My Berondong Husband

My Berondong Husband
#83 Dokter Abrar Yang Overprtektif



Setelah Dr.Abrar pergi, Pak Rendra mulai membuka suara untuk membuat Yunda yakin akan pilihan sang Papa. Dia tidak ingin Anaknya berpikiran sempit. Dia tidak mau Yunda merasa tertekan dengan keputusannya saat ini.


"Yun.. Maafkan Papa yang membuat keputusan ini secara mendadak. Apa kamu keberatan dengan hasilnya? Sejak tadi kamu hanya terdiam meninduk seperti itu. Papa jadi merasa tidak enak melihat keadaanmu saat ini. Katakan saja, apa.yang mengganjal dipikiranmu?" Tutur Pak Rendra sembari bertanya pada Anaknya itu.


Yunda pun beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Papanya. Dia memeluk erat sang Papa sambil berkata, "Keputusan Papa itu tidak menyulitkan Yuyun sama sekali. Yuyun malahan merasa sangat berterimakasih sama Papa."


"Wahh, berarti pilihan Papa itu sangat tepat. Papa sudah tau sejak tadi pagi, kalau kamu menyukai Abrar. Semoga saja kalian bisa mengabulkan keinginan Papa secepat mungkin ya, Yun.." Ucap Pak Rendra dengan senyuman yang merekah.


"Ahh.. Papa.. Baru aja hubungan kami dimulai, Papa sudah memikirkannya sampai sejauh itu. Sudahlah, Papa istirahatlah. Aku juga sudah mengantuk. Besok aku harus pulang dulu sebelum berangkat ke Kantor." Yunda berusaha mengalihkan perhatian sang Papa. Dia sudah tidak sanggup mendengar kata - kata yang akan diucapkan oleh Papanya.


Keesokan paginya..


Yunda yang terbangun pagi - pagi sekali, tidak tega membangunkan Papanya yang masih nyenyak dalam tidurnya. Dia pun berjalan keluar dari ruangan itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Saat dia mulai melangkahkan kakinya menyusuri lorong Rumah Sakit itu, lagi - lagi ada yang memanggilnya.


"Yunda!" Teriak Dr.Abrar dari kejauhan. Dia baru saja selesai melakukan operasi pada salah satu pasien yang sudah dijadwalkan.


"Dokter?" Ucap Yunda dengan ragu.


"Kamu sudah mau pulang?" Tanya Dr.Abrar yang sudah berada di hadapan Yunda.


Yunda pun menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Iya, Dok. Aku harus cepat pulang, takut terlambat ke Kantor."


"Ya sudah, aku akan mengantarkanmu pulang. Mulai saat ini, jangan panggil aku Dokter lagi. Kamu bisa memanggil namaku atau sejenisnya. Karena saat ini kita itu sepasang kekasih." Ucap Dr.Abrar yang membuat Yunda membelalakkan matanya.


"Kamu tidak masalah kalau aku memanggilmu dengan sebutan apa saja?" Tanya Yunda dengan manjanya.


Dr.Abrar hanya menganggukkan kepalanya perlahan dan berkata, "Tunggu aku di lobi. Aku mau ke ruanganku mengambil kunci mobil."


Yunda yang melihat Dr.Abrar pergi meninggalkannya pun segera berkjalan menuju lobi. Dia menunggu dengan sabar sambil memikirkan panggilan yang akan ia gunakan untuk memanggil kekasihnya itu.


"Yun.." Tiba - tiba saja ada yang membuyarkan lamunan Yunda dari arah samping. Orang itu tak lain adalah Dr.Abrar.


"Kamu dipanggil daritadi tidak menyahut. Lamunin apa aja? Sudah waktunya pulang. Kamu tidak mau terlambat kerja kan?" Tanya Dr.Abrar pada Yunda yang baru saja menoleh ke arahnya.


Yunda pun tersenyum mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Dr.Abrar. Dia tidak ingin mengulur waktu lagi. Langsung saja Yunda berdiri dan menyusul langkkah kaki Dr.Abrar yang sudah berjalan lebih dulu.


"Jangan pernah lupa untuk memakai sabuk pengaman ya, Yun." Dr.Abrar mendekat pada Yunda dan mengaitkan sabuk pengaman milik Yunda dengan benar.


Yunda yang mendapat perlakuan seperti itu pun mulai merasakan detak jantungnya yang tidak karuan. Dia berusaha menutupi rasa canggungnya dengan bertanya pada Dr.Abrar mengenai nama panggilan yang akan ia gunakan.


