My Berondong Husband

My Berondong Husband
#65 Adrian dan Yola (1)



"Makan dulu, Nak Adrian." Tawar ibu Yola pada Adrian saat ia tengah bertamu kerumah Yola. "Tapi, makanannya cuma ini aja."


Adrian menarik piring yang ada diatas meja makan lusuh dah sudah mulai keropos itu.


"Iya enggak papa kok, Bu. Masakan ibu kayanya enak." Ucap Adrian, lalu mengambil nasi dalam bakul, sayur kangkung dan ikan asin. "Ayo Ibu sama Yola makan juga. Masa saya saja."


Yola dan sang ibu berbarengan mengangguk, lalu mengambil makanan seadanya diatas meja itu.


Adrian menarik napasnya perlahan, rasanya ia sangat tenang berada dikeluarga ini. Yang selalu berkumpul dan ada waktu luang bersama.


Tidak seperti dikeluarganya yang penuh dengan hal menyebalkan. Dulu Papanya sibuk dengan pekerjanya dan mamanya selalu melakukan hal yang entah itu apa. Berbeda dengan keluarga Kevano yang tenang dan damai.


Semua hal yang selalu ia inginkan ada pada keluarga Yola. Ibunya yang keibuan, Yola yang bersikap dewasa dan sang adik yang sudah seperti adiknya sendiri.


Seandainya ia terlahir kembali, ia ingin hidup berkecukupan dan bahagia, bukan terlahir sebagai anak yang seperti tak dianggap.


Apalagi sejak Papanya masuk penjara, sang Mama sering sekali mengomel padanya dan mengatakan sesuatu hal aneh, hanya karena ia lelah bekerja dan mengurusinya yang katanya tak bisa diharapkan, selalu keluyuran hingga tak tahu waktu.


"Kok diam aja, Yan. Gak enak ya?" tegur Yola saat melihat Adrian hanya terdiam.


"Heh." Adrian tersadar, "Enak kok, Enak. Masakan ibu enak banget. Gak ada duanya, Adrian gak pernah makan, makanan kayak gini."


Mendengar pujian Adrian yang berlebihan ibu Yola tersenyum dan kemudian menahan tawanya dengan punggung tangan kanan.


"Biasa Bu, Adrian anak orang kaya. Makannya itu selalu ke restoran." kata Yola.


"Eh enggak gitu, La. Serius masakan ibu enak banget. Ini ikan asinnya garing, bumbu disayurnya juga meresap." Ujar Adrian dengan terus melahap masakan itu.


"Nak Adrian udah kayak pembawa berita kuliner saja." Ucap Ibu Yola kemudian.


Adrian tertawa ringan begitu juga Yola. Setiap berada dalam keluarga ini ada saja cerita yang ia dapatkan, bukan tentang materi. Tapi tentang ketegaran dan sesuatu yang harus mereka jaga.


Selama sembilan belas tahun ini memang hidupnya begitu indah, semua serba ada dan berkecukupan. Setiap ia meminta ada didepan matanya, tapi rasa bahagia tak pernah muncul, apa lagi ia hanya anak tunggal.


Adrian menghilangkan pikiran itu sejenak dari kepalanya, ia tak mau terus memikirkan hal yang tak penting dalam keadaan bahagia seperti ini.


Ia terus menikmati makanan itu, mungkin bagian kebanyakan orang itu makanan biasa. Tapi, baginya itu sesuatu yang sangat mewah. Cita rasa yang tak pernah ia pikiran.


"Lukman belum pulang bu?" Tanya Yola.


"Belum, katanya disekolah ada acara, mungkin nanti." Jawab sang ibu.


"Mau Yola jemput atau naik angkot aja?"


"Biar naik angkot aja, Dani ngantar nanti sampai depan rumah."


Adrian hanya mengangguk-angguk mendengarkan pembicaraan keduanya, yang kadang diselingi bahasa daerah.


Kapan ia bisa mengobrol begitu santai dengan sang Mama tanpa harus beradu mulut dan tanpa menimbulkan otot leher dengan teriakan.


