
"Keylan! Ayo bangun, ini sudah siang!" Teriak Kesya didepan pintu kamar sang anak yang sudah hampir pukul
enam pagi belum juga bangun.
Kesya mendengus sambil menarik napasnya
perlahan, apa ia harus melakukan hal ini setiap harinya agar Keylan terbangun
dari tidurnya yang sudah sudah seperti latihan mati.
Tapi, setidaknya ia tahu siapa yang ditiru
Keylan jika sudah tidur begitu. Siapa lagi kalau bukan sang Papa, Kevano.
Kesya terus saja mengetuk, tidak lebih
tepatnya menggedor pintu itu, dari arah dapur suaranya nyaring, Kevano sempat
mendengar, tapi ia malah lebih fokus
pada makanan yang sudah tersedia diatas meja.
Kevano tak mau ikut campur drama aneh
antara Keylan dan Kesya.
"Kekey! cepat bangun! Dalam hitungan
ketiga gak kamu buka, Mama akan nyuruh Papamu dobrak!" sambung Kesya terus sambil berteriak, suara
nya sudah begitu melengking naik beberapa oktaf.
Tak lama setelah teriakan itu, gagang pintu
terbuka ke bawah dan pintu itu pun terbuka. Nampak, seorang Keylan yang hanya
mengenakan kaos oblong tanpa lengan berwarna putih dan celana pendek ketat pun
putih seatas lutut berdiri diambang pintu, dengan wajah kusutnya.
"Kenapa sih, Mamut (Mama Imut)?"
tanya Keylan dengan mata setengah tertutup, ia sesekali menguap dan menggaruk
pipinya perlahan.
"Ini sudah jam berapa? Kamu gak
sekolah, hah?" Balik tanya Kesya. Menaruh kedua tangannya di depan perut.
"Jam enam. Iya sekolah. Keylan mandi
dulu." setelah mengucapkan itu, dengan lemas Keylan berjalan menuju dalam
kamarnya lagi.
Kesya sempat mengintip, saat Keylan sudah
masuk kedalam kamar mandi dengan membawa handuk. Melihat tingkah sang anak, ia
hanya bisa menggeleng perlahan. Lalu ia sempat berpikir, apa Kevano saat masih
muda dulu seperti itu.
Setelah melihat Keylan yang hilang di telan
pintu kamar mandi, Kesya berjalan menjauh dari kamar itu, dan menuju ke arah
dapur. Membereskan beberapa hal yang sempat tertunda karena membangunkan Keylan
yang sudah seperti sapi tidur, sepertinya kalau gempa Keylan tak akan sadar
sampai terkena reruntuhan bangunan rumah.
"Sudah bangun, Ma?" tanya Kevano
begitu Kesya sudah berada di dapur.
"Sudah." Jawab Kesya sambil
menuju tempat cuci piring. "Coba sesekali kamu yang bangunin, si Keylan
itu."
Kevano tak menjawab, ia masih menikmati
makanan Kesya yang begitu nikmati. Padahal dulu saat awal awal menikah, Kesya
tak bisa memasak, pemalas jika sudah berurusan dengan dapur. Tapi, setelah
memiliki Keylan semuanya berubah.
Semua sudah berlalu tujuh belas tahun lalu.
"Kamu dengar gak sih, Pa!"
sambung Kesya sambil berteriak.
Kevano yang mendengar itu tersedak, lalu
terbatuk pelan. Setelah minum, ia menepuk nepuk pelan dadanya.
"Iya aku dengar kok, Ma. Lain kali aku
bangunin dia." Ujar Kevano sambil kembali mengunyah makanannya.
Semakin bertambahnya usia, Kesya menjadi semakin
emosian. Apalagi ditambah dengan sifat sang anak yang kadang tak bisa di tegur,
nakalnya sudah keterlaluan, kadang ia suka bingung. Kenapa semua sifat Kevano
bisa menurun pada sang anak, sementara sifatnya tak ada satupun yang berpihak
pada Keylan.
