My Berondong Husband

My Berondong Husband
#92 Tujuh Belas Tahun Kemudian



"Keylan! Ayo bangun, ini sudah siang!" Teriak Kesya didepan pintu kamar sang anak yang sudah hampir pukul


enam pagi belum juga bangun.


 


Kesya mendengus sambil menarik napasnya


perlahan, apa ia harus melakukan hal ini setiap harinya agar Keylan terbangun


dari tidurnya yang sudah sudah seperti latihan mati.


Tapi, setidaknya ia tahu siapa yang ditiru


Keylan jika sudah tidur begitu. Siapa lagi kalau bukan sang Papa, Kevano.


Kesya terus saja mengetuk, tidak lebih


tepatnya menggedor pintu itu, dari arah dapur suaranya nyaring, Kevano sempat


mendengar,  tapi ia malah lebih fokus


pada makanan yang sudah tersedia diatas meja.


Kevano tak mau ikut campur drama aneh


antara Keylan dan Kesya.


"Kekey! cepat bangun! Dalam hitungan


ketiga gak kamu buka, Mama akan nyuruh Papamu dobrak!"  sambung Kesya terus sambil berteriak, suara


nya sudah begitu melengking naik beberapa oktaf.


Tak lama setelah teriakan itu, gagang pintu


terbuka ke bawah dan pintu itu pun terbuka. Nampak, seorang Keylan yang hanya


mengenakan kaos oblong tanpa lengan berwarna putih dan celana pendek ketat pun


putih seatas lutut berdiri diambang pintu, dengan wajah kusutnya.


"Kenapa sih, Mamut (Mama Imut)?"


tanya Keylan dengan mata setengah tertutup, ia sesekali menguap dan menggaruk


pipinya perlahan.


"Ini sudah jam berapa? Kamu gak


sekolah, hah?" Balik tanya Kesya. Menaruh kedua tangannya di depan perut.


"Jam enam. Iya sekolah. Keylan mandi


dulu." setelah mengucapkan itu, dengan lemas Keylan berjalan menuju dalam


kamarnya lagi.


Kesya sempat mengintip, saat Keylan sudah


masuk kedalam kamar mandi dengan membawa handuk. Melihat tingkah sang anak, ia


hanya bisa menggeleng perlahan. Lalu ia sempat berpikir, apa Kevano saat masih


muda dulu seperti itu.


Setelah melihat Keylan yang hilang di telan


pintu kamar mandi, Kesya berjalan menjauh dari kamar itu, dan menuju ke arah


dapur. Membereskan beberapa hal yang sempat tertunda karena membangunkan Keylan


yang sudah seperti sapi tidur, sepertinya kalau gempa Keylan tak akan sadar


sampai terkena reruntuhan bangunan rumah.


"Sudah bangun, Ma?" tanya Kevano


begitu Kesya sudah berada di dapur.


"Sudah." Jawab Kesya sambil


menuju tempat cuci piring. "Coba sesekali kamu yang bangunin, si Keylan


itu."


Kevano tak menjawab, ia masih menikmati


makanan Kesya yang begitu nikmati. Padahal dulu saat awal awal menikah, Kesya


tak bisa memasak, pemalas jika sudah berurusan dengan dapur. Tapi, setelah


memiliki Keylan semuanya berubah.


Semua sudah berlalu tujuh belas tahun lalu.


"Kamu dengar gak sih, Pa!"


sambung Kesya sambil berteriak.


Kevano yang mendengar itu tersedak, lalu


terbatuk pelan. Setelah minum, ia menepuk nepuk pelan dadanya.


"Iya aku dengar kok, Ma. Lain kali aku


bangunin dia." Ujar Kevano sambil kembali mengunyah makanannya.


Semakin bertambahnya usia, Kesya menjadi semakin


emosian. Apalagi ditambah dengan sifat sang anak yang kadang tak bisa di tegur,


nakalnya sudah keterlaluan, kadang ia suka bingung. Kenapa semua sifat Kevano


bisa menurun pada sang anak, sementara sifatnya tak ada satupun yang berpihak


pada Keylan.


