
Dari Author:
Untuk Readers:
Author kangen para readers, maaf baru sempat nulis karena udah kerja lagi.
****
"Gak bisa Bian," ucap Nyonya Mira, sesaat setelah Bian meminta sang Mama untuk membantu masalahnya.
Hari Itu untuk kesekian kalinya Nyonya Mira menjenguk sang anak, dan sudah beberapa hari ini Bian berpikir untuk meminta bantuan nyonya Mira. Masa tahananya sudah berjalan setahun, dipotong setahun berarti masih ada tiga tahun lagi. Dan bagi Bian itu begitu lama, ia sudah ingin sekali menikmati aroma kebebasannya.
"Ma, ayolah gunakan sedikit uangmu untuk menebus anakmu." Rengek Bian, mungkin dengan melakukan itu sang Mama bisa luluh.
"Selesaikan masalahmu sendiri, dan jika mama melakukan hal itu akan banyak resiko. Para relasi akan berpikir bahwa Mama ini gak mematuhi hukum."
"Ma, menebus itu mematuhi hukum, jaminan."
Meskipun Bian yang lebih paham hukum mengatakan hal itu, nyonya Mira tetap tak ingin membantunya. Nyonya Mira hanya ingin membuat Bian sadar dan mengerti melakukannya.
"Mama pulang dulu, ada pekerjaan yang menunggu. Kamu minta makananmu sama polisi, Mama sudah siapkan."
Nyonya Mira berlalu pergi meninggalkan Bian yang masih dengan wajah tak biasa, ia tak berpikir bahwa sang Mama menolak keinginannya. Ia harus menunggu tiga tahun lagi untuk keluar dari tempat itu, hal yang selama setahun ini ia benci.
Tak berapa lama setelah sang Mama pergi, pengacaranya datang, kali ini dengan setelan jas putih.
"Pak," ucap si pengacara.
Bian memalingkan wajah, menatap pengacara itu. "Oh kamu, ada apa?"
"Saya membawa berita tentang Reno dan seseorang, Pak. Sejak foto pertamanya." Setelah mengucapkan itu sang pengacara memberikan sebuah foto yang berada di ponselnya.
Bian mengambil ponsel itu dan melihat foto yang ada, seseorang yang membuatnya tak habis pikir bisa bersama Reno. Ia masih bertanya dan terus bertanya, apa hubungan keduanya? Relasi kerja kah? Atau sekedar karena ada masalah yang perlu diselesaikan.
Sebelum ia masuk penjara, ia begitu mengenal orang itu, orang itu tak memiliki masalah yang harus diselesaikan dengan pengacara.
"Saya ingin kamu selidiki keduanya, entah kenapa feeling saya kuat tentang orang ini dan Reno." kata Bian sambil memberikan ponsel itu pada si pengacara.
"Pak, kalau tidak salah orang ini pernah dekat dengan bapak sebelum masuk penjara,"
"Iya, bahkan dekat sekali. Saya juga heran apa hubungan mereka. Kalau sekedar relasi, relasi apa?"
"Mungkin ia meminta bantuan Reno untuk mengurus tanggung jawab hartanya, Pak."
"Itu tidak mungkin. Terasa janggal dan aneh." Ucap Bian, ia masih berpikir tentang kedekatan keduanya.
Sementara Bian sibuk mencari tahu hubungan Reno dan orang itu, dirumah keluarga Putra, Kevano tengah mengobrol dengan sang Mama.
Kevano sengaja datang setelah kuliah, ia hanya ingin mengunjungi sang Mama dan mengatakan betapa ia merindukannya.
Semenjak menikah dengan Kesya, ia jarang pulang karena memang fokus pada keluarga kecilnya, tapi semenjak kehamilan Kesya ia yang masih ragu terus berpikir yang tidak-tidak.
"Ma," kata Kevano, saat ia dan sang Mama tengah mengobrol di ruang tamu. "Arsya masih ragu."
"Kalau yang dikandung Kesya bukan anak Arsya." Entah mengapa, saat mengucapkan itu Kevano hanya bisa menunduk. Keluarganya memang sudah tahu bahwa Kesya tak perawan lagi, bahkan hal itu keluar dari mulut Kesya sendiri.
