My Berondong Husband

My Berondong Husband
#107 Malam Terakhir di Rumah Sakit



Di malam yang sama, Kesya belum bisa tidur saat Keylan dan Kevano sudah terlelap dalam mimpi indah masing-masing dari mereka.


Kesya masih teringat dengan kedatangan Laras bersama putrinya tadi. Kesya nampak sekali canggung dan bingung, karena selama ini ia merasa tak pernah terlibat obrolan lebih intim dengan Laras.


Hanya saja ia tahu bahwa Laras dulu adalah mantan pacar Bian, lebih tepatnya mereka masih berpacaran disaat ia dan Bian juga berpacaran. Lalu yang ia tahu Bian dan Laras putus, saat itu ia merasa menyesal karena seakan ia penyebab mereka berpisah, tapi ia tak bisa melepaskan Bian begitu saja, sebab ia sangat mencintai Bian.


Kesya tahu Laras juga bekerja di perusahaan orang tuanya, dari segi apapun Laras lebih cocok dengan Bian. Sikap Laras yang dewasa dan keibuan, nampak begitu baik, berbeda dengan dirinya yang terkesan urakan dan egois. Tapi, entah kenapa Bian malah memilihnya.


Bian tak mungkin mengejar harta keluarganya, karena Bian tidak matre bahkan terkesan loyal dengannya. Tapi semua berakhir saat akhirnya ia menerima undangan pernikahan Bian dan Laras, mereka menikah tepat dua tahun saat Bian keluar dari Penjara dan juga dua tahun setelah kematian papanya.


Permasalahan hidupnya menjadi sedikit lengang, tak serumit pikirannya dan apa yang selalu ia khawatirkan. Sebelum Bian menikahi Laras, ia takut jika Bian akan mengejarnya lagi, berusaha mendapatkannya setelah keluar dari penjara, nyatanya jeruji besi itu bisa membuat hati seorang Bian berubah drastis.


Pukul satu dini hari, ia juga belum berniat memejamkan matanya, saat tangannya masih asyik bermain diatas ponsel pintarnya. Sesekali ia selingi dengan tawa ringan, karena ber-chat dengan Ganda. Malam itu pun Ganda belum tidur, karena masih mempersiapkan fashion show untuk rancangan terbarunya.


Sudah lama ia bersahabat dengan Ganda, meskipun sikpa laki-laki bertulang lunak itu sedikit aneh, tapi Kesya tak pernah mempermasalahkannya. Kesya tahu setiap orang memiliki alasan tertentu untuk melakukan hal yang ia mau.


Ganda yang dulu hanyalah pegawai kantor biasa disalah satu pengiklanan, lalu berubah menjadi peracang baju yang namanya melejit dengan usaha yang keras. Kesya bangga dengan sahabatnya itu.


"Yang," panggil pelan Kevano, dengan mata yang berusaha terjaga, "Kamu kok belum tidur? Ini sudah malam lho, besok jam delapan kita kan harus pulang."


Kesya menutup layar ponselnya, "Iya sebentar lagi aku tidur, Kamu duluan aja gih."


“Kok kamu duluan, aku udah tidur dari tadi, terus kebangun gara-gara kamu,” ujar Kevano kini mendekati Kesya.


“Emang aku berisik banget ya?” tanya Kesya.


“Ketawamu itu lho, kayak mbak kuntu malam-malam begini. Ngapain sih?”


“Biasalah lagi chatan sama Ganda makanya aku ketawa terus.”


“Pantesan,” gumam Kevano.


Lalu Kevano membiarkan Kesya kembali sibuk dengan ponselnya, tanpa sedikitpun ingin menganggu. Kevano selalu memberikan ruang bebas Kesya untuk melakukan apapun yang ia mau selama itu tak menghalangi tugasnya sebagai seorang ibu dan perempuan karier.


Kevano setelah itu juga belum memejamkan matanya, masih memperhatikan Kesya dari sudut punggung yang tertutup, kemudian matanya melihat Kesya yang mulai nampak tertidur, karena layar ponsel tak lagi memancarkan cahaya kewajahnya. Setelah itu Kesya terlelap dengan tangan sebagai bantalnya.