Heran. Padahal sifat seorang ibu harusnya


dominan dan menajdi pembawa sifat, tapi ini tidak, Keylan malah seperti sudah


menjadi Kembaran Kevano.


"Pagi, Pagan (Papa Ganteng),


Mamut!" Teriak Keylan sambil berjalan menuju meja makan. Setelah itu


meletakkan tasnya di kursi dan ia duduk disana.


"Pagi, Key." sahut Kevano.


"Cuci tangan dulu, Key." ucap


Kesya. Keylan mengindahkan perintah itu, lalu berjalan menuju keran air dan


membasuh tangannya, padahal ia baru saja mandi, yang artinya tangannya masih


bersih. "Minum susunya."


Keylan sudah kembali duduk di kursinya,


lalu mengambil makanan yang sudah tersedia di meja makan. Tangannya mengambil


gelas berisi susu berwarna putih itu, sebelum berniat meminumnya, hidungnya


lebih dulu mengendus aroma air keruh itu.


"Minuman kok dicium." tegur


Kevano saat melihat Keylan membau minuman itu.


"Keylan cuma meyakinkan kalau ini


bukan susu kental manis, Pa. Nanti Mama Ngeprank Keylan lagi." Ujar Keylan


masih membau minuman itu.


"Prank-prenk, itu susu bubuk yang


sudah mama belikan seminggu lalu. Kalau beneran mama ganti, Mama juga nanti


yang ngurusin alergimu." kata Kesya sambil berjalan ke meja makan, ikut


berkumpul bersama anak dan suaminya. saat setelah merebahkan pantatnya, ia


menyesap macca yang sudah tersedia di gelas.


Keylan memang memiliki alergi pada susu


kental manis, jika sudah begitu  Keylan


akan sakit perut dan akhirnya lemas. Dokter bilang bahwa tubuh Keylan tak bisa


menerima komsumsi seperti itu. Susu dianggap imunnya sebagai zat yang


berbahaya.


"Key nanti berangkat sama Papa,


ya." ucap Kevano, merapikan makanannya. Lalu meminum kopi susunya.


"Keylan mau berangkat sama Raka,


Pa." Jawab Keylan.


"Naik apa?" tanya Kevano.


"Naik motor lah, ya kali naik


odong-odong."


"Awas ya kalau sampai kamu keluyuran


gak jelas lagi. Kalau sampai keluyuran, Ma akan..."


Tin!


Tin!


Kata kata Kesya terpotong karena nyaringnya


suara klakson dari luar rumah.


Mendengar suara klakson itu Keylan


tersenyum sumringah.


"Nah itu Raka datang, Keylan berangkat


dulu, Ma, Pa." Kata Keylan sambil mengambil tasnya dan melap mulutnya


dengan tisu. "Assalamualaikum."


Keylan mencium tangan Kesya dan Kevano


bergantian, setelah itu berjalan menjauh ke luar rumah. Setelah sebelumnya


sempat mengambil helmnya yang berada di atas lemari di ruang tamu.


"Gas, cuy!" teriak Keylan, sesaat


setelah ia berada di belakang goncengan remaja berkacamata itu. Tapi, bukannya


menjalankan motornya, Raka malah turun dan menstandar. "Loh, ngapa dah,


Ka?"


"Lu yang bawa, gue mau belajar di


belakang. Hari ini ada UTS soalnya." ucap Raka sambil mengambil buku dari


tasnya sesaat setelah memberikan setir motor pada Keylan.


Keylan hanya bisa mengangguk mendengar


ucapan Raka, lalu mengambil alih setir. Dan menjalankan motor itu dengan


sedang, kalau terlalu mengebut Raka bisa memukul helmnya.


Raka adalah sahabat Keylan, usia mereka


terpaut satu tahun, dan juga sebagai adik kelas Keylan. Selain itu Raka juga


sepupunya, yang tak lain anak dari Ruben.


Raka memiliki sifat seperti Ruben, yang


pendiam dan pandai, tak banyak bicara, sekali berbicara lansung menyakitkan dan


sesak didada. Raka yang memiliki hobi ngegame dan membaca buku, harus


menggunakan kacamata. Meskipun begitu, ekstra sang Mama (Shiha) dan Ruben tak


menghilangkan wajah tampannya sedikit pun.


