
Shiha masuk kedalam rumah, lalu menutup pintu ruang tamu.
"Dari mana?" Tanya sang Mama begitu nampak Shiha. Nyonya Lutfi seperti nya sedang kesal.
"Habis nonton, Ma. Tumben tanya. Kenapa sih?"
"Sama siapa?"
"Sama temen."
"Teman mana?"
"Aduh Mama, tumben banget sih. Temen kantor, cowok. Baik kok."
"Kan mama sudah bilang, jangan pergi sama lelaki mana pun. Kamu sudah Mama dan Papa jodohkan sama Bagas."
Shiha yang hendak berjalan menuju kamarnya menghentikan langkah. Terdiam sejenak lalu memandang sang Mama.
"Ma, kan Shiha sudah bilang kalau Shiha gak suka sama Bagas. Dia itu gak baik, Ma."
"Nanti kalau sudah menikah pasti berubah, lagi pula Bagas itu sudah jelas masa depannya, anak pemilik perusahaan properti."
Shiha kembali terdiam mendengar ucapan sang Mama yang terus berniat menjodohkannya dengan laki laki bernama Bagas, padahal ia tak pernah menyukainya.
Bagas memang anak pengusaha properti yang kaya, tapi dari cara bicaranya Shiha sudah tak menyukainya, Bagas yang arogan dan sombong saat memahami pelayan resto saat meraka tengah makan malam. Menjadikan kesan pertama buruk bagi Shiha
"Enggak, Shiha gak mau sama Bagas." ucap Shiha lalu kemudian mempercepat langkahnya menuju kamar tidur.
Didalam kamar ia menutup kunci rapat, ia masih mendengar teriakan sang Mama. Tapi ia berusaha tak menghiraukannya.
Shiha menaruh tasnya diatas meja, berjalan ke kamar mandi dan mencuci wajahnya, setelah kemudian menaruh bajunya ditempat kotor, yang hanya menyisakan baju dalam tipis.
Ia keluar dari kamar mandi dan mengambil kaos didalam lemari. Setelah itu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Shiha tak suka saat sang Mama terus memaksanya dan menjodohkannya dengan banyak lelaki, ia merasa seperti perempuan yang tak laku.
Ia ingin seperti teman-temannya yang bebas melakukan apapun untuk mendapatkan pasangan, tanpa tekanan dan tanpa paksaan dari orang tua masing masing.
Kenapa ia tak bisa seperti itu? Kenapa sejak dulu sang mama selalu memaksakan kehendak padanya? katanya untuk kebaikannya, tapi sampai sekarang Shiha malah merasa tertekan dan tak nyaman.
Semua mimpi yang ingin ia bangun sendiri sellau terhalang karena orang tuanya tak menyetujinya, lebih tepatnay sang mama. Mamanya pikir setiap apa yang Shiha lakukan selalu salah dan harus masuk akal dalam pikiran mamanya.
Bahkan masuk kuliah arsitek dan bekerja sebagai asisten arsitek juga atas kemauan mamanya, ia menolak tapi tak pernah berhasil. Jika ia menolak secara lebi mamanya akan marah dan berlagak penyakitnya kambuh.
Saat seperti itu ponselnya berbunyi, Shiha membongkar tasnya, lalu mengambil ponselnya dari dalam sana.
“Hallo,” Ucap Shiha pada orang yang mengubunginya dari ujung telephone sana.
“Belum tidur? Udah malam lho.” Kata Ruben.
“Belum, baru juga selesai bersih-bersih. Kamu udah sampai rumah, Ben?”
“Sudah, baru aja. Ini lagi dikamar. Aku mau mandi dulu ya, kamu jangan telat tidurnya. Night.”
“Night too.”
Shiha mematikan sambungan telephone itu, lalu mengulas senyum.
Entah kenapa sejak berkenalan dengan Ruben beberapa hari lalu semuanya nampak berubah pikirannya tentang laki-laki.
Dulu ia tak pernah berpikir baik soal laki-laki, semuanya laki-laki baginya sama seperti sang Papa yang terlalu sibuk dengan dunia dan pekerjaanya, tukang selingkuh dan anehnya sang mama tak pernah sedikitpun protes atau sekedar merasa sakit hati.
Meskipun awalnya Shiha tak menyukai Ruben karena suka merokok, baginya laki-laki perokok itu laki-laki yang berusaha mendekati maut secara cepat, tapi semakin dalam mengenal sosok Ruben ia tahu bahwa semua orang punya alasan melakukan apapun yang mereka mau.
