My Berondong Husband

My Berondong Husband
#53 Kevano Terlalu Overprotektif



Kehamilan Kesya sudah memasuki bulan kelima, dimana ia tak biosa terllau banyak dengan perkaan berat dan banyak memikirkan hal yang membuat ia terbebani.


Mengetahui hal itu Keavno sebagai suami siaga selalu melakukan apapun untuk meyakinkan bahwa Kesya akan terus baik-baik saja.


Dua puluh empat jam ia terus berusaha berada didekat Kesya, bagaimana pun caranya, bukan terlihat over tapi ia hanya ingin mmebuat Kesya merasa tenang.


Setiap pagi ia mengantar Kesya pergi bekerja, sorenya menjemput Kesya, bahkan ia selalu ikut jika Kesya pergi meeting diluar kantor.


Melihat kelakuan Kevano seperti itu membuat Kesya sedikit jengah, sikapnya bagi Kesya keterlaluan, tapi entah mengapa Kevano seakan tak peduli dengan hal itu.


Seperti pagi itu. Kesya sudah lebih dulu bangun pagi, dan menyiapkan sarapan pagi. Akhir-akhir ini selama hamil, ia gemar sekali berada didapur, memasak dan melakuakn apapun yang berhubungan dengan dapur, mencoba resep-resep baru yang kadang rasanya tak begitu nyaman.


Melihat hal itu Kevano hendak ingin mencegah, tapi Kesya selalu mengatakanh bahwa ia menyukainya.


“Sudah gak usah bawel, ayo dimakan.” Ucap Kesya sambil menaruh sepiirng telur dadar diatas meja.


“Nanti kamu capek lho, biar aku aja yang masak.” Rungut Kevano, bersikap seolah ia tak rela jika Kesya melakukan hal itu.


“Aku suka melakukan ini, Sya. Lagian aku mau beraktivitas, dan sekaligus belajar buat nanti kalau anak ini sudah lahir. Kita gak mungkin kan selalu beli makanan.”


"Tapi, Nur..."


“Gak ada tapi-tapi, cepat habiskan. Ini sudah jam tujuh.”


Kevano mengangguk perlahan, sambil terus mengunyah makannnya. Nasi goreng spesial dengan campuran udang dan babby cumi. Itupun masih ditambah dengan telur dadar, sebagai sarapan wajib, karena Kevano menyukainya.


Hari-hari pernikahan mereka hingga hari itu tak pernah sedikitpun dirundung masalah, karena setiap ada perselisihan sedikit Kevano langsung meminta maaf, sementara Kesya yang memiliki sifat enggan peduli tak memikirkan hal itu. Kadang pun masalah kecil muncul jika sifat Kevano yang terlewat manjanya, selalu ingin dekat dengan Kesya dan bersikap seolah ia masih anak kecil.


Kesya memaklumi hal itu, memang Kevano masih anak kecil berusia sembilan belas tahun yang dari segi apapun ia masih ingin dimanja.


Kevano bahkan entah mengapa sejak menikah, sifatnya sedikit berubah, bahkan memang hampi berubah. Kevano yang dulu usil dan tak peduli omongan orang, setelah menikah ia belih perasan dan selalu pendiam.


“Cepat selesaikan makanmu.” Kata Kesya kembali sambil memberekan piring dan beberapa makanan yang berada diatas meja, setelah melihat Kevano tak mungkin mengambil makanan lagi.


“Ehm.” Gumam Kevano terus mengunyah makannya.


Tak berapa lama Kevano ikut membereskan piringnya, menaruh ditumpukan piring kotor, kemudian menyusul Kesya yang memasang sepatunya. Kevano mengambil tas Kesya lalu membawanya.


Mereka berdua keluar apartemet, berjalan kearah lift untuk turun ke lantai bawah. Saat berada didalam lift, ada seorang laki-laki yang terus menatap Kesya dengan mata tajamnya mirip seorang predator ganas.


Mengetahui hal itu, Kevano memilih pindah dan berdiri disamping untuk menutupi Kesya, lalu mememgang tangnnya. Wajah lelaki itu berubah tak enak, tapi Keavno tak perduli dengan hal itu.


Pintu lift terbuka, Kevano masih memegang tangan Kesya dengan erat, bahkan sampai keluar apartemen dan masuk kedalam mobil.


“Kamu ngapain sih, Sya?” tanya Kesya sambil meelpaskan tangan Kevano dan duudk disamping Kevano yang mengendarai mobil.


“Aku menjagamu dari mata lelaki buaya, dan menjagamu dari terkaman mereka.” Ucap Kevano mendramatisir keadaan, sambil tangan dan kaminya menjalankan mobil itu perlahan.


Mobil mulai berjalan pelan, keluar dari area apartemen dan mulai masuk jalan raya. Hari ini Kevano berniat melewati jalanan yang cukup ramai, meskipun begitu biasanya saat seperti itu jalanan sudah lebih lengang. Karena jam menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh pagi.


Sekitar dua puluh menit lagi untuk Kesya Absen dikantor. Meskpun ia hamil, Pak Bos tepat menyuruhnya untuk absen tepat waktu sebagai konsekuensi seorang karyawan.


Kesya tak ambil dengan hal itu karena memang sudah pekerjaanya.


“Sya, besok aku ada meeting lagi dengan Pak Kevin Sanjaya.” Ujar Kesya sambil memainkan ponselnya.


“Kevin yang mana?” tanya Kevano, fokus pada jalanan.


