My Berondong Husband

My Berondong Husband
#48 Kehamilan Kesya!



+Lima Bulan Kemudian+


"Hasil pemeriksaan, Ibu Kesya dinyatakan hamil tiga minggu." Ucap seorang perempuan bersnelli putih pada Kesya dan Kevano yang sudah menunggu dengan harap-harap cemas.


Memang beberapa hari Kesya sudah merasakan mual-mual, dengan inisiatif sendiri Kevano membeli alat tespek untuk Kesya, saat dicoba dua garis biru nampak disana, hari itu juga mereka pergi kerumah sakit untuk cek.


Setelah mengetahui bahwa Kesya benar-benar hamil, raut bahagia diwajah Keduanya terlihat. Memang mereka tak merencanakan atau menunda kehamilan, bagi mereka cepat atau lambat anak adalah rumah rezeki dari Tuhan.


Sesaat sang dokter memberikan surat keterangan kehamilan pada Kesya, mereka berdua berpamitan dan kemudian berlalu pergi.


"Alhamdulillah kamu hamil juga, Nur." Ujar Kevano dengan raut bahagia yang tak bisa dibendung. Nampak begitu jelas.


Keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


"Iya, semoga anak ini sehat terus sampai kelahirannya nanti." Timpal Kesya.


"Kalau begitu kamu harus jaga diri baik-baik, periksa kehamilan rutin, dan jangan capek-capek."


"Kalau itu gak usah dikasih tau, pasti aku lakukan."


Kevano dan Kesya sampai parkiran rumah sakit, dan entah bagaimana mereka berniat mengatakan berita gembira itu pada kedua orang tua Kesya.


Dijalankan motor Kevano dengan kecepatan sedang, di atas motor mereka terlihat pembicaraan yang cukup membuat suasana tak canggung, meski dibarengi dengan angin yang berhembus kencang.


Meski terlihat bahagia, tapi Kevano masih berpikir negatif, jika seandainya anak yang dikandung Kesya bukan miliknya.


Janin semuda itu tak bisa dites DNA, jika ingin mengetes ia harus menunggu sampai menjadi bayi. Dan ia harus menunggu sembilan bulan lamanya.


Kevano berusaha menenangkan dirinya, karena bagaimanapun ia tetap harus menjadi jika benar itu bukan anaknya.


Kevano membuang pikiran itu, saat motornya sudah masuk pekarangan rumah tuan Susanto, ia memarkirkan motornya disamping sebuah mobil berwarna hitam metal, yang ia tahu bukan milik tuan Susanto.


"Mobil siapa ini, Nur?" Tanya Kevano penasaran.


"Mungkin client Papa." Ucap Kesya sambil menarik tangan Kevano dan keduanya berjalan masuk kedalam rumah.


Kesya mengetuk perlahan pintu rumahnya, setelah itu ia menarik gagang pintu. Saat ia melihat sang Papa tengah berbincang dengan seorang Lelaki yang menggunakan baju setelan formal.


"Kalau begitu saya permisi, Pak." Ucap lelaki itu berpamitan, tengah saat Kesya dan Kevano datang.


Setelah tuan Susanto membalasnya lelaki itu berlalu, dan ia menyadari kedatangan anak serta menantunya.


"Nur, tumben kamu datang." kata tuan Susanto.


Kesya dan Kevano duduk disofa ruang tamu.


"Nur, mau ngasih ini Pa," ucap Kesya sambil memberi sebuah amplop putih pada tuan Susanto.


"Apa ini?" Tanya tuan Susanto sambil menerima pemberian Kesya. Dibacanya isi dari amplop itu dengan perlahan. Hingga membuat matanya membesar, dan bibirnya tersenyum. "Ini beneran, Nur? Kamu hamil?"


Kesya dan Kevano mengangguk.


"Mama!" Sambung tuan Susanto memanggil sang istri.


Tanpa menunggu panggilan untuk kedua kalinya nyonya Susan datang, dengan wajah bingung.


"Papa kenapa sih, Mama lagi masak? Eh ada kalian juga." Tanya Nyonya Susan bingung.


