My Berondong Husband

My Berondong Husband
#76 Bian Mengetahui Titik Terang (1)



Kamis pagi, pukul 09.20 waktu setempat..


Bian masih mendekam didalam penjara karena kesalahannya terkait kasus suap yang dia lakukan. Bahkan dia pun gagal melangsungkan pernikahan dengan kesya karena kebodohan yang ia lakukan.


Saat bian sedang membersihkan halaman lapas karena mendapat jadwal piketnya, penjaga memanggilnya karena ada seseorang yang datang ingin bertemu dengannya.


"Saudara bian?" pak penjaga memanggilnya.


"iya pak, saya.." bian menjawab.


"Diluar ada seseorang yang ingin berjumpa dengan mu" penjaga.


"baiklah, terimakasih pak" ucap bian.


Bian bergegas ke kamar mandi umum yang biasa di gunakan untuk para penghuni lapas untuk membersihkan dirinya sejenak.


Setelah itu, dia bergegas keluar meminta ijin pada pak penjaga untuk menemui seseorang yang ingin bertemu dengannya.


"Pak, saya sudah siap" ucap bian pada pak penjaga.


"Baik, ingat waktu yang di tentukan hanya 20 menit" Ucap pak penjaga.


"Baik pak," jawab bian.


"Kamu tunggu disini sebentar" pak menjaga menyuruh bian untuk menunggu seseorang yang ingin bertemu dengannya.


bian menganggukkan kepalanya dan duduk di kursi ruang khusus pertemuan pengunjung dan penghuni lapas.


Sebelum seseorang itu masuk kedalam lapas, ingin menjenguk saudara,anak atau rekannya penjaga lapas wajib memeriksa keamanan dan barang bawaan milik pengunjung.


"Silahkan nyonya dan tuan, saudara bian telah menunggu di ruang pertemuan" ucap penjaga sambil mempersilakan kedua orang tersebut.


"Serimakasih pak" ucap nyonya.


Pak penjaga mengantar kedua orang tersebut keruang pertemuan.


Sesampainya diruang pertemuan..


Pak penjaga memberikan isyarat untuk tidak membuang waktu, karena waktu yang diberikan hanya dua puluh menit.


Kedua orang tersebut masuk kedalam ruang pertemuan dan saat itu juga bian melihat ke arah mereka.


"Bian." ucap nyonya sambil memeluk putranya.


"Mamah, bian kangen mamah" bian balas memeluk mamahnya.


"Mamah juga kangen sama kamu nak, kamu baik-baik saja kan?" tanya mamah pada bian.


"Bian baik-baik saja mah, mamah juga jangan lupa jaga kesehatan ya" ucap bian sambil melirik laki-laki disamping mamahnya.


"Bian" panggil lirih laki-laki tersebut pada bian.


raut wajahnya yang sedih dan terlihat penuh dengan penyesalan.


"Siapa?" tanya bian bingung pada mamahnya.


"Kamu lupa, ini papah bian" ucap laki-laki tersebut.


Bian kaget dan tak percaya dengan ucapan laki laki yang mengaku sebagai papanya.


"Enhgak mungkin kamu Papah, karena Papah saya sudah pergi meninggalkan kita selama belasan tahun." ucap bian menyangkal.


"Bian.. yang dia ucapkan benar nak. dia papa kamu." ucap mamah Nian.


"Untuk apa dia pulang ma, setelah lama dia tega telantarin kita, dia ga sayang sama kita" ucap bian kesal.


"Bian, dengarkan penjelasan Papah nak. Papah tidak pernah meninggalkan kalian, Papah sayang kalian. ini semua bukan Papah yang inginkan, Papah juga tidak tahu kenapa bisa Papah terjebak." ucap Papah bian sedih.


"apa maksud nya?" tanya bian.


"bian, selama ini Papah menghilang bukan karena Papah ninggalin kalian.. tapi papah mengalami kecelakaan, Papah di jebak oleh seseorang yang tak begitu Papa ingat, saat itu saat papah telah memenangkan persaingan, orang itu tidak terima. saat papah pulang dari pertemuan Papa diculik kemudian disekap dan akhirnya dibuang. sejak saat itu, Papah hilang ingatan dan dirawat oleh dokter di desa terpencil. Papah menyesal bian, maafkan Papah." ucap Papah bian yang tak lain Tedi sambil meneteskan air matanya.


Bian shock saat tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Papahnya. Meskipun hatinya masih bimbang dan bingung, selama ini ia memang sudah kekurangan kasih sayang sang Papa.


Bahkan ia pikir sang Papa sudah meninggal, persis seperti yang dikatakan mamanya.


Bian memeluk papanya, dia merindukan sosok ayah setelah belasan tahun tak berjumpa.


"Ban juga kangen pa, maaf karena Bian selalu berpikir Papah itu adalah Papah yang jahat. Maaf," bian menangis dalam pelukan Papanya.


Nyonya Mira pun ikut menangis melihat kedua orang yang telah lama tak berjumpa akhirnya di pertemukan kembali meskipun dalam keadaan yang sangat menyedihkan.


Dalam keadaan bian yang sedang mendekam dalam penjara.


Di setiap kebahagiaan pasti akan ada air mata.


