My Berondong Husband

My Berondong Husband
#118 15 Tahun Lalu (Dua)



Pagi harinya Bian sudah terbangun dengan tubuh yang sedikit segar, tidur ternyaman setelah tiga tahun lamanya. Bian turun dari kamarnya, menuju ruang makan dimana orangtua dan adiknya Renata sudah ada di sana.


“Pagi sayang,” ucap nyonya Mira saat Bian sudah sampai di meja makan.


“Pagi, Ma,” jawab Bian, lalu di kursinya, mengambil makanan yang sudah mamanya sediakan.


Sudah tiga tahun lamanya ia tak menikmati makanan seenak itu, meskipun mamanya sering mengantar makanan ke penjara, tapi rasanya tetap berbeda.


“Makan yang banyak, kamu tambha kurus selama disana,” ujar sang papa.


“Makan ati terus Pa selama disana, gimana gak tambah kurus,” jawab Bian sambil mulutnya terus mengunyah makanan.


Masa-masa terkelam dalam hidupnya sudah musnah seketika, meskipun tak seketika kenyataannya, ia harus menunggu cukup lama, berusaha menahan segala rasa yang mungkin akan terus membuatnya bertambah emosi.


Meskipun di dalam penjara, beberapa temannya tidak seburuk yang orang di luar sana pikirkan, tapi terkekang itu memang tidaklah enak. Tidak bisa berbuat apa-apa, makan dan tidur harus di atur.


Setelah mengalami hal itu, Bian merasa bersalah pada orang-orang yang pernah kalah di pengadilan dengannya, masuk penjara bukan berarti pilihan yang tepat untuk menghukum orang, kadang masuk penjara membuat orang semakin dendam dan ketika keluar akan ingin berbalas dendam.


Bian masih menikmati makannya saat Renata berpamitan untuk berangkat kuliah, kini sang mama juga sedang memebereskan beberapa piring yang sudah selesai, tinggal ia dan sang papa yang berada di sana.


“Kau mau apa setelah ini?” tanya Tedi begitu Bian selesai dengan makannya.


Pertanyaan sang papa kini membuat Bian berpikir. Bagaimana jika Kesya tahu tentang masalah dirinya dan laki-laki itu, bukannya akan menimbulkan masalah lebih rumit nanti. Tapi, kalau tidak di beritahu suatu saat masalah akan menghancurkan dirinya.


“Biar Kesya tahu bagaimana sifat asli orangtuanya, Pa,” kata Bian.


Kini Tedi yang mengangguk, meskipun dengan kata membantu, ia yakin Bian bisa mengurus sendiri, karena Bian sudah begitu dewasa, dan tak mungkin menyelesaikan semuanya dengan emosi semata.


 “Bahas apa sih seru banget?” tanya Mira pada suami dan anaknya sambil ia membereskan meja makan karena mereka sudah selesai.


“Bahas masa depan Bian, Ma,” jawab Bian sambil tersenyum. “Oiya Ma, gimana kabar saham Mama yang di luar kota?”


Mendengar ucapan Bian itu, raut muka Mira berubah sedih, ia mengingat kejadian tiga tahun lalu saat ia menjual saham cabang perusahaan pada seorang laki-laki, yang sampai saat ini ternyata laki-laki itu hilang dan saham pindah ketangan orang lain.


“Mama sudah menjualnya,” ujar Mira.


Bian berusaha meyakinkan ucapan sang mama bahwa itu benar, jika begitu kenapa sampai di jual, bukankah cabang itu sanagt penting bagi aset perusahaan.


“Kenapa, Ma?”  tanya Bian. Sang mama menggelang tak ingin bercerita. Lalu meninggal meja makan.


“Sejak kamu berada di penjara, banyak masalah yang menimpa Mama, yang memaksa Mamamu menjual cabang itu,” ujar Tedi. Bian berusaha paham dengan ucapan sang papa tak ingin mempermasalahkan itu lagi, mungkin itu pilihan terakhir sang mama.