Sementara Keylan dan Raka pergi berangkat


ke sekolah. Kevano masih berada di sana bersama dengan Kesya.


"Gimana perusahaan, Pa?" tanya


Kesya tiba-tiba, mendadak sekali. Biasanya Kesya tak pernah bertanya soal itu.


"Lancar, Ma. Tumben tanya." Jawab


Kevano masih dengan nada penasaran.


"Enggak apa apa, cuma pengen tahu


bagaimana nasib kantorku dulu." Ujar Kesya.


Kesya hanya ingin tahu bagaimana kantor


yang sudah ia tinggal bertahun tahun setelah memutuskan ia resign dari sana,


karena Kevano sudah meyakinkan diri untuk menggantikan Ruben, sementara Ruben


mengambil alih perusahaan utama. Tuan Putra sudah pensiun dan menikmati masa


tuanya.


"Pasti makin besar lah, Ma. Siapa dulu


dong yang ngurus." Kata Kevano sesumbar.


"Kepedean, Yaudah berangkat gih.


Keburu siang. Macet nanti." Kata Kesya.


Kevano mengindahkan, lalu mengambil tas dan


jasnya yang tadi berada di sandaran kursi tempat ia makan.


Setelah itu Kevano mencium kening Kesya,


setelah Kesya mencium punggung tangan Kevano, ritual yang sudah mereka lakukan


sejak dulu.


Kemudian Kevano berjalan keluar rumah


dengan santai, dan Kesya membersihkan sisa sarapan itu.


%%%


Keylan masih berangkat sekolah bersama


Raka, saat kemudian ia menghentikan motor milik Raka di sebuah tempat sablon.


"Mau ngapain, Lan?" tanya Raka


bingung melihat tingkat aneh Keylan yang menghentikan motornya di tempat yang


tak seharusnya.


"Gue ada urusan bentaran, lu tunggu


disini." ucap Keylan, sambil berjalan masuk kedalam toko sablon itu.


Raka tak mampu menerka apa yang akan di


lakukan Keylan setelah keluar dari sana, karena semua yang dilakukan Keylan di


luar pikiran akal sehat.


Keylan selalu melakukan hal yang aneh di


sela sela sikap nakalnya tak terkendali. Tipikal anak orang kaya yang begitu


malas dengan pembelajaran yang ada di sekolah.


Tak berapa lama Keylan kembali dengan


menyungging senyum jahat seperti biasanya. bibirnya terus mengembang, Raka tak


ingin bertanya, karena nanti Keylan pasti akan membuka mulutnya sendiri untuk


bercerita.


Dan tak berapa lama setelah motor itu


kembali berjalan, Keylan benar saja mulai bercerita.


"Besok lusa kita balik Ke sini


ya." Kata Keylan sambil mengendarai motor itu.


"Ngapain lagi? Dan tadi lu ngapain


disitu? Ada tugas sekolah?" tanya Raka dengan pertanyaan yang begitu


banyak. Meskipun pendiam, kadang Raka juga ingin mengerti apa yang sedang di


lakukan sepupunya. Karena setiap masalah yang di perbuat Keylan ia kadang


terseret masuk kedalam masalah itu.


"Banyak tanya lu kayak emak


emak." Ujar Keylan enggan menjawab pertanyaan Raka.


Plak!


Raka memukul pelan helm yang digunakan


Keylan dengan tangan kanannya, Keylan ikut gemas dengan ge-plak-an itu lalu


mengarahkan kepala nya kebelakang agar mengenai kaca depan helm milik Raka.


Tak berapa lama mereka sampai berdua sampai


di sekolah, setelah memarkirkan motor di tempatnya. Keylan dan Raka menuju


kelas dengan sedikit santuy karena masih beberapa menit lagi sampai lonceng jam


pertama berbunyi.


"Gue kekantin dulu." ucap Keylan,


berusaha berpisah dari Raka.


