnya, memasukan dan mengeluarkan gigi sambil menarik kopling secara bergantian. Kecepatan jauh dari yang pernah Kesya bayangkan, ini tidak seperti kecepatan tadi saat digang sempit. Sepertinya Kevano tidak main-main dengan kata 'Mantan Pembalap.'


Kesya semakin mempererat pelukannya, ia tidak menggunakan sabuk pengaman, hanya sebuah helm, bagaimana jika ia jatuh, siapa yang akan bertanggungjawab, asuransinya belum cukup untuk membiaya jika ia masuk rumah sakit. Terus saja pertanyaan itu bergantian dikepalanya, bergantian dengan rasa takut dan kalut.


Sementara itu Kevano terus saja membawa motor itu melaju, menyalip banyak kendaraan yang ada dijalanan, seperti ia sudah paham kondisi yang ada. Dan untung saja tindak ada satupun polisi yang terlihat disana. Karena sebenarnya Kevano belum memiliki Surat Izin Mengemudi, motor itupun milik Ruben, abangnya.


%%%


Kesya hendak menarik pintu ruang meeting, tapi pintu itu lebih dulu terbuka dan orang-orang yang tadinya meeting sudah keluar. Melihat mereka semua, ia hanya bisa menunduk dan mematung, ia menunggu respon yang akan diberikan pak Bos.


Belum saja pikirannya bisa jernih, pak Bos sudah berdiri didepanya dengan wajah datarnya yang membuat Kesya semakin takut.


"Ikut ke ruangan saya."


Tanpa ucapan Kesya mengikuti Pak bos berjalan masuk kedalam ruangan ya. Ia sudah pasrah jika pak Bos memarahinya, atau memberinya surat teguran, mau bagaimana lagi ini memang salahnya.


Kesya menarik bangku yang menghadap langsung meja pak Bos, sementara pak Bos masih sibuk dengan lemarinya hingga kemudian mengambil sebuah map berwarna merah.


"Kamu tau kan kenapa saya panggil kamu kesini?" Tanya pak Bos kemudian, sambil menaruh map merah tadi diatas meja.


"Pak maaf, pak. Saya tidak berniat telat, tadi saya sama Kevano, niatnya mau cari jalan pintas malah nyasar." Kesya merengek sambil mengiba, berusaha mengeluarkan air mata buayanya agar pak Bos mau memaafkannya.


"Kamu kerja disini bukan baru kemarin, dan kamu juga tahu kalau saya tidak mentolerir pegawai saya yang terlambat, apalagi sedang ada jadwal meeting."


"Tapi, pak..."


"Saya kasih SP 1."


"Pak, ini bukan salah saya."


Kesya terus merengek pada Pak Bos, tapi sepertinya Pak Bos tidak peduli. Malah membuka map tadi dan mengeluarkan isinya.


"Saya ingin kamu mempelajari itu, saya minta lusa harus ada berkasnya. Jangan telat, kalau sampai telat, gajih kamu saya potong dan saya tidak akan merekomendasikan kenaikan pangkat kamu, meskipun kamu sudah memenuhi target."


"Baik, Pak." Ucap Kesya lemas, lalu mengambil map itu dan memasukanya kedalam tas. "Saya permisi pak."


Kesya berdiri dan membenarkan kursinya, lalu berjalan keluar ruangan pak Bos dengan dongkol.


Sial.


Batin Kesya mengumpat, ini kedua kalinya ia terlambat dan pertama kali dalam empat tahun ia terkena surat peringatan, jika tidak karena bocah itu mungkin sekarang tenang makan cantik bersama trio kalong karena produknya diterimanya, tapi semuanya hancur. Sekali lagi ia membuat masalah, ia harus mengulang semuanya dari awal apa yang telah ia bangun.


Ditutupnya rungan pak Bos, berjalan menuju mejanya, lalu melemparkan pas nya kesembarang tempat hingga mengenai kepala Ganda.


"Aduh otak gue, ya ampun please gue gagar otak." Teriak Ganda membabi-buta saat terkena tas laptop Kesya yang berisi dengan laptopnya.


