My Berondong Husband

My Berondong Husband
#50 Karena ini Cinta



"Sayangku, kamu mau kemana?" Tanya Kevano saat melihat Kesya membereskan berkasnya yang berada diatas meja, lalu memasukkan kedalam tas.


"Kerja, Sya." ucap Kesya tanpa memperdulikan Kevano yang sudah berada dibelakangnya, sambil memeluk pinggang Kesya.


"Memang harus kerja ya? Gak istirahat aja, hamilmu makin besar lho." Kevano bersikap manja, saat Kesya membelikan badan.


"Biasanya juga begitu, kan, Sya. Lagian masih tiga bulan."


"Cuti aja sampai melahirkan."


Kesya diam, jika sikap manjanya datang, Kevano selalu bersikap seolah dia anak kecil yang butuh belaian.


"Aneh, ya gak bisa dong. Lagian aku pengen gerak. Kamu gak ingat ucapan dokter kemarin, kalau aku harus banyak aktifitas."


Kevano mengangguk. "Iya, tapi..."


"Enggak ada, tapi-tapi." Kesya memotong omongan Kevano.


Kesya lalu melepaskan pelukan Kevano, dan berjalan menuju rak sepatu.


"Aku antar ya,"


Kesya mengangguk.


Keduanya lalu berjalan beriringan keluar dari apartement.


Sejak Kesya hamil, Kevano terlalu over padanya. Yang mengatur pola makan dan sebagainya adalah Kevano, Kevano ingin Kesya terjaga dan baik-baik saja. Bahkan ia sudah berulang kali meminta pada Ruben untuk mengistirahkan Kesya, tapi Ruben menolak.


Keduanya sampai diparkiran, lalu masuk kedalam mobil dinas milik Kesya, tapi Kevano yang meminta pada Ruben.


"Aku kemarin lihat ada brosur lho." kata Kevano saat mobil itu sudah berjalan, keluar dari area apartement.


"Brosur apa?" Tanya Kesya.


"Itu lho, ada diatas dasbor mobil."


Mendengar ucapan Kevano, Kesya memeriksa dasbor mobil dan menemukan sebuah brosur tentang senam ibu hamil.


"Apa ini?" Tanya Kesya sambil membaca brosur itu.


"Senam ibu hamil, katanya bagus buat yang hamil."


"Tapi, hamilku masih muda, Sya."


"Justru masih muda itu Nur, kamu harus terjaga. Biar bayinya sehat terus."


Kevano bertingkah lagi. Entah sudah berapa kali Kevano memaksa Kesya untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan. Kesya yang hamil, Kevano yang sibuk.


Pernah satu kali, saat awal-awal Kesya mengalami masa ngidam, bukan Kesya yang punya keinginan aneh, malah berkeinginan macam-macam adalah Kevano.


Tak berapa lama mengendarai mobil itu, keduanya sampai dikantor, memarkirkan mobil dan Kesya berjalan masuk kedalam mobil setelah mencium pipi Kevano.


"Asik berangkat diantar Kekev." celetuk Ganda saat tak sengaja Kesya bertemu di pintu masuk.


"Iya dong diantar sama suami," kata Kesya bersikap sombong.


"Dih, lu pasti pakai pelet kan, secara gue lebih manis dan menggoda dari lu." Ganda meliak-liukkan tubuhnya.


"Harus pakai dong, nanti kalau gak pakai keduluan kamu kan bisa berabe." Ucap Kesya mengikuti dari pagi dari seorang Ganda.


Kesya dan Ganda sudah sampai di ruang kerjanya, keduanya duduk saat Yunda datang.


"Eh bumil sudah datang duluan." Seru Yunda, mengelus pundak Kesya.


"Dih, gak usah sok ramah, mana laporan proyek yang aku minta kemarin." ujar Kesya tak peduli sikap ramah Yunda. Sementara Yunda hanya bisa memajukan bibirnya.


"Gak bisa ya lihat gue seneng dikit, gue lagi sedih nih." kata Yunda, sambil mendudukkan dirinya diatas kursi kerja.


"Sedih kenapa lu perempuan?" Tanya Ganda.


Ditanya begitu, Yunda malah menangis dan menutup wajahnya dengan tangan.


"Serius lu?" Tanya Kesya dan Ganda berbarengan.


"Terus apa katanya?" kembali tanya Kesya.