"Ngapain? Bentar lagi masuk. Lu jangan


bolos lagi, ya." Kata Raka berusaha mencegah Keylan untuk berbuat nakal


lagi.


"Kagak. Gue mau ada yang diurus.


Bentaran aja, lagian kelas jam pertama olahraga di kelas gue."


"Urusan mulu lu, sok sibuk


banget." Celetuk Raka.


"Bawel, masuk sana lu."


Setelah mengucapkan itu Keylan berlari


menjauh dan melambai perlahan, sementara Raka hanya bisa menggeleng.


Keylan memang selalu menginginkan dunia


yang bebas. Bebas ia coret dengan tinta apapun, tanpa siapapun boleh menghapus


dan mengganti warnanya. Termasuk Mama dan Papanya.


Meskipun berpamitan untuk ke kantin,


sebenarnya Keylan berjalan kearah belakang sekolah. Lalu memanjat dinding


tembok. Karena ia tahu pagar depan pasti sudah di tutup oleh satpam. Ia tak


ingin mencari masalah dengan satpam itu.


Setelah turun dari tembok, ia berjalan


menuju sebuah warung kecil yang tak jauh dari sana. Mengambil sesuatu batangan


dari kaleng seng.


"Dua, bu." Kata Keylan sambil


memberikan beberapa lembar uang pecahan dua ribu rupiah pada memilik warung.


Setelah membayar, ia berniat berlalu pergi


tapi matanya melihat beberapa anak yang laki laki berada di pojok warung,


sambil terus menghembuskan asap putih. Dasar gak pro. Batin Keylan.


Keylan kembali menaiki tembok belakang


sekolah itu, belum sampai ia turun. Sebuah teriakan menggema di telinganya dan


membuatnya terkaget, Alhasil dia terjatuh sebagian lengan bajunya robek akibat


sempat tersangkut besi pondasi tembok.


"Aww." Keylan merintih sambil


memegangi kulit lengannya yang sedikit terkelupas dan mengeluarkan darah segar.


"Keylan dari mana kamu?! Mau bolos


kamu?!" Guru perempuan itu berteriak begitu kencang dengan dua


pertanyaanya yang merentet.


Keylan tak merespon pertanyaan itu, ia


masih sibuk menahan ngilu dari sakitnya sendiri.


"Sebentar, Bu." Ucap Keylan


sambil berdiri. "Ibu jangan teriak-teriak, tangan saya tergores, saya mau


ke UKS sebentar."


Dengan santainya Keylan mengucapkan hal itu


pada Gurunya yang sudah menahan emosi, lalu berjalan santai melewati sang guru.


Belum sampai melewati, si guru menarik kerah baju Keylan.


"Enak saja kamu main pergi. Ke Uks


sama ibu,  habis itu ke kantor."


Kata sang guru sambil menarik kerah baju Keylan lagi seperti menarik anak


kucing.


%%%


Setelah tangannya di obati dan balut kain


kasa, Keylan berjalan masuk kedalam ruang guru, di mana Ibu Ayumi, guru yang


"Cerita kamu dari mana?" tanya bu


Ayumi. "Kamu mau bolos, ya?"


"Eh enggak bu, saya habis


dari..." Ucap Keylan terpotong, ia tak mungkin mengatakan kalau ia membeli


sesuatu dari warung sebelah.


"Dari mana?" paksa Bu Ayumi lagi.


"Dari warung sebelah bu." Kata


Keylan akhirnya.


"Ngapain kamu dari sana? Sudah jam


masuk ini." tanya Pak Azmi ikut pembicaraan itu. Azmi guru Olahraga.


"Atau kamu beli rokok, ya? Sini bagi tas mu."


Pak Azmi berusaha mengambil tas milik


Keylan, tapi Keylan tak memberikannya, akhirnya adegan tarik menarik pun


terjadi. Dengan sedikit paksaan, akhirnya Keylan menyerahkan tas itu, takut


jika robek.


Pak Azmi membuka tas milik Keylan,


memeriksa setiap kantong, lalu mengeluarkan isinya. Mulai dari Pomade, gelang,


buku, dan banyak hal tak penting lainnya.


