
Jam pelajaran kedua baru saja usai, saat lonceng istirahat berbunyi dari kantor guru. Keylan kini mulai berjalan keluar kelas untukmenuju kantin, perutnya sudah lapar lagi, tak sengaja saat ia berjalan di lorong Raka juga berada di sana.
“Eh Ka, mau kekantin juga lu?” tanya Keylan begitu ia sudah merangkul pundak sepupunya.
“Lu gak lihat emang kalau gue mau kekantin,” ujar Raka sambil melihat sekilas wajah Keylan myang menyungging senyum sambil memperlihatkan gigi putihnya.
“Jutek apa nih perawan jawabnya,” seloroh Keylan lagi sambil mentoel dagu Raka.
“Jijik, *****.” Raka melap dagangnya bekas sentuhan tangan dari Keylan, lalu melepaskan tangan kiri Keylan yang merangkul padanya.
Lalu keduanya berjalan menuju kantin itu bersama. Suasana kantin sudah cukup ramai, banyak anak-anak dari kelas dua dan tiga kumpul jadi satu, sementara kelas satu beda kantin, karena siswanya lebih banyak dan kelasnya beda gedung.
Keylan duduk di salah satu bangku saat Raka bilang akan memesankan makanan untuknya, Keylan hanya mengangguk tanda setuju, karena ia juga malas karena harus antre untuk memesan makanan bersama siswa lainnya.
Saat memesan itulah, matanya tak sengaja menatap dua sosok yang sangat akrab di matanya, siapa lagi kalau bukan Aresti dan pacar barunya. Cowok yang sudah mengalhkan Keylan dalam balapan beberapa hari lalu. Meskipun ia tak benar-benar kalah, karena ia harus kecelakaan.
Dari tempatnya duduk jelas sekali ia bisa memperhatikan Aresti yang begitu mesra dengan pacarnya, entah hanya pikirannya saja atau Aresti sengaja melakukan hal itu karena tahu Keylan memperhatikan tingkahnya.
“Heh ngelamun aja lu,” tegur Raka sambil membuyarkan lamunan Keylan, Keylan terkesiap dan mengambil makannya dari tangan Raka. “Ngelamunin apaan dah?”
“Lagi ngelamunin utang negara dan caranya meluniasinya. Jual dua ginjal lu cukup gak,”ujar Keylan saat Raka sudah duduk dan menikmati makanannya.
“Enak aja, dengan menjual dua ginjal gue, berarti lu membunuh gue secara perlahan.”
“Bagus itu, berkurang lagi kan penduduk Indonesia serta populasi dunia.”
“Lu belum pernah kesedak garpu bakso, kan,” kata Raka sambil mengacungkan garpu yang habis ia buat makan pada wajah Keylan.
“Belum sih, tapi gak pengen,” ucap Keylan sambil tergelak dengan tawanya. Sesaat ia lupa tentang Aresti.
Keylan dan Raka menikmati makannya, sambil terus mengobrol tanpa mengatakan bahwa Keylan masih memperhatikan Aresti sejak tadi.
Hingga jam pelajaran mulai kembali, Keylan dan Raka berjalan ke kelas, meskipun Keylan memperlambat langkahnya karena membiarkan Aresti berjalan lebih dulu.
%%%
Jam pelajaran letah usai, Keylan dan Raka bergegas untuk pulang kerumah masing-masing, meskipun Raka lebih dulu mengantarkan Keylan kerumahnya, setelah itu Raka pulang kerumah.
Keylan sudah selesai mandi, lalu menuju ruang makan menikmati masakan lezat sang mama.
“Papa belum pulang, Ma?” tanya Keylan saat Kesya juga berada di dapur memasak untuk makan malam.
“Belum, biasanya juga jam empat, tapi katanya sih Papa agak telat karena meeting. Tumben kamu nanyain Papa,” ujar Kesya tetap fokus pada masakannya.
“Mau Key ajakin ngegame, biar bisa naikin bintang,” kata Keylan, mulutnya masih penuh dengan makanan.
“Enggak dong, Ma. No game no life,” ucap Keylan.
“Oo, kalau gitu ha-pe Mama sita ya, Mama pengen lihat kamu no life atau enggak.”
