
Di pinggir jalan sudut kota..
terlihat jelas seorang laki-laki berlari dengan sangat tergesa. dia terus berlari, tanpa tahu arah tujuan, tanpa peduli rasa lelah yang menghampirinya.
"Hosh..hosh..Hosh.." suara nafas berat Reno yang terus berlari.
Reno terus menerus melihat ke arah belakang, ia takut seseorang yang sedang mengejarnya akan menangkapnya.
Reno, terus berlari tanpa memperdulikan seseorang berbadan kekar yang mengejarnya.
"WOY... BERHENTI GAK LU!!" teriak laki-laki berbadan kekar pada Reno.
Reno tak peduli dengannya, reno terus berlari menjauh darinya.
%%%
Sehari setelah permintaan maaf itu, saat Reno dikejar oleh anak buah laki-laki itu.
Tertanya laki laki itu tahu jika Reno meminta maaf dan mengatakan semua yang telah terjadi antara ia dan laki laki itu.
Mendengar pengkuan maaf itu, laki laki itu menjadi geram dan berusaha menyingkirkan Reno. Maka dari itu Reno berusaha diculik oleh laki laki itu dan anak buahnya.
Reno terjatuh karena kelelahan berlari, anak buah laki-laki itu menangkapnya. Reno sangat ketakutan, karena ia takut ia akan di bunuh oleh laki-laki yang kejam itu. Reno hanya menjalin kerjasama dengannya.
Kali ini tamatlah riwayat Reno,
Reno diseret oleh laki-laki berbadan kekar menuju mobil yang telah parkir tak jauh dari tempat mereka berada. Dengan kasar, anak buah laki-laki itu mendorong Reno kedalam mobil.
Mobil itu berjalan menuju rumah besar milik laki-laki itu, laki-laki yang kejam yang bisa saja membunuhnya kapanpun.
Tubuh Reno bergetar saat memasuki Rumah mewah itu. sebelum di serahkan ke bos besar, Reno telah di hajar terlebih dahulu.
Bughh
bughhh
bughh
Tinjuan pria berbadan kekar terus mendarat di tubuh dan wajah Reno hingga babak belur, Reno semakin takut.
"A-ampun, saya mohon ampun" Reno memohon pada anak buah laki-laki itu.
"Gak ada ampun buat lu, lu ga tahu bos besar itu sangat kejam hah" bentak anak buah laki-laki itu pada Reno.
Reno tersungkur di lantai, dengan keadaan yang sangat lemah.
suara langkah kaki, langkah demi langkah terdengar semakin dekat padanya.
mata Reno terlihat sayup, menatap wajah laki-laki itu samar karena matanya bengkak kena hantaman anak buah laki-laki itu.
senyum sinis terukir di bibir laki-laki itu, lalu dengan sangat keras dia menendang perut Reno.
Dukkk
"Arghhh.." Reno mengerang kesakitan.
"Kau, ingin mati hah?" tanya laki-laki itu marah. "Kau ini sangat bodoh, kenapa kau begitu ceroboh. Kau buka rahasia ini padanya(bian) dan kau tahu, apa resikonya?" laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah bian.
"S-saya minta ampun tuan, saya tidak ingin lagi terlibat dengan semua ini lagi." ucap Reno dengan menahan rasa sakit.
"cih.." laki-laki itu meludahi wajah Reno.
"Kau bisa saja ku bunuh sekarang, tapi kau beruntung. karena saya sedang sibuk dengan acara pertemuan dengan client ku. kau tahu, mungkin dia.. akan menjadi korban ku selanjutnya" ucap laki-laki itu dengan tatapan tajam pada Reno.
"Kau nikmati saja waktu yang saat ini tersisa, aku akan membunuhmu jika acaraku telah selesai. Dasar pengkhianat!!" ucap laki-laki.
Reno, sangat lemah saat ini karena sekujur tubuhnya telah habis di hajar oleh mereka.
Laki laki itu menyuruh pengawalnya, untuk mengurung Reno di dalam gudang. gudang tempat yang akan dibuat untuk membunuhnya, Reno di seret masuk ke dalam gudang.
Saat acara pertemuan laki-laki itu dengan client barunya, Reno berusaha bangkit dan berdiri. Dia mencari celah, mencoba untuk kabur. hingga dia berhasil mengelabui penjaga dan terus mencoba berlari, Reno terus berlari menjauh dari rumah laki-laki itu.
Saat acara tah selesai,
laki laki itu melangkah menuju gudang tempat Reno berada.
laki-laki itu terkejut saat mengetahui bahwa Reno telah melepaskan diri dari sana.
"PENJAGAAAA..." teriak laki-laki itu dengan penuh amarah.
Para penjaga pun mendatangi panggilan bos besar mereka dan menundukan kepalanya.
PLAKKKK
laki-laki itu menampar pipi penjaga karena telah lalai menajalankan tugasnya.
"BO**H.. KALIAN SEMUA BO**H" Laki-laki itu terus melontarkan amarahnya.
anak buah laki-laki itu bergegas dan pergi mencari Reno,
%%%
Reno terus berlari hingga dia masuk ke dalam hutan, tak peduli kemana ia melangkah karena yang ia pikirkan hanya ingin menghindar dari laki-laki itu dan pergi jauh dari kota.