Heran. Padahal sifat seorang ibu harusnya
dominan dan menajdi pembawa sifat, tapi ini tidak, Keylan malah seperti sudah
menjadi Kembaran Kevano.
"Pagi, Pagan (Papa Ganteng),
Mamut!" Teriak Keylan sambil berjalan menuju meja makan. Setelah itu
meletakkan tasnya di kursi dan ia duduk disana.
"Pagi, Key." sahut Kevano.
"Cuci tangan dulu, Key." ucap
Kesya. Keylan mengindahkan perintah itu, lalu berjalan menuju keran air dan
membasuh tangannya, padahal ia baru saja mandi, yang artinya tangannya masih
bersih. "Minum susunya."
Keylan sudah kembali duduk di kursinya,
lalu mengambil makanan yang sudah tersedia di meja makan. Tangannya mengambil
gelas berisi susu berwarna putih itu, sebelum berniat meminumnya, hidungnya
lebih dulu mengendus aroma air keruh itu.
"Minuman kok dicium." tegur
Kevano saat melihat Keylan membau minuman itu.
"Keylan cuma meyakinkan kalau ini
bukan susu kental manis, Pa. Nanti Mama Ngeprank Keylan lagi." Ujar Keylan
masih membau minuman itu.
"Prank-prenk, itu susu bubuk yang
sudah mama belikan seminggu lalu. Kalau beneran mama ganti, Mama juga nanti
yang ngurusin alergimu." kata Kesya sambil berjalan ke meja makan, ikut
berkumpul bersama anak dan suaminya. saat setelah merebahkan pantatnya, ia
menyesap macca yang sudah tersedia di gelas.
Keylan memang memiliki alergi pada susu
kental manis, jika sudah begitu Keylan
akan sakit perut dan akhirnya lemas. Dokter bilang bahwa tubuh Keylan tak bisa
menerima komsumsi seperti itu. Susu dianggap imunnya sebagai zat yang
berbahaya.
"Key nanti berangkat sama Papa,
ya." ucap Kevano, merapikan makanannya. Lalu meminum kopi susunya.
"Keylan mau berangkat sama Raka,
Pa." Jawab Keylan.
"Naik apa?" tanya Kevano.
"Naik motor lah, ya kali naik
odong-odong."
"Awas ya kalau sampai kamu keluyuran
gak jelas lagi. Kalau sampai keluyuran, Ma akan..."
Tin!
Tin!
Kata kata Kesya terpotong karena nyaringnya
suara klakson dari luar rumah.
Mendengar suara klakson itu Keylan
tersenyum sumringah.
"Nah itu Raka datang, Keylan berangkat
dulu, Ma, Pa." Kata Keylan sambil mengambil tasnya dan melap mulutnya
dengan tisu. "Assalamualaikum."
Keylan mencium tangan Kesya dan Kevano
bergantian, setelah itu berjalan menjauh ke luar rumah. Setelah sebelumnya
sempat mengambil helmnya yang berada di atas lemari di ruang tamu.
"Gas, cuy!" teriak Keylan, sesaat
setelah ia berada di belakang goncengan remaja berkacamata itu. Tapi, bukannya
menjalankan motornya, Raka malah turun dan menstandar. "Loh, ngapa dah,
Ka?"
"Lu yang bawa, gue mau belajar di
belakang. Hari ini ada UTS soalnya." ucap Raka sambil mengambil buku dari
tasnya sesaat setelah memberikan setir motor pada Keylan.
Keylan hanya bisa mengangguk mendengar
ucapan Raka, lalu mengambil alih setir. Dan menjalankan motor itu dengan
sedang, kalau terlalu mengebut Raka bisa memukul helmnya.
Raka adalah sahabat Keylan, usia mereka
terpaut satu tahun, dan juga sebagai adik kelas Keylan. Selain itu Raka juga
sepupunya, yang tak lain anak dari Ruben.
Raka memiliki sifat seperti Ruben, yang
pendiam dan pandai, tak banyak bicara, sekali berbicara lansung menyakitkan dan
sesak didada. Raka yang memiliki hobi ngegame dan membaca buku, harus
menggunakan kacamata. Meskipun begitu, ekstra sang Mama (Shiha) dan Ruben tak
menghilangkan wajah tampannya sedikit pun.