Sebaik dan hebat apapun Ruben untuknya, mamanya pasti tak menyukai Ruben. Dari tipikal lelaki pun Ruben tak masuk, dan Ruben juga hanya seorang pegawai kantor biasa meskipun kantornya besar dan sedang menjadi tren masa kini.
%%%
Dua minggu telah berlalu sejak perkenalan Ruben dan Shiha, mereka terlihat semakin dekat, kadang mereka bersama, menikmati malam dengan makan dan kencan. Tapi, beberapa hari ini sepertinya sikap Shiha berubah.
Sudah dua hari ini Shiha tak nampak muncul dicaffe, padahal setiap Ruben menghubungi Shiha selalu saja bilang pasti datang, seperti hari itu...
Ruben dan Shiha berjanji untuk bertemu dicaffe setelah pulang bekerja pukul lima sore, tapi sudah lebih setengah jam Shiha tak muncul. Hot Chocolate yang ia pesan sudah hampir habis, beberapa chat sudah Ruben kirim tapi hanya centang satu berwarna abu-abu, last sen Shiha pun tak muncul.
“Mas tau gak cewek yang biasanya sama itu?” tanya Ruben pada sang barista sekaligus kasir caffe.
“Mbak Shiha maksudnya mas?” tanya balik sang kasir.
“Iya Shiha, apa dua atau tiga hari ini ada datang kesini?”
Sang kasir terdiam, seperti berusaha mengingat sesuatu.
“Enggak mas, udah lima harian, terakhir kali seingat saya sama Masnya deh.”
Ruben mengangguk-angguk. “Gitu ya, yaudah saya bayar aja.”
Sang kasir mengucapkan nominal pembayaran dan Ruben membayarnya, tanpa berpikir panjang Ruben keluar dari Caffe. Lalu menju mobilnya, ia ingin bertemu dengan Shiha.
Jika Shiha tak menyukainya, kenapa dua minggu ini ia mau berjalan bersamanya? Atau Shiha hanya kasihan padanya? Beberapa pertanyaan lain muncul dalam pikrinnya, meskipun begitu ia masih terus berniat bertemu dengan Shiha.
Tidak, bukan memastikan smeua itu. Tapi, ia benar-benar ingin mengutarakan perasaanya pada Shiha apapun nanti respon Shiha padanya, ia tetap terima apadanya.
Selama dalam perjalanan, jalan sore itu nampak macet. Ruben menarik napasnya, pikirannya terus berputar soal Shiha. Shiha dan Shiha.
Ruben mulai berpikir jika cintanya selama ini bertepuk sebelah tangan, jika memang begitu ia bisa apa, tak mungkin ia paksakan diri untuk berusah membuat Shiha mencintainya.
Ini kali pertama untuknya menyukai seorang perempuan sampai serasa ia ingin mabuk dengan aroma kedatangnnya meskipun hanya semu.
Dari jauh nampak rumah Shiha, ia mempercepat kendaraannya, lalu mengnehtikannya didepan pagar hitam yang setengah badan.
Ruben keluar dari mobil lalu mengetuk pelan pagar itu. Beberapa kali mengetuk dan tak ada sahutan. Kemudian ia mendengar suara kaki melangkah mendekati. Membuka pagar dan nampak seorang perempuan dimatanya.
“Malam tante, Shiha nya ada?” tanya Ruben pada perempaun separuh baya itu.
Perempuan itu terdiam sesaat, kemudian memandang Ruben dari atas kebawah dengan tatapan aneh dan seakan mengintimidasi.
“Kamu siapa?” tanay balik perempuan itu.
“Saya Ruben, temannya Shiha.”
“Oh jadi kamu yang namanya Ruben. Saya kira kamu ini ganteng dan orang kaya, ternyata Cuma kayak gini. Kamu dengar ya, Shiha sudah saya jodohkan dengan laki-laki yang lebih dari kamu, anak pemilik perusahaan dan kaya raya. Bukan kayak kamu. Pegawai biasa.” Papar perempuan itu yang tak lain Nyonya Lutfi.
“Tapi, tante..”
“Gak ada tapi-tapi, kamu pergi sekarang atau saya teriakin maling.”
Lalu nyonya Lufti menutup pintu pagarnya, sementara Ruben hanya tedian tanpa melakukan apapun.
Ia menarik napas beratnya, ia memang tak perlu memaksa jika sudah begitu. Meskipun Shiha membalas perasaanya, tapi jika orang tuanya tak merestui ia bisa apa.
Ruben membawa mobilnya berlalu pergi dari sana, dengan pikiran yang sedikit kacau. Meskipun begitu ia berusaha memfokuskan pada jalanan.