"Hosh..hoshhh..hossshh" langkah Reno semakin lambat.
"sukurlah, gue bisa pergi dari mereka. setidaknya gue jauh lebih aman, meskipun wajah gue babak belur gini" bian berargumen sendiri.
hingga reno menemukan pondok tua di hutan yang posisinya pun terlihat aman dan jauh dari tempat laki-laki itu.
sisi lain..
anak buah laki-laki itu terus pergi menyusuri pinggiran kota untuk mencari Reno, namun belum juga terlihat Batang hidungnya. Mereka tahu, jika mereka tak menemukan reno dan membawanya ke hadapan bos besar maka mereka lah yang akan mendapatkan hukuman.
"sial, kemana tuh orang. bisa-bisa kita yang dapat hukuman dari sibos" ucap anak buah laki-laki itu ke salah satu temannya.
"iya, bisa bisanya tuh orang larinya cepet amat. padahal udah sekarat juga" lanjut temannya.
"kita lanjut aja nyarinya, kita bisa di gantung kalo ga nemuin tuh orang" ucapnya pada temannya.
lalu mereka melanjutkan perjalanan mencari Reno.
laki-laki itu sangat marah, hingga dia terus menerus menghajar anak buahnya yang lalai menjaga Reno,
"BO**H.. KAU MAU KU GANTUNG HAH" teriak laki-laki itu pada anak buahnya dengan penuh amarah.
"Maafkan saya tuan, laki-laki itu tadi memintaku untuk di antar buang air dan saya mengantarnya. saya tidak tahu jika dia memiliki rencana lain" ucap anak buahnya memelas pada laki-laki itu.
laki-laki itu mendengus kesal, lalu duduk di kursi sambil memijat pelipisnya.
"bisa-bisanya dia kabur dari sini dalam keadaan seperti itu" ucapnya.
***
Reno membersihkan lukanya dengan air yang ada di danau kecil dekat pondok di tengah hutan dengan cahaya api yang ia nyalakan dengan ranting kayu yang ia dapatkan di sekitar pondok itu.
Reno meringis kesakitan karena lukanya,
"awwhhh.. ssshh, sial.. kenapa ini sangat sakit" ucap Reno "Gue harus lebih hati-hati lagi dan mungkin akan terus berada disini hingga keadaan benar dalam keadaan aman. gue nyesel udah jalin kerjasama sama orang kaya dia, sekarang gue kena batunya" tambahnya.
Reno menatap disana untuk malam itu, tak mungkin ia pulang dalam keadaan seperti itu, jika ketahuan lelaki itu ia bisa saja mati.
Reno tahu sekarang betapa menakutkannya laki laki itu, melakukan semua yang baginya benar.
Keesokan paginya...
Setelah semalam Reno tidur di pondok kecil dan tua, pagi ini berniat untuk pulang meskipun dengan tubuh yang masih penuh luka.
Saat keluar dari hutan itu ternyata tak begitu jauh dari rumahnya, mungkin hanya perlu masuk daerah ramai padat penduduk.
Pelan sekali ia berjalan, ia berusaha membuat tubuhnya kuat dan juga terus berhati hati agar tak ada siapapun orang dari laki laki itu yang mengetahui dirinya.
Lemah sekali tubuhnya, tapi ia terus paksakan.
Dan tak berapa lama, dengan napas berat dan terengah-engah ia sampai di rumahnya. Berulang kali ia mengetuk pintu itu, tapi tak ada jawaban dari siapapun.
Mungkin Rian sudah pergi sekolah. Pikirnya. Tapi, saat ia berniat memutar untuk mencari pintu masuk belakang, pintu itu terbuka.
Reno berharap cemas dengan bukaan pintu itu, tapi yang akhirnya yang muncul ternyata Randi.
Randi melihat tubuh babak belur dan penuh lebam Reno, terlihat bingung dengan sendirinya
"Ren," kata Randi kemudian. Tangannya berusaha memapah Reno.
Dengan pelan ia membawa tubuh Reno masuk kedalam rumah, meskipun sering tak sesuai pemikiran dengan Reno. Tapi melihat sang adik dalam keadaan begitu Randi begitu kasihan.
Setelah menaruh Reno diatas sofa, Randi berjalan mengambil kotak obat didalam lemari.
"Lu kenapa?" Sambung Randi sambil mengoleskan obat merah di luka Reno.
"Aww!" Teriak Reno sambil mengaduh, karena obat merah itu bertemu dengan lukanya. "Sakit kak."
"Tahan." Ucap Randi lagi. "Lu belum jawab pertanyaan gue, lu kenapa? Kok bisa sampai parah banget badan lu? Lu berantem sama siapa sih."
Mendengar banyak pertanyaan dari Randi, Reno malah kaget sendiri. Tumben sekali Randi begitu peduli padanya.
"Gue gak berantem, tapi gue dihajar sama orang."
"Kok bisa?"
"Panjang ceritanya kak, lain kali aku ceritakan. Sekarang aku mau tidur dulu." Kata Reno lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Randi yang membereskan kotak obatnya.