Sementara Keylan dan Raka pergi berangkat
ke sekolah. Kevano masih berada di sana bersama dengan Kesya.
"Gimana perusahaan, Pa?" tanya
Kesya tiba-tiba, mendadak sekali. Biasanya Kesya tak pernah bertanya soal itu.
"Lancar, Ma. Tumben tanya." Jawab
Kevano masih dengan nada penasaran.
"Enggak apa apa, cuma pengen tahu
bagaimana nasib kantorku dulu." Ujar Kesya.
Kesya hanya ingin tahu bagaimana kantor
yang sudah ia tinggal bertahun tahun setelah memutuskan ia resign dari sana,
karena Kevano sudah meyakinkan diri untuk menggantikan Ruben, sementara Ruben
mengambil alih perusahaan utama. Tuan Putra sudah pensiun dan menikmati masa
tuanya.
"Pasti makin besar lah, Ma. Siapa dulu
dong yang ngurus." Kata Kevano sesumbar.
"Kepedean, Yaudah berangkat gih.
Keburu siang. Macet nanti." Kata Kesya.
Kevano mengindahkan, lalu mengambil tas dan
jasnya yang tadi berada di sandaran kursi tempat ia makan.
Setelah itu Kevano mencium kening Kesya,
setelah Kesya mencium punggung tangan Kevano, ritual yang sudah mereka lakukan
sejak dulu.
Kemudian Kevano berjalan keluar rumah
dengan santai, dan Kesya membersihkan sisa sarapan itu.
%%%
Keylan masih berangkat sekolah bersama
Raka, saat kemudian ia menghentikan motor milik Raka di sebuah tempat sablon.
"Mau ngapain, Lan?" tanya Raka
bingung melihat tingkat aneh Keylan yang menghentikan motornya di tempat yang
tak seharusnya.
"Gue ada urusan bentaran, lu tunggu
disini." ucap Keylan, sambil berjalan masuk kedalam toko sablon itu.
Raka tak mampu menerka apa yang akan di
lakukan Keylan setelah keluar dari sana, karena semua yang dilakukan Keylan di
luar pikiran akal sehat.
Keylan selalu melakukan hal yang aneh di
sela sela sikap nakalnya tak terkendali. Tipikal anak orang kaya yang begitu
malas dengan pembelajaran yang ada di sekolah.
Tak berapa lama Keylan kembali dengan
menyungging senyum jahat seperti biasanya. bibirnya terus mengembang, Raka tak
ingin bertanya, karena nanti Keylan pasti akan membuka mulutnya sendiri untuk
bercerita.
Dan tak berapa lama setelah motor itu
kembali berjalan, Keylan benar saja mulai bercerita.
"Besok lusa kita balik Ke sini
ya." Kata Keylan sambil mengendarai motor itu.
"Ngapain lagi? Dan tadi lu ngapain
disitu? Ada tugas sekolah?" tanya Raka dengan pertanyaan yang begitu
banyak. Meskipun pendiam, kadang Raka juga ingin mengerti apa yang sedang di
lakukan sepupunya. Karena setiap masalah yang di perbuat Keylan ia kadang
terseret masuk kedalam masalah itu.
"Banyak tanya lu kayak emak
emak." Ujar Keylan enggan menjawab pertanyaan Raka.
Plak!
Raka memukul pelan helm yang digunakan
Keylan dengan tangan kanannya, Keylan ikut gemas dengan ge-plak-an itu lalu
mengarahkan kepala nya kebelakang agar mengenai kaca depan helm milik Raka.
Tak berapa lama mereka sampai berdua sampai
di sekolah, setelah memarkirkan motor di tempatnya. Keylan dan Raka menuju
kelas dengan sedikit santuy karena masih beberapa menit lagi sampai lonceng jam
pertama berbunyi.
"Gue kekantin dulu." ucap Keylan,
berusaha berpisah dari Raka.