Mendengar hal itu Nyonya Putra mengalihkan pandangannya yang awalnya pada ponselnya sekqrang pada Kevano.
"Sya, setelah tiga bulan berhubungan intim, rahim dinyatakan bersih, tidak ada benih yang tertinggal. Dan Mama yakin itu anak kamu. Jangan ragu, keraguan bisa membuat masalah di keluargamu nanti."
Jawaban itu membuat Kevano menatap sang Mama sambil tersenyum, selama ini ia memegang terus ragu. Ia hanya tak terima jika anak itu milik Bian.
Tapi, setelah mendengar perkataan sang Mama, ia aka mulai menepis hal itu. Memang tidak baik jika ia ragu, ia tak ingin rumah tangga yang sudah dibangunnya hampir setahun lalu kandas di tengah jalan hanya karena ia tak bisa menyudahi pikiran buruknya.
"Betul kata Mama, lu gak usah ragu, Sya." Ucap Ruben mendekati mereka berdua dan duduk sisi sang Mama.
"Lu, bang. Kok gak kerja?" Tanya Kevano.
"Gue kan bos, bos mah santai." kata Ruben kemudian. Sambil menggigit cookies yang berada didepannya.
Kevano tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah abangnya yang sampai umur tiga puluh tahun lebih belum juga menikah. Kadang Kevano mengejeknya dan mengatakan ia tak laku, tapi dengan lantainya Ruben mengatakan, bahwa "Tuhan sudah menyiapkan jodoh paling sempurna untuknya."
Mengingat itu Kevano hanya bisa tertawa, bagaimana akan mendapatkan jodoh jika Ruben selama ini selalu sibuk dengan dunianya sendiri, terpaku pada karier dan hal yang berhubungan dengan uang.
Untuk mengenal seorang gadis pun Ruben tak pernah, ditambah wajahnya yang datar dan menyeramkan, membuat para perempuan mungkin akan takut mendekatinya, tapi uang akan berbicara lain.
Menurut Trio kalong, termasuk Kesya istri nya. Ruben itu Kingkong yang siap menerkam siapa saja ketika marah. Memberi tugas dan pekerjaan aneh yang membingungkan. Tapi, Ruben selalu bangga dengan sikapnya yang ia katakan sebagai sikap tegas seorang pemimpin sebuah perusahaan besar. Padahal semua itu tidak benar.
"Sya, gue mau ngomong. Tapi, diluar ya sambil makan." ajak Ruben pada Kevano.
"Tumben, ngobrol apa?" Tanya Kevano, sambil mengunyah biskuit.
"Ya ngobrol lah, gue lama gak ngobrol sama lu."
"Mama juga lama gak ngobrol sama Arsya," timpal Nyonya Putra.
"Mama dirumah aja, sebentar lagi Papa pulang. Dada Mama." kata Ruben, sambil mencium pipi nyonya Putra, dan kemudian menarik tangan Kevano untuk berlalu pergi.
Keduanya berjalan keluar rumah dengan beriringan. Saat sampai di luar, mereka kemudian masuk kedalam mobil jazz milik Ruben.
Ruben mengendarai mobil nya keluar dari area rumah keluarga Putra dengan kecepatan sedang, masuk kejalanan yang terlihat lengang.
"Tumben lu ngajak keluar, ada yang penting?" Tanya Kevano kemudian.
"Penting? Enggak sih. Cuma pengen aja ngobrol sama lu. Gimana kabar lu? Kesya ngasih makan lu terus kan?"
"Lu gak lihat perut gue udah nyamain perut lu, naik sepuluh kilo gue selama ini. Nafsu makan gue meningkat, apalagi kalau Kesya masak." Papar Kevano membanggakan istrinya. Semoga Kesya saat makan tidak tersedak. "Kesya kan hamil nih dua bulan, nanti kalau udah masuk bulan bulan tua, biar dia cuti ya, Bang."
"Boleh, tapi lu yang gantiin ya."
"Dih kok gitu, kan hak karyawan cuti hamil."
"Itu perusahaan lain, beda dengan perusahaan gue."
Mendengar ucapan Ruben Kevano hanya bisa diam, ia tak merespon. Karena ia tahu Ruben hanya bercanda, meskipun kadang tidak.