“Ish, jangan dong Mamaku yang cantik sekali, yang mirip Oma Susan,” puji Keylan pada Kesya hanya sekedar untuk mengambil hati sang mama.
“Bisa aja mujinya, lagian mirip ya karena Mama anaknya.”
“Iya, Keylan cucunya.”
Setelah perbincangan tak jelas sambil menikmati makannya, Keylan kembali ke kamar untuk sekedar bermain ponselnya sembari berguling guling, agar tunuhnya bisa menyatu dengan kasur paling empuk sesurga.
Di miringkannya ponselnya itu sambil menggunakan earphone, tangannya bermain lincah diatas layar, sambil sesekali mengumpat tak jelas dengan teman team ataupun musuhnya.
Sekitar sejam permainnya itu, ia berhenti dan membuka sosmed sekedar menyegarkan pikirnnya sendiri. Bermain game memang menyenangkan, tapi kadang ia bisa juga bosan dan sedikit jenuh, meskipun begitu bukan bearti ia harus berhenti dari game itu.
Saat bermain dengan ponselnya itu, entah bagaimana ia terus teringat tentang bagaimana kedengan Aresti dengan pacarnya.
Awalnya ia pikir saat Aresti mengajukan syarat untuk balapan itu benar-benar membuka peluang untunya bisa menjadi pacar dari seorang perempuan populer yang usdah ia sukai sejak pertama kali masuk sekolah, nyatanya tidak.
Keylan tidak benar-benar mengenal siapa sosok gadis yang di sukainya itu, bahkan yang sebenarnya Keylan tahu hanya nama dan kelasnya. Meskipun Keylan terus memperhatikan gadis itu.
Aresti memang seorang gadis yang beda dari yang lain, sikpanya sedikit cuek dan susah di dekati cowokmana pun, seklainya pacaran pasti dengan cowok populer juga. Keylan tak bisa memaksaan perasaan siapapun, karena akhrinya ia tahu ia tak akan bisa bersama gadis itu.
Dari awal sikap Aresti sudah memperlihatkan bahwa gadis itu tak menyukainya, tapi ia terus gigih untuk menyatakan perasaannya dan berharap gadis juga merasakan yang sama, nyatanya itu tak mungkin terjadi.
Sekarang tangan Keylan berhenti menaik turunkan ibu jarinya di layar ponsel, ia berhenti pada akun Aresti yang beberapa menit lalu memposting foto dengan pacar barunya. Dia yang ngestalking dia juga yang sakit hati.
Sementara Keylan masih sibuk bergalau ria dan belum benar-benar bisa move on dari gadis pujaanya. Gadis pujaanya yang tak lain Aresti juga melakukan hal yang sama dengan ponselnya.
Aresti tak ada pilihan lain selain memposting foto bersama pacarnya, bukan karena menyukai nya, tapi Aresti melakukan hal itu karena hanya ingin membuat Keylan cemburu dan meninggalkannya.
Ia tak memiliki perasaan apapun pada Keylan, dari pada terus membuat anak itu berharap lebih baik meninggalkannya, Keylan juga nampak tak menyukai hubungannya sejak keluar dari rumah sakit.
Aresti juga tak megunjungi Keylan saat itu, bukan karena tak kasihan, tapi ia hanya ingin meyakinkan Keylan jika ia tak menyukainya.
Hubungannya dengan Brian baru saja berlangsung dua minggu, sejak saat itu Brian belum pernah melakukan apapun padanya, bahkan kadang saat Brian mengajak untuk menikmati malam minggu saja Aresti menolak dengan mengatakan ia sibuk dengan pekerjaanya.
Ia tahu lama-lama Brian juga pasti bosan dengan sikapnya itu dan pastinya juga akan memutuskannya, tapisaat itu mungkin Keylan sudah melupakan perasaanya pada Aresti dan Aresti bisa sedikit lebih tenang, apalagi sebentar lagi ia juga akan lulus dari sekolah itu yang berarti ia tak akan bertemu dengan Brian ataupun Keylan.
Tapi, itu hanya pikirannya, sedangkan sekarang ia masih harus sibuk dengan Keylan dan Brian.