"Ngapain? Bentar lagi masuk. Lu jangan
bolos lagi, ya." Kata Raka berusaha mencegah Keylan untuk berbuat nakal
lagi.
"Kagak. Gue mau ada yang diurus.
Bentaran aja, lagian kelas jam pertama olahraga di kelas gue."
"Urusan mulu lu, sok sibuk
banget." Celetuk Raka.
"Bawel, masuk sana lu."
Setelah mengucapkan itu Keylan berlari
menjauh dan melambai perlahan, sementara Raka hanya bisa menggeleng.
Keylan memang selalu menginginkan dunia
yang bebas. Bebas ia coret dengan tinta apapun, tanpa siapapun boleh menghapus
dan mengganti warnanya. Termasuk Mama dan Papanya.
Meskipun berpamitan untuk ke kantin,
sebenarnya Keylan berjalan kearah belakang sekolah. Lalu memanjat dinding
tembok. Karena ia tahu pagar depan pasti sudah di tutup oleh satpam. Ia tak
ingin mencari masalah dengan satpam itu.
Setelah turun dari tembok, ia berjalan
menuju sebuah warung kecil yang tak jauh dari sana. Mengambil sesuatu batangan
dari kaleng seng.
"Dua, bu." Kata Keylan sambil
memberikan beberapa lembar uang pecahan dua ribu rupiah pada memilik warung.
Setelah membayar, ia berniat berlalu pergi
tapi matanya melihat beberapa anak yang laki laki berada di pojok warung,
sambil terus menghembuskan asap putih. Dasar gak pro. Batin Keylan.
Keylan kembali menaiki tembok belakang
sekolah itu, belum sampai ia turun. Sebuah teriakan menggema di telinganya dan
membuatnya terkaget, Alhasil dia terjatuh sebagian lengan bajunya robek akibat
sempat tersangkut besi pondasi tembok.
"Aww." Keylan merintih sambil
memegangi kulit lengannya yang sedikit terkelupas dan mengeluarkan darah segar.
"Keylan dari mana kamu?! Mau bolos
kamu?!" Guru perempuan itu berteriak begitu kencang dengan dua
pertanyaanya yang merentet.
Keylan tak merespon pertanyaan itu, ia
masih sibuk menahan ngilu dari sakitnya sendiri.
"Sebentar, Bu." Ucap Keylan
sambil berdiri. "Ibu jangan teriak-teriak, tangan saya tergores, saya mau
ke UKS sebentar."
Dengan santainya Keylan mengucapkan hal itu
pada Gurunya yang sudah menahan emosi, lalu berjalan santai melewati sang guru.
Belum sampai melewati, si guru menarik kerah baju Keylan.
"Enak saja kamu main pergi. Ke Uks
sama ibu, habis itu ke kantor."
Kata sang guru sambil menarik kerah baju Keylan lagi seperti menarik anak
kucing.
%%%
Setelah tangannya di obati dan balut kain
kasa, Keylan berjalan masuk kedalam ruang guru, di mana Ibu Ayumi, guru yang
"Cerita kamu dari mana?" tanya bu
Ayumi. "Kamu mau bolos, ya?"
"Eh enggak bu, saya habis
dari..." Ucap Keylan terpotong, ia tak mungkin mengatakan kalau ia membeli
sesuatu dari warung sebelah.
"Dari mana?" paksa Bu Ayumi lagi.
"Dari warung sebelah bu." Kata
Keylan akhirnya.
"Ngapain kamu dari sana? Sudah jam
masuk ini." tanya Pak Azmi ikut pembicaraan itu. Azmi guru Olahraga.
"Atau kamu beli rokok, ya? Sini bagi tas mu."
Pak Azmi berusaha mengambil tas milik
Keylan, tapi Keylan tak memberikannya, akhirnya adegan tarik menarik pun
terjadi. Dengan sedikit paksaan, akhirnya Keylan menyerahkan tas itu, takut
jika robek.
Pak Azmi membuka tas milik Keylan,
memeriksa setiap kantong, lalu mengeluarkan isinya. Mulai dari Pomade, gelang,
buku, dan banyak hal tak penting lainnya.