Hampir saja Kevano tertidur, saat ia mendengar suara Keylan memanggilnya lirik. Kevano mengerjap sesaat, saat ia melihat Keylan berusaha bangkit.


“Key, mau kemana?” tanya Kevano.


“Pipis, Pa,” jawab Keylan.


Kevano mendengus pelan memperhatikan anak lelakinya yang mencoba bangkit perlahan, agar tidak membangunkan sang mama. Kevano membantu dengan cepat.


“Cuma minta tolong bantuin jalan, Pa. Lagian aku gak takut ke toilet sendiri,” kata Keylan.


Kevano mengulas senyum saat mendengar ucapan Keylan tadi, sambil membantu Keylan berjalan ke kamar kecil, ia tak henti tersenyum.


Kini Keylan masuk kekamar mandi dan Kevano menunggu di luar dengan mengingat beberapa hal tentang Keylan, karena ucapan Keylan mengingatkan pada masa lalu saat Keylan masih menjadi anak kecil yang lucu dan begitu polos.


Keylan yang penakut selalu meminta bantuan pada sang papa, meminta untuk di temani bahkan kekamar kecil sekalipun. Sikap manjanya tak pernah membuat Kesya dan Keylan mereasa risih, malah sebaliknya. Kevano merasa bahagia, karena jika Keylan tak bermanja ada yang kurang.


“Pa, udah,” ujar Keylan dari dalam kamar mandi.


“Yaudah Key, cepat keluar. Papa masih di sini.”


“Anu, Pa, ini,” ucap Keylan sedikit terbata dan bingung bagaimana melanjutkannya.


“Anu kenapa?” tanya Kevano sambil membuka pintu kamar mandi itu. Kevano melihat Keylan yang masih berdiri di dekat closed yang sudah tertutup kembali, dengan baju dan celana rumah sakit yang basah dan terkena air.


Pakaian Keylan nampak basah semua, Kevano hampir saja menjita Keylan, tapi ia uurngkan dan kembali kekamar untuk mengambil handuk dan pakaian yang kering. Tak lama Kevano memberikannya pada Keylan.


“Kok bisa basah semuanya,” ujar Kevano bergumam.


“Itu tadi semprotannya jatuh kelantai, terus keinjek kaki Keylan, jadi basah deh,” jawab Keylan sambil memamerkan giginya.


Setelah itu Kevano membantu Keylan untuk kembali kekamarnya dan kedunya kembali tidur. Kevano malah terjaga saat jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga dini hari, ia menyuruh Kesya tidur tapi ia malah tak bisa tidur.


Berulang kali ia mencoba memejamkan matanya tapi begitu sulit, hingga ia putuskan untuk keluar dari kamar Keylan dan mencari udara segar atau cemilan di minimarket yang tak jauh dari rumah sakit itu.


Kevano menyusuri lorong rumah sakit, keluar dari sana, dan menyebrang jalanan yang memang sudah sepi. Di depan rumah sakit itu ada minimarket yang buka 24 jam, masih ada beberapa orang yang melakukan transaki, mungkin keluarga dari pasien di rumah sakit itu.


Kevano membeli beberapa minuman bersoda dan chips ringan yang akan ia cemilan nanti, setelah mendapatkan yang ia mau, Kevano hendak membayar namun tak sengaja ia tertabrak seorang perempuan.


Barang yang perempuan itu bawa jatuh kelantai minimarket, Kevano berusaha membantu memasukkannya lagi kedalam keranjang.


“Maaf mbak saya gak sengaja,” ucap Kevano saat ia dan perempaun itu dalam keandaan berdiri sejajar.


“Iya mas, saat noleh gak lihat tadi,” perempuan itu mengulas senyum pada Kevano lalu mengangguk dan pergi mencari barang lain.


Sementara Kevano membayarnya di kasir dan membawanya duduk di kursi yang ada di depan minimarket itu. Sambil men-schroll ponselnya, Kevano menghembuskan asap rokok keudara, entah sudah sejak kapan ia mulai kecanduan merokok, tapi yang pasti setiap saat ia bisa saja merokok, bahkan tak kalah dengan Ruben.


Di usianya yang sudah cukup dewasa sebagai laki-laki, kadang ada saja pikiran yang menghantuinya, ingin ia biarkan tapi menganggu, ia pikirkan nanti malah membuatnya steres.