My Berondong Husband

My Berondong Husband
#38 Tentang Sebuah Penyesalan



Kesya terus menghubungi nomor Bian berulang kali sejak malam itu, tapi tak pernah berhasil. Ia sudah pergi kekantornya, tapi meraka mengatakan bahwa Bian mengambil cuti lama.


Ia bingung dan terus ketakutan, Bian tak pernah seperti ini. Bahkan chatnya hanya centang satu, tak pernah terlihat lagi sosmednya ramai.


Tante Mira yang orang tuanya sendiri saja tidak tahu kenapa ia pergi, awalnya Kesya ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, ia terlalu takut.


Kesya takut jika Tante Mira menganggap ia wanita rendahan yang ingin menghancurkan reputasi Bian, atau bahkan tante Mira akan berpikir bahwa ia berbohong untuk menggagalkan pernikahan meraka dan pergi dengan lelaki lain.


Setelah tante Mira mengatakan bahwa kemungkinan Bian pergi keluar kota, ia lansung berpamitan pulang.


Dengan perasaan dongkol dan sakit hati kini, ia duduk didalam bus yang akan membawanya pulang kembali keapatement.


Sesekali Kesya menyeka air matanya, ia tak ingin menjadi bahan pertanyaan dan gunjingan orang di bus saat mereka tau ia menangis.


"Tisu, kak?" Ujar seseorang. Kesya menoleh sambil menghapus air matanya dengan jari.


"Berapa, dek?" Tanya Kesya, saat ia melihat seorang anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun dengan membawa dagangannya.


"Buat kakak saja. Sebagai laki-laki saya tidak bisa melihat kakak menangis." Ucap anak kecil itu baik, Kesya tersenyum ramah.


Lalu anak penjual asongan itu pergi. Kesya menghapus air matanya dengan tisu.


Meskipun ia berusaha menghapusnya, tangisnya tak kunjung berhenti. Ia merasa begitu sakit hati.


Bagaimana bisa Bian yang selalu ia katakan baik melakukan hal itu padanya, bukan soal malam itu, tapi kenapa harus menghilang? Jika pun Bian mengatakan maaf lalu berniat ingin memperbaiki semuanya, mungkin ia juga akan memaafkannya.


Tapi, tidak. Bian malah menghilang entah kemana, setiap detik rasanya ia sudah menghubungi Bian. Atau nomor nya di blokir? Kesya pun tak mengerti.


Disaat seperti itu tiba-tiba saja ia teringat dengan Kevano. Apa yang di katakan bocah itu ternyata benar, Bian tak sebaik yang ia tahu. Rasa sesal karena tak mempercayai seakan membuat dirinya sakit, tapi itu sudah terlanjur.


Kesya tak mungkin menghubungi Kevano, karena ia malu. Dan saking naifnya pikirannya hingga ia tak pernah mendengar omongan dari Ganda dan Yunda. Bahkan mereka peduli dan memikirkan dirinya.


Setengah jam berlalu, ia turun dari bus yang membawanya pulang kompartemen. Dengan langkah gontai tanpa daya, ia berusaha berjalan.


Entah pikiran dari mana, disaat ia melewati sebuah apotik, terlintas dalam benaknya ingin membeli obat pencegah mengandung. Takut, jika hal itu terjadi padanya. Tapi, ia urungkan.


Ia berjalan kembali menuju apartemennya, saat ponselnya berbunyi. Diraihnya ponsel yang berada disaku jaketnya.


Sebuah telephone dari Ganda, tumben sekali.


"Hallo," Ucap Kesya setelah memulai percakapan.


"Kes, lu gak apa-apa, kan?" Tanya Ganda. Kesya bingung dengan pertanyaan Ganda yang seakan mengetahui apa yang terjadi.


"Maksudnya?" Kesya bertanya tak mengerti.


"Beberapa hari ini kata Yunda lu gak ada upload atau membagikan story dicerita, tumben banget."


"Oh itu, aku cuma sibuk ngurus pernikahan. I'm so glade, Gendis manisku." Ucap Kesya bohong, membuat katanya seakan terlihat ramah dan ia baik-baik saja.


"Oke deh, semoga pernikahan lu sama Bian lancar ya. And i miss you so much, my Kekes."