"Bagaimana kalau aku memanggilmu dengan kata Kakak? Atau Sayang? Atau aku panggil saja dengan sebutan Honey? Kamu lebih suka dipanggil dengan sebutan yangmana satu?" Yunda mulai mengangkat suara


Dr.Abrar tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan Yunda terhadapnya. Dia hanya terkekeh sedikit karena merasa lucu dengan pertanyaan Yunda. Aneh saja, kenapa untuk sebuah panggilan saja, harus seribet itu?


"Kenapa malah kekeh begitu sih? Bukannya dijawab, malah kekeh sendiri. Memangnya ada yang lucu?" Yunda merasa kesal saat tidak ada jawaban dari Dr.Abrar.


"Kamu bisa langsung panggil namaku saja jika bingung harus memanggilku dengan sebutan apa, Yun. Toh juga, usia kita tidak terpaut jauh." Jawab Dr.Abrar dengan santainya.


Ujung - unjungnya, Yunda yang terdiam mendengar perkataan Dr.Abrar. Dia baru menyadari bahwa Dr.Abrar terlihat semakin tampan jika tersenyum seperti itu.


Sesampainya di depan Rumah Yunda, Dr.Abrar pun memberhentikan mobilnya sambil berkata, "Kita sudah sampai, Yun. Mau sampai kapan kamu melamun seperti itu? Aku baru tau kalau kamu itu orangnya suka melamun. Tidak baik melamun terus, Yun." Ucap Dr.Abrar yang melihat Yunda masih saja terdiam menatap kosong ke arah depan tanpa menyadari bahwa mereka sudah sampai di depan Rumahnya.


"Ahh, iya. Makasih banyak, Dok. Ehh. maksudhku, Abrar." Jawab Yunda dengan sedikit tergagap karena kepergok sedang melamun.


Dengan cepat, dia keluar dari mobil milik Dr.Abrar dan langsung berlari masuk ke dalam Rumah. Dia tidak menoleh sama sekali ke arah Dr.Abrar lagi.


Dr.Abrar hanya bisa tersenyum melihat kepergian Yunda yang terlihat tergesa - gesa itu. Dia pun menghidupkan kembali mesin mobilnya dan mengemudikannya. 


Sebenarnya, Dr.Abrar hanya memiliki sedikit waktu sebelum dia harus kembali bekerja. Sebagai seorang Dokter, dia memiliki tanggung jawab yang besar untuk menangani pasien - pasiennya. Apalagi dia adalah seorang Dokter ahli di bidang Onkologi yang merupakan sub - bidang medis yang mempelajari dan merawat kanker.


Setelah Dr.Abrar tiba di Rumah Sakit, dia pun kembali ke ruangannya. Begitu selesai berganti pakaian, Dr.Abrar pergi ke ruangan Pak Rendra untuk kunjungan pertamanya pada hari ini.


Pak Rendra yang sudah bangun dari tidurnya, menoleh ke arah Dr.Abrar sambil tersenyum. Dia merasa senang hari ini karena sudah mendengar kabar dari Istrinya kalau Yunda pulang diantar oleh Dr.Abrar.


"Pak, bagaimana kondisi tubuh Anda pagi ini? Apakah Anda ada merasa sakit atau nyeri di bagian tubuh Anda saat ini?" Tanya Dr.Abrar pada Pak Rendra.


Dr.Abrar terdiam sejenak setelah mendengar ucapan ketus dari Pak Rendra. Dia tidak berpikir bahwa Pak Rendra serius dengan ucapannya.


"Papa ingin kamu bisa menjaga Yunda sebagaimana mestinya. Papa harap kamu tidak mengecewakan Papa ya, Ab." Lanjut Pak Rendra melihat kebisuan Dr.Abrar.


Akhirnya, Dr.Abrar menjawab dengan singkat, "Baik, Pa."


"Abrar permisi melanjutkan pekerjaan Abrar dulu ya, Pa." Ucap Dr.Abrar untuk mengakhiri kunjungannya terhadap Pak Rendra.


"Iya, pergilah." Jawab Pak Rendra singkat.


Dr.Abrar pun keluar dari ruang rawat inap Pak Rendra. Dia harus memfokuskan dirinya dalam bekerja. Meskipun dia masih memikirkan mengenai keputusannya yang dengan begitu cepat memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Yunda.


**********


"Pa, Ma." Yunda menyapa kedua orangtuanya. Dia berusaha untuk meluangkan waktunya mengunjungi Papanya di Rumah Sakit.


"Kenapa kamu kelihatan terburu - buru begitu, Nak?" Tanya Mamanya Yunda pada Anaknya.


Yunda tersenyum tipis dan berkata dengan lembut, "Ma, Pa.. Yunda mau pergi bareng teman. Mereka sedang menunggu di parkiran. Tadi aku dijemput dari Kantor, Ma."


"Papa sudah tau apa yang ingin kamu katakan selanjutnya. Sudahlah, kamu boleh pergi jika kamu mendapat izin dari kekasihmu itu." Tegas Pak Rendra pada Anaknya itu.