Kemudian saat pak Azmi merogoh kantong
terkahir, ia menemukan dua batang permen coklat. Tanpa menemukan satu batang
rokok pun. Setelah itu mengembalikan tas pada Keylan.
"Enggak ada kan, Pak. Saya tadi cuma
beli permen coklat. Soalnya kalau istirahat disitu suka tutup." Kata
Keylan menarik napasnya sendiri.
"Yaudah kamu masuk. Lain kali jangan
diulangi. Kalau mau beli makanan sebelum bel masuk." Kata Bu Ayumi.
"Ashiapp, Bu." Kata Keylan
sumringah. "Assalamualaikum, Pak, Bu."
Setelah mengucapkan hal itu, Keylan
berjalan tanpa beban keluar dari kantor guru.
Meskipun ia terkenal nakal dan tak tahu
aturan, tapi ia selalu anti dengan yang namanya merokok. Merokok itu hanya
menyakiti dirinya sendiri. Walaupun Papanya merokok dan tak melarang ia
melakukan hal itu. Tetap ia tak mau.
Tak berapa lama, ia sampai di Kelas.
Melihat kelasnya yang kosong, ia bergegas menaruh tas dan mengganti pakaiannya
yang ia kenakan dengan baju olahraga.
Setelah itu ia berjalan pelan menuju
lapangan, Karena biasanya pelajar
olahraga di lakukan disana.
"Keylan, dari mana kamu?" tanya
pak Fatur begitu melihat Keylan baru nampak di matanya.
"Tadi disuruh Bantuin Pak Azmi betulin
tembok belakang, Pak." jawab Keylan bohong.
"Alasan saja. Cepat baris." Ujar
Pak Fatur. Keylan mengindahkan.
Keylan berjalan masuk kedalam barisan, tapi
ia berjalan kearah depan.
"Mundur lu," Kata Keylan pada
seorang cowok.
"Lu aja yang dibelakang."
Mendengar jawaban cowok itu, Keylan menyentil
daun telinganya. Setelah itu si cowok menoleh dan mendapati Keylan mengepalkan
tangan.
Karena tak ingin berurusan dengan Keylan,
cowok itu mundur kearah belakangan.
Bukan tanpa alasan Keylan berdiri di
barisan kedua, karena ia sengaja ingin berada di dekat cewek yang begitu di
kaguminya dan di sukainya, Aresti namanya.
%%%
Keesokannya..
"Nih," kata Keylan memberikan
sebuah spanduk besar setelah ia keluar dari tempat sablonan pada Raka.
"Apa ini?" tanya Raka pada
Keylan, dengan nada penasaran.
"Spanduk. Nanti lu pasang didepan
kelas MIPA dua, lu bentangin kebawah."
"Buat apa?" tanya Raka lagi,
masih penasaran apa yang akan di perbuat Keylan setelah ini.
Terakhir kali Keylan berbuat ulah, ia dan
Keylan harus berurusan dengan guru BK.
"Banyak tanya, lakukan aja, ya
sepupuku yang paling ganteng." gemas Keylan sambil mencubit pelan kulit
lengan Raka.
Raka menepis cubitan Keylan, lalu duduk di
belakang setir. Keylan membawa motor itu berjalan.
"Lu jangan buat ulah lagi ya,
Lan." Kata Raka ketus.
"Enggak. Eh, kapan gue pernah buat
ulah?" tanya Keylan tak merasa bersalah.
"Hampir tiap hari. Heran, bikin ulah
mulu, kayak bocah."
"Gue emang bocah." Setelah
mengatakan hal itu, Keylan mengemas motornya dengan cepat. Alhasil ia kembali
mendapat keplakan di kepalanya dari Raka.
Beberapa menit kemudian.
"Res, gue suka sama lu!" Teriak
Keylan.
Saat itu ia dan Aresti, seorang cewek yang
di sukai nya sejak lama sama sama berada di lapangan dan mereka hanya berdua.
Aresti membalikkan badan kemudian menoleh,
melihat Keylan yang berdiri sambil menyungging senyum aneh.