Kemudian saat pak Azmi merogoh kantong


terkahir, ia menemukan dua batang permen coklat. Tanpa menemukan satu batang


rokok pun. Setelah itu mengembalikan tas pada Keylan.


"Enggak ada kan, Pak. Saya tadi cuma


beli permen coklat. Soalnya kalau istirahat disitu suka tutup." Kata


Keylan menarik napasnya sendiri.


"Yaudah kamu masuk. Lain kali jangan


diulangi. Kalau mau beli makanan sebelum bel masuk." Kata Bu Ayumi.


"Ashiapp, Bu." Kata Keylan


sumringah. "Assalamualaikum, Pak, Bu."


Setelah mengucapkan hal itu, Keylan


berjalan tanpa beban keluar dari kantor guru.


Meskipun ia terkenal nakal dan tak tahu


aturan, tapi ia selalu anti dengan yang namanya merokok. Merokok itu hanya


menyakiti dirinya sendiri. Walaupun Papanya merokok dan tak melarang ia


melakukan hal itu. Tetap ia tak mau.


Tak berapa lama, ia sampai di Kelas.


Melihat kelasnya yang kosong, ia bergegas menaruh tas dan mengganti pakaiannya


yang ia kenakan dengan baju olahraga.


Setelah itu ia berjalan pelan menuju


lapangan,  Karena biasanya pelajar


olahraga di lakukan disana.


"Keylan, dari mana kamu?" tanya


pak Fatur begitu melihat Keylan baru nampak di matanya.


"Tadi disuruh Bantuin Pak Azmi betulin


tembok belakang, Pak." jawab Keylan bohong.


"Alasan saja. Cepat baris." Ujar


Pak Fatur. Keylan mengindahkan.


Keylan berjalan masuk kedalam barisan, tapi


ia berjalan kearah depan.


"Mundur lu," Kata Keylan pada


seorang cowok.


"Lu aja yang dibelakang."


Mendengar jawaban cowok itu, Keylan menyentil


daun telinganya. Setelah itu si cowok menoleh dan mendapati Keylan mengepalkan


tangan.


Karena tak ingin berurusan dengan Keylan,


cowok itu mundur kearah belakangan.


Bukan tanpa alasan Keylan berdiri di


barisan kedua, karena ia sengaja ingin berada di dekat cewek yang begitu di


kaguminya dan di sukainya, Aresti namanya.


%%%


Keesokannya..


"Nih," kata Keylan memberikan


sebuah spanduk besar setelah ia keluar dari tempat sablonan pada Raka.


"Apa ini?" tanya Raka pada


Keylan, dengan nada penasaran.


"Spanduk. Nanti lu pasang didepan


kelas MIPA dua, lu bentangin kebawah."


"Buat apa?" tanya Raka lagi,


masih penasaran apa yang akan di perbuat Keylan setelah ini.


Terakhir kali Keylan berbuat ulah, ia dan


Keylan harus berurusan dengan guru BK.


"Banyak tanya, lakukan aja, ya


sepupuku yang paling ganteng." gemas Keylan sambil mencubit pelan kulit


lengan Raka.


Raka menepis cubitan Keylan, lalu duduk di


belakang setir. Keylan membawa motor itu berjalan.


"Lu jangan buat ulah lagi ya,


Lan." Kata Raka ketus.


"Enggak. Eh, kapan gue pernah buat


ulah?" tanya Keylan tak merasa bersalah.


"Hampir tiap hari. Heran, bikin ulah


mulu, kayak bocah."


"Gue emang bocah." Setelah


mengatakan hal itu, Keylan mengemas motornya dengan cepat. Alhasil ia kembali


mendapat keplakan di kepalanya dari Raka.


Beberapa menit kemudian.


"Res, gue suka sama lu!" Teriak


Keylan.


Saat itu ia dan Aresti, seorang cewek yang


di sukai nya sejak lama sama sama berada di lapangan dan mereka hanya berdua.


Aresti membalikkan badan kemudian menoleh,


melihat Keylan yang berdiri sambil menyungging senyum aneh.


