
Plak!
Keras sekali tuan Putra menampar wajah Kevano. Semalaman Kevano tak pulang, dan paginya ia baru mendapatkan kabar bahwa Kevano berada di kantor polisi bersama teman-teman begundalnya.
Sementara Kevano hanya mampu memegang pipinya yang merasa sakit akibat tampana sang papa, rasanya tadi malam ia terkena tonjokan lukas, masuk kantor polisi dan ditampar papanya.
Ini semua salah Adrian, kalau Kevano tak sibuk mencari kemana perginya bocahitu mungkin saja ia bisa berlari. Bahkan sampai pagi ini ia tak menampakkan batang hidungnya.
“Penjarain saja, pak.” Ucap Tuan Putra dengan emosi.
“Cuma kebut-kebutan aja kok pak, perlu pembinaan.”
“Tapi, dia menganggu ketertipan umum.”
“Papa, sudah ah.” Kata Nyonya Putra seakan memenangkan sang suami.
Namun, Tuan Putra masih dikuasai emosinya. Ia paling tidak suka jika melihat Kevano sampai ngebut-ngebutan dijalanan dan membuat keluarganya malu. Bahkan tuan Putra sampai tak tahu dari mana Kevano mendapatkan motor untuk melakukan itu.
"Ini pak ada beberapa syarat yang harus diisi, supaya anaknya bisa pulang."
Tuan Putra melihat kertas putih itu, mengisinya lalu menandatanganinya. Setelah itu Kevano sudah diperbolehkan untuk pulang.
Keempatnya termasuk Ruben keluar kantor polisi, dan memasuki mobil mereka. Didalam mobil Kevano terus mendapatkan luapan emosi dari sang Papa.
"Terus aja kamu cari masalah." Ucap Tuan Putra kemudian saat mobil yang dikendarai Ruben mulai berjalan. "Disita motornya biar kapok, ini masih aja bapalan. Motor siapa kami pakai?"
Kevano beberapa saat kemudian, ia tak enak mengatakan itu motor Adrian, tapi sang Papa terus mendesaknya.
"Motor siapa!" Sambung Tuan Putra.
"Adrian yang menjamin, Pa." Kata Kevano kemudian, sambil masih dalam keadaan takut.
"Gak usah kamu mainan motor lagi, mulai besok kamu papa kasih supir."
"Enggak mau, Pa."
"Gak usah gitu dong, Pa. Kevano cuma main main aja kok." kata Ruben menambahi percakapan mereka.
"Gak usah apanya. Kamu pasti tau kan adekmu main motor lagi. Kamu sama adekmu sama saja bandelnya."
"Pa, jangan ngekang Kevano terus, gak baik buat dia." Ruben terus membela Kevano, meskipun apa yang dilakukan Kevano memegang salah.
Kevano masih terdiam, tak banyak menjawab ataupun ikut dalam pembicaraan mereka. Apa yang keluar dari mulutnya semua salah dimata Papanya. Benar-benar aneh.
Setelah melewati perjalanan sakitar tiga puluh menit, keluarga Putra sampai dirumah. Sesampainya disana, Kevano langsung masuk kedalam kamar. Jika masih bersama sang Papa ia akan terus terkena masalah.
Ruben mengikuti Kevano yang masuk kedalam kamar.
"Kok lu bisa ketangkep sih?" Tanya Ruben saat mereka sudah berada di kamar.
"Ini semua gara-gara Adrian, gue nyari dia eh malah dianya hilang entah kemana. Sialan. Kalau enggak gue bisa lolos."
"Sekali lagi lu kena masalah gak bakalan gue Bantuin."
Mendengar ucapan Ruben, raut wajah Kevano tiba-tiba berubah tak enak.
"Kok lu gitu sih, Bang?" Ucapnya cemberut.
"Lu udah gede, Sya. Masa gue harus terus Bantuin lu didepan Papa sama Mama, sesekali urus masalahmu sendiri."
"Gue gak bisa,"
"Bikin masalah bisa, masa tanggung jawab gak bisa." Setelah mengucapkan itu Ruben berlalu dari kamar Kevano.
Kevano menggaruk pipinya bingung, ia harus bagaimana lagi jika ketahuan masih balapan dan memakai motor, ia tak mungkin lepas dari Motor-motor kesayangannya.