Mungkin sampai nanti.


Lagi lagi pikiran itu bergelantungan dalam otaknya, berusaha mencari celah untuknya agar bisa terus berharap dan menyesali terlahir dari keluarga bernama Gio Lesmana Putra.


"Bu, habis makan pinjam Yola sebentar, ya." Ucap Adrian kemudian.


"Pinjam kemana? Jangan lupa balikin." gelak Yola, menggaris bawahi kata pinjam.


Adrian tertawa lagi.


"Iya bawa saja, agak lama juga gak papa. Tapi, jangan jauh-jauh, takut nyasar." timpal sang ibu.


"Sip, bu. Maunya Adrian bawa kepelaminan." canda Adrian, meski begitu Yola seperti kaget dengan ucapan itu. "Bercanda Yola."


"Mau nikah, nanti nak Adrian. Nunggu nak Adrian lulus kuliah, terus kerja. Kan gak mungkin nungguin Yola yang kerja seles terus."


"Iya, Bu. Adrian tahu itu kok."


"Ibu sama Adrian apa sih. Kok jadi bahas soal pernikahan." Potong Yola pada pembicaraan keduanya.


Lalu percakapan itu berubah seperti semula, membahas makanan dan sudah berapa kali Adrian menambah, ia seperti tak makan berhari-hari.


%%%


"Keluarga mu baik." Ucap Adrian kemudian, saat ia dan Yola sudah keluar dari rumah dan menikmati udara sore disebuah jembatan tak jauh dari rumah keluarga Yola.


"Ya, begitulah keluargaku. Kami memiliki beban, tapi kami anggap beban itu sebagai teman bercanda." Jawab Yola dengan berusaha tersenyum.


Adrian menoleh, melihat kearah Yola. Lalu tangannya perlahan menyentuh pipi Yola dengan gemasnya. "Gak usah senyum."


"Kenapa? Salah aku senyum."


"Nanti bidadari iri sama kamu. Karena senyummu lebih manis dari mereka."


"Gombal. Mana mungkin bidadari iri sama pel***r."


Adrian mencubit pelan pipi itu, Yola mengaduh manja seperti yang biasa ia lakukan pada para clientnya diatas ranjang.


Tin! Tin! Tin!


Bunyi suara klakson motor mengganggu sesi mesra mereka. Adrian dan Yola terkaget, kemudian menatap kearah motor itu.


Seorang pemuda dengan motor vespa hitamnya berhenti tepat dibelakang mobil milik Adrian.


"Mas, Mbak yang punya mobil, singkirin ini mobilnya." Ucap Pemuda itu menatap Adrian dan Yola.


Adrian merespon, lalu meminggirkan mobilnya. Karena mobilnya memang sedikit ke tengah jembatan.


"Lain kali dilihat parkirnya, dasar bocah pacaran di jembatan." Sambung pemuda itu lalu menjalakan motornya dan berlalu pergi dari hadapan Yola dan Adrian.


"Gara-gara kamu kita jadi dimarahi orang, kan." Kata Yola memukul pelan lengan kanan Adrian.


"Ya maaf, habisnya kukira akan jarang orang disini." Ucap Adrian dengan cengengesan.


Kemudian Adrian kembali memegang gemas pipi Yola, lalu mencubitnya perlahan.


"Kamu cantik, La." Sambung Adrian.


"Memang, dari dulu sih kata orang." Jawab Yola.


"Gak jadi, udah kepedean duluan. Gak lagi muji." Kata Adrian seolah merajuk dan melepaskan pegangan pada pipi Yola.


"Masa cuma gitu aja ngambek sih."


Adrian menjulurkan lidahnya seperti anak kecil.


"Biar gak ngambek, gimana kalau kita chek in." Ujar Adrian berlagak serius.


"Masih sore, lagian ngapain juga chek in?"


"Mau minta diajarin."


"Ajarin apa?"


"Matematika." Ucap singkat Adrian, lalu berjalan menuju mobilnya begitu pun Yola yang mengikuti dari arah belakang nya.