"Dia bilang itu tantenya, ya kali gue percaya gitu aja, sudah jelas banget kalau mereka kayak client." Kembali Papar Yunda masih dengan tangis.


"Cup...Cup... sabar ya, kadang karma itu berlaku kok." Celetuk Ganda. Mendengar itu Yunda tak bisa menahan tangisnya lagi.


Ucapan Ganda memang ada benarnya, karena selama ini kadang Yunda yang memainkan perasaan para lelaki bahkan lelaki-lelaki itu menjadi korban matrenya, setelah para lelaki itu dianggap tak menarik, Yunda meninggalkannya.


%%%


"Kamu masih bertengkar sama Mamamu?"


Tanya Yola, Adrian yang merasa ditanya mengalihkan pandangannya dari layar smartphone, kemudian menatap Yola sambil senyum.


"Masih." Jawab singkat Adrian.


"Betah banget marahan sama Mama sendiri."


"Enggak betah, cuma ya aku gengsi mau minta baikan."


"Kenapa?" Tanya Yola.


Adrian menggeleng.


Memang sudah beberapa minggu ini Adrian dan sang Mama sering terlibat mulut, mamanya makin posesif dengan segala kegiatannya yang sering mengatur dan bersikap seolah Adrian begitu nakal. Itu yang ada dalam pikiran Adrian saat bertengkar dengan sang Mama.


Tapi, setelah redam. Ia malah merasa egois, bersikap seperti anak kecil yang ingin menang sendiri.


"Temani aku malam ini." ucap Adrian kemudian.


"Kemana?" Tanya Yola.


"Entah lah, kita nikmati saja malam ini. Anggap saja kita tidak memiliki beban."


Yola hanya mengangguk dan tersenyum simpul.


Keduanya lalu berdiri, menuju mobil milik Adrian yang terparkir tak jauh dari tempat dimana biasanya Yola menjajakan diri. Meskipun kata menjajakan terdengar sarkas, tapi memang begitu adanya.


Setelah keduanya masuk Adrian menjalankan mobil itu, membawanya melaju dengan kecepatan sedang.


Sudah beberapa bulan mereka berkenalan, Adrian begitu menikmati mengobrol dengan Yola, mungkin bagi sebagian orang Yola hanyalah wanita malam yang harganya dirinya bisa dibeli dengan lembaran uang. Tapi, bagi Adrian lebih dari semua itu.


Sifat Yola begitu baik dan ramah, ia adalah perempatan yang kuat dan kokoh berpendirian. Menjadi wanita malam bukanlah keinginannya, tapi dunia memaksanya.


Yola harus menghidupi keluarga kecilnya bagaimanapun keadaanya, ia harus bisa mencari uang untuk keperluan keluarganya. Setiap malam ia harus berperang dengan dinginnya udara, berpakaian minim hanya untuk menarik minat para lelaki hidung belang.


Suatu ketika, Yola bercerita pada Adrian bahwa ia hampir menamatkan pendidikan perguruan tingginya, tapi ia tunda. Dikampus bahkan ia pernah menjadi simpanan beberapa dosen pria, tapi nasib sial selalu mengintainya.


Setiap menjadi pemuas para dosennya, ia selalu kepergok istri-istri mereka, bahkan dilabrak pun sering. Dan karena itulah ia lebih memilih menjadi wanita malam.


"Kita makan dulu, ya." kata Adrian, Yola mengangguk. "Kita makan itu aja."


Adrian menunjuk sebuah japanese resto dengan wajahnya, dari area parkir nampak terang resto.


"Pasti makanannya aneh lagi." ucap Yola sambil menutup pintu mobil.


"Enggak aneh kok, enak makanannya."


"Bagi kamu kan enak, bagiku aneh."


Adrian tak menjawab, malah hanya tertawa renyah.


Keduanya berjalan masuk kedalam resto itu sambil beriringan, awalnya Yola berjalan di belakang Adrian, tapi Adrian menariknya.


Mendapat perlakuan seperti itu Yola merasa tak nyaman, bukan karena tak mau tapi ia merasakan sesuatu yang berbeda dari Adrian.


Adrian yang terlampau baik padanya, ramah dan sikapnya begitu gentle, membuat Yola bisa jatuh dan mencintai, padahal ia mengenal begitu banyak lelaki. Bahkan ada yang lebih dari Adrian, tapi Adrian terlihat begitu menggoda.