"Apa?" tanya Aresti kaku, datar


tanpa sedikitpun kaget.


"Gue suka sama lu. Lu mau jadi pacar


gue gak?" ulang Keylan mendengar pertanyaan Aresti tadi.


"Ogah." Setelah mengucapkan itu


Aresti membalikkan badannya, kemudian berusaha berjalan menjauh.


Kemduian. Keylan melambaikan tangan


kanannya perlahan.


Duar!


Suara balon meletus, bersamaan dengan


sebuah spanduk besar yang terjatuh dari salah satu kelas, bertuliskan "I


love you Aresti".


Setelah itu banyak balon, potongan kertas,


dan bubuk gliter yang berjatuhan.


Aresti menghentikan langkahnya, melihat hal


itu, dan terdiam. Tingkah konyol Keylan begitu menyebalkan.


Keylan terlalu nekad meski hanya untuk


mengungkapkan perasaanya saja.


Aresti kembali menoleh ke arah Keylan,


masih dengan wajah yang sama. Sepertinya kelakuan Keylan tak sedikitpun merubah


apa yang sudah terjadi.


"Lu ngapain sih? Norak tau." Kata


Aresti.


"Gue cuma ngungkapin perasaan


gue." Jawab Keylan polos.


"Gue gak suka sama lu. Mau berapa kali


sih gue bilang."


"Masa sih lu gak suka sama cowok


sekeren dan setajir gue?"


Aresti terdiam, tak menjawab pernyataan


Keylan. Dia berusaha mencari cara agar bisa lepas dari anak itu, sudah sejak


kelas sepuluh Keylan berusaha membuatnya suka. Menyatakan perasaannya berulang


kali. Tapi, Aresti tak pernah tertarik dengan apa yang di lakukan Keylan.


"Oke, gue punya satu syarat agar lu


bisa gue terima." Ucap Aresti kemudian.


Mata Keylan berbinar. "Apa


syaratnya?"


"Sini mendekat." perintah Aresti.


Keylan berjalan perlahan mendekati Aresti


sambil terus mengulas senyum.


"Seminggu lagi, ada balapan motor. Gue


pingin lu ikut, gak perlu juara satu, juara dua cukup." sambung Aresti.


Mendengar ucapan Aresti itu, Keylan


mengerutkan keningnya. Berusaha meyakinkan bahwa yang didengar dari ucapan


Aresti itu benar.


"Maksud lu?" tanya Keylan masih


penasaran.


"Iya, lu harus ikut balapan motor itu.


Biar kelihatan laki."


"Gue ini karateka ya, kurang laki apa


gue?"


"Pokoknya lu harus ikut, kalau lu mau


jadi pacar gue. Kalau enggak ya, berarti cukup sampai disini. Dan lu jangan


berusaha nembak gue lagi. Ngerti lu,"


Keylan masih berpikir sejenak.


"Oke. Kapan dan dimana?" tanya


Keylan.


"Hari sabtu malam, di dekat Dinas


perhubungan ujung kota. Jangan lupa pakai motor gede. Jangan motor matic."


Keylan mengangguk.


"Gue tunggu sabtu malam. Bye."


Sesaat setelah mengucapkan itu, Aresti


berlalu pergi. Keylan hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Aresti berusaha


menolaknya lagi, dan sekarang membuat persyaratan konyol.


Tak berapa lama, Raka datang saat melihat


Aresti sudah pergi.


"How?" tanya Raka.


"Gue ditolak lagi. " kata Keylan


dengan menggeleng pelan. "Tapi..."


Belum selesai mengatakan sesuatu, ucapannya


terpotong saat mendengarkan teriakan seseorang.


"Keylan! Raka!"


Keduanya menoleh. Mendapati Pak Rahman si


guru BK yang gendut tengah berdiri sambil membawa rotan.


Keylan dan Raka menelan ludah, mereka akan


terkena masalah lagi. Raka menepukkan telapak tangannya pada wajah, sementara


Keylan berusaha kabur, tapi kakinya keburu di pukul dengan rotan milik pak


Rahman.