Setelah itu, mamah menyiapkan bekal yang ia bawa untuk putranya.


"Kemarilah, kita duduk dan makan bersama." ucap mamah bian pada Papah dan bian.


Bian dan Papanya pun terduduk kembali,


mereka makan bersama sambil tersenyum meskipun ada tetes air mata yang mengalir.


Thanks God, kau mengembalikan kebahagiaan ini. meskipun aku dalam keadaan seperti ini, setidaknya kau memberikan kami kebahagiaan kembali. ucap Bian dalam hati.


Saat waktu kunjung telah habis, Nyonya Mira dan Tedi berpamitan untuk pulang.


"Bian, kamu jaga diri baik-baik disini. Mama akan selalu mendukung mu." ucap mamah sambil memeluk putranya.


"Mamah juga, hati-hati dirumah. jaga pola makan, Bian janji bian pasti akan keluar dari sini secepatnya. Meskipun tanpa tembusan dari Mama." Bian mengecup kening mamanya.


"Papah juga, jangan pergi-pergi lagi.. jaga mama pas Bian gak ada dirumah. Bian bersyukur Papa bisa kembali lagi dalam keadaan yang sehat. Meskipun waktunya sangat singkat tapi Bian bahagia kita bisa berkumpul lagi" ucap bian sambil memeluk papanya.


Keduanya saling merindukan antara anak dan ayah, belasan tahun mereka terpisah dan terjadi kesalah pahaman antara mereka. Bian mengira bahwa papahnya meninggalkan keluarganya karena sudah tidak peduli lagi, kenyataannya diluar dugaan bian papahnya selama ini menderita karena menderita amnesia karena ulah rekan bisnisnya yang tidak terima kalah dalam bersaing. beruntung Papah bian bertemu dokter yang sangat baik yang mau merawatnya hingga sembuh dan bisa mengingat keluarganya kembali.


Setelah mendapat kunjungan dari kedua orang tuanya bian merasa jauh lebih baik, kesedihannya tergantikan dengan kebahagiaan yang telah lama dia harapkan. Dia tidak merasa khawatir ketika dia tidak ada disamping mamahnya, karena sekarang papahnya telah kembali menjadi pelindung untuk mamahnya.


Kedua orang tua bian menjanjikan akan kembali lagi berkunjung dan berusaha untuk mencari bantuan ke rekan lama papahnya untuk mendapatkan bantuan agar putranya bisa kembali lagi kerumahnya.


%%%


Tedi dan Nyonya Mira kembali Ke rumah, meskipun seharusnya Tedi gak boleh berkumpul bersama lagi.


Tapi, untuk hari ini ia ingin sekali bertemu dengan Renata, karena sejak bertemu kembali dengan Nyonya Mira, Tedi merindukan sang putri yang dulu masih kecil.


"Rena! Rena!" Teriak Nyonya Mira pada Renata yang entah berada dimana, tapi sudah menghubunginya untuk pulang tadi.


Setelah teriakan berulang kali, akhirnya Renata keluar dari kamar dan menghampiri sang Mama dan seorang laki laki.


"Apa sih, Ma. Rena lagi tidur." Ucap Rena sambil menguap.


Tedi melihat putri yang tumbuh begitu cantik menjadi terharu, ada tetesan air mata yang memeh dipipi.


Ia ingat dulu saat meninggalkan rumah, Renata masih sangat kecil. Bayi mungil yang selalu ia gendong. Kini semuanya berubah.


Tedi tak kuasa lalu memeluk Renata dengan erat. Mendapat pelukan itu Renata kaget dan bingung, ingin menghindar tapi pelukan itu begitu erat.


"Om, Om Renata gak bisa napas." Kata Renata, sambil berusaha melepaskan pelukan Tedi.


"Maaf Papa terharu melihat kamu sudah sebesar ini." Ujar Tedi melepaskan pelukan itu.


"Papa? Terharu karena apa?" Tanya Renata bingung.


"Ini Papamu sayang."


"Papa ku, maksudnya Mama mau nikah lagi?"


"Bukan sayang, ini Papa kamu. Papa Tedi yang sudah pergi lama." Timpal Nyonya Mira.


Renata terdiam tak menjawab ucapan itu. Ia bingung dengan pembicaraan mereka berdua, bagaimana mungkin laki laki yang ada didepannya mengaku sebagai sang Papa. Padahal Mamanya sudah mengatakan bahwa Sang Papa meninggal lama.


"Apa sih, Ma. Ini prank ya. Gak lucu, Ma. Papa kan sudah meninggal."


"Enggak sayang, Papa masih hidup. Ini Papa. Ayo duduk Papa ceritain." Ucap Tedi.


Mendengar permintaan itu Renata duduk. disusul Nyonya Mira dan Tedi. Kemudian Tedi menceritakan semua hal yang sama seperti yang ia ceritakan pada Bian, tidak ada yang dikurangi atau dilebihi.


Renata awalnya bingung dan ragu tapi kemudian rautnya berubah. Ia ikut kaget dan bingung tak percaya tapi harus percaya.


Akhirnya air matanya ikut terjatuh dan sadar didepannya memang sang Papa yang selama hidupnya tak pernah ia pikir masih ada.