"Aduh, Pa.. Kenapa harus izin segala sama dia sih? Yuyun kan sudah besar, sudah tau jaga diri." Ucap Yunda yang tidak ingin melibatkan Dr.Abrar dalam kegiatan sehari - harinya.


Pak Rendra menatap tajam sang Anak dan berkata dengan penuh penekanan, "Ingat, Yun. Kamu itu sudah bukan jomblo lagi. Sekarang kamu sudah memiliki pasangan yang Papa harap akan menjadi Suamimu kelak. Papa tidak ingin kamu bermain - main lagi, Yun. Kamu harus bisa menghargai pasanganmu."


"Baiklah, Pa. Yuyun izin dulu sama dia. Yuyun pergi ya, Pa, Ma." Jawab Yunda lesu.


Yunda pun keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ruang kerja Dr.Abrar. Sebenarnya, Yunda masih sedikit canggung dengan hubungan mereka yang tiba - tiba seperti ini.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Ya, masuk!" Teriak Dr.Abrar dari dalam ruangannya.


"Kamu ternyata, Yun. Ada apa, Yun?" Tanya Dr.Abrar pada Yunda yang baru saja masuk dan masih berdiri di balik pintu masuk ruang kerjanya.


"Gini, Kak. Aku mau izin pergi dengan teman. Papa menyuruhku untuk meminta izin darimu lebih dulu sebelum aku pergi." Ucap Yunda dengan perlahan.


Dr.Abrar pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Yunda yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Dia menarik tangan Yunda dan menyuruhnya duduk di kursi.


"Kamu mau pergi kemana? Coba katakan dengan jelas." Ucap Dr.Abrar sambil menatap Yunda dengan Intens.


"Aku mau pergi ke klub langganan bersama dengan teman - temanku." Jawab Yunda dengan ragu.


"Biasanya, kamu pergi ke klub itu sampai berapa jam? Dan bersama dengan siapa saja?" Dr.Abrar mulai menginterogasi Yunda dengan serius.


"Aku pergi dengan temanku dan kami berjumlah 10 orang. Mereka semuanya baik kok, Kak. Biasanya, Yunda akan pulang subuh kalau pergi bersama dengan mereka." Jawab Yunda dengan penuh rasa takut. 


Ini kali pertama baginya diinterogasi oleh seseorang dengan serius. Papa dan Mamanya saja tidak begitu keras dalam mempertanyakan keberadaannya selama dia bisa menjaga diri dan pulang dalam keadaan selamat.


"Baiklah." Ucap Dr.Abrar singkat.


"Jadi? Aku boleh pergi dengan mereka, Kak?" Yunda merasa senang dan bertanya untuk memperjelas jawaban yang diberikan oleh Dr.Abrar padanya.


"Aku tidak akan melarangmu pergi bersama mereka. Tapi, aku akan menjemputmu di sana sekitar pukul 9 malam saat aku sudah selesai dengan jadwal kerjaku. Kita akan pulang setelahnya. Bagaimana, Yun?" Lagi - lagi Yunda merasa kecewa akan ucapan yang diberikan oleh Dr.Abrar padanya.


"Kenapa begitu? Aku bukan Anak kecil lagi. Yang harus pulang sebelum jam 10 malam. Papa dan Mama saja tidak pernah melarangku seperti itu." Jawab Yunda dengan ketus pada Dr.Abrar.


"Aku kan sudah bilang, aku tidak melarangmu. Aku hanya ingin menjemput kekasihku dan mengantarnya pulang ke Rumah. Kalau kamu tidak mau menurutinya, terpaksa aku mengurungmu di sini dan menemaniku untuk bertugas malam ini sampai pulang nanti. Kamu boleh pilih yang mana satu kegiatan yang kamu sukai." Tutur Dr.Abrar yanh dnegan cueknya mengabaikan wajah kesal Yunda. Dia berjalan menuju kursinya dan duduk dengan santainya.


"Baiklah! Aku akan pergi. Kakak bisa datang ke alamat yang aku kirimkan lewat pesan singkat. Aku tidak akan ikut pulang jika Kakak membuatku malu di depan semua teman - temanku." Jawab Yunda dengan penuh emosi.


Yunda pun pergi dengan suasana hati yang kesal. Dia tidak suka diatur - atur. Tapi, Dia masih mengingat perkataan Papanya. Dia harus menghargai pasangannya.


Sedangkan Dr.Abrar, dia merasa senang dengan sikap Yunda yang mau menuruti permintaannya. Dia tidak menyangka bisa dengan mudah membuat Yunda menurut padanya. Semua yang dilakukannya itu sudah pasti untuk kebaikan Yunda.