"Diwarung nasi padang banyak otak." Sergah Yunda.


"Mulut lu lemes, itu sih otak Bina.. Titt. Gue sensor. Entar gue bego lagi kayak lu."


"Sembarang nih makhluk tulang sumsum."


"Kalian bisa diam gak?! Kunikahin baru tau rasa!" Kata Kesya yang membuat Yunda dan Ganda menghentikan pertengkaran alay mereka, jika tidak berhenti mereka bisa saling jambak atau bahkan adu panco. "Aku lagi steres nih."


"Lu stress kenapa?" Ganda mendekati Kesya.


"Aku kena SP 1."


"Kok bisa sih, Kes. Gara-gara lu telat tadi, ya?"


"Iya gara-gara bocah sialan itu."


"Kevano maksud lu?" Tanya Yunda memastikan. Kesya mengangguk. "Kenapa sama dia?"


"Coba kalian pikir ya. Aku udah siap-siap tadi naik Bus, dia datang bawa motor buat jemput aku, ya kupikir naik motor bisa lebih cepat. Nyatanya enggak. Gue sedih, Yun, Ndis."


"Sabar deh Kes, lagian kan masih SP 1. Syukur-syukur lu gak dipecah."


"Mulutmu manis banget ya, Ndis. Sampai pengen aku ulek campur terasi, pakai nasi anget sama ikan asin."


"Wah enak tuh." Tanpa trio kalong sadari, Kevano ikut menyahut pembicaraan mereka, dan duduk diatas meja Kesya dengan nyaman, seakan mereka semua seumuran.


"Pala kamu enak." Jawab Kesya ketus. Mendatarkan wajahnya, lalu berpaling.


"Ngambek ya? Maaf deh, janji besok gak telat lagi."


"Gak ada besok-besok. Ini Pertama dan terakhir kalinya kamu jemput."


"Kenapa?"


"Gak ada pokoknya."


"Jemput gue aja deh besok, Kev." Ucap Ganda, sambil melunturkan tubuhnya, entah untuk apa.


"Kan ada ojek online." Kata Kevano sambil meninggalkan mereka yang masih berada disana.


Ia berjalan menuju ruangan pak Bos dengan gaya anak mudanya yang tak tahu aturan. Kadang para karyawan bingung apa yang dilakukannya dikantor. Kerja? Enggak. Belajar? Apalagi.


"Kan kalian lihat, emang gak tau aturan itu anak. Ih sebel banget." Ucap Kesya saat melihat Kevano sudah berjalan menjauh meninggalkan ia dan kedua anggota kalong.


"Malah bagi gue si Kevano itu sesuatu yang harus dilestarikan. Ganteng, keren, pemberani, dan ah gue bergetar." Yunda mulai mendramatisir keadaan sambil menggigit bibir bawahnya sebagai tanda yang mereka pahami.


"Angkut deh angkut."


"Eh lu mikir gak sih Kes, kenapa Kevano itu tiba-tiba muncul dalam hidup lu?" Tanya Ganda yang membuat Kesya ikut bertanya.


"Mungkin dia ketagihan sama bibir lu kali," Yunda menatap bibir Kesya lalu berusaha menyentuhnya. Tapi Kesya tepis.


"Dari kemarin aku juga mikir begitu."


"Atau Kes, jangan-jangan lu itu cuma buat taruhan sama teman-temanya buat ngebuktiin kalau dia bisa naklukin tante-tante."


"Aku bukan tante, Ndis. Lagian ini bukan cerita novel."


"Eh siapa tau, coba lu pikir. Dia itu kaya raya bahkan udah masuk konglomerat, masa dia deketin tante-tante buat cari duit. Apalagi gue yakin uang jajannya sebulan itu lebih dari gajih lu."


Yunda dan Kesya mengangguk-angguk, tanda paham.


Mendengar ucapan Ganda yang sepertinya serius, Kesya berpikir keras, sepertinya ucapan itu bisa dipertimbangkannya lagi, dan supaya ia tak mudah masuk perangkap Berondong Aneh itu.