"Baca ini." Kini tuan Susanto yang memeberikan Kertas itu pada sang istri.


Nyonya Susan membaca kertas itu, rautnya berubah seperti raut tuan Susanto.


"Alhamdulillah," syukurnya sambil menaruh kertas itu diatas meja dan menghambur memeluk Kesya.


"Arsya gak dipeluk?" Ucap Kevano, mendengar itu Nyonya Susan merentangkan tangan kirinya lalu memeluk keduanya dan kemudian melepaskanya.


"Gak bisa pasti dia tampan dan gagah seperti Opanya." celetuk tuan Susanto mengikuti drama nyonya Susan.


Melihat tingkat keduanya, Kesya dan Kevano malah ikut tertawa, rasa bahagia menyelimuti rumah itu.


%%%


Angga mengetuk rumah nyonya Mira perlahan, ketukanya berhenti saat daun pintu bergerak mundur.


Nyonya Mira keluar dan melihat Angga dengan raut bingung campur penasaran, kenapa* ada peminta* sumbangan. Batinnya.


"Sore, tante." sapa Angga ramah. Nyonya Mira masih penasaran. "Natanya ada?"


"Nata?"


"Maksud saya Renata. Oiya saya Angga, teman dekatnya Renata."


"Oh teman Renata, ayo masuk." kata nyonya Mira mempersilahkan Angga masuk. Angga mengekor Nyonya Mira di belakang sambil mengamati rumah megah dan sangat megah itu. "Duduk."


Angga duduk dengan tenang, seakan itu rumahnya sendiri, sementara matanya tak henti menatap sekeliling.


"Renata mana ya tante?"


"Ada, sebentar lagi juga keluar kamar. Mau bareng kuliah, kan?"


Angga mengangguk.


"Kok tante gak tau kalau Renata punya teman cowok selain Adrian sama Kevano?" Sambung nyonya Mira.


"Wah Renata keterlaluan, padahal kami sudah kenal lama lho, tan." Ucap Angga mencoba berbohong agar PDKTnya berjalan sesuai rencana.


"Mungkin Renata lupa kenalin kamu. Oiya mau minum apa?"


"Air cucian piring, Ma." Celetuk Renata saat ia berjalan mendekati Angga dan sang Mama yang tengah terlibat obrolan.


"Renata gak boleh gitu."


"Udah gak usah ma, Renata juga mau berangkat kuliah sama Tuan Angga. Assalamualaikum." Setelah mengucapkan hal itu Renata menarik lengan baju pendek Angga supaya keluar dari rumah.


Angga tak menolak ia mengikuti saja tarikan Renata seakan ia anak kucing.


"Lu ngapain sih kesini?" Sambung Renata saat mereka berdua sudah berada diluar.


"Mau jemput kamu kuliah." Jawab Angga dengan entengnya.


"Bukannya kuliahmu pagi ya?"


"Aku ubah jadwalnya jadi sore, kan Dosen aku yang bayar."


Renata mendengus mendengarkan ucapan Angga. Sejak perkenalan mereka beberapa bulan lalu tingkah Angga menajdi aneh. Ia selalu saja mencari cara untuk mendekati Renata, bahkan sampai datang ke rumahnya.


Tingkah Angga aneh dan tak masuk akal, ia terlihat konyol dan bodoh.


"Ayo naik." Ucap Angga.


"Naik ini?" Tanya Renata sambil menunjuk motor vespa berwarna biru mencolok milik Angga.


"Iya, tenang saja aman kok. Dari pada kamu naik Ojol, sayang bayar kan." Angga memberikan helm bogo.


Dengan berat Renata mengambil helm itu, baru pertama kali rasanya ia menaiki motor seperti itu. Padahal biasanya ia naik ojol punya bisa terhitung, malah sering naik taksi atau di antar supir.


Angga menjalankan vespa itu dengan kecepatan maksimal, meskipun masih terlihat pelan. Dijalan Angga banyak berbicara seperti biasanya, tapi Renata seperti engga menanggapi.