"Me too."


Bertelepon sambil berjalan, membuatnya tak sadar sudah sampai diapatement. Ia bergegas menarik pintu dan masuk, rasa tubuhnya beberapa hari ini sudah begitu sakit, bahkan tak terurus.


%%%


Sementara itu Kevano dan Adrian keluar dari kelasnya bergegas untuk pulang. Sudah hampir dua minggu sejak tragedi balapan itu, awalnya Kevano marah pada Adrian tapi itu hanya sebentar. Apalagi pihak panitia batal memberikannya motor.


Sesampainya diparkir, suara Renata begitu seru memanggilnya. Kevano mengabaikannya, tapi Renata menarik tangannya perlahan.


"Berhenti, No. Gue mau ngomong." Ucap Renata, Kevano berhenti dan berbalik arah. "Lu kenapa sih beberapa minggu ini sama gue?"


"Kenapa apanya?" Tanya Kevano.


"Beberapa minggu ini lu menghindar dari gue, chat gue gak pernah lu bales. Apa gue ada salah?" Tanya Renata, pertanyaan itu seakan menekan Kevano untuk menjawab.


Kevano sebenarnya enggak menjawabnya, tapi Renata terus memaksa.


"Dengar ya Ren, gue ada masalah sama Kakak lu. Dia udah buat gue babak belur. Dan semua itu gara-gara lu." Kata Kevano, berusaha menahan suaranya.


"Kok gara-gara gue?"


"Gue suka sama Kesya, gue sering banget ketemu Kesya bahkan dikampus selama dia ngajar, satu-satunya orang tau kedekatan gue sama Kesya cuma lu. Dan pasti lu kan yang ngomong sama Bian,"


Renata menggeleng pelan, tak menjawab. Apa yang dikatakan Kevano memang benar, tapi semua itu ada alasanya.


"Gue lakukan semua itu karena gue sayang lu, dan lagi pula Kak Bian sama Kak Kesya mau nikah."


Kevano menarik napasnya, sudah berulang kali gadis ini mengatakan suka padanya. Kadang Kevano mengacungi jempol untuk keberaniannya mengutarakan perasaan.


"Tapi, gak gini cara lu. Gue mau, gue sama Kesya pisah karena emang dia mau fokus sama pernikahannya, bukan karena masalah yang gak pernah kami buat."


Setelah Kevano mengatakan hal itu, dari arah sebelah parkir terdengar klakson dari sang supir. Kevano bergegas menuju mobilnya, sementara Renata masih disana dengan pikiran bingung yang tak menentu.


Perasaan cemburu dan marahnya kian memuncak, semua ini karena Kesya. Kesya yang telah mengambil Kevano dari hidupnya. Apa ia tak puas sudah memiliki Bian sebagai calon suaminya.


Renata mulai bertekad untuk membuat hidup Kesya serasa di neraka setelah menikah dengan kakaknya nanti.


Saat masih berdiam disana, Adrian datang dan membuyarkan lamunan Renata.


"Lu gak bakalan dapat cinta Kevano, gimanapun caranya. Kalau mau lu pelet aja." Ucap Adrian kemudian.


"Ide yang bagus, setelah gue pelit Kevano, gue bakalan santet si Kesya." Ujar Renata sambil berlalu pergi meninggalkan Adrian.


Adrian hanya menggelengkan kepalanya sambil bergumam, "dasar cewek gila."


Sementara itu dirumah Nyonya Mira, ia dibuat bingung dengan Bian. Meskipun mengatakan pada Kesya bahwa Bian keluar Kota, tapi sebenarnya ia tak tahu kemana perginya.


Nomornya tidak aktif, bahkan tidak ada yang bisa ditanyainya, karena semuanya mengatakan tidak tahu. Bahkan Reno yang sahabatnya di kantorpun enggan membuka mulut.


Ia merasa khawatir pada Kesya, pada pernikahan mereka dan ia tak bisa berkata apa-apa jika sampai pada hari H pernikahan keduanya Bian juga tak muncul.


Sikap Bian mirip Papanya, yang pergi entah kemana selama beberapa tahun. Hidup ataupun mati Nyonya Mira tak pernah tahu.