“Itu lho yang katamu bos paling galak setelah Pak Ruben, pemilik AldeBaran Group.”


Kevano mengangguk-angguk meningat seorang lelaki pemilik nama Kevin Sanjaya.


“Jam berapa?” tanya Kevano lagi.


“Jam sepuluh pagi, soalnya bapaknya sibuk.”


“Aku antar, ya?”


“Enggak usah.” Coba tolak Kesya. “Aku berangkat barengan Trio kalong kok, kita diantar sama supir kantor.”


“Kenapa kamu harus ikut sih, aku bisa jaga diri kok. Lagian ini kan urusan perusahaan.”


Kevano menggeleng-geleng, sambil tangan kirinya memegang paha Kesya.


“Gak boleh nolak, pokonya aku antar. Aku mau meyakinkan kalau kamu benar-benar baik disana. Kalau gak kujaga nanti kamu digoda satpamnya lagi.”


Kesya mendengus mendengar ucapan aneh dari Kevano. Bisa-bisanya berpikir kalau seorang satpam akan menggodanya, lagi pula mana mungkin seorang Kesya tertarik dengan satpam. Bukannya suaminya lebih tempan.


Mobil yang mereka kendari semakin melaju kencang, tapi sayangnya saat berada diperempatan banyak kerumunan orang. Dari kaca mobil Kevano melihat bahwa itu sebuah kecelakaan yang membuat jalanan mavcet dan ditutup.


Kevano memutar setir mobilnya, ia berniat melewati rute lain. Pikiran Kesya mulai berantakan, sepertinya ada hal buruk yang akan terjadi pada mereka, paling buruknya ia akan terlambat kerja lagi.


Melihat pergantian wajah Kesya dari samping, Kevano mulai mengelus pipinya.


“Enggak bakalan telat kok.” Ujar kevano berusaha melunakkan pikiran buruk Kesya.


“Sepuluh menit lagi absen. Gimana aku gak kepikiran.” Rungut Kesya.


“Ya, kan bukan salahku, yang macet jalannya. Kita lewat rute terbalik aja, sebnatr lagi juga sampai setelah melewati perempatan ketiga jalan Gadung.”


Kesya hanya bisa mendehem dan mengangguk pelan tanpa menjawab pertanyaan Kevano. Meskipun Kevano meyakinbkan hal itu, Kesya tetap tak bisa berpikir logis lagi.


Kesya sudah mendpaatkan SK kedua dari Pak bos, meskipun ia saudara iparnya, ternyata uang tak memandang status dalam keluarga.


Ia sebenarnya tahu kenapa Pak bos melakukan hal itu, karena pak bos ingin para karyawannya disiplin, apalagi Kesya merupakan salah satu karyawan senior yang harusnya memebri contoh yang baik pada juniirnya.


Dalam pikirannya itu, ternyata tanpa ia sadari mobil benar-benar sampai dikantor lima menit kemudian, bahkan Kesya berpikir kalau Kevano menggunakan sihir teleportasi untuk mempersingkat waktu dan mempercepat mereka sampai ketempat itu.


Walaupun itu tidak mungkin.


Kevano memarkirkan mobilnya, setelah mobil terparkir, Kesya kelaur dan berjalan memasuki dalam kantor.


Kevano menguntit Kesya dari belakang, bahkan hingga Kesya absen dan duduk dimeja kerjanya.


“Ngapain sih, Sya?” Ucap Kesya melihat tingkah aneh dari sang suami.


“Mau nungguin kamu kerja.” Kat Kevano tanpa sedikitpun rasa bersalah.


“Sudah, pulang sana. Aku mau kerja, aku sibuk banyak tumpukan berkas lho.”


“Enggak mau!” Ujar Kevano kembali sambil duduk diatas meja kerja Kesya.


Tak berapa lama Ganda dan Yunda datang, mereka berdua tersenyum melihat tingkat menggemaskan dari Kevano.


“So sweet banget sih, jadi pengen nikah.” Kata manja Ganda, sambil menggigit bibir bawah sebelah kirinya.


“Emang ada orang yang mau sama kadal kayak lu.” Ucap Yunda lalu mengambil kuris kerjanya.


“Sembarangan, yang pasti ada dong. Gendis akan mendapatkan makhluk Tuhan paling seksi yang ada. Pangeran tampan dan mempesona.” Ujar Ganda lagi.


“Pangeran? Tukang kuda kali.” Timpal Pak Ruben tiba-tiba ikut bergabung bersama mereka.


Setelah mendengarkan hal itu, Trio kalong langsung diam, sedangkan Kevano lansung turun dari meja kerja Kesya.


“Ikut gue, Sya.” Sambung Pak Ruben, Kevano mengangguk.


Mereka berdua berjalan menuju ruangan kerja pak bos Ruben, sementara trio kalong teru memperhatikan kedunya, dua bersaudara yang tak mirip, bahkan mereka bukan seperti saudara kandung dilihat dari sudut manapun.


“Suami lu ngapain, Sya?” Tanya Ganda saat kedua bersaudara itu sudah tak nampak lagi.


“Biasalah, sikap overnya datang lagi.”


“Gue pingin juga dong di overin.” Ucap Yunda.


“Boleh, tapi awas aja sama suamiku. Kukirim teluh kamu.” Ancam Kesya.


Yunda berubah raut wajahnya, sementara Ganda tertawa mendengar kedunya berbicara.