"Apa?" tanya Aresti kaku, datar
tanpa sedikitpun kaget.
"Gue suka sama lu. Lu mau jadi pacar
gue gak?" ulang Keylan mendengar pertanyaan Aresti tadi.
"Ogah." Setelah mengucapkan itu
Aresti membalikkan badannya, kemudian berusaha berjalan menjauh.
Kemduian. Keylan melambaikan tangan
kanannya perlahan.
Duar!
Suara balon meletus, bersamaan dengan
sebuah spanduk besar yang terjatuh dari salah satu kelas, bertuliskan "I
love you Aresti".
Setelah itu banyak balon, potongan kertas,
dan bubuk gliter yang berjatuhan.
Aresti menghentikan langkahnya, melihat hal
itu, dan terdiam. Tingkah konyol Keylan begitu menyebalkan.
Keylan terlalu nekad meski hanya untuk
mengungkapkan perasaanya saja.
Aresti kembali menoleh ke arah Keylan,
masih dengan wajah yang sama. Sepertinya kelakuan Keylan tak sedikitpun merubah
apa yang sudah terjadi.
"Lu ngapain sih? Norak tau." Kata
Aresti.
"Gue cuma ngungkapin perasaan
gue." Jawab Keylan polos.
"Gue gak suka sama lu. Mau berapa kali
sih gue bilang."
"Masa sih lu gak suka sama cowok
sekeren dan setajir gue?"
Aresti terdiam, tak menjawab pernyataan
Keylan. Dia berusaha mencari cara agar bisa lepas dari anak itu, sudah sejak
kelas sepuluh Keylan berusaha membuatnya suka. Menyatakan perasaannya berulang
kali. Tapi, Aresti tak pernah tertarik dengan apa yang di lakukan Keylan.
"Oke, gue punya satu syarat agar lu
bisa gue terima." Ucap Aresti kemudian.
Mata Keylan berbinar. "Apa
syaratnya?"
"Sini mendekat." perintah Aresti.
Keylan berjalan perlahan mendekati Aresti
sambil terus mengulas senyum.
"Seminggu lagi, ada balapan motor. Gue
pingin lu ikut, gak perlu juara satu, juara dua cukup." sambung Aresti.
Mendengar ucapan Aresti itu, Keylan
mengerutkan keningnya. Berusaha meyakinkan bahwa yang didengar dari ucapan
Aresti itu benar.
"Maksud lu?" tanya Keylan masih
penasaran.
"Iya, lu harus ikut balapan motor itu.
Biar kelihatan laki."
"Gue ini karateka ya, kurang laki apa
gue?"
"Pokoknya lu harus ikut, kalau lu mau
jadi pacar gue. Kalau enggak ya, berarti cukup sampai disini. Dan lu jangan
berusaha nembak gue lagi. Ngerti lu,"
Keylan masih berpikir sejenak.
"Oke. Kapan dan dimana?" tanya
Keylan.
"Hari sabtu malam, di dekat Dinas
perhubungan ujung kota. Jangan lupa pakai motor gede. Jangan motor matic."
Keylan mengangguk.
"Gue tunggu sabtu malam. Bye."
Sesaat setelah mengucapkan itu, Aresti
berlalu pergi. Keylan hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Aresti berusaha
menolaknya lagi, dan sekarang membuat persyaratan konyol.
Tak berapa lama, Raka datang saat melihat
Aresti sudah pergi.
"How?" tanya Raka.
"Gue ditolak lagi. " kata Keylan
dengan menggeleng pelan. "Tapi..."
Belum selesai mengatakan sesuatu, ucapannya
terpotong saat mendengarkan teriakan seseorang.
"Keylan! Raka!"
Keduanya menoleh. Mendapati Pak Rahman si
guru BK yang gendut tengah berdiri sambil membawa rotan.
Keylan dan Raka menelan ludah, mereka akan
terkena masalah lagi. Raka menepukkan telapak tangannya pada wajah, sementara
Keylan berusaha kabur, tapi kakinya keburu di pukul dengan rotan milik pak
Rahman.
"Kalian, buat apa lagi?!" teriak
pak Rahman, tepat didepan keduanya.