Sesaat setelah Ruben pergi, ia hendak pergi, namun suara panggilan sang Papa begitu kencang ditelinganya, dengan malas ia berjalan keluar kamar.
"Kenapa, Pa? Arsya mau mandi." Ujar Kevano kemudian begitu sampai diruang tamu.
"Sini sebentar. Papa mau kenalin kamu sama supir baru."
"Supir?" Kevano menajamkan penglihatannya, melihat sosok laki-laki muda kisaran tiga puluh tahunan yang duduk tak jauh dari sang Papa. "Papa bercanda, kan? Lebih baik Kevano naik angkot aja."
Dengan malas Kevano berjalan mendekati supir barunya. Bahkan itu supir pertamanya.
"Arsya," Ucap Kevano pelan.
"Saya Maji, Mas." kata Supir baru Kevano yang bernama Maji itu.
"Mas? Kapan aku nikah sama mbakmu." celetuk Kevano, Sang Papa melirik tajam.
"Kevano." desis sang Papa.
Setelah berkenalan singkat, Kevano memutuskan untuk ijin mandi dan bersiap untuk kuliah pagi. Dan seperti sudah kesepatakan mulai hari ini ia diantar Maki.
%%%
"Ingat ya Nur, cuti selama sebulan itu gak main-main lho. Saya gak bisa gajih pegawai yang tidak bekerja." Ucap Pak Bos saat Kesya datang keruanganya meminta izin untuk cuti kerja untuk mengurusi pernikahannya.
"Iya saya tahu, Pak. Gajih saya dipotong bulan ini tidak apa apa." kata Kesya pasrah.
"Bukan saya potong, tapi saya tidak akan bayar. Kamu pasti paham kan prosedur perusahaan ini bagaimana."
Kesya mengangguk.
"Saya tahu pak. Terima kasih pak saya permisi."
Setelah bersalaman dan mengucapkan hal itu, Kesya keluar dari ruangan pak Bos Ruben dengan menarik napas lega.
Sebelum meminta izin cuti, ia merasa sepeti sesak didada, antara takut dan bingung. Takut jika pak Bos tidak mengizinkannya, dan bingung jika gajih bulanannya dipotong. Ternyata bukan hanya dipotong, tapi langsung tak dikasih.
Ia kembali kemejanya dengan wajah yang mencoba terlihat santai, bibirnya mengulas senyum tipis. Dirapikanya beberapa barang memilihnya dari meja kerjanya. Seperti peralatan dan buku lain.
Ganda dan Yunda yang melihat kegiatan Kesya langsung menghampiri.
"Lu mau kemana, Kes? Lu gak dipecat kan?" Tanya Ganda.
"Apanya?"
"Itu lu ngapain kok beres-beres barang?"
"Gue udah izin cuti satu bulan sama pak Bos."
"Apa?!" Seru Yunda dengan nada tak percaya. "Kok lama banget sih,"
"Iya kok lama banget, nanti kalau kita kangen gimana?" Ucap Ganda mulai dengan wajahnya melonya.
"Apaan sih kalian, jangan sok sedih deh." Ucap Kesya dengan mata berkaca-kacanya.
"Lu juga sedih peak." Kata Yunda.
"Tayang, cini-cini peluk dedek." Ujar Kesya sambil merentangnkan namanya.
Trio kalong itu berpelukan, layaknya teletubis yang tengah bermain.
"Kalian jangan lupa dateng ya." Sambung Kesya.
Yunda dan Ganda hanya bisa mengangguk.
Sementara itu diruang kerja Bian. Ia tengah membahasnya pekerjaan dengan Reno.
"Lu udah siapin semua berkas, kan?" Tanya Reno.
"Semua lengkap, tenang aja. Duit juga sudah." Jawab Bian enteng sambil menepuk tasnya yang berisi dokument untuk persidangan.
"Gue yakin lu pasti menang, semoga ini keberuntungan lu sebelum nikah."
Bian mengangguk.
Seminggu lagi dari sekarang, Bian akan menghadapi persidangan untuk membela terdakwa Gio Lesmana Putra, yang mana mendapat tuntutan atas kasus Korupsi dana pemerintah.
Ini kasus pertamanya untuk menanganinya kasus Korupsi, jika kasus itu berhasil pamornya sebagai pengacara akan semakin kandangan dan membesar.
Rasanya Bian sudah bisa membayangkan bagaimana orang-orang memujinya nanti.