"Kalian, buat apa lagi?!" teriak


pak Rahman, tepat didepan keduanya.


"Anu, itu, pak, apanya." Jawab


Keylan gugup.


"Anu siapa?" tanya pak Rahman


lagi lagi dengan wajah menakutkan.


"Anu bapak. Eh enggak, Pak. Itu


kamu..."


Pak Rahman memotong. "Enggak ada anu


anu'an. Bersihkan semua kekacauan kalian, apa lagi spanduk itu 'I love you


Aresti', alay."


Keylan dan Raka mengangguk anggun bodoh.


"Setelah itu, temui bapak di kantor.


Heran kalian lagi, kalian lagi." sambung pak Rahman. Lalu berjalan menjauh


dari kedua anak muridnya yang entah berapa kali sudah berbuat onar dalam


sebulan terkahir.


"Bersihin gih." Ucap Keylan


memerintahkan Raka sesat setelah Pak Rahman pergi.


"Ogah. Ini semua lu yang buat


masalah." Jawab Raka.


"Dih, Please Bantuin." Mohon


Keylan.


"Lu yang lepasin spanduk. Gue yang


mungutin balon." Ucap Raka pada Keylan.


Mendengar ucapan itu Keylan menghormat ala


tentara, kemudian berlari ke lantai dua. Untung saja saat itu suasana sekolah


sepi, karena memang jam masuk kelas.


Alasan Keylan dan Aresti masih di luar,


karena Aresti baru dari ruang guru dan Keylan sengaja menculik Raka untuk


keluar dari kelas.


Keylan melepaskan sepanduk itu dengan


pelahan, jarak jangkauan tangannya begitu susah untuk menarik pengait itu.


Dengan paksa. Entah bagaimana caranya Raka memasang tadi.


Tak berapa lama, ia selesai dan begitu pun


dengan Raka yang juga sudah selesai dengan balon balon yang berserakan tadi.


Setelah itu keduanya menuju ruang Pak


Rahman, neraka bagi para siswa.


%%%


Keylan dan Raka duduk di kursi di ruangan


pak Rahman. Kedua bersikap seolah tak merasa bersalah, sementara Pak Rahman


memandang wajah keduanya yang menggeleng kan kepala.


"Kalian tahu kan apa kesalahan kalian?"


tanya pak Rahman. Keduanya menggeleng. "Kamu Keylan baru kemarin lusa kamu


kesini. Dan Sekarang kesini lagi. Kamu mau jadi Student Of the Year dengan


penghargaan terbanyak masuk ruang BK, apa?"


"Pak yang kemarin kan sudah saya


jelaskan sama pak Azmi dan Bu Ayumi, kalau saya cuma beli permen coklat."


Jawab Keylan tak ingin di salahkan.


"Tapi kamu memanjat tembok. Gimana


kalau adik kelasmu lihat, dan mereka niru?"


"Ya itu kan kemauan mereka, Pak.


Jangan salahkan saya dong, Pak." Ucap Keylan dengan entengnya.


"Kamu jawab lagi, ya. Ini," Pak


Rahman memberikan sebuah amplop yang berisi surat teguran untuk orang tua


Keylan. "Kasih surat itu sama orang tua, dan suruh mereka kesini. Sekarang


kalian dapat hukuman bersihkan toilet guru."


"Kok Raka gak dapat, Pak?" tanya


Keylan penasaran, karena sejak tadi hanya dia yang ditegur pak Rahman.


"Bapak kecualikan dia, karena Raka


murid pintar. Mungkin gara gara kamu paksa dia, jadi dia mau." Papar pak


Rahman lagi, Keylan mengerucutkan bibirnya.


Keylan selalu saja di salahkan, padahal ia


tak merasa berbuat onar. Apa orang tua sekolot itu. Heran Keylan.


Setelah itu keduanya kelaur dari ruangan


pak Rahman, menuju toilet guru yang berada di ujung lorong, setelah sebelumnya


mereka mengambil pel dan beberapa peralatan untuk kebersihan.


Keylan banyak bersantai sementara Raka yang


mengerjakan semua hukuman yang di berikan pak Rahman itu.