"Anu, itu, pak, apanya." Jawab
Keylan gugup.
"Anu siapa?" tanya pak Rahman
lagi lagi dengan wajah menakutkan.
"Anu bapak. Eh enggak, Pak. Itu
kamu..."
Pak Rahman memotong. "Enggak ada anu
anu'an. Bersihkan semua kekacauan kalian, apa lagi spanduk itu 'I love you
Aresti', alay."
Keylan dan Raka mengangguk anggun bodoh.
"Setelah itu, temui bapak di kantor.
Heran kalian lagi, kalian lagi." sambung pak Rahman. Lalu berjalan menjauh
dari kedua anak muridnya yang entah berapa kali sudah berbuat onar dalam
sebulan terkahir.
"Bersihin gih." Ucap Keylan
memerintahkan Raka sesat setelah Pak Rahman pergi.
"Ogah. Ini semua lu yang buat
masalah." Jawab Raka.
"Dih, Please Bantuin." Mohon
Keylan.
"Lu yang lepasin spanduk. Gue yang
mungutin balon." Ucap Raka pada Keylan.
Mendengar ucapan itu Keylan menghormat ala
tentara, kemudian berlari ke lantai dua. Untung saja saat itu suasana sekolah
sepi, karena memang jam masuk kelas.
Alasan Keylan dan Aresti masih di luar,
karena Aresti baru dari ruang guru dan Keylan sengaja menculik Raka untuk
keluar dari kelas.
Keylan melepaskan sepanduk itu dengan
pelahan, jarak jangkauan tangannya begitu susah untuk menarik pengait itu.
Dengan paksa. Entah bagaimana caranya Raka memasang tadi.
Tak berapa lama, ia selesai dan begitu pun
dengan Raka yang juga sudah selesai dengan balon balon yang berserakan tadi.
Setelah itu keduanya menuju ruang Pak
Rahman, neraka bagi para siswa.
%%%
Keylan dan Raka duduk di kursi di ruangan
pak Rahman. Kedua bersikap seolah tak merasa bersalah, sementara Pak Rahman
memandang wajah keduanya yang menggeleng kan kepala.
"Kalian tahu kan apa kesalahan kalian?"
tanya pak Rahman. Keduanya menggeleng. "Kamu Keylan baru kemarin lusa kamu
kesini. Dan Sekarang kesini lagi. Kamu mau jadi Student Of the Year dengan
penghargaan terbanyak masuk ruang BK, apa?"
"Pak yang kemarin kan sudah saya
jelaskan sama pak Azmi dan Bu Ayumi, kalau saya cuma beli permen coklat."
Jawab Keylan tak ingin di salahkan.
"Tapi kamu memanjat tembok. Gimana
kalau adik kelasmu lihat, dan mereka niru?"
"Ya itu kan kemauan mereka, Pak.
Jangan salahkan saya dong, Pak." Ucap Keylan dengan entengnya.
"Kamu jawab lagi, ya. Ini," Pak
Rahman memberikan sebuah amplop yang berisi surat teguran untuk orang tua
Keylan. "Kasih surat itu sama orang tua, dan suruh mereka kesini. Sekarang
kalian dapat hukuman bersihkan toilet guru."
"Kok Raka gak dapat, Pak?" tanya
Keylan penasaran, karena sejak tadi hanya dia yang ditegur pak Rahman.
"Bapak kecualikan dia, karena Raka
murid pintar. Mungkin gara gara kamu paksa dia, jadi dia mau." Papar pak
Rahman lagi, Keylan mengerucutkan bibirnya.
Keylan selalu saja di salahkan, padahal ia
tak merasa berbuat onar. Apa orang tua sekolot itu. Heran Keylan.
Setelah itu keduanya kelaur dari ruangan
pak Rahman, menuju toilet guru yang berada di ujung lorong, setelah sebelumnya
mereka mengambil pel dan beberapa peralatan untuk kebersihan.
Keylan banyak bersantai sementara Raka yang
mengerjakan semua hukuman yang di berikan pak Rahman itu.